De første 200 linjer.
Senior.
Senior, apa kau sudah bangun?
Selamat pagi, Sakura.
Ya, selamat pagi juga, Senior.
Maaf ya, Sakura,
padahal sudah kubilang akan urus sarapan paginya.
Tak apa-apa kok, Senior.
Semalam kau bergadang, 'kan?
Bodoh, apanya yang tak apa-apa?
Senior, biar aku saja yang siapkan sarapannya.
Soalnya, kalau gudangnya berantakan begini, kau pasti akan dimarahi bu Fujimura, 'kan?
Benar juga.
Kalau begitu, tolong, ya.
Ya. Senior silakan beres-beres dulu di sini.
Bisa ketiduran di saat latihan, berarti tingkat konsentrasiku masih kurang, nih.
seluruh hatiku serasa dibakar habis
kokoro wo zenbu yakitsukutsu youna
ZainuddinAri
mempersembahkan
kala keputusasaan ada di sampingku
zetsubou no tonari de
kau yang selalu ada 'tuk lebur semua lara
itsudatte kimi ha subete tokasu youni
menemaniku dengan senyummu
waraekaketekureteta
suara yang begitu sayu
kakukesareta koe
membuat kata-kata tak tersampaikan
todokenai kotoba
dan hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya
mata tsumazuki sou ni naru tabi ni
ku 'kan selalu bergantung padamu
nandomo shigamitsuita
bentangan masa depan nan putih bersih
shiroku shiroku masshiro na mirai ga
adalah satu-satunya harapan kita
tatta hitotsu bokutachi no kibou
saat ini ku berada dalam awan kegelapan
ima no boku ni ha yami kumo na
yang tak pernah rasakan adanya ketenangan
kono kimochi shikanai kedo
namun hari nan indah tidaklah hanya satu
seikai nante hitotsu janai
karenanya, ku terus cari masa depanku sendiri
boku dake no asu wo sagashiteru zutto
Hari di Musim Dingin, Malam Takdir
Enak.
Maaf ya, Sakura, jadi harus merepotkanmu.
Sama sekali tak merepotkan, kok.
Aku melakukannya karena memang suka.
Selamat pagi, Kak Fuji.
Ya, selamat pagi.
Selamat makan.
Selamat makan.
Senior!
I-Ini sih, saus!
Saus di atas parutan ubi.
Ditambah lagi, ini saus oyster!
Rasakan! Pagi ini aku sudah tukar label kecap dengan saus!
Berhasil!
A-Apa sih, yang ada di pikiranmu pagi-pagi begini?
Padahal tahun ini usiamu sudah 20.
Mau sampai kapan pun, Kak Fuji memang kekanak-kanakan.
Dendamku semalam, sudah terbalaskan!
Senior, silakan tehnya.
Kukira kau sudah tobat dan jadi pendiam, ternyata masih dendam soal semalam.
Memang iya.
Jadinya, sekarang aku harus langsung persiapkan berkas ulangan harian!
Makanya, bisa gawat kalau aku datang telat.
Terima kasih banyak!
Kalau begitu, aku duluan, ya!
Pokoknya, kalian jangan sampai terlambat. Atau nantinya kalian bakal kuhukum.
Aku berangkat dulu!
Sarapan pagi ini enak sekali lo, Sakura!
Ya, terima kasih kembali, Bu Fujimura.
Dasar kak Fuji.
Meski statusnya memang masih sendiri, tapi kenapa setiap hari harus makan di sini?
Kalau begini sih, sama saja dengan menumpang.
Memangnya semalam, apa yang kaulakukan pada bu Fujimura?
Aku tak sengaja memanggil julukannya, "Tiger".
Berarti, memang kau yang salah, Senior.
Jangan diulangi, ya.
Soalnya, dia bakalan sedih kalau kau memanggilnya tanpa hormat begitu.
Cuaca
Kebocoran Gas di Kota Shinto
Kebocoran Gas di Kota Shinto
Berita selanjutnya.
Semalam, terjadi kecelakaan di salah satu gedung di Kota Shinto,
yang membuat penghuninya pingsan, dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Berdasarkan keterangan polisi,
Kebocoran Gas di Kota Shinto
Kebocoran Gas di Kota Shinto
Cuaca
karena korban yang ditemukan di sana, seluruhnya menderita sesak napas,
jadi diasumsikan bahwa ini adalah kebocoran gas.
Katanya, ada kebocoran gas lagi di Shinto.
Mengerikan sekali.
Kita juga harus hati-hati.
Kalau untuk urusan itu, tak perlu khawatir.
Karena aku selalu mengecek teliti saluran gas, dua kali.
Jadi, pasti aman.
Duh,
bukan itu yang kumaksud.
Ya sudah, tetap latihan yang giat.
Begini, Senior, apa khusus hari ini, kau bisa ikut aku ke sanggar?
Pagi ini aku sudah ada janji sama OSIS.
Be-Begitu, ya.
Maaf, aku malah seenaknya bicara yang tidak-tidak.
Baiklah, aku duluan.
Nanti malam, kita makan bersama lagi, ya.
Sebenarnya, alokasi anggaran klub di sekolah kita, kurang seimbang.
Karena klub berbasis olahraga lebih diunggulkan, jadi pembagian ke klub lain berkurang, 'kan?
