Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba

Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba (鬼滅の刃)

Download Indonesian undertekster

Sæson 4

Udgivelsesinfo

09 Muichiro Tokito Sang Pilar Kabut
En kommentar af Inisial ZA
Pembasmi Iblis: Babak Kampung Penempa

Tags

other
Udgivet den: 2023-06-22
Downloads: 75
Hørehæmmede: No

Forhåndsvisning af Indonesian undertekster

De første 143 linjer.

Tuan Tokito.

Jangan meremehkanku, Bocah.

Yamiyo wo kakenukete doko e mukau Ke mana aku harus berlari dalam gelapnya malam?

Tsukiakari dake ga tada hitotsu no michishirube Satu-satunya pemandu hanyalah sinar rembulan

Itami mo kanashimi mo nuguikirezu Aku tak bisa hapus rasa sakit serta kepedihan

Saredo kono mune no honoo wa kesasenai Namun, aku tak akan biarkan kobar api dalam hatiku mati

Ta ga tame ni boku tachi wa kono omoi wo tsuranuite Untuk siapa kita harus emban kehendak ini?

Yami wo saki hi no shita de hikari sasu hi made Haruskah kita emban hingga sinar mentari menyingkap kegelapan?

Tokihanatareta kokoro ni yadoshita hi yo Dengan diselimuti api yang menyala dari hati yang bebas

Maiage matoe ima yoake no mukou gawa e Aku melesat jauh, dan kini, bisa melewati fajar

Kimi ga iru kono sekai mou ichido aiseru made Sampai aku bisa cintai dunia ini tempat kau berada sekali lagi

Wa ga inochi hateyou to mo tsunagete yukou Akan aku teruskan meski harus meregang nyawa

Kizuna ga tsumuide umareta kiseki wo Sambung keajaiban yang lahir dari ikatan batin yang kita jalin

Muichiro Tokito Sang Pilar Kabut

Episode 9

Siapa juga yang meremehkanmu?

Toh memang itu faktanya.

Kau akan mati setelah kupenggal kepalamu.

Karena sekarang, aku merasa dalam keadaan prima.

Entah kenapa.

Nada bicaramu itu yang meremehkanku, Bocah Berengsek!

Padahal kau hanya manusia yang masih berusia kepala satu!

Meski begitu, kau tak punya hal yang bisa aku segani.

Penampilan dan gaya bicaramu membuatku muak.

Itu karena kau tak berbudaya dan terlalu miskin

untuk memahami keindahan, keanggunan, dan keelokanku.

Sama halnya memberikan buku pada serangga jamban yang buta huruf!

Kau sendiri yang terlihat suka hidup di jamban.

Diam kau, Serangga Jamban!

Bilah pedang itu seperti kaki dan lenganmu, pendek dan tak akan bisa meraihku.

Bukankah jelas-jelas tadi kau sempat terluka?

Lihat dirimu, lengan-lenganmu lebih pendek.

Oh, jangan-jangan kau sedang bicara kepada diri sendiri?

Maaf jika aku mengganggu.

Pancinganmu itu murahan.

Kau kira Gyokko ini akan memakan umpanmu?

Kau terlihat sangat ingin menang. Sungguh menyedihkan.

Ada apa?

Aku cuma penasaran.

Sepertinya, bentuk gucimu penyok.

Gucimu tak tampak simetris.

Dasar seniman payah.

Itu pasti karena matamu yang buta!

Mananya dari guciku yang penyok?

Jurus Darah Iblis:

Sepuluh Ribu Ikan Lendir Melayang!

Sepuluh ribu ekor pembunuh ini akan melahapmu sampai ke tulang!

Aku akan menjadikanmu salah satu mahakarya!

Ilmu Napas Kabut,

Jurus Keenam: Kabut Penghilang Rembulan.

Dia... Dia menebas semuanya?

Kecepatan dan luas serangannya bukan main!

Ke mana racun-racunku?

Ini di luar dugaan.

Namun, bukan masalah besar.

Ikan-ikanku akan mencecerkan racun dari cairan tubuhnya

sebelum menjadi abu saat ditebas dengan Pedang Nichirin.

