De første 200 linjer.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
TERINSPIRASI DARI KISAH NYATA
WERNER, SOFIE WARGA AUSTRALIA
- Selamat Natal. - Terima kasih.
Itu dia!
- Ayah! - Kau mau ke mana?
Ya!
Ayah!
Ini. Pendingin ruangannya rusak.
Bagian belakangnya harus ditendang.
Ayah tahu siapa yang bokongnya harus ditendang!
- Dia datang! - Ho, ho, ho.
Selamat Natal!
- Hadiah! Hadiah! - Hadiah! Hadiah!
Tidak! Kita membuka hadiah setelah makan malam.
Bagaimana penerbanganmu?
Tepat waktu?
Ya.
- Mandilah sebelum duduk. - Tidak, tak perlu, Bu.
- Selamat Natal, Yah. - Selamat Natal, mein schatz.
- Bagaimana Dubai? - Hebat.
Keluarga Wilhelm pergi ke Okushiga untuk bermakin ski hari ini.
- Kau tak ingin ikut? - Aku tak bisa main ski.
Dia tak bisa main ski, tapi pandai memakai spreadsheet.
Cukup, mundurlah kalian.
- Selamat Natal, Sof. - Selamat Natal.
Tolong aku.
Ex... cel... si... or.
Excelsior.
Apa artinya, Ayah?
Bahasa Inggris, Mina.
Apa yang...
Apakah.
- apakah... - Ya.
artinya?
Luar biasa.
Amat luar biasa.
Lebih dari luar biasa.
Excelsior.
RESEPSIONIS
Permisi.
Nama Anda?
Moshin Abbasi mengutus kami.
Kamar 206, lurus, naik tangga.
Mana kuncinya?
Tak ada kunci.
Ini dia.
Kita tak bisa tinggal di sini.
Anak-anak tak bisa sekamar dengan para pria ini.
Kau benar.
Aku lapar.
Aku sampai dan ada istana besar di gurun
dan itu hari ultah Syekh, jadi, dia menggelar pesta besar
dengan pahatan es, kuda, piramida kaviar,
tapi yang terbaik, ada penyu di seluruh lantai
dan mereka dicat menyala.
- Mereka bersinar dalam gelap. - Kenapa?
Agar kami tak menginjak mereka saat menari.
Kisah menarik.
Wilhelm, ceritakan rencanamu untuk perusahaan.
Aku ingin mendengar cerita penyu Syekh lagi.
Ceritanya sudah selesai.
Elka, ini hari Natal.
Kita tak perlu membahas pekerjaan.
- Wilhelm? - Yah...
Masa depan bisnis kecil terus berkembang,
tapi ketenaran daring amat penting
bagi bisnis untuk mencapai dampak yang maksimum.
Kurasa yang kita perlukan adalah ikatan lebih mendalam
di level teknologis dengan klien muda kita.
Ayolah, Frau Klenner.
Bayangkan bayi berang-berang kecil kalian.
Astaga.
Lihatlah hadiah cantik yang dia berikan untukmu.
- Simpan ini! - Wilhelm yang malang.
Entah mana yang lebih baik, ini atau soal spreadsheet itu.
Anak-anak ingin hidangan penutup, Margot.
Berapa lama kau tinggal di rumah?
Beberapa hari.
- Terbang sesering itu pasti melelahkan. - Ibu!
Ibu hanya mencemaskanmu. Itu saja.
Tak usah.
Salaam, salaam.
Baik, ini tak seberapa,
tapi aku mengalahkan para orang Pakistan bermain kartu,
jadi, kini mereka tidur di bawah dan kalian bisa naik.
Gantung ini di antara kita.
Katanya kita bisa berbagi kamar.
Baik. Terima kasih.
Namaku Farid.
- Ameer. - Ameer.
Kau akan ke Australia?
Inshallah.
- Kau? - Tentu saja.
Kau menunggu berapa lama?
Terlalu lama.
Tapi...
setidaknya di sini aku tak mengkhawatirkan antek-antek Saddam
yang menunggu di pojokan, siap menghajarku.
Apa?
Yalla. Kapan pun kau siap, naiklah, atur segalanya.
Akan kutunggu sampai kalian selesai.
- Taschakor, Farid. - Habibi.
Bukankah kau ingin pindah ke pekerjaan kantoran?
Ibu...
