De første 200 linjer.
Keparat. Kemari.
Turunkan dia.
Hei!
Jangan bergerak!
Buka bagasinya?
Selamat pagi juga untukmu.
Senang melihatmu, bagaimana kerja, mungkin?
Pagi!
Selamat hari jadi.
Dean.../ Ya?
Terima kasih./ Lihat, aku tidak lupa.
Dan...
Aku buatkan kau sarapan./ Apa ini?
Kotak bekal yang bagus.
Bukalah, hanya itu yang kami punya.
Telur dan bakon? Keren./ Ya.
Ini enak. Ini enak.
Kau tak suka masak.
Seseorang harus mengurusmu.
Ini enak.
Sebentar,
Tunggu.
Astaga!
Itu semua hanya untukku?
Sayang,
Rompi kerjamu terlihat seksi.
Siapa yang mengirimmu pesan?/ Ibu.
"Semoga berhasil dengan perjalanan akhir pekanmu."
Dia mungkin bersyukur kita tak mengambil keuntungan dari rumah kosongmu.
Dia tahu kita sudah bukan 16 tahun lagi.
Ya, benar.
Tebak apa yang Kim katakan padaku,
Kau tahu Kim.
Ya, dia yang murahan?
Dean, hentikan itu. Dia sangat baik.
Ada apa dengannya?
Dia hamil.
Bagus, sekarang aku merasa buruk./ Ya, kau harus.
Apa dia tahu siapa ayahnya?
Dean!
Hanya bercanda, tenanglah.
Ya, kau sebaiknya begitu.
Kenapa kau beritahu aku dia hamil?
Hanya berpikir kau mungkin ingin tahu.
Aku sebenarnya tidak peduli.
Tunggu dulu,
Kau tidak hamil, 'kan?/ Tidak, aku tidak hamil!
Yakin?/Berhenti melihatku seolah kau berpikir aku sedang hamil.
Berarti syukurlah.
Apa itu artinya kau tak ingin punya anak kelak?
Aku belum benar-benar memikirkan soal itu.
Kau pasti memiliki semacam gambaran.
Iya, tidak?/ Mungkin. Entahlah.
Kau?
Ya, tentu saja.
Apa?
Tidak sekarang!/ Baiklah!
Kau membuat khawatir untuk sesaat.
Kau sudah memikirkan untuk bulan Februari nanti?
Tidak. Kenapa?
Kuliahku.
Claire, kau bilang kau tak akan pergi.
Tadinya begitu./ Tapi?
Dean, kau tahu betapa bagusnya kampus ini ini,
Dan mereka hanya menerima 12 orang per tahun.
Ya, tapi universitasnya berada jauh di Queensland, sayang.
Ya, dan aku diterima untuk masuk.
Aku tak bisa menolak mereka.
Aku tahu kau tak mau aku pergi,
Tapi ini kesempatan besar untukku,
Tak ada daftar tunggu, tak ada kesempatan kedua,
Sekarang atau tidak sama sekali.
Apa, jadi kau mau aku tetap di sini seumur hidupku?
Apa kita tidak bahagia di sini?/ Bukan itu maksudku.
Hanya saja, kenapa kita tak bisa bahagia di sana?
Dean?
Apa?
Tak ada lagi yang mau kau katakan soal itu?
Dengar, jika kau mau pergi, pergilah. Tapi aku tak harus menyukai itu.
Setidaknya kau bisa bahagia untukku.
Aku bahagia.
Tapi, kau tahu, aku tak mau membicarakan ini sekarang.
Aku tak mau memikirkan atau membicarakan soal itu, mengerti?
Ini bagus untuk kita.
Aku yang akan pergi.
Aku bahkan tak bisa menyetel GPS-ku.
Tak apa. Aku tak butuh penunjuk arah.
Jadi kau tahu ke mana kita pergi?
Kurang lebih, ya.
Kau jelas tersesat.
Tidak mungkin orang bisa tersesat di kota kecil ini.
Lihatlah ini.
Kau bisa bertahan.
Selamat.
Pom bensin, sempurna.
Agar kau bisa menanyakan arah?
Aku tidak butuh arah. Aku butuh mengisi bensin
Serius Dean?/ Ya.
