De første 200 linjer.
Kim Min-chae, ibu datang!
EPISODE 10
- Di mana Nenek? - Pergi menemui temannya.
Kenapa Ibu kemari?
Nenekmu meminta ibu membuat talenan baru.
Apa itu?
Apa?
Kakimu cedera? Sejak kapan begini?
Ini? Entahlah. Mungkin saat berlatih untuk kompetisi balet.
Memarnya belum hilang hingga sekarang?
Kenapa tak beri tahu ibu?
- Ayo ke rumah sakit. Ganti bajumu. - Kenapa ke rumah sakit cuma karena ini?
Aku selalu memar.
Kaki bisa bermasalah jika dibiarkan saja.
Aku tak apa.
Dahulu, kuku kaki Ibu juga pasti begini karena beranggar.
Kenapa berlebihan?
Ibu adalah ibu, dan kau adalah kau.
Ganti bajumu dan keluar.
Akhirnya aku ke rumah sakit,
tetapi ternyata baik-baik saja. Aku jadi malu.
Katanya tidak ada masalah. Hanya saja kuku kakiku memar.
Sungguh? Syukurlah.
Tunggu. Ucapanku aneh, ya? Padahal memar juga cedera.
Tidak, perkataanmu benar.
Ligamenku tidak putus, dan ototku juga tidak robek.
Benar. Namun, tetap awasi memar itu.
Jika itu kuku mati, nanti bisa sakit karena kuku baru tumbuh di bawahnya.
Tentu saja aku tahu.
Kenapa kita tahu semua hal seperti ini?
Aku sangat mengkhawatirkanmu tadi karena kau terlihat kesakitan.
Kini, aku punya orang yang berkata bahwa dia mengkhawatirkanku.
Ditambah lagi…
aku juga punya orang yang berkata bahwa dia mencintaiku.
Cinta.
Itu adalah cinta.
Aku mencintaimu, Na Hee-do.
Aku…
tidak butuh pelangi.
Kau mencintaiku?
Aku…
Aku sepertinya tidak merasa sebegitunya.
Jadi, sebenarnya,
ini tidak ada hubungannya dengan anggapanmu tentang aku.
Apa pun yang kau lakukan
dan bagaimanapun sosokmu,
aku mencintaimu apa adanya.
Benar. Jika kau menjadi lebih bahagia dengan pernyataan cintaku ini,
aku tidak mengharapkan apa pun lagi.
Kau tidak mengharapkan apa pun?
Bagaimana bisa begitu?
Apa biasanya cinta memang begitu?
Aku merasa begitu kepadamu.
Aku bahagia.
Rasanya duniaku yang selama ini kosong menjadi terisi penuh.
Aku jadi tak asing dengan hal yang sebelumnya asing
dan merasa akan tetap bisa bertahan meski hal buruk terjadi.
Aku merasa jadi lebih kuat.
Dalam sesaat, aku menjadi orang yang tidak punya hal yang ditakuti.
Jika bersama Back Yi-jin, aku merasa bisa melakukan apa pun.
Hal yang harus kurelakan demi anggar?
Kenangan remaja biasa.
Ada hal yang hanya bisa dilakukan di umurku
seperti berpiknik dan karyawisata.
Aku tak pernah melakukannya sekali pun.
Aku ingin pergi karyawisata.
Di hari akan pergi karyawisata, ada banyak bus di lapangan,
dan teman-teman terlihat senang.
Aku jadi merasa sedih saat masuk ke gimnasium.
Kau tahu, ada makan-makan malam ini?
Ya, Pak.
Pergelangan kaki Na Hee-do baik-baik saja?
Apa kata dokter?
Dia baik-baik saja.
Namun, bagaimana kau tahu dia terluka?
Tentu saja berita keributan itu tersebar.
- Begitu. - Sudah minta maaf pada Pak Park?
Apa harus minta maaf?
Tidak perlu.
Satu dari kalian hanya perlu berhenti dari proyek ini.
Karena akan merasa tidak nyaman setiap bertemu di kantor,
dan membuat orang-orang yang tak bersalah menjadi tidak leluasa karena kalian.
Meminta maaf dalam dunia kerja
dilakukan demi kedamaian bersama, bukan untuk berbaikan.
Dunia kerja tidak peduli sama sekali kalian berbaikan atau tidak.
Entah apa menu makan-makan malam ini.
Semoga bukan daging babi. Ya, 'kan?
Kerja bagus.
- Kerja yang amat bagus. - Terima kasih.
- Kerja bagus. - Terima kasih.
- Tadi bagus sekali. - Terima kasih.
- Ya, kerja bagus. - Terima kasih.
Ada yang mau kau katakan?
Aku mau minta maaf.