Ya.
Makanya, aku kesulitan alokasikan anggaran untuk klub lainnya.
Jadi, tak ada solusi untuk penuhi permintaan penghangat ruangan.
Apa selain di sini, masih ada yang rusak?
Ada.
Sudah kuduga, ini sih, karena dimakan usia.
Apa bisa dibetulkan, Emiya?
Bisa, kok.
Masih bisa, ya!
Issei, aku butuh persiapan, jadi tolong keluar dulu sebentar.
Ya, aku juga tak mau mengganggumu.
Nah.
Ada dua bagian di mana kabelnya sudah hampir putus.
Pipanya sendiri, masih bisa digunakan.
Pita isolasinya masih bisa diselotip supaya terhubung dengan kabel listriknya.
Eh, Tohsaka.
"Tohsaka"?
Wah, Ketua OSIS.
Apa kau sedang berpatroli pagi-pagi begini?
Atau memang sedang ada perlu di ruang klub?
Ya, terserah saja sih, tapi biarpun begitu, kau memang murid teladan, ya.
Lalu kau sendiri sedang rencanakan apa?
Padahal kau tak ikutan ekstrakurikuler, jadi ada perlu apa datang pagi-pagi begini?
Hanya mau ganti suasana saja, kok.
Sudah kubetulkan nih, Issei.
Maaf ya, padahal aku yang minta bantuanmu, tapi malah kaukerjakan semuanya sendiri.
Lalu yang satunya lagi ada di mana?
Aku tak punya banyak waktu, lo.
Yang satunya ada di ruang siaran.
Sebelumnya memang sering rusak, tapi sepertinya sekarang sudah tak bisa dipakai lagi.
Kalau sudah rusak total sih, tak bisa kubetulkan.
Mendingan beli yang baru saja.
Ya, ada benarnya, tapi setidaknya aku ingin kau memeriksanya dulu.
Bagiku sih, terlihat sudah rusak, mungkin kalau menurutmu, masih bisa dibetulkan.
Ya sudah, biar aku periksa dulu.
Datangmu pagi juga ya, Tohsaka.
Kalau penghangat di ruang seni sih, nanti siang saja, ya?
Ya.
Pagi-pagi begini kau sudah ribut saja, Emiya.
Kukira kau ada aktivitas apa setelah keluar dari klub,
ternyata jadi kacungnya ketua OSIS, ya?
Shinji juga, kalau ada perlu, bilang saja padaku.
Kalau ada yang bisa kubantu, pasti akan kulakukan.
Kau kurang bisa perbaiki gagang dan tali busur panahmu, 'kan?
Tak perlu ikut campur.
Pokoknya, sekarang kau ini sudah bukan siapa-siapa lagi di sana,
jadi jangan dekat-dekat ke sanggar lagi!
Dasar egois.
Padahal dia sendiri yang mengusirmu, tapi masih saja bisa bilang begitu.
Tak apa-apa kok, itu memang sudah sifatnya.
Karena dia teman lama, jadi aku sudah terbiasa.
Oh, bisa begitu, ya?
Pasti bisa, kok.
Oh, sudah bel.
Bu Fujimura pasti akan melesat seperti badai ke sini.
Sip, tepat waktu!
Selamat pagi, Anak-anak!
Kalau begitu, akan aku mulai absen.
Emiya, kalau bekalmu tak cepat dimakan, nanti jam istirahatnya keburu selesai, lo.
Tak masalah. Lagian, tinggal sedikit lagi.
Semua penghangat rusak kaubetulkan,
mau sampai kapan kau terima setiap permintaan yang ada?
Jangan terlalu dipikirkan, anggap saja aku sedang naiki kapal SAR.
Duh, kau selalu saja berprasangka baik pada setiap orang.
Membantu orang lain memang hal yang baik,
tapi akan lebih baik, kalau kita pilih siapa yang mau dibantu.
Dalam kasusmu, kau terlalu banyak terlibat dengan orang lain.
Memangnya sebegitu parahnya aku ikut campur?
Ya.
Kalau begini terus, kau bakal jadi sasaran empuk buat dimanfaatkan.
Sesekali, ada baiknya kau tolak permintaan dari orang lain.
Kau ini bicara apa, sih? Sudah kewajiban kita untuk saling membantu, 'kan?
Putra biksu kuil tak pantas bicara begitu, lo.
Tapi menurutku,
kau ini terkesan terlalu keras kepala,
dan kalau terus begini, kau sendiri bakal babak belur.
Akan kuingat baik-baik nasihatmu.
Sip, selesai semua.
Kalau tak cepat dipanggil, kau bisa mati, lo,
Kakakku.
Seharusnya di saat begini, kau pulang lebih cepat, dong!
Aku 'kan sudah bilang waktu jam pelajaran tadi, belakangan ini, situasinya sangat berbahaya.
Soalnya tadi, aku ada perlu, sih.
Duh, jangan-jangan kau ini memang jiplakannya paman Kiritsugu, ya?
Karena kau selalu saja bantu orang lain, kakakmu ini jadi khawatir, tahu.
Maaf, Bu Fujimura,
apa sejak dulu, sifat senior memang seperti ini?
Ya, sudah bawaan dari dulu.
No comments yet. Be the first to leave one.