De første 200 linjer.
- Kau takkan memakannya, 'kan? - Aku lapar.
- Tapi tak kelaparan. - Baguslah. Itu menjijikkan.
Aku melacak bau monster itu.
Aku hanya tahu Allamorax dari buku,
dan sepatu itu tak cocok untuk memanjat tebing.
Tunggulah di pantai.
Aku harus dikelilingi perlagaan agar dapat mencipta balada bagus.
Lagi pula, aku lebih gesit dari perkiraanmu.
- Menyingkir! - Sudah kubilang...
Ya ampun. Makhluk apa pula itu?
Jangan diambil hati, ya.
Tunjukkan dirimu!
Mohon ampun.
Makhluk itu tak bermaksud menyakitimu.
Bukan begitu menurut para nelayan mutiara yang membayarku untuk menumpasnya.
Ini bukan serangan pertama di wilayah kami.
Ia bahkan tak bisa membuka mulut.
Ia tak memangsa manusia.
Makanannya tiram dan isinya, benda berharga bagi para nelayan itu.
Ia bersalah karena lapar.
Kasihanilah ia.
Namun, kau bisa beri aku tumpangan.
Anak-anakku kelaparan akibat ulah para manusia itu!
Tak ada lagi tiram!
Aku mengerti kekesalanmu, tapi bukan ini solusinya.
Tenang!
Sudah lama kedamaian ini kita jaga jika sampai berakhir sekarang.
Relakanlah kebencian masa lalu.
Dewan berupaya maksimal untuk mencegah peperangan dengan Bremervoord.
Kau menolak bertindak karena putrimu jatuh cinta dengan sang pangeran!
Para manusia sadar itu dan mereka memanfaatkannya!
Para manusia sudah melampaui sekadar menjarah mutiara.
Mereka menyewa Witcher untuk membunuh Allamorax.
- Witcher? - Wah.
Jika satu makhluk laut terancam, maka kita semua juga.
- Setuju. - Mereka harus dihentikan!
Ya, kita harus melawan!
Kami akan merundingkan saran kalian.
Ibu tak mungkin serius.
Sh'eenaz, kau begitu belia dan naif.
Jika mulut seorang manusia terbuka,
maka pastilah akan terucap dusta.
Mungkin sudah saatnya tindakan tegas diambil.
Pernikahanku dengan Agloval dapat membawa perdamaian, bukan konflik.
Aku setuju dengan keponakanku.
Perang mungkin bukanlah jawaban, Namun, pernikahan...
Segera pergi dari sini, Melusina.
Putri kami takkan menikahi manusia.
Kau memang takkan paham betapa dalam cinta seorang ibu.
Dia menyebutnya "mandul"?
Kau mengungkit masa lalu, Saudariku, tapi ini terkait masa depan
rakyat kita.
Ya, rakyat kita.
Aku masih anggota keluarga ini dan juga pengadilan kerajaan, Dahut.
Penghinaanmu tak mengubah fakta itu.
Satu-satunya alasan kau masih hidup
adalah karena aku sadar betul fakta itu, Saudariku.
Segera angkat kaki.
Akan kulakukan. Dengan senang hati.
Tenang saja.
Namun, kita tahu siapa yang dia cintai lebih dulu.
Biar kuperjelas, ya. Kau sudah menangkap monsternya,
lalu kau lepaskan.
- Allamorax tak membunuh manusia. - Jadi, orang-orang berbohong?
- Mungkin saja. - Apa manusia duyung jadi korban?
Tidak juga.
- Jadi, mereka menutupi sesuatu juga? - Mungkin.
Tidak bisa hanya mungkin. Ada sisi baik dan sisi buruk.
Sesederhana itu.
Putuskan saja dan bunuh.
Ini sajian terlezat kami.
Sayang kau tak mampu beli.
Ini persis seperti saat kita bersama makhluk bertanduk
di ujung dunia dulu itu.
Kau ini pemburu monster, tapi hanya kadang-kadang.
Dan pakai syarat.
Kode moral.
Kita cari uang dengan cara lain. Di tempat selain Bremervoord.
Kasihani hatiku jika bukan perutku.
Kita hanya ke kota kumuh ini agar bisa menghindari kau tahu siapa.
Jangan bahas dia.
Penyihir bermata ungu itu jadi mendikte tujuan kita
dan suasana hatimu.
Jangan bahas Yennefer lagi.
Ada masalah? Tak suka airnya?
Memang panas, Yennefer, tapi keruh.
Tak bijak membiarkanmu keluar di malam seperti ini.
Kau bayar mirasnya. Kubayar kamarnya.
Maksudku, pasar gelap Tretogor
hanya untuk orang bodoh yang mencari obat ajaib,
tak kusangka itu berlaku padamu.
Kuingatkan, kau tak tahu apa pun soal ucapanmu
atau lawan bicaramu.
Kuharap bisa meralat itu malam ini.
Maka, kau salah lagi.
- Malam. - Malam.
Silakan.
Maksudku begini, kode moralmu jadi menghalangiku mengisi perut.
Roti ini tak bisa dimakan!
