De første 129 linjer.
Episode 5
Kisah Senandung Moriko
"Kisah Senandung Moriko, Bagian Satu."
Abang!
Abang!
Abang!
Kau baik-baik saja?
Masih belum boleh, ya?
Di sini hening sekali, aku jadi takut.
Suara.
Itulah indra yang paling membuat Hyakkimaru terkejut selama sembuh seperti sedia kala.
Bergema keras di kepalanya.
Dia tak tahu cara memilah yang harusnya didengar dari sekian banyak suara.
Hyakkimaru tenggelam dalam derasnya aliran suara.
Abang, ternyata kita menyerah saja kalahkan siluman yang selanjutnya.
Balasannya memang menarik, tapi kau sama sekali tak cocok mendapatkannya.
Apa ada yang muncul?
Itu dia! Siluman burung itu besar sekali!
Abang, jangan cemaskan suaranya!
Sebelah kiri!
Abang!
Paman!
Wah, anak-anak ini ternyata. Kebetulan sekali.
Abang.
Bertahanlah, Abang!
Abang!
Begitu. Telinga, ya? Baguslah kalau begitu.
Sama sekali tak bagus.
Karena bisa mendengar, dia malah jadi lebih lemah.
Begitukah?
Habisnya, dia malah dikalahkan oleh siluman yang bahkan bisa
dikalahkan dengan mudah oleh Paman.
Terima kasih sudah memujiku.
Eh, abang baik-baik saja, 'kan?
Masa lalunya pedih, lo.
Kita bisa gunakan obat kalau punya.
Aku akan berlari dan coba cari.
Ada sebuah kota besar di seberang sungai sana.
Lebih baik jangan. Kudengar ada perang hebat di sana. Bahaya.
Tampaknya klan Sakai yang memerintah daerah ini mengkhianati sekutunya.
Kedua pasukan sudah acungkan pedangnya.
Bunuh diri namanya kalau orang asing seperti kita mendekat.
Jadi, aku kembali dan malah bertemu kalian berdua.
Sialan! Kenapa para samurai sesuka itu bertarung?
Wah maaf, suaraku terlalu lantang, ya.
Jangan bergerak. Lukamu nanti terbuka.
Ya ampun.
Kau ini seperti beruang yang sembunyi dalam gua, ya.
Dengar, inilah suara manusia.
Suara lainnya itu adalah makhluk yang hidup dalam hutan ini, api, dan angin.
Kau harus terbiasa dengan itu semua.
Agar bisa keluar dari gua dan hidup di dunia ini.
Abang.
Dia terluka, tahu. Jangan memaksanya.
Dia butuh waktu agar bisa terbiasa.
Suara yang merdu sekali, ya.
Jangan bangun dulu.
Ya ampun.
Aku tak bisa makan daging yang keras ini.
Oh, sang puspa merah
dalam rambutnya.
Merekah dan terayun
layaknya sang mentari.
Kau terluka? Kau baik-baik saja?
Wah, kau buta, ya.
Nah, aku di sini.
Ada apa?
Demam?
Jangan masuk ke dalam air seperti ini. Segera naik.
Tunggu, bertahanlah.
Abang!
Baru kali ini kulihat dia selemah ini.
Ya, pasti karena lukanya
tapi dia juga dapatkan kembali banyak hal dari iblis itu.
Mungkin dia kesulitan untuk menyesuaikannya.
Ini kain memang kain usang, tapi masih bersih. Pakailah.
Maaf, ya.
Mio, 'kan?
Maaf mengganggu dan membuatmu repot begini.
Sama sekali tidak. Tetaplah di sini hingga dia pulih.
Bolehkah?
Tentu saja. Di sini ada banyak orang yang seperti abangmu ini.
Kami semua sudah terbiasa.
Semuanya, tak perlu malu. Berilah salam pada mereka.
Perang yang keji, ya.
Kami kehilangan tempat tinggal dan segalanya.
Karena itulah kami tinggal di sini bersama.
Kalau begitu, mereka tak lagi punya ayah maupun ibu?
Benar, tapi mereka ini anak baik, kok.
Meski masih anak-anak, sudah bisa lakukan banyak hal.
Mbak Mio, masih bangun?
Ayo, semuanya keluar.
Mbak Mio sebaiknya tidur selagi sempat. Badanmu bisa sakit, lo.
Akan kuawasi orang yang menyusahkan, jadi, segeralah tidur.
Aku mengerti.
Kalau begitu, kalau perlu apa-apa, katakan saja pada Takebo.
Cepat! Aku sudah bikin sarapan, jadi, makanlah sebelum tidur.
Ya.
Ada makanan untuk kalian juga.
Bubur kentang. Makanlah.
Terima kasih.
Apa kau butuh bantuan?
Tak usah, awasi saja anak yang lain.
Tidak, aku tak bisa hanya duduk bersantai dan tak lakukan apa pun untuk membalasmu.
Paling tidak, izinkan aku membantu sebagai balasan makanan yang kalian berikan.
Wah, kau ini anak baik, ya.
Meski terus-terusan menangis sambil memanggil "Abang, abang!"
Apa?
Tidak, kok! Aku sama sekali tak menangis!
Nanti Mbak Mio bangun, lo.
Maaf, tapi kenapa dia malah tidur sekarang?
Karena dia bekerja saat malam.
Pasukan Yang Mulia Sakai tak tahu kapan perang akan dimulai.
Karenanya, harus ada yang melayani mereka kala malam.
Selain itu, upahnya lebih banyak kalau malam.
Mbak Mio sudah bekerja keras, makanya bisa dapat makanan.
Karena itu, kami menyuruhnya tidur saat siang.
Kau juga anak baik, ya.
Paman, sudah mau pamit?
Ya. Aku akan cari jalan lain untuk hindari medan perang.
Tak lama, kok.
Kalau tak kembali, berarti aku sudah temukan jalan untuk melewatinya.
Aku pamit.
Ya.
Apa? Dia tak berkelana bersama kalian?
Hanya kebetulan bertemu. Paman itu aneh.
Akan terjadi peperangan lagi, ya?
Entahlah.
Kurasa di sini juga bahaya. Sial.
No comments yet. Be the first to leave one.