Come Back Anytime

Come Back Anytime

Download Indonesian undertekster

Udgivelsesinfo

Come Back Anytime 2021 JAPANESE WEBRip x264 AAC-[YTS MX]
En kommentar af tedi
Retail JFF | 1h 20m

Tags

webdl
Udgivet den: 2025-08-13
Downloads: 31
Hørehæmmede: No

Forhåndsvisning af Indonesian undertekster

De første 200 linjer.

Selamat pagi.

Saring busanya dan itu menjadi bagus dan bening.

Waktunya memasukkan ayam.

Lemak ayam.

Menu Bizentei.

Ada ramen berbahan dasar kecap asin

dengan pilihan ekstra rebung atau babi chashu,

atau ramen berbahan dasar garam dengan daun bawang,

atau miso pedas dengan taoge atau rumput laut wakame.

Itu saja.

Lalu ada gyoza. Digoreng atau direbus.

Atau hanya chashu, atau pugasan lain, sebagai camilan dengan minuman.

Serta acar sayuran.

Juga telur rebus bumbu kecap.

Sudah pukul 11.00.

Selamat datang.

Aku pertama datang ke Bizentei 17 tahun lalu.

Sekitar 20 tahun lalu.

Sepuluh tahun lalu.

Pada tahun 1990, saat aku memulai pekerjaan pertamaku.

Dua puluh tahun lalu.

Sebagai pegawai paruh waktu saat aku masih mahasiswa pertukaran.

Sebagai mahasiswa baru. Saat usiaku sekitar 20 tahun.

Dua puluh enam tahun lalu.

Empat tahun lalu.

Delapan belas tahun lalu.

Sekitar 30 tahun lalu.

Selama itu, aku hanya makan ramen chashu.

Pasti itu yang kupesan kali pertama.

Kali kedua juga.

Seiring waktu, dia menyajikannya secara otomatis.

Karena dia dengan baik hati mengingat preferensiku,

aku tak mau membantahnya. Atau mungkin aku tidak berani.

Ramen Tokyo berbahan dasar kecap asin.

Sama seperti rasa masakan ibu,

kau bisa memakannya setiap hari dan tidak pernah bosan.

Supnya benar-benar...

Supnya memiliki kekentalan tertentu.

Itu rasa yang tak akan pernah kau lupakan.

Ramen berlemak sedang populer belakangan ini.

Itu tidak masalah jika aku lebih muda.

Tapi belakangan ini, aku menghargai

rasa kecap asin yang lembut dan kaldu yang lembut.

Kurasa itu sebabnya aku mulai datang ke sini.

Rasanya lembut dan kau bisa merasakan kaldunya.

Rasanya seperti itu.

Saat aku masih muda, ada penjual ramen di malam hari.

Ibuku bekerja, jadi, saat kami lapar,

dia akan bilang, "Masashi, mereka datang," dan aku berlari keluar dengan mangkuk.

Ini mengingatkanku pada rasa itu.

Aku tidak butuh banyak pugasan. Sederhana itu yang terbaik.

Rasanya perlahan makin kuat.

Jika aku lapar saat tiba pukul 14.00, aku langsung makan ramen

dan mulai minum setelahnya. Pada saat itu, rasanya cukup ringan.

Rasanya makin kuat di malam hari saat kuahnya mendidih.

Umami kecap asin adalah kuncinya.

Kuah berbahan dasar kecap asin adalah

yang awalnya mendefinisikan ramen Jepang.

Ramen asli dari Tiongkok berbahan dasar garam.

Mereka bilang ramen dengan kecap asin muncul

sekitar 110 tahun lalu di Asakusa, Tokyo,

dan menyebar ke seluruh negeri dari sana.

Aku musisi.

Aku sudah tur keliling Jepang.

Ada banyak gaya ramen yang berbeda.

Aku sudah mencicipinya di sepanjang jalan.

Itu sangat menyenangkan.

Itu membuatku kecanduan.

Sekarang, ke mana pun aku pergi, ada tempat yang harus kucoba.

Aku tidak yakin berapa mangkuk yang kumakan,

tapi antara 500 dan 600 per tahun.

Panduan ramen yang kutulis dibuka dengan foto dua halaman

kami berdua mengobrol di konter ini.

Karena tempat ini mewakili

tempat ramen yang paling kusukai.

Lezat.

Ini jelas terasa kuno.

Dasar kecap asin dengan sup daging yang bening.

Serta mi keriting yang tipis.

Jadi, orang bilang itu kuno,

tapi aku ragu dahulu selezat ini.

Ini seperti ramen jalanan zaman dahulu, tapi umaminya jauh lebih kuat.

Serta daging chashu yang kaya rasa ini.

Dahulu tidak ada.

Dia menciptakan sesuatu yang baru.

Aku bisa melihatnya. Aku sudah mencoba beberapa.

Untuk membuat supku, aku mengisi panci itu dengan air

dan menambahkan daging babi, jahe, bawang putih,

bawang bombai, dan bawang bakung.

Lalu merebusnya sebentar.

Dimasak sekitar dua jam, lalu siap dijual.

Berulang kali selama 40 tahun terakhir.

Kau bisa melakukan hal yang sama, tapi hasilnya beda.

Entah kenapa. Mungkin karena tulang babinya.

Orang ramen yang melihat ini mungkin berpikir, "Kedengarannya sangat mudah."

