De første 200 linjer.
Tuan Putri?
Tuan Putri, kau di luar?
Ada orang di luar?
Jawab aku! Siapa di luar?
Jawab aku! Kalian mendengarku?
Apa ada orang di luar?
- Ada apa? - Paduka.
Bicaralah. Ada apa?
Paduka Yang Mulia…
Bicaralah! Apa yang telah terjadi?
Tuan Putri.
Tuan Putri.
Tuan Putri.
Tuan Putri.
Paduka!
Lepaskan. Lepaskan aku!
Tuan Putri!
Kenapa kau di dalam sana? Tuan Putri!
Tuan Putri!
Tuan Putri!
Tuan Putri!
Tuan Putri! Lepaskan aku!
Tuan Putri!
Pangeran Gak.
Ya, Ayah?
Para penasihat menyarankan agar kami menemukan seorang putri untukmu.
Gadis seperti apa yang kau inginkan untuk menjadi pasanganmu?
Aku ingin seorang gadis cantik untuk menjadi pasanganku.
- Apa? - Paduka Yang Mulia.
Apakah kau ingin mengatakan
bahwa gadis itu hanya butuh kecantikan?
Dia harus cantik agar aku mau melihat dia setiap hari.
Ayah, apa gunanya punya pasangan
jika kami hidup terpisah setiap saat?
Apa katamu? Hidup terpisah?
Coba tebak…
Apa yang membuatmu begitu gembira?
Kakak, seluruh negeri gembira sekarang.
Raja telah meminta nama-nama semua gadis yang memenuhi syarat.
Sungguh? Mereka memilih pasangan untuk Putra Mahkota?
Ya. Tahu kenapa rumah kita sangat berisik?
Ada rumor bahwa Ayah akan menjadi ayah sang ratu.
Orang-orang sudah mulai kirim hadiah.
Ayah akan menjadi ayah sang ratu?
Itu berarti salah satu dari kita akan menikahi Putra Mahkota.
Menurutmu siapa?
Jangan konyol. Tentu saja kau.
Kakakku menjadi tuan putri. Hebat sekali.
Aku akan bisa melihat istana, berkat kau.
- Bu-yong. - Ya?
Jika aku menjadi tuan putri,
akan kuminta kau berkunjung tiap hari.
Aku akan memberimu makanan enak dan baju indah.
Aku penasaran bagaimana tampang Putra Mahkota.
Kalian pasti sudah dengar.
Keluarga kita akan menyerahkan satu nama ke pemilihan tuan putri.
Sebelum kau terpilih dan memasuki istana, kau harus waspada.
Kau harus berhati-hati dalam setiap langkahmu.
Harus kau ingat bahwa jika kau menjadi tuan putri,
kau akan menanggung nama keluarga kita di bahumu.
Untuk pemilihan…
Kami akan menyerahkan nama Bu-yong.
Apakah kau baru saja menyebutkan nama Bu-yong?
Ya, benar.
Bu-yong akan terpilih
untuk menikahi Putra Mahkota.
Ayah.
Hwa-yong, dengarkan.
Ya, Ayah.
Lakukan sebaik mungkin
untuk bantu adikmu dalam persiapannya.
Mengerti?
Ya, Ayah.
Ha.
Kau pasti Ha.
Ha, beri salam.
- Halo. - Hai.
Kau pasti Se-na.
Ya.
Ibu, aku juga ingin es krim itu.
Tentu.
Permisi.
Kau tahu… Ha.
Kita semua akan hidup bersama mulai sekarang.
Ini Se-na. Dia akan menjadi kakakmu.
Ibu menyuruhmu mengawasinya saat kami sedang bekerja, bukan?
Syukurlah rumah kita tak terbakar habis.
Kau masih terlalu kecil untuk memasak mi instan.
Jangan pernah menyentuh kompor lagi!
Kenapa kau… Ibu menyuruhmu mengawasinya.
Dia adikmu? Buka tasnya.
Kenapa?
- Buka tasnya. - Tidak! Kenapa?
- Lakukan perintahku! - Tidak!
- Buka tasnya. - Tidak!
Hei. Apa saja ini?
Semua ini apa?
Aku tak tahu. Sungguh.
Kau mencuri ini? Apakah kau pencuri?
- Apakah kau pencuri? - Aku tak tahu.
- Aku tak mencuri. - Kenapa kau mencuri?