Tapi kau bisa bertanya jika kau mau.
Kelihatannya mereka juga buka.
Berhasil.
Apa, karena kau mengisi bensin atau karena kau tahu kita di mana?
Sedikit keduanya.
Kau mau ke mana?
Toilet.
Air besar atau ari kecil?
Dean!
Punya korek?
Tidak, maaf.
Aku tidak merokok, jadi aku tak butuh korek. Maaf.
Mobilmu punya.
Di dasbormu.
Maaf, bukankah mobilmu juga punya?
Milikku tidak berfungsi.
Aku tak bisa perbaiki itu untukmu.
Kau tak harus sok pintar.
Aku hanya ingin merokok.
Dengar, aku tak punya korek untukmu, jadi cukup...
Jangan bersikap menyebalkan dan berikan aku koreknya.
Enyahlah!
Jangan buat aku memecahkan jendela ini!
Hei! Kau baik-baik saja?
Ya, kawan.
Hanya butuh korek,
Tapi nyonyamu tak mau membantu kami.
Dia tidak merokok.
Orang baik.
Ya, ambillah.
Terima kasih, kawan.
Bagaimana menurutmu?
Kau jelas menarik orang aneh.
Dean, itu tidak lucu.
Claire, dia sudah pergi, jangan khawatir soal itu.
Jangan khawatir soal itu?!
Kau baik-baik saja, benar?
Benar, tapi...
Dia benar-benar seperti kotoran menjijikkan.
Dan kau tidak bersikap baik dengannya.
Claire, dengan orang seperti itu kau cukup beri yang mereka mau lalu pergi.
Kau mau aku bagaimana?
Entahlah,
Menghajarnya?
Menghajarnya? Baiklah.
Lain kali, aku janji.
Dean, kita melewati bar itu sekitar tiga kali.
Oke, baiklah, aku tersesat.
Mari tanyakan arah pada seseorang.
Sebenarnya, tidak, kurasa kita tidak tersesat.
Tempatnya tepat berada di sana.
Aku tahu itu.
Ya, kau jelas tahu.
Ya.
Lumayan.
Cepatlah ke ranjang.
Tidak, tidak!
Mari kita tidur.
Tidak. Tidak, tidak, tidak./ Ya.
Kau hanya berusaha membuatku merasa nyaman...
...agar kita tak harus meninggalkan kamar hotel.
Apa itu bekerja?
Mungkin.
Tapi aku sangat ingin keluar dan melihat-lihat kota sekitar.
Aku punya ide yang lebih baik.
Kau begitu mudah ditebak.
Tidak mungkin!/ Mungkin.
Mereka tidak tahu apa itu kopi latte..
Kau sebaiknya menikmati itu.
Terima kasih.
Ini terlihat nyaman.
Dan kau jangan terlalu nyaman, kita pergi mendaki hari ini.
Omong kosong. Kita akan kembali tidur.
Dean.
Baik, ayo pergi mendaki.
Kau ikut?
Aku harus habiskan ini terlebih dulu./ Kau bisa makan di mobil.
Kembalikan itu padaku! Dean.
Tidak, kita sebaiknya menepi,
Kita berada di tengah antah berantah.
Dean.
Aku mungkin bisa memperbaiki mobilnya.
Sial.
Apa?/ Itu orang bajingan dari pom bensin.
Jalan terus.
Claire, ini mungkin berjam-jam sebelum orang lain lewat sini,
Dia bisa saja terjebak di sini./ Dean, tolong, dia membuatku takut.
Ya, dia cukup menyeramkan.
Dia mengancamku, oke? Cepat jalan./Apa-apaan?
Cepat jalan!
Kenapa kau tidak beritahu aku?
Aku tak mengira kita akan bertemu dia lagi.
Apa yang dia katakan?
Itu tidak penting sekarang, aku tak mau bicara soal itu.
Apa kau marah padaku?
Tidak, aku tidak marah, aku hanya...
Claire, aku tak suka jika kau menyimpan rahasia dariku, mengerti?
Kurasa kita sebaiknya kembali ke kamar hotel sekarang.
Ya.
Dasar pecundang.
Aku mengemudi.
Kau mencium itu?
No comments yet. Be the first to leave one.