De første 188 linjer.
Hambar.
Jangan sembarangan, Mbak. Kau harus belajar masak juga.
Atau mau aku ajari?
Tiap hari makan begini pasti susah bagimu, 'kan, Kenshin?
Tak terlalu, kok.
Semakin sering memakan masakan Nona Kaoru, rasanya menjadi semakin enak.
Ibarat lidahmu yang beradaptasi, ya?
Kalau tak mau, jangan dimakan!
Padahal sudah enak- enak makan gratis!
Karena berhenti menjadi tukang, aku tak punya pemasukan.
Jangan gampang tersinggung begitu, dong.
Permisi. Maaf mengganggu kalian.
Aku ada sedikit urusan dengan Himura.
Kenshin, Pak Kepala Polisi...
Ah.
Aku punya permohonan, Himura.
Episode 6 Tudung Hitam
Lalu,
ada permohonan apa kepadaku?
Masalah ini mengancam martabat kepolisian.
Karena kami diarahkan untuk bungkam tentang masalah ini,
jadi, kalian juga sebisa mungkin tolong merahasiakannya.
Langsung saja, kami ingin meminta Himura mengalahkan penjahat.
Penjahat?
Julukannya adalah "Tudung Hitam".
Dia mengincar mantan pejuang revolusi yang aktif dalam pemerintahan,
dengan pembunuhan berantai disertai surat ancaman.
Pendekar yang tak pernah gagal memenuhi ancamannya dalam 10 tahun terakhir.
Kalau dia khusus mengincar pejuang revolusi,
artinya punya ketidakpuasan dengan sistem yang baru?
Mungkin itu juga termasuk.
Tetapi yang lebih utama,
Tudung Hitam tampak gemar membunuh orang.
Ketika dia mengincar pemilik jabatan, polisi memang memberi pengawalan,
apalagi sang incaran sendiri bisa menyewa orang lagi untuk memperketat pengamanan.
Tetapi si Tudung Hitam justru menginginkan itu,
karena dia sangat menikmati pembunuhan massal!
Sejak dia muncul di Shizuoka dua bulan lalu,
sudah ada 34 korban jiwa yang gugur,
dan ada 56 orang yang terluka parah.
Tolong tunggu sebentar!
Kalian memiliki polisi bersenjata senapan, 'kan?
Kenapa masih tak bisa...
Masalahnya,
entah karena alasan apa mereka selalu terbunuh lebih dahulu
sebelum menembakkan pistol.
Dari kesaksian petugas yang berhasil selamat,
tubuh mereka menjadi kaku seakan membatu.
Serangan "Nikaido Heiho: Shin no Ippo".
Eh?
Mungkin karena orang itu terlalu sering membunuh,
hanya warna dan bau darah saja yang dapat memenuhi hasratnya.
Meskipun zaman Meiji sudah berlangsung 10 tahun,
rupanya masih ada orang seperti itu.
Kenshin.
Pengawal tambahan?
Tak usah.
Penjahatnya cuma ada satu orang.
Bukan hanya pengawal, polisi pun tak kubutuhkan.
Tuan Tani, orang tersebut adalah Tudung Hitam!
Jaga nada bicaramu!
Aku yang selamat dari hujan peluru dan pedang sampai revolusi,
tak berhak kau atur- atur sebagai polisi!
Maka, seharusnya Anda tahu!
Semengerikan apa pelaku pembunuhan berantai ini!
Ha! Justru karena paham betul,
aku menyewa pengawal- pengawal terbaik ini!
Para pejuang Jusanro Tani dari Angkatan Darat yang terkenal!
Benar! Pak Tani sudah punya kami!
Kalian para polisi, berak saja di rumah!
Selain itu, memalukan sekali menyewa pengawal dari pihak lain!
Kau mau bilang, kalau pengawal itu lebih kuat dari gabungan anak buahmu?
Aku malu mengatakannya, tetapi memang demikian.
Ha?
Setelah kusimak, sekarang Pak Tani menjadi sangat angkuh, ya.
Berbeda sekali dengan saat masih kulindungi dari hujan peluru dan pedang di zaman Bakumatsu.
Hei, siapa yang tadi kau sebut pengawal terbaik?
Aku ingat pernah menghajar mereka semua.
Meski mungkin pengawal asing tak bisa Anda percaya,
tetapi tolong maklumilah untuk malam ini saja.
Tentu saja percaya!
Justru sebuah kehormatan bagiku!
Karena begitulah ceritanya.
