De første 200 linjer.
DESTINED WITH YOU
Aku tahu…
jawabannya.
Takdirmu…
Takdirmu…
- tak bisa diputus. - tak bisa diputus.
Terima saja.
EPISODE 5
Kursi itu bukan untukmu.
Kau benci makan sendiri. Mau makan sendiri juga di sini?
Bagaimana kau jadi pengacara?
Kau tak paham petunjuk?
Kursi itu bukan untukmu.
Lalu, untuk siapa?
Ayahku.
Ini hari kematiannya.
Aku turut berdukacita.
Kalian mau memesan?
Ya. Satu kerang bakar besar,
satu kilogram siput laut, dan soju.
Astaga.
Itu akan kebanyakan untuk dua orang.
Tenang. Ini untuk tiga orang.
Begitukah?
Baik.
Akan segera kubawakan.
Terima kasih.
Terima kasih sudah menemaniku di hari peringatannya.
Kenapa kau tak minum?
Aku menyetir.
Kau tak bawa mobil.
Tidak sopan melewatkan minum di hari peringatan.
Kau bisa tangani kebiasaan mabukku?
Apa itu?
Bicara berulang-ulang?
Tidur di sembarang tempat?
Itu dianggap menggemaskan.
Jangan bilang…
kau mencium orang di sebelahmu atau semacamnya.
Entahlah.
Bisa jadi lebih berbahaya dari itu.
Diriku tak terkendali saat ini karena Mantra Cinta.
Jika aku minum juga…
Jangan minum.
Sebenarnya, aku tak tahu kebiasaan mabukku. Aku tak pernah minum.
Kau tak pernah minum alkohol?
Maksudmu,
tidak sama sekali?
Tidak mungkin. Bohong.
Kenapa…
Rasanya enak.
Kau pasti gila. Aku heran…
Apa karena penyakitmu?
Itu turun-temurun.
Tak bisa dihindari.
Ayah beranggapan itu karena kutukan.
Aku tak mau mendengarnya. Jadi, aku tak minum.
Ternyata orang kaya juga merasa cemas.
Malangnya nasibmu. Hidupmu membosankan.
Bagaimana ayahmu meninggal?
Aku tak menceritakan diriku kepada yang tak dekat.
Kita tak bercerita kepada orang yang dekat.
Kita menceritakannya agar dekat dengan seseorang.
- Sudah matang. - Awas.
Kau bisa terluka. Aku saja.
Ayah!
Ayah selalu bilang
pekerjaan stabil itu yang terbaik.
Maka itu aku jadi PNS.
Jangan cemaskan aku.
Lalu…
aku sungguh berencana membawa pacar kali ini.
Namun, ada pria aneh mengikutiku.
Kau sedang apa?
Sapalah ayahku.
Aku bukan pacarnya.
Aku juga bukan pria aneh.
Namun…
tampaknya aku
takdir Hong-jo.
Aku tahu jawabannya.
"Takdirmu tak bisa diputus.
Terima saja."
Kau sembunyikan karena merasa bersalah, 'kan?
Takdir yang tak terpisahkan biasanya berarti cinta.
Kita bisa simpulkan mantramu kepadaku mungkin tak akan pernah pudar.
Aku harus mengejar-ngejarmu dengan jantung berdebar kencang.
Apa tindakanmu?
Aku mabuk berat. Aku harus pulang.
Jangan lepas tangan
terhadap orang yang jadi takdirmu.
Bukankah takdirmu
- ada di Gangnam, 'kan? - Ya.
Aku datang jauh-jauh kemari untuk menjalin kembali takdir itu.
Namun, konyolnya,
kita ditakdirkan bersama.
Ini terjadi karena kau salah mantra, 'kan?
Kau salah.
Kaulah yang minum ramuan cinta, padahal bukan untukmu.
Aku juga korban.
Seharusnya kau berhati-hati saat merapal.
Seharusnya kau hati-hati saat memberi kotaknya.
