De første 200 linjer.
Latihan hari ini, kita batalkan saja, ya.
Soalnya, lukamu juga cukup parah.
Tidak, karena lukaku tidaklah seberapa.
Justru aku lebih khawatir terhadap kondisimu.
Oh, aku juga tak apa-apa, kok.
Kalau memang ada yang terasa sakit, jangan sungkan memberitahuku.
Pasti.
seluruh hatiku serasa dibakar habis
kokoro wo zenbu yakitsukutsu youna
ZainuddinAri
mempersembahkan
kala keputusasaan ada di sampingku
zetsubou no tonari de
kau yang selalu ada 'tuk lebur semua lara
itsudatte kimi ha subete tokasu youni
menemaniku dengan senyummu
waraekaketekureteta
suara yang begitu sayu
kakukesareta koe
membuat kata-kata tak tersampaikan
todokenai kotoba
dan hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya
mata tsumazuki sou ni naru tabi ni
ku 'kan selalu bergantung padamu
nandomo shigamitsuita
bentangan masa depan nan putih bersih
shiroku shiroku masshiro na mirai ga
adalah satu-satunya harapan kita
tatta hitotsu bokutachi no kibou
saat ini ku berada dalam awan kegelapan
ima no boku ni ha yami kumo na
yang tak pernah rasakan adanya ketenangan
kono kimochi shikanai kedo
namun hari nan indah tidaklah hanya satu
seikai nante hitotsu janai
karenanya, ku terus cari masa depanku sendiri
boku dake no asu wo sagashiteru zutto
Jamuan yang Perlahan Mendekat
Syukurlah, rasa sakitnya sudah hilang.
Kemarin benar-benar parah, sih.
Sebagai rasa terima kasihku, akan kubuatkan dia sarapan.
Shirou?
Pak Kuzuki beri kabar bahwa hari ini beliau sedang sakit.
Masa, sih? Pak Kuzuki bisa sakit?
Bakalan turun badai salju, nih.
Mantap, nih! Bebas!
Sudah, sudah, diam.
Seharusnya sekarang jam pelajaran Sejarah Dunia,
tapi mumpung aku jadi pengganti di sini, jadi saatnya tes kejutan Bahasa Inggris!
Masa langsung tes?
Nenek sihir!
Taiga!
Diam!
Kalau hari Sabtu begini kalian disuruh belajar sendiri, pasti pada kabur ke kantin!
Kalian ini, seharusnya lebih bersyukur karena aku peduli!
Jam sekolah telah usai.
Para murid tak diperkenankan berada di lingkungan sekolah, setelah jam usai.
Dimohon untuk segera kembali ke rumah masing-masing.
Apa separah ini?
Tiba-tiba lenganku terasa berat dan mati rasa.
Ah, aku lupa harus menghadap Tohsaka.
Ya, dia sendiri tak mencariku, berarti tak ada hal penting yang harus dibahas.
Maaf, aku pulang telat.
Akan segera kusiapkan makan siang.
Shirou?
Baru kali ini aku pecahkan mangkuk.
Maaf, akan segera kubersihkan.
Kau tak perlu khawatir. Tunggu, dan duduk saja.
Kau pasti kecapekan, Shirou.
Tak apa, biar aku saja yang membersihkannya.
Mungkin kau benar. Terima kasih.
Tunggu sebentar.
To-Tohsaka? Kenapa kau ada di sini?
Aku ke sini karena kau mangkir dari rapat rutin kita.
Mangkir dari rapat?
Ya sih, aku memang lupa menemuimu.
Tapi, memangnya kita pernah tentukan tentang rapat rutin?
Maaf! Aku minta maaf karena lupa!
Sebagai rekanmu, seharusnya aku wajib laporan rutin.
Mumpung sudah di sini, jadi kita lanjutkan saja rapatnya.
Tunggu dulu! Sebentar lagi, kami mau makan siang, tahu!
Justru bagus, dong.
Aku juga belum makan siang,
jadi buat untuk tiga orang, ya.
Duh, seenaknya!
Jadi, satu-satunya cara kita hanyalah melawan Caster secara langsung, ya.
Benar.
Medan sihir yang dipasangnya terlalu kuat untuk dimasuki oleh roh dan sosok spiritual.
Tak ada cara masuk, selain melalui gerbang depan.
Lalu, kalau kita paksa masuk ke area kuil, maka Caster sudah menunggu di sana.
Tepat.
Lo? Kenapa dudukmu jauh-jauh begitu, sih?
Soalnya, kau duduk di tempatku, sih!
Masalahnya, setelah kita berhasil masuk, bagaimana cara sudutkan Si Caster itu?
Kalau kita salah langkah, bisa-bisa dia langsung bumihanguskan Kuil Ryuudou.
Memang, dia pasti takkan sungkan langsung melakukannya.
Saber, jangan menakut-nakuti sambil pasang muka datar begitu, dong!
Berarti, Caster akan langsung ledakkan diri begitu tersudutkan?
Kalau dia sih, tak heran.
Kemungkinan besar begitu.
Kalian berdua kompak banget.
