De første 156 linjer.
Ayah?
Ayah?
Ayah, kita di mana?
Apa-apaan ini?
Zenith? Lilia? Aisha?
Kenapa aku ada di sini?
Keanehan di langit itu...
Ayah?
Tidak apa-apa.
Kita akan segera pulang ke rumah.
Untuk kalian yang tersesat
Ikutilah bintang yang benderang
Kepada suara tanah yang subur
Untuk kehidupan baru yang tumbuh
Berikanlah hujan nan lembut
Kepada tanah yang gersang
Kepada butir-butir pangan bumi
Aku panjatkan syukur dan doa
Kepada butir-butir pangan bumi
Aku panjatkan syukur dan doa...
Yo, aku mencarimu, lo.
Berengsek kau Geese! Dari mana saja ka—
Wah, kau selalu tampak merengut
Cih.
Teh, aku mau pesan minuman yang sama dengan dia!
Baik!
Paul, besok kau coba setor muka ke Serikat, deh.
Kenapa?
Mungkin kau akan bertemu orang yang menarik.
Kenapa malah memasang muka kusut?
Bukan apa-apa.
Jangan bohong.
Mana mungkin pasang muka kusut kalau tidak terjadi apa-apa.
Apa yang terjadi, Paul?
Coba ceritakan.
Oh, begitu.
Kau terlalu berharap banyak pada putramu.
Aku terlalu berharap katamu?
'Gini, deh, coba pikir baik-baik.
Rudeus memang anak yang hebat.
Aku tidak pernah melihat orang yang menggunakan sihir tanpa merapal.
Iya, dia memang luar biasa.
Apalagi saat beru—
Tapi Rudeus masih bocah berusia 11 tahun.
Paul, apa yang kau lakukan saat berusia 11 tahun?
Kenapa tanya aku?
Saat usia segitu,
apa kau bisa bertahan hidup di Benua Iblis?
Begini, Geese. Premismu itu aneh.
Dia dijaga oleh seorang suku Superd.
Orang lain pun
bisa bertahan hidup dengan mudah di sana.
Tidak bisa. Itu mustahil.
Justru aku yang benar.
Dia seorang genius yang bisa melakukan apa yang tidak bisa kulakukan.
Apa aku salah berharap lebih pada orang yang punya kemampuan lebih, Geese?
Apa aku salah?
Iya, jelas salah besar. kau selalu salah.
Geese—
kau tidak pernah satu kali pun ke Benua Iblis, 'kan?
Memangnya kenapa?
Seperti yang kau tahu, aku penduduk asli Benua Iblis.
Menurutku, kau terlalu meremehkan Benua Iblis.
Aku meremehkan apa?
Anak manja Benua Pusat sepertimu mana bisa paham.
Daerah luar kota adalah wilayah gersang tanpa batas.
Siang hari sangat panas.
Malam hari dinginnya menusuk.
Jika tidak mengalahkan monster, kau tidak bisa mengambil kayu bakar.
Tidak ada sumber air saat dilanda dahaga.
Hujan juga jarang turun.
Apalagi banyak monster yang jauh lebih kuat daripada monster yang pernah kau lawan.
Didengar berapa kali pun, kau terlalu melebih-lebihkan.
Tanah asing pertama, petualangan pertama.
Lalu, memikirkan suku Superd yang entah kapan berbuat sesuatu di luar nalar,
dia harus melindungi gadis yang dia anggap seperti adiknya.
Meski Rudeus adalah seorang genius, seseorang tetap punya batas.
Apalagi dia masih seorang bocah.
Kalau begitu, kenapa orang yang berusaha sampai batasnya
menceritakan petualangannya dengan wajah yang begitu ceria?
Mungkin agar tidak membuatmu khawatir.
Apa?
Kenapa dia harus mengkhawatirkanku?
Apa karena aku ayah yang payah?
Iya, dong. Karena kau ayah yang payah.
Heh, begitu, ya? Sudah jelas begitu, ya!
Aku pria lemah yang lari dari kenyataan dengan minum miras.
Pasti terlihat menyedihkan di mata Tuan Besar Genius.
Tidak perlu di mata orang genius,
bahkan sekarang pun kau terlihat menyedihkan, Paul.
Aduh, dia kasihan sekali.
Padahal berkelana setengah mati,
sekalinya bertemu kembali dengan sang ayahanda,
si ayahanda malah jadi sampah yang dimabuk miras.
Kalau aku jadi dia, aku tidak akan mengakuimu lagi.
Hei, Paul, kenapa tidak mau jujur dan menyambut pertemuan kalian kembali?
Tidak ada salahnya Rudeus bertualang sesuka hati.
Toh kalian bisa bertemu kembali dengan selamat.
Pertama, syukuri hal itu dulu.
Atau kau mau bertemu putramu
yang kehilangan sebagian tubuhnya dan kehilangan penglihatannya?
Pikir lagi baik-baik setelah selesai telernya.
Kapten...
Ayah?
Ayah, pipi Norn empuk sekali!
Ayahanda...
Akibat Ayahanda tidak segera menemukanku,
tubuhku jadi seperti ini.
Ini, sih...
Memang muka seorang yang payah.
Selamat datang.
Ah, cuma mampir.
Siapa kau?!
Namaku Paul Greyrat, ayah anak itu.
Iya, aku tahu!
Kenapa kau bersembunyi di balik seorang gadis?
Buaya juga kamu.
Setelah membuat Rudeus sepundung itu, kau masih berani muncul di sini?!
Hei, Ruijerd! Lepaskan aku!
Biarkan mereka bicara empat mata.
kau juga melihat seberapa parah Rudeus kemarin, 'kan?
Dia bukan ayah yang baik!
Jangan bilang begitu. Seorang ayah memang selalu sepayah ini.
Mungkin kau punya pendapat sendiri,
kau kenapa, Ruijerd? Lepaskan!
tapi itu hanya bisa kau sampaikan saat putramu masih hidup.
Lepaskan aku! Mau membawaku ke mana?
I-Iya...
Diakah yang kau ceritakan kemarin?
Iya, dia Ruijerd dari suku Superd.
Orangnya cukup baik hati, ya.
Tidak takut padanya?
Jangan tanya anak-aneh. Dia adalah penyelamat putraku.
Jadi, untuk apa kemari?
Aku hanya berniat minta maaf padamu.
Untuk apa?
Minta maaf untuk kemarin.
Tidak perlu minta maaf.
Aku memang bertualang dengan niat bermain-main.
Oleh karena itu, wajar Ayahanda marah.
Aku minta maaf karena bersantai di masa sulit seperti ini.
Tidak. Itu tidak benar.
kau juga berjuang keras, 'kan?
Tidak sama sekali.
Aku cuma bersantai.
Oh.
Santai, ya.
Aku juga minta maaf karena tidak mampu menemukan pesan Ayahanda.
Apa yang tertulis di pesan itu?
Tidak usah cari aku.
Cari mereka ke bagian utara Benua Pusat.
Begitu, ya.
Omong-omong, Rudy. Apa rencanamu selanjutnya?
Pertama,
aku mau mengantar pulang Eris ke Fittoa.
Di Fittoa sudah tidak tersisa apa-apa.
No comments yet. Be the first to leave one.