De første 192 linjer.
Ayo, kita keluar lewat belakang.
Shirou!
Ada apa, Saber?
Tak kusangka, ternyata Saber bersamamu, ya.
Kau...
seluruh hatiku serasa dibakar habis
kokoro wo zenbu yakitsukutsu youna
ZainuddinAri
mempersembahkan
kala keputusasaan ada di sampingku
zetsubou no tonari de
kau yang selalu ada 'tuk lebur semua lara
itsudatte kimi ha subete tokasu youni
menemaniku dengan senyummu
waraekaketekureteta
suara yang begitu sayu
kakukesareta koe
membuat kata-kata tak tersampaikan
todokenai kotoba
dan hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya
mata tsumazuki sou ni naru tabi ni
ku 'kan selalu bergantung padamu
nandomo shigamitsuita
bentangan masa depan nan putih bersih
shiroku shiroku masshiro na mirai ga
adalah satu-satunya harapan kita
tatta hitotsu bokutachi no kibou
saat ini ku berada dalam awan kegelapan
ima no boku ni ha yami kumo na
yang tak pernah rasakan adanya ketenangan
kono kimochi shikanai kedo
namun hari nan indah tidaklah hanya satu
seikai nante hitotsu janai
karenanya, ku terus cari masa depanku sendiri
boku dake no asu wo sagashiteru zutto
Archer! Kenapa kau baru muncul sekarang?
Jarak Antara Mereka
Tentu saja, aku bergegas kemari karena merasakan Master-ku terancam bahaya.
Tapi, sepertinya aku terlambat, ya?
Ya, telat banget!
Akan kujelaskan semua yang terjadi saat kau tak ada,
jadi duduk manis di sana, dan pasang telingamu baik-baik!
Sepertinya, aku datang di saat-saat terburuk.
Terburuk dari yang paling buruk, tahu!
Setelah ada satu Servant yang dibunuh, kau baru tampakkan batang hidungmu?
Ya, ya.
Lain kali, aku akan langsung meluncur.
Lalu, Servant mana yang dibunuh?
Yang sudah menghilang dari dunia ini adalah Servant Kelas Rider.
Aku tak tahu pasti kejadiannya, tapi kemungkinan, dia dibunuh oleh Caster.
Dasar pengecut.
Ternyata, dia memang hanya wanita bermulut besar.
Archer, Rider mati karena lindungi Master-nya.
Kau tak pantas menyebutnya pengecut.
Pengecut tetaplah pengecut.
Kalau dulu memang termasuk pahlawan, setidaknya, dia harus mati dengan ikutsertakan musuhnya.
Justru dia dikalahkan tanpa perlawanan, karena terpaksa dan tak ada cara lain lagi!
Kau sendiri yang hina kematiannya, apa pantas disebut sebagai pahlawan?
Pahlawan atau bukan, siapa pun yang tak bisa bertahan di perang ini, lebih baik cepat angkat kaki.
Oh, sombong sekali.
Kalau begitu, apa kau ingin menantangku bertarung, Archer?
Aku sudah diberi Mantra Perintah, untuk tak bertarung melawanmu.
Meskipun kita bertarung sekarang, mungkin aku yang akan mati konyol seperti Rider.
Apa itu harga diri seorang kesatria yang kau banggakan selama ini?
Sudah cukup, Archer.
Kerja samaku dengan Emiya, masih berlaku sampai kita kalahkan Master di sekolah ini.
Atau, kau mau memaksaku untuk gunakan Mantra Perintah lagi?
Baiklah.
Mungkin, karena Saber terlalu junjung tinggi keadilan, aku jadi berlebihan menggodanya.
Maafkan aku, Saber.
Tidak, justru aku pun harus perbaiki ketidakdewasaanku.
Atas rasa hormatku pada Rin, akan kulupakan kata-katamu tadi.
Pokoknya, kalau kita mau kalahkan Caster, terlebih dulu harus cari tahu keberadaan Master-nya.
Terlepas dari beruntung atau tidaknya kita, tapi Master-nya Caster datang ke sekolah setiap hari.
Daripada diprovokasi dan mereka malah semakin menutup diri, lebih baik, kita diamkan saja.
Berarti,
setelah identitas Master-nya diketahui, kita serang mereka sebelum sampai di Kuil Ryuudou?
Tepat sekali.
Tapi, setelah kekacauan ini, bukankah mereka akan berhenti datang ke sekolah karena terlalu berisiko?
Menurutku, tidak.
Karena yang kutahu, Master-nya Caster sudah tak punya kebebasan sendiri.
Melihat cara main si wanita itu,
langkah pertama yang dia lakukan, pasti jadikan Master-nya sebagai manekennya.
Benar juga.
Yang terpenting sekarang, kita tetap lanjutkan penyelidikan di sekolah.
Dan setelah Master-nya Caster ditemukan, langsung kita serang.
Ya sih, itu memang cara yang paling masuk akal, tapi bagaimana mencaritahunya?
Itu jadi tugas kita selanjutnya.
Sekarang, kita semua sudah lelah, 'kan?
Lebih baik, hari ini kita sudahi dulu.
Lo? Aku sih, masih bi-
He, Tohsaka?
Memangnya kau tak sadar dengan tingkah anehnya Archer?
Setelah kejadian kemarin, kita harus koreksi dan ulangi lagi semua langkahnya, tahu.
Ya deh, mengerti. Akan kuturuti perkataanmu dan langsung pulang.
Ya sudah, sampai jumpa besok.
Oh ya, kuucapkan terima kasih banyak.
Meski hanya sedikit, tapi hari ini, kau layak disebut sebagai seorang Master tulen.