Bagi dua?
Serahkan koin bayaranmu juga.
Kejam. Kejam, tapi adil.
Mari bersepakat.
Akan kuterima tawaran kerja yang muncul jika kau setuju melakukannya juga.
Abaikan kode moral. Utamakan dapat uang. Bagaimana?
Oi.
Kau Witcher yang dibicarakan orang?
Yang membiarkan monsternya kabur?
- Kau salah... Berengsek. - Ya, aku orangnya.
Witcher macam apa yang tak bunuh monster? Mana ada hal macam itu?
Selamat datang ke kedaiku!
Tapi tak jual ale di sini!
Keluar!
Pergi!
Permisi, apa kau Jaskier sang Pujangga?
Tuan Biduan dari Oxenfurt?
Pelantun Ulung Benua ini?
Baru dengar sebutan itu, tapi itu benar!
Tampaknya ada juga yang berbudaya di pelosok ini.
Ingin minta apa? Tanda tangan? Lirik karangan khusus?
Balada yang personal untuk kekasihmu? Para kekasihmu? Kekasihnya kekasihmu?
Aku pengurus festival Imbaelk esok hari.
Kehadiran pujangga sepertimu pasti memeriahkan acara.
Sang raja akan hadir, jadi kami harus menyuguhkan hiburan bagus.
Dan bayarannya besar.
Bisa kupegang bahwa kau akan jaga sikap selama aku tampil?
Kali terakhir kutinggal kau sendiri di sebuah pesta, kau malah punya anak.
Anak Tak Terencana,
dan itu kesalahan yang takkan kuulangi.
Penampilanku akan sulit ditandingi. Untung gerombolan ini tampil duluan.
Tunggu. Jika kau suka itu,
tunggu sampai kau lihat penampilan solo psaltery- ku.
Psaltery itu sejenis harpa, tapi kecil.
Jauh lebih praktis menurutku.
Diamlah! Aku sedang menonton!
Jangan bicara begitu pada penampil utama.
Penampil utama?
- Konyol. - Apa maksudnya itu?
Karena aku hanya bersedia menerima tawaran tinggi.
Kita sudah sepakat.
Aku sadar itu, Geralt, tapi ini buruk untuk citraku.
Ayolah. Merendahlah sedikit.
Aku sampai memohon pada Drouhard untuk memberimu kerja.
- Mata Kecil! - Senang bisa berjumpa, Julian.
Julian?
Maafkan kawanku yang dungu ini.
Essi Daven, perkenalkan, Geralt dari Rivia.
Kalian saling kenal?
Kami tumbuh bersama. Di Bremervoord.
Katamu, kau dari Oxenfurt.
Jangan tertipu penampilanku.
Dia ini orang udik, sama seperti kita.
Memang kupakai sedikit lisensi puitis terkait sejarah diriku. Santailah.
Wajar saja, 'kan?
Tumbuh di tempat macam ini.
Lompat!
Ayo cepat! Lompatlah!
Kau ini takut, ya?
Sudah kubilang.
Jika kau bisa lompat, akan kukembalikan mainanmu.
- Dia bakal kencing di celana. - Dia takkan lompat!
Pankratz!
Biar aku dulu, Pankratz.
Biar kutunjukkan caranya.
Kau dengar itu?
Dia tak melompat, dia jatuh!
Tangkap dia, Zelest.
Hentikan! Dia tak bisa bernapas!
Lepaskan dia!
Ayolah, Essi. Memang kau ini ibunya?
- Harus ada yang mengganjarmu, Zelest. - Kami hanya bercanda!
Kau tak apa?
Aku bisa mencacimu anak haram, tapi semua orang sudah tahu itu.
Kau lihat, tidak?
Bagaimana nasib cecunguk itu?
Zelest?
Dia anak haram raja dan sungguh bajingan.
Mungkin sudah mati karena sifilis di penjara tukang berutang.
Setengah buta, berhalusinasi, berliur.
Aku tak membuang waktu memikirkannya.
Raja Usveldt. Pangeran Agloval.
- Sang Raja! - Sang Raja!
Yang benar saja.
Dan Komandan Zelest.
Sungguh penjilat dan perisak kelas kakap, ya?
Pangeran Agloval mengangkatnya sebagai penasihat militer.
Tak habis pikir.
- Topik berisiko untuk rakyat jelata. - Mereka sudah muak.
Lima nelayan diserang beberapa bulan ini, dan tak ada yang dihukum.
Kecuali Allamorax.
Kebanyakan warga tahu bahwa monster itu dikambinghitamkan.
Manusia duyung sangat teritorial dan anggota kerajaan tak mau membalas
karena Pangeran Agloval mencintai manusia duyung.
Wow. Rumit sekali.
Pertikaian yang sama dengan semua yang lain sejak Konjungsi.
Tradisi menunggu! Jika kau tak ikut, Ibu pasti akan menyalahkanku.
- Kau tak mau mengakibatkan aku mati. - Keponakanku.
Permisi.
Lihat rampasan ini.
Tak lama lagi kita akan bergelimang koin.
No comments yet. Be the first to leave one.