Untuk malam ini, ayo kita lupakan yang sudah berlalu.
Untuk malam ini saja.
Tuan Tani, boleh kuposisikan petugas di luar rumah juga, 'kan?
Terserah saja!
Tolong pengawalannya!
Waktu di surat ancaman tinggal lima menit lagi.
Tetapi apa orang itu benar-benar muncul?
Justru kalau tak benar-benar muncul malah lebih baik.
Mungkin si mbak sudah pada tidur, ya?
Ya, dia berkata ingin bangun pagi-pagi
untuk menyambut kita pulang.
Tetapi Kenshin...
Kau mengambil pekerjaan begini juga?
Kupikir, kau benar-benar sudah terlepas dari peran Battousai.
Tentu ingin terlepas.
Tetapi masalah ini tak boleh dibiarkan.
Kalau kejahatan Tudung Hitam tak dihentikan, maka orang yang menderita akan bertambah.
Termasuk si Tudung Hitam itu sendiri.
Justru aku lebih heran, kau bersedia membantuku.
Kau bicara apa?
Berantem yang seru begini mana mungkin kulewatkan?
Ini bukan masalah perkelahian.
Oke, mumpung lagi tanya jawab, aku ada satu pertanyaan lagi.
Pertanyaan apa?
"Nikaido Heiho: Shin no Ippo" yang kau sebut tadi siang itu apa?
Apa mungkin kau mengenal identitas Tudung Hitam?
Kenapa pertanyaannya menjadi dua?
Jangan dipermasalahkan, tinggal jawab saja.
Itu hanya isu belaka.
Isu?
Isu yang kudengar dari 12-an tahun lalu.
Tentang identitasnya, aku memang punya dugaan.
Teriakan siapa itu?
Bukan dari dalam!
Arahnya dari luar!
Dia datang!
Aku dan Sanosuke akan maju di depan!
Yang lain berjaga di belakang!
Bergegas!
Jangan gelisah sendiri, Kue Babi!
Sebagai raja, cukup berada di tengah!
Pukul 1.
Senyap.
Oalah, ancaman palsu.
Siapa bilang?
Kali ini ada serangga berani mati, ya?
Aku tak bisa tidur.
Kenapa, ya?
Firasatku sangat tak enak.
Aku yakin Kenshin pasti baik-baik saja, sih.
Apalagi ditemani Sanosuke juga.
Kau baik-baik saja, 'kan?
Kenshin?
Satu.
Dua.
Tiga.
Ada sekitar 14 atau 15, ya?
Ternyata cukup sedikit.
Itu si Tudung Hitam, ya?
Pantas saja, matanya memang menyeramkan.
Sano.
Aku akan melawannya.
Kau tolong jaga Pak Tani.
Kenapa kalian malah diam saja?
Cepatlah serang!
Kalian sudah kubayar banyak untuk mengawal!
Bekerjalah dengan benar!
Bagi yang mengalahkannya, kuberi upah lima kali lipat!
Kuberi jabatan juga di Angkatan Darat!
Lima kali?
Jabatan!
Mantap, kuambil jabatan itu!
Tidak, itu akan menjadi milikku!
Dasar bodoh!
Kalian rela mati demi harta?
Perasaan ini sangat nikmat.
Cepat sekali!
Dia tak loncat-loncat seperti Kenshin,
tetapi gerakannya bikin merinding!
Mundurlah!
Keroco seperti kalian bukan tandingannya!
Jangan kabur.
Apa yang tadi itu?
Badanku menjadi kaku!
Kalian tak boleh kabur.
Setelah mengacungkan pedang, salah satu pihak harus ada yang mati.
Kalau tidak, menjadi membosankan.
Keparat!
Apa yang tadi kau lakukan?
Badanku menjadi terasa sangat berat!
Oh?
Rupanya kau masih dapat bergerak di hadapan "Shin no Ippo"?
"Shin No Ippo"?
Nikaido Heiho: Shin no Ippo.
Nama lainnya adalah Mantra Isukumi.
Aku memang sudah curiga,
tetapi kau benar-benar si Tudung Hitam, ya?
Himura!
Sewaktu di Kyoto zaman Bakumatsu dahulu,
aku pernah dengar isu tentang seorang pria.
Seorang pria yang merajalela di wilayah mana pun hanya untuk membunuh.
Seorang pendekar ahli penguasa Nikaido Heiho.
Pembantai Liar.
Jin-e Udo.
Kenshin si Pengembara
No comments yet. Be the first to leave one.