De første 200 linjer.
Dia tak menjawab teleponku.
- Dengar. Kita tak punya waktu. - Ya, aku tahu.
Kau harus selesaikan sekarang juga.
Baik. Aku akan mencari dia.
- Kau bisa? - Tolong tunggu.
- Ya? - Aku tak bisa menunggu lama.
Dokter Chase tak bisa dihubungi. Bisa bantu aku?
Mohon tunggu.
Apa kau tahu Gereja Nanum Jeil
yang pernah berlokasi di Changbi-dong?
Jadi, dia adalah anak yang katanya tak bernama itu?
Kenapa kau memegang kepalaku tadi?
Jawab pertanyaanku!
Bukan aku yang memegang kepalamu.
Apa katamu?
Dokter Chase!
Kau bisa mendengarku, Dok?
Apa kau baik-baik saja?
Buka matamu. Dokter Chase!
Ada apa sebenarnya?
Apa dia pingsan? Atau mabuk?
Aku tak tahu pasti.
Aku tak bisa percaya ini!
Ini termasuk kekerasan, dan kau harus menuntutnya.
Kau mau telepon ke mana?
Kita harus melaporkan dan mengusirnya. Dia harus dites narkoba.
Tadi kau hampir kehabisan air karena dicekik olehnya.
Yang benar kehabisan napas.
- Itu tak penting. - Tentu saja penting.
Jika tak belajar bahasa Korea dengan baik, kau bisa dipecat.
Kau bisa saja salah memahami pesanan dari tamu hotel.
Aku nyatakan secara resmi bahwa aku tak mau ini didiamkan begitu saja.
Baiklah, aku paham itu.
Sekarang tenanglah dan kembali bekerja.
EPISODE 7
Dia kembali dari haiking. Setelah haiking, ayo makan lagi!
Lucu sekali. Kenapa kau tak bisa buat begini?
- Kenapa kau tak terbang bak burung? - Aku tak mau kau lihat.
- Aku juga begitu. - Pembohong.
Ya.
- Pergi. - Apa?
Jadi, kau menuju Gangneung?
Ya. Apa kau ada waktu?
Aku tak yakin bisa membantu.
Kenapa harus aku? Apa Nona Kang tak bisa?
Nona Kang?
- Kang Da-jeong! - Kang Da-jeong!
- Kang Da-jeong berkulit seputih susu! - Kang Da-jeong berkulit seputih susu!
Dia bisa datang setelah makan siang
karena hari ini sif pagi.
Baiklah kalau begitu.
Aku akan berusaha juga.
Apa kau mual?
Aku tak apa-apa.
Perasaanmu masih buruk, 'kan?
Sudah lebih baik.
Tak apa.
Biasanya memang sulit bahagia di pagi hari.
Kau tak memacari siapa pun
setelah pisah dari Jun-ho?
Ya.
Jangan takut berpacaran.
Tak semua perpisahan seberat itu.
Jika semua begitu, mungkin semua orang sudah hancur sebelum mencapai 30 tahun.
Apa hanya aku yang menderita?
Mau kuberi tahu hal baiknya?
Kau tak akan pernah merasakan hubungan seperti itu lagi.
Katamu hal baik?
Untuk apa melakukan hal yang sama dua kali?
Hatimu sudah hancur, dan pernah berada di keadaan tersulitmu.
Bukan hanya hubungan seperti itu yang keren.
Kelak kau akan merasakan hubungan yang jauh dari masalah,
dan kalian berdua akan merasa nyaman bersama.
Hubungan seperti itu…
akan segera datang.
LVD dengan tambahan shot ,
pakai biji kopi Yirgacheffe, banyak krim, sirop setengah, dan sedikit es.
Bayar dengan kupon seluler, dan tolong cap di sini.
Jadi, kau pesan apa?
LVD
"LVD"?
- LVD. - LVD.
LV… LV?
Maaf. Biar aku ulang pesananmu.
Latte vanila dingin
pakai biji kopi Yirgacheffe,
tambah satu shot , krim yang banyak, sirop setengah,
dan sedikit es, benar?
- Benar. - Tidak. Dia pesan LVD.
- LVD. - Biar kulihat kuponnya.
- Cucilah piring. - Baik.
- Terima kasih. - Terima kasih.
Silakan selanjutnya.
Da-jeong, kau mau pergi?
Aku ganti baju, dan berikan ini dahulu.
Aku pindah saja. Jualanku tak laku.
Aku harus cari biaya sewa murah. Apa sudah hampir sampai?
Kau sudah kembali?