Terlebih, racunnya jenis transdermal yang bisa masuk lewat pori-pori kulit.

Sekali kena siramannya, dia dipastikan mati.

Ilmu Napas Kabut, Jurus Ketiga: Guyuran Kabut Berhambur.

Apa?

Dia menepis semuanya dengan serangan putaran!

Dia bisa ganti kulit toh.

Ah, merepotkan banget.

Bisa berhenti mengelak untuk kabur ke atas pohon?

Aku akan memperlihatkan wujud sejatiku.

Ya, deh.

Kau adalah orang ketiga yang melihat wujud sejatiku.

Banyak juga.

Diam kau!

Tak ada yang bisa hidup setelah melihatku serius.

Wah, hebat.

Tutup mulutmu, Bocah Berengsek!

Sisik transparan ini jauh lebih keras daripada berlian!

Aku memoles wujud ini di dalam guci.

Berlututlah di hadapan wujud yang indah dan sempurna ini!

Katakan sesuatu, Bocah Otak Kopong!

Kau bocah yang suka buat orang lain naik pitam!

Ya, bukankah tadi kau sendiri yang menyuruhku diam?

Apalagi,

aku tak terkejut.

Bukankah kau tadi melarangku kabur ke atas pohon?

Dasar bocah tak mau becermin.

Bukan begitu. Soalnya kau bau amis. Hidungku tak tahan.

Bagaimana pendapatmu tentang tangan dewaku?

Semua yang terkena tinjuku akan berubah menjadi ikan-ikan segar yang lucu.

Aku juga sangat gesit!

Tubuhku tak hanya licin, tetapi juga perkasa!

Terlebih lagi, aku bisa melekak- lekuk berkat sisik yang lentur!

Sesuka hatiku!

Kau tampak gemetaran. Apa kau takut?

Aku bahkan belum serius di serangan yang tadi.

Sehebat apa pun seranganmu, tak ada gunanya jika tak kena.

Ingatlah rasa murka yang membeludak waktu itu.

Aku melihat belatung menggerogoti mayat kakakku yang terkasih.

Tubuhku pun mulai digeromboli belatung.

Aku merasa sudah di ujung ajal.

Segera siapkan air panas!

Tutup lukanya dengan kain yang bersih!

Baik.

Bagaimana keadaan si kakak?

Dia sudah mengembuskan napas terakhir.

Jangan sampai kita membiarkan si adik juga meninggal!

Baik.

Kakak.

Beruntung aku tertolong waktu itu, jika tidak, mungkin aku sudah mati.

Tuan Tokito! Anda masih belum sembuh sepenuhnya.

Meski aku kehilangan ingatan, tetapi tubuhku masih mengingatnya.

Yaitu amarah yang tak akan hilang sampai aku mati.

Karena itu aku berlatih keras hingga muntah darah.

Untuk membasmi iblis.

Untuk memberantas mereka sampai habis.

Perhatikan baik-baik keseriusanku yang anggun ini!

Jurus Darah Iblis: Sisik Ikan Pencabut Nyawa!

Bagaimana rasanya gerakanku yang menentang hukum alam?

Dengan sisik ini, aku bisa bergerak bebas!

Tak bisa ditebak!

Aku sangat suka menentang hukum alam!

Bagaimana aku akan memasakmu, ya?

Aku akan mencopot kepalamu yang buruk rupa,

lalu menggantinya dengan kepala ikan yang elok!

Selesai sudah.

Ilmu Napas Kabut, Jurus Ketujuh:

Kabut Samar.

Itu dia!

Ketemu kau!

Dia hilang?

Di sana rupanya!

Lamban!

Apa?

Kenapa dia bisa hilang?

Apa-apaan ini?

Ke mana perginya dia?

Seolah-olah dia

membaur dengan kabut.

Hei, coba aku tanya.

Kenapa kau...

Kenapa kau kira cuma kau yang belum serius?

Lo, kok? Apa? Kenapa jadi terbalik?

Apa yang terjadi? Aku tak bisa merasakan apa-apa!

Bocah itu sudah menunjukkan batang hidungnya!

Aku harus mengakhirinya dan lapor kepada Tuan Muzan!

Aku kena penggal!

Kommentarer

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left