Aku tak tahu.
Berani sekali kau? Apakah kau akan melakukannya lagi?
Mau menjadi apa kau? Apa yang telah kau lakukan?
Hei.
Aku akan ambil susu. Tunggu di sini.
Se-na!
Se-na! Aku di sini!
Se-na! Lihat ke sini!
Se-na! Aku di sini!
Se-na! Lihat ke sini!
Se-na!
Se-na! Aku di sini!
Lihat ke sini!
Se-na!
Lihat ke sebelah sini!
Se-na!
Bukan yang itu. Coba gaun itu padanya.
Sepatu itu juga.
Sedangkan pitanya…
Menurutmu yang mana, Hwa-yong?
Pita?
Kurasa ini yang terbagus.
Tidak.
Biar Ibu pikirkan.
Benar juga.
Kau tahu pita pemberian Keluarga Song untukmu musim gugur yang lalu?
Itu yang terbagus.
Ambilkan pita itu.
Ibu, pita itu milik Kakak.
Ini saja sudah banyak.
Tidak, Paduka Yang Mulia.
Putra Mahkota berkata bahwa dia ingin pengantin yang cantik.
Kau harus tampak cantik.
Kakak, bolehkah aku masuk?
Tentu. Masuklah.
Hwa-yong, ayo makan kesemek kering.
Kudengar rokmu untuk upacara sudah siap.
Aku ingin menyetrikanya sendiri untukmu.
Terima kasih.
Kau pasti gusar tentang pita itu tadi.
Tidak. Aku tak apa-apa.
- Hwa-yong. - Besok tenggat waktunya, bukan?
Hari itu tiba begitu cepat.
Hwa-yong. Kita akan berpisah
beberapa hari lagi.
Aku sangat sedih.
Aku akan mengundangmu ke istana tiap hari sesuai diskusi kita.
Mari kita berbagi semua makanan enak dan hal-hal indah.
Makanlah kesemek kering. Ini.
- Tidak, kau makanlah dahulu. - Tidak, kau dahulu.
Kau makanlah dahulu.
Apa?
Bagaimana ini bisa terjadi?
Sedang apa kau saat itu?
Bekas luka di wajah Bu-yong tak akan pernah hilang.
Apa yang harus kita lakukan?
Apa yang akan kita lakukan?
Diam!
Bawa kemari kotak namanya.
Kita akan menyerahkan nama Hwa-yong sebagai gantinya.
Bahkan kupu-kupu pun tertipu.
Sulamanmu sangat istimewa.
Kupu-kupu mengira itu bunga asli.
Kupu-kupunya seolah-olah akan terbang.
Aku teringat sebuah puisi.
Pengantin memetik Peony berteteskan embun.
Melewati jendela, Peony di tangannya.
Tuan Putri.
Apa jawabanmu?
Dengan tersenyum dia menanyai suaminya, "Mana lebih cantik?
Bunga ini atau aku?"
Itukah jawabanmu, Bu-yong?
Pengantin pria menggoda istrinya, berkata, "Bunga lebih cantik daripada kau."
Pengantin wanita yang marah bahwa bunga lebih cantik daripada dia,
menginjak bunga itu dan berkata…
"Jika bunga lebih cantik daripada aku,
tidurlah dengan bunga malam ini."
Bagaimana wanita lajang bisa tahu puisi seprovokatif itu?
Maaf jika aku menyinggungmu, Paduka.
Aku kurang sopan, karena aku hina.
- Kumohon, maafkan aku. - Aku hanya menggoda.
Senang rasanya menggodamu.
Aku ingin melihat bunga apa saja yang sudah mekar di Buyongji.
Benarkah?
Bawa kami ke Buyongji.
Paduka, bukankah bunga itu…
Bu-yong.
Aku teringat teka-teki lain.
Yang ini tak akan mudah.
Akan kuberi hadiah jika kau pecahkan dalam dua hari.
Kau mau?
Ya, Paduka.
Apa yang mati di dalam kehidupan dan hidup di dalam kematian?
"Apa yang mati di dalam kehidupan dan hidup di dalam kematian?"
Kau tahu jawabannya, Putri?
Aku tak yakin, Paduka.
Kau tak akan tahu. Kau tak tahu.
Dengarkan baik-baik. Tuan Putri tak boleh terhina.
Balut tubuhnya dengan sutra.
No comments yet. Be the first to leave one.