Mengatasi masalah ini prioritas utama. Pokoknya, tanggung jawab.
Sin-yu,
jangan pasrah menerima takdirmu.
Pikirkan untuk melawannya.
Takdir ada untuk dilawan.
Sin-yu,
- kau mau menjadi takdirku? - Tidak mau.
Aku pun tak mau menjadi takdirmu.
Jadi, mari berusaha sebaik mungkin untuk melawan takdir kita. Setuju?
Kita pasti bisa.
Baiklah.
Aku akan berusaha keras melawan takdirku.
Aku pun tak mau
menjadi takdirmu.
Baiklah. Bantu aku.
Kali ini saja.
Astaga!
Dia sengaja melepasku.
Dia sangat menyebalkan.
Lebih baik aku bersama Tangan Merah.
Aromanya harum.
Aroma kayu.
Ini alasannya…
aku tak bisa melawan takdirku.
Apa itu?
Apa? Darah?
- Baik. - Apa yang terjadi?
- Gunung Onju berlumur darah. - Apa?
Pergilah ke sana sekarang.
- Baik. - Ayo pergi bersama.
Tidak bisa.
Kau akan pura-pura menemaninya, lalu kabur.
Kau bilang jaga mereka. Gunungnya berlumur darah.
Itu mungkin berbahaya. Jadi, aku ikut.
Sebagai kepala tim.
- Aku pamit. - Ayo.
- Apa? Aku… - Cepat.
Kenapa… Astaga.
POHON EK
Kita harus lapor polisi, 'kan?
Bagaimana jika darah manusia?
Mungkin ada mayat di sana.
Ini darah ayam.
Kau tahu dari mana?
Dahulu, restoran tak menjual ayam.
Untuk makan ayam, potong sendiri di rumah.
Bau darahnya persis seperti ini.
- Kau… - Pak Gong,
bukan hanya di sini. Di sana juga.
Ada lebih dari 200 jika dijumlahkan.
Belum ada sepuluh hari plangnya diganti.
Dilap saja.
Bisa dimaklumi jika itu cat semprot.
Namun, darah ayam terlalu aneh, 'kan?
Jika ini cat semprot,
tidak bisa dibersihkan. Semua harus diganti.
Selama 21 tahun jadi PNS, tak ada orang segila ini,
tapi aku tetap bersyukur.
Kenapa? Kita bisa mengelapnya.
Potretlah semuanya dan bersihkan
sebelum ada pengaduan lagi.
Baik.
- Kau bawa tisu basah? - Tidak.
CORNEL JEPANG
Kita lap pakai apa?
Aromanya harum.
Aroma kayu.
Kenapa kau lama sekali?
Aku langsung datang.
Ada apa?
Plang pohon yang rusak.
Kau seharusnya memberitahuku soal itu.
Mau dilaporkan?
Duduklah dahulu.
Baik.
Aroma apa ini?
Aku mengambil banyak foto. Lihat.
Kubilang lihat ini.
Bisa dilaporkan, 'kan?
Tidak perlu.
- Kenapa tidak? - Sebanyak 29 plang rusak.
Semuanya bahkan sudah dilap.
Jangan buang waktu polisi untuk ini.
Lalu, kenapa memanggilku?
Mengecek kau datang atau tidak.
Apa?
Seharusnya jangan datang. Kau bilang lawan takdirku.
Jika kau mendatangiku seperti ini, situasinya jadi sulit.
Kondisimu yang buat situasinya sulit.
- Hong-jo. - Apa lagi?
Kau dapat kesempatan langka.
Sulit memandang rendah aku.
Bagaimana wajahku dari atas?
Konon bulu mataku yang lentik membuat mataku menawan.
Kenapa melakukan ini kepadaku?
Aku ingin kau terkesan.
Kau tak akan lupa begitu melihatnya.
Dia bukan penasihat, tapi penyiksa.
No comments yet. Be the first to leave one.