Kenapa tak nyalakan lampu jika semua gorden ditutup?
Kenapa kau keringkan rambutmu begitu?
Ini rahasia rambut indahku. Aku tak pakai angin panas,
tetapi angin dingin saat mengeringkannya.
Namun, kenapa nyakan lampu seterang ini?
Aku tak suka terang saat wajahku tak dihias.
Lampu itu bagai berkata…
"Kulitmu keriput!
Kau terlihat tua!"
Mereka berteriak begitu.
Baik.
Kau belum makan, 'kan?
Apa itu mandu ? Sungguh?
Bagaimana tahu aku mau makan mandu ?
Entahlah. Kau hanya mengirimkan foto mandu empat kali kepadaku.
Kira-kira bagaimana aku bisa tahu?
Pelayanan di sini lumayan.
Apa karena kau kerja di hotel? Aku bisa di sini lebih lama.
Kau berlagak tak dengar.
Apa diammu melambangkan setuju?
Makanlah.
Rupanya dia mengabaikanku.
Siapa kau?
Apa? Kau memanggilku?
Kau mau makan? Namun, ini masih kurang untukku.
AIR HANGAT
Apa ini?
Kau memberiku air dingin?
Itu air hangat.
Kau mengeringkan rambut dengan angin dingin,
jadi, kau bersin tadi.
Kau mau ke mana? Tak usah beli lagi.
Aku tak nafsu makan.
Aku harus bekerja di lantai satu karena tak ada karyawan.
Jadi, aku harus sendiri lagi?
Padahal dari tadi aku sendiri.
Aku tak apa-apa. Silakan pergi saja.
Jika aku bosan,
aku bisa main dengan masukkan jariku ke steker agar tersetrum.
Apa kau punya cermin?
Sepertinya kau perlu bercermin.
Kenapa? Aku cantik.
Selamat makan.
- Sampai jumpa nanti. - Ya.
Dia tak akan makan mandu di kamar ini selama 15 tahun, 'kan?
A-ri, ada yang bisa kulakukan lagi?
Bila luang,
tolong atur bahan yang baru datang berdasarkan tanggal.
Juga tolong ambilkan gelas kertas, sedotan, juga siropnya.
- Ya. - Diisi? Baiklah.
- Ayo. - Ya.
- Ini. - Ya.
Di mana siropnya? Di mana?
- Gelas kertas di mana? - Di sini.
Hati-hati.
Jangan sampai kau malah potong jarimu.
Kau tak lihat tulisan ini?
"Tutup mulut jika kau tak tahu LVD."
- Sedotannya… - Biar aku saja.
Tanganmu kenapa?
Tak apa-apa.
Aneh. Padahal tadi tak ada.
Memar memang tak langsung muncul.
Biar aku lihat.
Aku membangunkan tamu hotel,
tapi dia pasti berpikir aku mencoba menyerangnya.
Dia tiba-tiba mendorongku.
Jika begini, dia pasti mencekam tanganmu dengan kencang.
Apa ada luka lain?
Di hotel semua lantai dialasi karpet.
Kau jatuh ke lantai?
Bagaimana bisa?
Kau sudah lapor polisi?
Kantormu tahu masalah ini?
Ini bukan masalah besar, jadi, aku diam.
Aku begini karena tergesa-gesa dan pergi sendiri ke sana.
Sungguh bukan apa-apa.
Kenapa kau bilang ini bukan apa-apa?
Tanganmu dicekam dengan sangat kencang,
didorong ke lantai, bahkan ada bekas cekikan.
Kenapa remehkan itu?
Harusnya kau ke klinik jika terluka, atau istirahatlah di rumah.
Setidaknya katakan itu kepadaku.
Kau tak boleh masih bekerja dengan tangan begitu.
Seseorang bisa menyangka aku sudah berbuat jahat kepadamu.
Apa kau begini karena tangan ini milikmu?
Karena aku melukai tanganmu?
Ini bukan saatnya bercanda!
Lantas, kenapa kau semarah ini? Aku tak apa-apa.
Kau terluka, Da-jeong.
Dan aku sangat marah kepada tamu yang tak kukenal itu.
Aku juga tak bisa marah karena aku hanya tetanggamu,
dan konyol jika aku marah.
Setelah tahu semua itu, aku merasa frustrasi pada diriku
yang tak bisa melakukan hal gila.
Puas?
Aku tak sengaja menutup pintu dengan kencang.
Itu karena angin.
Aku tahu.
Aku akan ambil obat. Tunggu.
Aku tak apa…
Bagaimana keadaan di sana?
No comments yet. Be the first to leave one.