De første 200 linjer.
Sudah 500 tahun berlalu sejak Raja Kera mengacau di surga
Dewi Welas Asih menyampaikan titah Sang Buddha
dan menunjuk Xuanzang, biksu kecil dari Chang'an
untuk pergi ke Barat
dan mengambil kitab suci Buddha
Di mana tempat itu?
Aku dengar dari orang tua
namanya Gunung Batas Ganda
Dulu tempat ini disebut
Gunung Lima Elemen
Gunung Lima Elemen
Biksu suci! Biksu suci!
Turunlah sekarang!
Tunggu, tunggu!
Apa yang harus kita lakukan dengan kuda putih ini?
Jadi, bagaimana menurutmu?
Tubuhmu kekar. Mengapa kau tak menyelamatkannya?
- Apa? Jaga dirimu kalau begitu. - Payah sekali!
Kita takkan bertemu lagi!
Tuan Harimau
Kuda ini punya kisah menyentuh
Dia dulu kuda kekaisaran
tapi kini menempuh perjalanan panjang dan sulit bersamaku
Dan dia punya keluarga, seperti dirimu
Jadi mengapa tak...
Hei. Maksudku kau!
Kemari! Mendekatlah!
Ya, kau lihat itu?
Siapa kau?
Hei. Sobek kain busuk itu!
Ya. Begitu!
Tapi itu jimat
Sobek saja!
Aku tak bisa mengusik jimat!
Jika kau tak ingin jadi makanan harimau
lakukan saja!
Tongkat Emas!
Anak nakal!
Apa kabarmu?
Jadi kau orangnya, ya?
Kurasa tidak
Dewi memintaku menemani biksu mengambil kitab suci
Sepertinya kau salah orang, Tuan
Aku berasal dari Dinasti Tang di Timur...
Dinasti Tang di Timur...
Ya! Kau orangnya
Karena Dewi sudah berkata begitu
Akulah yang akan mengantarmu ke Barat
Mengantarku?
Kurasa aku tak butuh
Bicara yang keras!
Tidak, terima kasih, Tuan!
Kau dengar dia, Dewi?
Dia memang tak butuh aku
Bukannya aku menghindar
Kalau begitu aku pergi
Botak!
Apa-apaan ini?
Kenapa tak bisa kulepas?
Dewi yang memberikannya padaku
Aku juga tak tahu
Botak. Jangan bercanda
Lepaskan dari kepalaku!
Diamlah
Ada tulisan di sini
Berhenti bergerak
Aku tak bisa melihat tulisannya
Oh, ini bahasa Sanskerta
Sepertinya aku harus membaca
- Lalu? - Aku harus melafalkannya
Ayo nyanyikan! Terima kasih!
Tuan!
Bisakah kau bertahan?
Mungkin akan longgar jika kau bersabar sebentar
Berhenti melafalkan
Jauhkan dirimu!
Aku akan melompat jika kau terus mendesakku
Ingin mati?
Tak semudah itu
Apa maumu sebenarnya?
Lepaskan ikat kepala emas ini!
Atau aku akan mencekikmu sampai...
Sudah kubilang berkali-kali, aku tak tahu cara melepasnya
Wukong. Biksu muda yang bersamamu ini
dulunya adalah Golden Cicada, murid Buddha
Kini, dia telah menjadi gurumu
Kau harus melindungi dan menghormatinya
Hanya sampai hari kau mengambil kitab suci dari Biara Guntur
ikat kepala emasmu akan terlepas
Tak ada cara lain
Aku akan membawa pulang kitab suci bodoh itu
Dewi belum selesai bicara
Awan Kintoun!
Dalam sekejap
Di mana biara itu?
Tuan!
Bagaimana bisa?
Dewi memintaku memberitahumu
Tak bisa terbang ke sana hanya dengan satu lompatan
Setiap penderitaan dalam perjalanan sudah takdir
Setiap langkah adalah latihan spiritual
- Tidak mungkin! - Hidup ini sangat indah
Apa katamu? Langkah untuk apa?
Indah?
Ya, penuh keajaiban
Aku bertanya-tanya
Hei Dewi, di mana kau? Halo?
Tuan
Dewi bisa mendengarmu
Tak perlu berteriak
Diam!
Pergi sana!
Beraninya kau!
Kembalikan kudaku!
Besar!
Besar!
Bukankah itu indah?
Jika selalu seindah ini sepanjang jalan
kita bisa berbagi perjalanan bersama
Kau memakan kuda kami. Aku harus membalasnya
Jadi kau setuju?
Kakak Kera
Anak pintar
Ada apa denganmu? Naik saja ke kudanya
Jangan harap aku akan menggendongmu
Tuan, lain kali kau mungkin tak perlu membunuh
bisakah kita berdiskusi sebelum melakukannya?
Tidak akan
Mengapa kau tak menunggang kuda?
Terbang itu melelahkan, bukan?
Kenapa kau banyak bicara!
Bisakah kau diam saja?
Sudah larut. Tulang Putih keluar untuk menculik anak-anak
Ayah, itu sama sekali tak seram
Itu benar
Tuan, lain kali kau mungkin tak perlu membunuh
Biar kulihat
Baik. Lupakan. Ayo tutup
Ya
Nyonya Putih... jangan! Tidak! Nyonya Putih!
Jangan ambil putriku!
Kumohon! Jangan!
Nyonya Putih! Tidak!
Sayang
Larut malam begini
matahari terbit?
Beraninya kau!
Setelah begitu banyak kejahatan
kau tak bisa selalu menyalahkan aku
Semua orang salah paham
Katakan. Apa yang harus kulakukan?
Nyonya, mohon ampunilah aku
Aku bersumpah takkan mengulanginya
Aku juga bersumpah, bahwa kau takkan mengulanginya
Kami tak bisa menentang titah raja kami
Oh benarkah?
Jadi kau menentangku
Kau takut?
Lalu mengapa tak pulang saja?
Aku harus mengambil kitab suci hanya karena aku takut
Apa maksud semua itu?
Kebenaran
Kebenaran tentang dunia
Biksu
Hanya ada satu cara
untuk mengetahui kebenaran
Yaitu dengan Mata Berapi milikku
Bukankah itu menyeramkan?
Mesum! Mesum!
Mesum!
Anak nakal!
Temanku
Harus kukatakan monyetmu
adalah ras yang bagus
Tapi dia terlihat... terlalu jelek
Kau bukan penguasa monyet
Kau pengambil kitab suci
Ya, benar
Akhirnya kau sampai
Kakak Sha!
Bajie!
Kenapa aku begitu tampan?
Beraninya kau, siluman babi!
Jangan hambat urusanku!
Hei. lagi?
Hei tidak! Hentikan!
Berhenti! Tidak!
Tak mau berhenti?
Baiklah?
Apa kau iri padaku...
...karena lebih tampan darimu?
Kau menabrakku!
Apa kau buta?
Ya ampun
Mau berkelahi?
Hentikan! Hentikan!
Aku berhenti, sungguh
Aku begitu imut. Apa aku salah?
Satu per satu, kau dulu
Babi!
No comments yet. Be the first to leave one.