Ayo pulang, Archer!
Sesampainya di rumah, kita pikirkan rencana selanjutnya!
Sudah kuduga, kau pasti akan beri ceramah yang bisa buat kepalaku meledak.
Kau ini, ya. Memangnya harus selalu kusemprot sampai basah kuyup terus?
Kau mau tidur di kamarku?
Sudah seharusnya.
Agar kejadian semalam tak terulang lagi,
jadi aku harus tidur di kamarmu.
Tentunya, kau tak keberatan, 'kan?
Jelas amat sangat keberatan, lah!
Lagi pula, ini semua
adalah salahmu karena mudah sekali terhipnosis meski dari jarak sejauh itu.
Ditambah, aku tak bisa melindungimu dari sihir milik Caster,
jadi sudah sewajarnya aku berada di satu kamar yang sama denganmu.
Ya sih, perkataanmu itu memang masuk akal.
Tapi, malam ini-
Ya, deh.
Akan kuatur supaya kau bisa tidur di dekatku.
Bagus. Itulah keputusan terbaik yang harus diambil oleh seorang Master.
Tapi, hanya di dekatku saja, lo.
Ya ampun, mana bisa aku tidur pulas seperti itu, Bodoh.
Sudah enam hari berlalu sejak perang ini dimulai, ya.
Dan kaulah yang pertama kali datang ke sini dengan langkah tertatih-tatih.
Berarti, kau putuskan untuk mundur dari perang ini, Bocah?
Je-Jelas, lah!
Apa kau menyuruhku untuk mati?
Tanpa Servant, mana sanggup aku membunuh, ditambah, statusku bukan lagi sebagai Master!
A-Aku juga seorang manusia biasa!
Justru akulah yang jadi korbannya, tahu!
Jelas-jelas tak adil dong, kalau mereka datang membunuhku yang sudah tak bisa apa-apa ini!
Apa? Apa ada hal yang lucu?
Tentu saja tidak.
Kaulah orang pertama yang mengundurkan diri dari perang,
dan juga, yang gunakan jasa gereja ini sejak pertama kali didirikan.
Tentunya, akan kuberikan perlindungan terbaik untukmu.
Apa? Jadi, baru aku yang sudah dipastikan kalah dari peperangan ini?
Kalau sampai kakek tahu, entah malapetaka seperti apa yang menungguku.
Ini semua adalah salah kalian!
Kenapa aku yang harus dapat Servant sebusuk Rider?
Oh? Jadi, kemampuan Rider tak berguna bagimu?
Memang!
Setelah semua yang kulakukan untuknya, dia malah seenaknya mati konyol!
Servant lainnya pasti jauh lebih berguna dibandingkan dia!
Berengsek, padahal aku sudah turuti nasihat kakek!
Semua persiapanku sudah sempurna!
Tapi, para bajingan itu malah halangi jalanku!
Dua lawan satu, tahu! Mana mungkin aku punya kesempatan menang!
Benar, kekalahanku bukanlah kesalahanku.
Karena jelas, Servant mereka lebih baik dari punyaku!
Berengseknya, mereka malah memandangku rendah dengan penuh kesombongan!
Bangsat! Bangsat! Bangsat! Bangsat! Bangsat! Bangsat! Bangsat! Bangsat!
Kesimpulannya, kau masih punya tekad untuk lanjutkan perang. Begitu?
Keberuntungan ada di pihakmu.
Kebetulan, saat ini ada satu Servant yang menunggu datangnya Master.
Lalu, apa coba yang dokter bilang padaku?
"Jarang sekali ada orang yang sesehat Anda, Bu Fujimura,
jadi apa Anda berkenan untuk donorkan darah? Hohoho!"
Padahal aku juga pasien yang sedang sakit!
Parah banget dokternya!
Tambah!
Yang penting, syukurlah semua itu hanya anemia biasa, 'kan?
Sekolah juga tak harus ditutup.
Ya, sih.
Aku senang sih, sekolah akan terus berjalan seperti biasa.
Tapi, tetap ada yang aneh.
Aneh?
Meski kekacauannya sebesar itu,
tapi penyebabnya sama sekali belum diketahui.
Hanya saja, katanya ada kebocoran zat kimia dari ruang kelas kosong di lantai satu.
Padahal mereka selidiki seluruh bangunan semalaman,
aneh juga kalau hanya itu yang ditemukan.
Tapi, murid-murid yang dirawat di rumah sakit, bisa cepat pulang, 'kan?
Ya, memang berbeda tiap orangnya sih, tapi mayoritas sudah boleh pulang.
Ah, Sakura juga.
Syukurlah.
Kalau ada waktu, kau jenguk dia, ya.
Aku yakin, Sakura pasti akan senang sekali.
To-Tohsaka?
Ternyata memang ada yang mencurigakan pada Issei.
Mencurigakan? Apanya?
Master-nya Caster.
Caster mengubah Kuil Ryuudou jadi sarangnya, dan Issei yang berangkat sekolah dari sana.
Mustahil kedua hal tadi tak berhubungan.
Itu sih, bisa saja hanya kebetulan.
Apa? Jadi, kau lebih percaya pada Issei?
Duh, bukan begitu juga.
Ikut aku.
Sudahlah, cepat!
Tohsaka?
Ya, ya, aku juga mengerti apa yang mau kaukatakan, kok.
Aku 'kan sudah bilang mengerti, jadi jangan menggerutu, dong.
Soalnya, susah kalau kau sudah cemberut begitu.
Aku tak cemberut!
Tapi, mau bagaimana juga, sulit dipercaya kalau Issei bekerja sama dengan Caster.
No comments yet. Be the first to leave one.