De første 200 linjer.
Kau akan banyak habiskan waktu di sini. Ini akan menjadi kamarmu.
Ada hewan yang sedang dihilangkan kutu-kutunya.
Ruang kompresi. Itu tempat tidurmu.
Ini masih tertutup rapat.
Dan ini warna catmu.
- Warna apa itu, Sayang? - Jamaica Bay Blue.
Jamaika. Dan itu kau.
Ya. Hai. Dan itu ayahmu yang sedang memainkan mainan barunya...
- Dan tak membantuku mengecat. - Maaf.
- Aku bisa membantu. - Benarkah? Ayo.
- Kalau tak merekam, pasti kubantu. - Ambil tangga lain.
Kau harus pakai tangga yang benar. Tangga itu...
- Baik. Siapa itu? - Kakakku. Dia mau lihat kamar anak.
Daniel, ini sangat indah. Aku sangat menyukainya.
Aku suka warna biru. Untung kau pilih ini. Lebih baik dari hijau.
- Bagaimana perasaanmu? - Aku baik-baik saja.
- Bagaimana dengannya? - Baik. Dia menendang dan berenang.
- Halo, bayi kecil. - Tidak.
- Namanya Hunter. - Namanya Tyler.
- Aku suka itu. - Tyler Hunter.
Aku suka keduanya. Sulit untuk memilih.
- Kau harus memilihnya. - Persiapan pindah.
Ada beberapa kardus di mobilku...
Yang ingin kutaruh di ruang bawah tanahmu.
- Ini kotak terakhir. - Benarkah?
Mungkin.
- Kau agak gugup? - Tidak. Aku bersemangat.
Aku selalu tinggal di tempat Micah.
VHS? Itu sangat kuno.
Apa kita punya pemutar kaset video? Aku tak tahu barangmu sebanyak ini.
Aku memilikinya sejak Nenek Lois meninggal.
- Aku bahkan belum menontonnya. - Kenapa kau yang memilikinya?
- Entahlah. Kau bisa mengambilnya. - Aku tak pernah diberikan apa pun.
Jadi siapa yang tidur di kasur atas?
Kami bukan anak usia 12 tahun.
Kita bisa mendapatkan pemutar kaset video secara gratis.
- Aku sama sekali tak ingat ini. - Kalian tak pakai format Beta?
Tak apa. Akan aku tindih video lama. Bisa tolong keluarkan Abby?
- Dia bisa terkena pecahan gelas. - Kami kembali dan semua hancur.
Sepertinya tak ada yang hilang. Hanya saja..
Itu yang dikatakannya. Pastikan kita mendokumentasikan semuanya.
Jangan menyentuh apa pun.
Ini ruang bawah tanah kami. Aku tak melihat ada yang pecah.
Aku tak melihat kotak video yang dibawa Kate.
Sepertinya hanya itu yang hilang.
Itulah dia. Ibu dari anak yang berulang tahun. Kekasihku.
- Kue cokelat dengan hiasan pelangi. - Kue itu terlihat lezat.
Terlihat bagus. Dan begitu pun kau. Entah bagaimana kau melakukannya.
- Selamat ulang tahun. - Kau tak apa-apa?
- Selamat ulang tahun, Katie. - Hati-hati di belakangmu.
Selamat ulang tahun.
Awas rambutmu. Bagus.
Ini dia gadis yang berulang tahun. Dia terlihat tak senang.
Ada masalah. Dan ini adiknya.
- Di bawah trampolin. - Dua puluh suap?
- Itu yang dulu ibuku suruh. - Banyak kue di piring itu.
Julie, ajak Kristi kemari.
- Katakan hai, Kristi. - Hai.
Agak pemalu. Mereka saling menyayangi.
Ini Nenek. Selamat ulang tahun.
Nenek tak pernah lupa hari lahirmu.
Nenek menggendongmu, kau membuat Nenek tertawa dan menangis.
- Kau sangat lucu. - Peralatan penting. Hati-hati.
Bagaimana kau rekam pernikahan dengan ini? Pasti punggungmu sakit.
Kau harus melatih bagian tubuh...
Aku baru berada di sini selama beberapa bulan.
Tapi terima kasih telah menyambutku ke dalam keluargamu.
- Aku menyayangimu... - Dennis, pundakku.
Aku sangat menyayangimu. Selamat ulang tahun.
- Ambil ini. - Baik.
Katie, santai saja. Dia sudah mati.
Kau monster kecil.
Baik. Kameraku siap.
- Aku ingin melihat giginya. - Baik.
- Giginya akan dicabut hari ini. - Boleh aku dorong sedikit?
- Jangan dorong. - Bibir bawah.
- Kau mau jus? - Turunkan.
Itu bagus!
Mari lihat. Buka. Jangan dorong dengan lidahmu. Mari lihat.
- Sudah siap. - Kurasa sudah siap.
- Kau bisa jadi dokter gigi. - Terima kasih. Menurutmu aku cocok?
Bungkus dengan tisu, taruh di saku dan bawa pulang untuk...
- Peri Gigi. - Benar.
- Kita taruh di bawah bantalmu. - Kau suka Peri Gigi, ya?
Kita semua sayang Peri Gigi. Kenapa perlu mangkuk?
- Karena dia mau makan. - Dia lapar?
Kristi, Toby tak nyata.
- Dia nyata. - Bukan masalah.
Randy, asistenku, terlambat 43 menit dan dia selalu terlambat.
Jadi kami akan mengerjainya dan memberinya pelajaran.
Masuklah dari pintu depan.
Randy, aku butuh bantuanmu. Masuklah dari pintu depan.
- Dari mana kau? - Maaf, aku terlambat.
- Aku terjebak macet. - Tak apa-apa. Ada yang bocor.