Wah, ternyata sudah mau malam.
Bahasannya kita sudahi dulu sampai di sini.
Aku juga harus segera siapkan makan malam.
Ada apa, Emiya?
Kenapa memandangiku terus?
Duh, harusnya sadar, dong.
Oh, aku tahu.
Karena kita ini sesama Master, jadi kalau di luar kau tak mempermasalahkannya.
Tapi, kalau di rumahmu sendiri, sifat alamimu jadi susah terkendali, ya.
Wajar saja dong, aku ini 'kan cowok normal.
Tapi, bukankah ada yang aneh?
Saber juga cewek.
Lalu, dari yang kudengar, bu Fujimura dan Sakura juga selalu datang ke sini, 'kan?
Jadi, sama saja denganku, dong.
Sudahlah, kau pulang saja.
Oh? Mana mungkin aku bisa langsung pulang kalau strateginya belum ditentukan.
Shirou, apa yang Rin katakan itu benar.
Menurutku, tak jadi masalah kalau dia tetap di sini.
Duh, malah ikut-ikutan.
Ya, deh.
Tapi, kak Fuji-
Bu Fujimura juga akan ke sini nanti,
jadi kau yang harus urus semuanya, ya.
Ya, aku tahu, kok.
Aku sudah tahu seluk-beluk tentang bu Fujimura, jadi kau tak perlu khawatir.
Kalau nanti jadi bumerang buatmu, jangan salahkan aku, lo.
Aku pulang!
Selamat datang.
Duh, dingin banget!
Kelihatannya sebentar lagi turun salju!
Ah, malam ini kau masak rebusan!
Shirou-ku sayang!
Dingin!
Kau ini memang tiada duanya!
Hati-hati! Masih panas!
Soalnya, masih direbus ini!
Tak masalah, yang penting cepat, ya!
Rebusan! Sayur rebus! Daging rebus!
Jangan dorong-dorong, dong!
Maaf mengganggu, Bu Fujimura.
Oh, Tohsaka!
Tak biasanya bertemu kau di rumah Shirou.
Eh?
Kenapa Tohsaka ada di sini?
Tunggu sebentar, Tohsaka!
Kenapa malam-malam begini kau ada di sini?
Tak sopan! Tak tahu waktu!
Kenapa aku ada di sini?
Aku kemari karena terima ajakan makan malam dari Emiya.
Harusnya Bu Fujimura yang tak sopan,
karena seenaknya saja masuk ke rumah orang tanpa pencet bel terlebih dulu.
A-Aku adalah wali di rumah ini!
Ayahnya Emiya berpesan padaku untuk jaga keduanya,
jadi kami ini sudah seperti keluarga!
Oh, begitu, ya.
Setelah makan malam, aku dan Emiya akan belajar bersama,
jadi Ibu tak perlu khawatir.
Duh.
Shirou... Maksudku, Emiya!
Apa maksudnya semua ini?
Bu Fujimura, kalau belum terbiasa memanggilnya secara formal, tak perlu paksakan diri.
Lagi pula, apa pun panggilan Ibu kepadanya, itu tak ada hubungannya denganku.
Tohsaka, apa kau tahu ini semua dari Sakura?
Entahlah.
Sayangnya, semua yang dikatakan oleh Matou, harus kurahasiakan.
Tapi, sepertinya dugaan Ibu tak sepenuhnya salah.
Menang telak dia.
Aku taruh di sini, ya?
Ya, terima kasih.
Apa aku saja yang mencucinya?
Karena aku sudah menumpang makan, jadi biar impas.
Tak perlu, hitung saja jadi utang budimu.
Bu Fujimura, apa Emiya seceroboh itu?
Tidak, kok. Selama yang kutahu sih, dia tak pernah pecahkan piring.
Mungkin dia agak gugup karena ada kau di sini.
Tentunya, sebagai orang asing yang seenak udelnya.
Emiya.
Biar kulanjutkan. Kau istirahat saja.
Tak perlu.
Sudahlah, kau minum teh saja sana.
Yakin kau tak ikut bantu?
Kau 'kan yang mengajaknya. Kalau dibiarkan sendiri, dia bisa marah, lo.
Ke-Kenapa kau malah jauh banget menyimpulkannya, Bodoh?
Bukan aku yang mengajaknya, kok!
Lagian, aku juga tak peduli kalau dia memang marah padaku.
Lo? Mana Tohsaka?
Tadi dia keluar ke halaman.
Halaman?
Tohsaka?
Aku suka medan sihirmu.
Beda seperti di rumahku, di sini bisa dirasakan adanya emosi manusia di dalamnya.
Bisa temani aku sebentar?
Apa?
Hanya penasaran saja.
Rumahmu ini unik, ya.
Aku jadi berpikir, kalau lebih baik kau tetap seperti ini terus.
Maksudmu, tetap jadi penyihir amatiran?
Bukan begitu maksudku, tapi anggap saja seperti itu.
Aku tak tahu sosok penyihir seperti apa Kiritsugu Emiya itu,
No comments yet. Be the first to leave one.