De første 200 linjer.
Yakin, ini yang kau mau?
Kotak?
Kami bisa membuatnya jadi sesuatu yang indah.
Kami memiliki guci keramik, porselen, perak...
Dia tak perlu.
Terserah.
Turut berduka.
Terima kasih.
Sampai jumpa lagi.
Semoga tidak.
Sebagian dirimu masih ada pada kami?
Atau kau sudah pindah ke yang berikutnya?
- Kau menari? - Tidak.
Tidak?
Kau menginginkannya?
Lubangnya sudah lama tertutup.
Aku harus beritahu sesuatu.
Apa?
- Aku akan menari. - Tidak!
Aku cuma tidak mau kau berpikir aku tak peduli.
Aku tahu.
Karena aku peduli.
Aku tahu.
Kau pembohong yang payah.
Mau mengatakan sesuatu?
Tentu.
Terima kasih sudah memberiku kehidupan...
dan rumah.
Aku tak percaya mereka membuat ini
dari plastik.
Apa? Itu di makan ikan,
ini akan bertahan lama.
Astaga, itu rumahnya?
Ini indah.
Mari kita selesaikan ini.
|Subtitle by RhainDesign|
Hai,
kau lihat kemiripannya?
Anya.
Itu dia?
Ya, tentu. Kurasa.
Aku tidak tahu.
Bagaimana seseorang bisa punya begitu banyak barang-barang?
Emmett!
Itu bukan barang-barang.
Ini hidupnya.
Apa yang kau lakukan?
Kau bahkan tak memakai riasan.
Mau menyimpannya?
Aku tidak tahu tempat ini begitu ajaib.
Kita bisa melakukan apapun, seperti...
kita bisa memulai retret penulis,
atau entahlah, kita datang akhir pekan, atau berkemah.
- Tidak. kau gila? - Aku cuma mengatakan pikiranku.
Boleh tanya?
Ya.
Dia tak pernah menghubungimu, sekali pun?
Menurutmu kenapa dia tinggalkan rumahnya?
Sayang.
Sayang.
Kau tahu suara apa itu?
Aku tidak tahu suara apa itu...
Kurasa itu berarti kau dalam masa subur.
Ya, aku cukup yakin...
- Sebenarnya, ya. - Tidak, sebenarnya tidak.
Itu sains. Sudah terbukti...
Ada aplikasi untuk itu.
Aku tidak mau melakukannya di ranjang ibumu.
Kenapa? Ayo. Kita bisa melakukannya.
Itu akan agak aneh.
- Menyenangkan aneh? - Ini bisa menyenangkan aneh.
Cuma ada satu cara mengetahui sesuatu yang aneh dan menyenangkan.
Tidak. Sekarang menyenangkan aneh. Ini sungguh aneh.
Tidak. Itu apa?
Dengar itu?
Tidak ada apa-apa di sini.
Itu tempat dia...?
Biar kubenahi.
Ini bukan apa-apa.
Apa?
Sayang, kau seharusnya tak lakukan itu. Sayang.
Tak apa.
Tak apa. Sungguh, bukan masalah besar.
Kurasa kau mengerti.
Tidak lucu.
Lihat itu.
Itu dalam kondisi yang baik.
Butuh sedikit cinta.
Apakah berdarah?
Sial.
Jangan lakukan itu. Berdiri tegak.
Ayo, tersenyum. Senyum.
Kau mencintai ibumu?
Apa yang kau lakukan?
Sayang, hentikan itu.
Hentikan.
Ini hari ultahku, Bu.
Ini saat kau masih kecil.
Jangan! Emmett.
Biar aku... Astaga.
Kita akan cukur rambut.
Senyum!
Jika tak mau bicara denganku,
kita perlu melakukan membalikkan kursi.
Tidak, makelar akan datang dua hari lagi.
Aku tak peduli soal menjual rumah ini!
Kita perlu membalikkan kursi.
Tidak.
Tidak, persetan. Aku tidak mau.
Emmett,
Mau cerita masalahmu?
Aku menghindari.
Emmett,
mau cerita masalahmu?
Aku Emmett.
Dan masalahku, itu...
Aku memiliki trauma yang sangat dalam
karena ibu meninggalkanku pada usia yang sangat kritis,
dan sekarang dia meninggal,
dan kulakukan semua yang tak bisa untuk menghadapinya.
Jadi jika kau sudah ke terapi
karena aku mendorong dan kau bilang itu membantu,
dan kau tenang-tenang saja,
meskipun asuransi kita tidak menanggungnya.
Menurutmu kenapa aku merasa perlu
terus mendorongmu?
Tanpa kusadari...
aku mencoba menebus masa kecil yang tak pernah kumiliki
dengan punya anak.
Aku tak bisa lakukan itu.
Aku tak bisa karena
seharusnya aku tak mau keluarga untuk memperbaiki masalah.
Aku menolak berurusan dengan itu.
Persetan.
Emmett!
Emmett.
Jadi kau tidak mau punya anak denganku?
Aku sangat menginginkan sebuah keluarga.
Bukan itu yang kubilang.
Aku mau kau melupakan dan membuka diri.
Kau pernah berpikir mungkin
sedikit mendorong hal yang baik?
Ayo.
Ayo.
Itu akan tetap di sana saat kau kembali.
Ayo.
Bukankah ini soal kepercayaan? Ayo.
- Aku tak pernah menekan apapun. - Tidak?
Lalu kenapa kau tak pernah belajar berenang?
Kau harus tanya ibuku.
Ayo.
- Kau tak apa? - Ya.
Kau tak apa?
Baik.
Hei, kau tak apa.
- Hei, aku memegangmu. - Baik.
Aku memegangmu.
Aku memegangmu. Percayalah.
Saat kita tiba di sini,
Aku tak mengenali rumah ini.
Aku tak mengenali dapur. Aku tak mengenali meja.
Saat ke kamar mandi, kulihat...
jarum suntik.
Jadi aku lari ke atas ke kamarku.
Kau dengar?
Aku berlari ke atas menuju kamarku.
Dan itu tidak terlihat sama.
Tapi aku mulai ingat,
Aku mulai mengingat hal-hal seperti ranjangku,
Dengan poster olahraga.
Aku ingat poster John Starks.
Yang kupaku di dinding.
Ini aku membuka diri.
Kau harus mencoba ini.
Baik...
Baik.
Baik.
Baik.
Aku bermimpi...
Hei, hati-hati.
Hati-hati.
Hei, hati-hati.
Baiklah.
Baiklah. Berhenti.
Berhenti.
Hei, sialan kau.
Hai.
Kau tak apa?
Aku harus berendam.
Kemari.
Kau mau melupakan.
Sayang?
Anya.
Kau sudah menekan rasa sakitmu?
Anya, aku benar-benar tidak mau melakukan ini.
Kau marah?
Tidak.
- Kau marah dengan pacarmu? - Tidak.
- Kau benci pacarmu? - Tidak, tentu tidak.
Kau benci ibumu?
No comments yet. Be the first to leave one.