Aku harap kau datang lebih cepat. Ada kebocoran di langit-langit.
Coba dorong ini. Tahan sebentar. Aku butuh bantuanmu.
- Aku tak tahu harus bagaimana. - Tahan.
- Apa? - Ada apa?
Entahlah. Kurasa ada masalah dengan catnya.
Aku ingin mengambil sesuatu. Aku akan kembali. Tunggu aku.
- Kau mau aku menunggu seperti ini? - Terima kasih, Randy.
Dennis, aku harus menunggu di sini?
- Dennis? - Masuklah, tak apa-apa.
- Masuklah dan ambilkan aku tangga. - Tidak.
- Kau serius? - Ya.
Kau tak harus mendengarkannya. Dia bukan ayah kandungmu.
- Kalian mau bermain trampolin? - Ya!
- Ayolah. - Ada trik yang ingin kutunjukkan.
Yang benar saja.
- Kau siap untuk kejutan? - Sebaiknya itu tangga.
- Apa yang kita temukan? - Laba-laba.
- Dennis! - Laba-laba yang lucu.
- Ayolah, Kawan. - Baiklah.
- Berikan padanya. - Baiklah.
- Itu bahkan bukan laba-laba. - Itu sakit.
- Ini hari penting, 'kan? Ada apa? - Hari untuk berfoto.
- Dennis, kau masih terlihat. - Maaf.
- Baiklah. - Kristi, ayo.
Baiklah.
Senyum.
- Randy. - Ya?
Di mana kau temukan wanita ini?
Entahlah. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas.
- Aku sangat bahagia. - Aku suka pekerjaanku.
- Seharusnya aku minta nomornya. - Mungkin benar.
Ini bagus. Tak ada yang bisa kugunakan, tapi ini bagus.
Jule?
Julie?
Kita mulai lagi.
Halo? Julie?
Teddy, apa kau jatuh?
Apa itu?
- Apa yang kau lakukan? - Tak ada. Hanya melihat-lihat.
- Kalian baru pulang? - Ya.
- Hari khusus wanita. - Aku tahu. Apa menyenangkan?
- Menyenangkan. - Kau mengagetkanku tadi.
Baiklah. Ini saatnya.
- Jangan merekamnya. - Kenapa tidak?
Ini ilegal. Jangan tertawa.
Kita bahkan belum mengisapnya dan kau sudah paranoid.
Bagaimana kalau anakku tahu? Aku seorang ibu. Aku serius, Dennis.
- Julie, mari bicara serius. - Diamlah. Baiklah.
Isap yang dalam. Itu sangat banyak.
Julie, tiru suara ini. Dennis.
Suara apa? Suara ini?
Dennis, aku tak percaya kau merekamku mengisap ganja.
- Kau sangat cantik. - Diam.
Aku mau merekam kita bercinta.
Apa itu cabul?
Entahlah.
Apa itu artinya kau setuju?
Baiklah.
- Benarkah? - Ya.
- Halo, Wanita Cantik. - Hentikan. Entahlah.
Kau yakin mau melakukannya?
- Tidak. - Jangan menjawabnya.
Cepat, sebelum aku berubah pikiran.
- Apa yang kau lakukan? Apa itu? - Musik porno.
Bagus. Berkelas.
- Awal yang bagus. - Bukankah begitu?
- Ayolah. - Entahlah.
Ada apa? Tenanglah. Kita akan melakukannya.
- Ya, aku baik-baik saja. - Tenanglah.
- Apa itu? - Entahlah.
- Ini gempa Bumi. - Astaga!
Dennis, ini gempa Bumi.
Anak-anak! Ayo! Dennis!
Dennis, astaga, aku terlihat sangat gemuk.
- Tidak, kau tampak cantik. - Lihat besar tubuhku di atasmu.
- Kau tampak sulit bernapas. - Ini bagus. Aku mau rekam lagi.
- Lihat ini. - Dennis, kau harus hapus ini.
- Kau lihat itu? - Apa?
- Apa kau lihat di sudut? - Ya, seperti debu, kotoran...
- Ada sesuatu di sana. - Kau gila.
- Itu sangat lucu. - Tapi memang ada sesuatu.
Kau mulai gila, seperti orang yang mengira bisa melihat sesuatu...
Seperti di makanan, seperti melihat Bunda Maria di roti panggang.
Sangat lucu.
Ini harus dihapus. Kalau tidak, kita tak akan bercinta lagi.
Aku terlambat. Aku harus pergi.
Terima kasih telah menghapus keduanya.
- Kau akan menyesal berkata begitu. - Kurasa tidak.
Kurasa kau tak bisa satu hari pun tanpa seks.
- Jangan tantang aku. Hapus itu. - Aku tak akan menghapusnya.
Maaf.
Apa yang kau lakukan? Kau selalu terlambat.
- Ini karena mobilku. - Aku merekam gempa bumi.
- Benarkah? - Aku merekamnya.
- Menyeramkan, ya? Itu Julie. - Ini bukan apa-apa.
- Apa itu rekaman seks? - Ya. Tapi ada hal aneh terjadi...
- Dia membiarkannya? - Ya, tapi terpotong gempa bumi.
Aku tak akan membiarkan apa pun memotongnya.
- Tenang. Hentikan. - Biar aku percepat.
- Lihat ini. Siap? - Baik.
- Kontras. Aku sesuaikan warnanya. - Seperti ada debu jatuh.
Seperti sebuah sosok, 'kan? Kau lihat? Kau melihatnya?
- Kau lihat dia bergerak? - Itu bergerak. Apa itu?
Entahlah. Mari kita lihat.
- Itu aneh, 'kan? - Ya.
Aku sering dengar suara aneh di kamar anak-anak akhir-akhir ini.
No comments yet. Be the first to leave one.