De første 160 linjer.
Kuilku telah hancur membusuk.
Dunia pertikaian yang dulu dipenuhi dengan permohonan keji.
Tapi bekasnya telah dilupakan dan tak ada lagi yang datang.
Rabo.
Tapi aku masih hidup di sini.
Kita adalah dewa bencana.
Tempat kita lahir adalah tempat kita lenyap.
Benar, 'kan, Dewa Yato?
Eh?
Eh?
Bodoh! Kenapa kau ikut kemari, Hiyori?
Eh? Di-Di mana ini?
Aku punya ekor?
Eh? Tak mungkin! Apa ini?
Kau...
Aku senang kau datang.
Rabo.
Ada satu tamu tak diundang.
Kau benar-benar merusak pemandangan.
Hiyori!
Pergilah dari tempat ini!
Sekali lagi
majulah!
Sekki!
Reiki!
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
pistol penuh dengan peluru berada di satu tanganku
dangan kometa shojuu wo boku wa katate ni motteiru
sambil gemetaran ku menuju tempatmu berada secepatnya
furueta kimi no iru basho he ashi wo hayame mukatteiru
jam berdetik di tanganku
TICTAC hari wo TICTAC to
hanya untuk menyulut hati yang terburu-buru
aseru kokoro wo sekashita dake
jam berdetik di tanganku
TICTAC hari wo TICTAC to
terus maju walau tak tahu arah mana yang kutuju
todomaru kehai mo naku susunde yuku
jam berdetik di tanganku
TICTAC hari wo TICTAC to
awal dan akhir dari mimpi tak masuk akal
owari to hajimari no sakayume
jam berdetik di tanganku
TICTAC hari wo TICTAC to
semuanya bertumpuk jadi satu
subete kasanatta
hei, kenapa aku menunggu?
hei, doushite boku wa matteita
sendirian dalam kamar yang redup ini
usugurai heya hitorikiri
hei, kenapa aku menunggu?
hei, doushite boku wa matteita
suara pintu yang didobrak
DOOR keaburu sono oto wo
hei, kenapa aku menunggu?
hei, doushite boku wa matteita
sendirian dalam kamar yang redup ini
usugurai heya hitorikiri
hei, kenapa aku menunggu?
hei, doushite boku wa matteita
sudah tak ada lagi yang kutakutkan
mou osoreru koto wa nai yo
memegang pistol terisi penuh peluru
dangan kometa shojuu wo motteta
kutendang pintu yang tertutup rapat
kataku tozasareta DOOR keyabutta
pistol yang mengarah padaku meletus menembus aku yang kemarin
tsuitsuita juukou ga hanete kinou no boku wo tsuranuita
kubuang keputusasaan dan aku yang besok mulai berjalan
uwazumisou zetsubou wo totte ashita no boku wa arukihajimeta
ayo bertemu lagi malam ini
mata konya machiawase yo
Episode 12
Satu Keping Ingatan
Akan kupaksa kau mengembalikan ingatan Hiyori!
Dia terpojok!
Lemah!
Sial! Aku tak bisa menghancurkannya dari dalam!
Furuhime, Dewa Yato masih belum kembali.
Hiyori?
Kau tak apa-apa?
Ya.
Kenapa kau masih di sini?
Kau sudah kusuruh pergi, 'kan?
Tapi, terima kasih.
Ya.
Tatapan apa itu?
Wajah lembek itu.
Di mana?
Dewa bencana yang kutahu!
Di mana Yato sang dewa bencana?
Mata indah yang penuh dengan kekejaman.
Di mana Dewa Yato itu?
Aku ingin mengadu pedang dengan dewa bencana itu!
Berisik!
Jadi begitu.
Ini masih belum cukup.
Bicara apa kau?
Keparat!
Sekki!
Hei, Rabo.
Badai yang besar sekali.
Ini pertanda buruk.
Siluman-siluman ini tak ada habisnya.
Kazuma!
Ya!
Kofuku bilang apa?
Badai ini sepertinya bukan karena liang angin.
Ini mungkin akibat dari dewa bencana yang mengamuk.
Dewa bencana?
Yukine!
Yato, bagaimana ini?
Kau bawa Hiyori pergi dari tempat ini.
Yang diinginkan Rabo adalah aku.
Aku akan membuatnya sibuk. Gunakan kesempatan itu untuk lari.
Tapi bagaimana denganmu? Kau takkan punya senjata kalau aku pergi!
Berisik! Aku akan menanganinya sendiri!
Itu...
Bola yang berisi ingatan Hiyori.
Oh, sayang sekali.
Benar-benar mudah lenyap.
Hiyori!
Hiyori!
Hiyori! Hiyori!
Hiyori!
Hiyori!
Yato, bagaimana ini?
Hiyori tak mau membuka matanya!
Lupakan dia, Dewa Yato.
Sekarang dia hanya wadah tak bersuara dan tak punya perasaan.
Tak lebih dari gumpalan daging.
Rabo.
Apa kau membenciku?
Baguslah.
Bencilah aku, wahai dewa kejam.
Kemudian bangunlah oleh kekuatan kebencianmu itu,
dewa bencana, Yato!
Tutup mulutmu.
Sekki!
Benar. Mata itu.
Majulah!
Kau yang maju.
Akan kutebas senyum di wajahmu itu.
Yato.
Aku jadi teringat kenangan dulu.
Langit ini sama seperti waktu aku masih hidup.
Kita adalah dewa bencana.
Dewa keji yang mengabulkan permohonan kejam dan melumuri alam nyata dengan darah.
Rabo.
Ini dia. Ini saat yang aku tunggu.
Ini saat permohonanku menjadi kenyataan!
Namaku adalah Rabo.
Dengan nama asli, aku buka topeng ini.
Kujadikan diriku sebagai wadah roh!
Nama yang baru takkan bisa menentang perintahku!
No comments yet. Be the first to leave one.