Kenapa minta maaf begitu? Aku jadi malu.
Itu lumrah terjadi saat bekerja. Benar, 'kan?
Ayo kita bicara di luar, jangan di sini.
Ayo keluar.
Pak Park pemaaf sekali.
Benar.
Bicaralah.
Maafkan aku.
Aku tidak berpikir panjang kemarin.
Apa kau begitu karena pendidikanmu rendah?
Stasiun TV sudah gila karena menerima lulusan SMA
sehingga kejadian begini terjadi.
Apa kau begini bukan karena kau lulusan SMA,
tetapi karena kau tuan muda?
Hei.
Hei! Keluargamu sudah lama bangkrut. Kenapa masih begini?
Dasar bedebah sampah.
Kudengar orang kaya tetap punya uang sampai tiga generasi meski bangkrut.
Apa artinya kau masih punya sisa uang sampai berani melawan senior?
Tampaknya ayahmu masih bisa menjalani hidup dengan baik. Apa begitu?
Kenapa? Apa yang kau lihat? Mau memukulku?
Pukul saja kalau kau mau.
Baguslah jika salah satu dari kita dipecat.
Namun, kira-kira siapa yang akan dipecat?
Apa kau pikir itu aku?
Aku sudah lama berada di posisi ini.
- Bersulang! - Terima kasih.
- Kabar ayahmu baik? - Ya, Pak.
- Aku menyayangimu, Pak. - Tak apa.
Kau kuat minum.
Padahal rasanya belum lama kalian mulai magang,
tetapi kalian terlihat lebih santai karena menangani kompetisi internasional.
Namun, waktu itu semuanya sangat sulit dan melelahkan.
Aku bahkan tak tahu bagaimana itu bisa berakhir.
Reporter magang yang berpengalaman menangani kompetisi internasional
- akan lebih cepat mahir bekerja. - Benar.
Ya. Junior mereka tahun depan akan menganggap mereka keren.
- Benar. - Ya.
Apa kalian sudah dengar?
Katanya tingkat pendidikan akan dibatasi lagi untuk tahun depan.
Jadi, lulusan SMA tak bisa ikut tes lagi?
Ya, katanya sedang didiskusikan.
Jadi, reporter lulusan SMA kita ini
akan jadi simbol sejarah. Benar, 'kan?
Selamat, Back Yi-jin.
Kalau begitu,
ayo kita minum alkohol yang dituangkan oleh reporter lulusan SMA ini.
Tuangkanlah.
Lekas tuang.
Tanganku sakit.
Baik, Pak.
Reporter lulusan SMA akan menuangkan alkohol!
Lihatlah dirinya. Dia sudah tidak malu-malu lagi.
Bagus sekali. Kalau begitu,
mari kita bersulang untuk reporter lulusan SMA, Back Yi-jin,
yang sangat beruntung.
Mari bersulang! Bersulang!
- Bersulang! - Bersulang!
- Yi-jin! - Bagus sekali!
Ayo minum.
Kudengar kau berkelahi dengan Park?
Bagaimana akhirnya? Kau minta maaf?
Ya. Dia sudah memaafkan aku.
Baguslah.
Bagaimana kalau kita karaoke setelah ini?
- Karaoke! - Ya!
- Kita harus rebut mikrofon darinya. - Maaf.
Aku harus pulang.
Taksi!
Rupanya ada orangnya.
Hei! Berdiri yang benar.
Dasar bedebah ini.
Kau masih bisa tertawa?
Hei.
Kau baik-baik saja?
Jung-hyuk.
Apa aku melakukan hal yang benar?
Lihat dirimu sekarang. Pikirmu kau benar?
Kau ada benarnya.
Padahal aku harus bekerja dengan baik.
Kau pasti akan jadi lebih baik. Kenapa merasa terbebani begitu?
Kau bahkan belum setahun bekerja.
Bukan, Pak. Aku…
harus sungguh bekerja dengan baik.
Jika kerjaku buruk,
tingkat pendidikannya akan dibatasi lagi.
Jika begitu,
orang sepertiku tak akan punya kesempatan.
Ya, aku Back Yi-jin.
Halo. Kau sedang apa?
Ayah?
Apa…
kau masih di kantor?
Ayah matikan, ya.
Tidak. Aku sudah di rumah sekarang.
Kau minum alkohol?
Suaramu terdengar begitu.
Ya. Hari ini ada makan-makan.
Rupanya begitu.
Kau senang bekerja di sana?
Soal itu…
Apa kau ada masalah?
Ada…
banyak hal yang terjadi.
Namun, aku baik-baik saja. Semua orang hidup seperti ini.
Apa kau sangat kesulitan?
No comments yet. Be the first to leave one.