Jika dia hanya pulang beberapa hari, bagaimana dia bisa berpacaran?
Kevin tinggal setengah tahun di Hong Kong dan kami baik-baik saja.
Itu amat berbeda.
Itu tak terlalu... Bisa berhenti?
Memang harus ada kompromi.
Aku tak ingin dia kehilangan peluang.
Pesanan grosir memberikan margin untung besar...
Maksud Ibu, dia sudah tak muda lagi.
Yang penting, sekarang kita seharusnya ke luar negeri.
Kita bisa mengendalikan produknya...
Sof, apa kau di dalam?
Kalian harus siap pergi kapan pun. Tas harus selalu dikemas.
Aku tak tahu kapan, jadi, jangan tanya.
Pintu kalian akan diketuk. Satu koper, barang penting.
Makanan dan air akan disediakan.
Ameer, ini temanku Mohsin.
- Salam kenal. - Salam kenal.
Diam. Simak pria beralis tebal itu.
Ini awal petualangan kita.
Baik.
Jika bicara pada orang luar, kalian takkan naik kapal.
Jika membuat masalah di kapal, kalian kembali ke sini.
Uang tak kembali. Paham?
Ada yang mengerti?
Dia ingin uang.
Aku tak paham.
Saat pintu kalian diketuk, kalian pergi. Bawa satu tas saja.
Makanan dan air disediakan.
Jika berbuat salah, uang takkan kembali.
Tolong, aku tak bisa Bahasa Inggris.
Maaf. Ini darinya.
Pria ini mungkin penipu.
Mohsin bilang dia mengatur banyak kapal.
Tapi kita harus yakin.
Kita hanya bisa percaya kata orang.
Entahlah, Ameer.
Kau ingin kembali ke Afghanistan?
Kau tahu anak-anak kita akan diapakan.
Lihat kapal itu, Sadi.
Nama?
Ameer, Najeeba, Mina, Sadiqa.
Ya, tapi pukul tiga pagi,
dia mencoba naik ke kasurku dengan sekop itu.
Kakak yang baik!
Kukira dia akan masuk lewat cerobong dengan karung,
memasukkanku, dan kabur.
Omong-omong, air itu belum diganti
sejak anak-anak kencing di situ siang tadi.
- Kau... - Selamat menikmati.
Menerjang salju Dengan kereta satu kuda terbuka
- Astaga, Sull! - Apa ini?
Sisanya aku tak tahu Jalannya...
Anak-anak! Bapak Natal.
- Lihat apa yang kubawakan. - Terima kasih.
Kau di sana? Biar kunyalakan.
Silakan. Awas, Dik! Awas!
Sungguh hadiah terbaik!
Kau berbagi keceriaan di penjara?
Mereka bukan umat Kristiani, Janny. Kau harusnya tahu.
- Aku ingin mencobanya, Sammy! - Ya.
Ini hebat.
Serta...
untuk Nyonya Rumah.
Selamat Natal.
- Bagus. - Serius?
Jika kalian bekerja untukku di Barton, kalian akan kaya.
Aku senang kau melakukannya demi hal yang benar.
Tentu saja. Anak-anak!
Astaga. Aku suka ini.
Uang kotor.
Jangan serakah. Jangan macam-macam.
GOPA
Apa kalian bersenang-senang?
Kurasa begitu!
Baiklah, kurasa kita tahu siapa yang berbakat di sini.
Guru, penari, penyanyi.
Pat yang cantik.
- Kurasa aku amat beruntung, 'kan? - Tidak!
Akulah yang beruntung di antara kita.
Tapi menurutku dia pandai memantaskan diri.
Ya!
Benar, 'kan?
Ya, Gordon!
Aku mungkin tak pandai menari...
tapi untuk apa kita hadir malam ini?
Meski kita tak hebat, apa yang ingin kita lakukan malam ini?
Kita ingin membuka diri!
Kita berjalan seharian memakai setelan.
Maksudku bukan setelan kerja.
Maksudku setelan yang lebih sulit untuk dilepaskan, dan kenapa?
Karena setelan ini mengandung ekspektasi semua orang.
Mereka ingin kita menjadi partner yang sempurna.
Istri sempurna. Putri sempurna. Kakak laki-laki sempurna.
Tapi bagaimana dengan kalian yang sempurna?
Tapi ini kuncinya.
No comments yet. Be the first to leave one.