Tapi orang bilang itu lezat. Aneh, bukan?

Aku tidak memakai bahan murah, tapi juga tidak istimewa.

Tidak ada sarden kering mahal atau semacamnya.

Aku tidak pernah mengikuti tren.

Hanya pria tua yang melakukan apa yang dia tahu.

Bagaimana aku menciptakan rasa supnya...

Aku mengembangkannya berdasarkan rasa.

Aku membaca buku saat menciptakannya.

Tentang cara membuat ramen.

Buku itu mentorku.

Dari dasar-dasar itu, aku mengubah beberapa hal

agar sesuai dengan seleraku.

Setelah beberapa bulan mencobanya pada orang-orang,

aku menemukan rasa yang masih kami miliki hari ini.

Aku dari Prefektur Okayama dan saat kami masih muda,

itu budaya mi udon.

Aku baru memikirkan ramen saat datang ke Tokyo.

Ayah mertuaku punya restoran kosong

dan aku didorong untuk membuka restoran ramen di sana.

Aku menyebabkan masalah bagi istriku di Okayama.

Itu semacam upaya terakhir.

Entah bagaimana, semua berjalan lancar dan aku dipuji.

Aku terus maju dan bertahan sampai sekarang.

Kurasa itu pekerjaanku. Bertahan selama ini.

Aku tak menduganya.

Hari-hari Okayama... Ceritanya panjang.

TUTUP UNTUK LIBUR TAHUN BARU

Aku bisa memperkenalkanmu jika mau.

Aku tidak ingat mencicipinya saat kau menciptakannya.

Hanya setelah itu menjadi produk sungguhan.

Itu rasa lembut yang tidak pernah membuatku bosan.

Orang bertanya-tanya bagaimana kita bisa memakannya setiap hari.

Tapi itu bukan masalah.

Itu makanan ringan yang enak. Kau tidak mau kenyang.

Kesederhanaan menu dan rasanya

mencerminkan kepribadian suamiku dan Bizentei

selama 40 tahun terakhir.

Terkadang aku bertanya-tanya, "Apa ini cukup?"

Tapi kurasa itu cukup.

- Kami menikah pada... - Tahun 1971.

Tanggal 5 Juli.

Dia datang ke festival SMA-ku saat kami kelas 12.

Pada bulan Juli berikutnya, kami menikah.

Itu kurang dari setahun. Tujuh atau delapan bulan.

Cepat sekali.

Lalu, putri sulung kami lahir tahun berikutnya.

Pada bulan Agustus 1972.

Banyak yang terjadi di antaranya. Orang-orang menentangnya.

Aku bisa mengerti alasannya.

Aku tidak melakukan apa pun. Aku adalah masalah.

Keluargaku tidak keberatan.

Ayahku berpikir memiliki istri akan membuatku dewasa.

Apa kau bermasalah?

Kurang lebih.

Jika diingat kembali

kami hanya remaja yang tak tahu apa-apa tentang kehidupan.

Seorang gadis remaja menyukai

gagasan pacaran dan pernikahan.

Andai aku punya lebih banyak pengalaman tentang dunia nyata,

- aku mungkin akan lebih memikirkannya. - Untungnya, kau tidak begitu.

Apa yang kusukai?

Menghitung uang.

Tidak. Hanya bercanda.

Saat pelanggan terlihat bahagia

dan pergi dengan ekspresi, "Tadi itu lezat."

Kurasa itu.

Saat seorang gadis menghabiskan supnya

tanpa sendok dan aku berkata, "Kerja bagus."

Daging babi chashu-nya sangat empuk.

Kau bisa memakannya dengan mi dan merasakan manisnya.

Aku jadi menginginkannya.

Dagingnya empuk.

Aku tidak suka chashu tebal.

Biarkan lemak babinya meleleh ke dalam sup,

lalu seruput lemak, chashu, dan mi sekaligus.

Itu yang terbaik.

Chashu yang kaya rasa serta berlemak seperti ini

pasti langka saat itu.

Ini biasanya daging paha merah yang padat.

Tapi menggunakan daging yang kaya rasa dan berlemak

akan cukup baru pada saat itu.

Ini satu-satunya.

Chashu Bizentei terbuat dari iga babi tanpa tulang.

Itu karena dahulu aku biasa mengeluarkan chashu biasa dari ramenku.

Aku tak bisa memakannya. Chashu-nya bau.

Sepertinya lemaknya masih terlalu segar.

Jadi, untuk menjadi koki ramen dan menyajikan chashu,

aku harus menemukan rasa yang bisa kusukai.

Resep semur daging perut istriku adalah petunjuknya.

Jika kau memasaknya cukup lama, kelezatan lemaknya muncul.

Setelah bereksperimen, aku menemukan cara

untuk mengalahkan daging babinya.

Itu mungkin takkan ada jika aku belajar di suatu tempat.

Kau akan memasaknya seperti yang diajarkan, bukan?

Pelangganku terkejut.

"Apa? Dagingnya meleleh. Lezat."

Sejak awal. Kurasa itu penyelamat kami.

Mungkin produk terpopuler kami adalah chashu.

Gyoza-nya juga lezat.

Dia tidak mencari jalan yang mudah.

Beberapa tempat tak mengerahkan banyak usaha untuk hidangan pendamping,

tapi dia memberi perhatian yang sama untuk semuanya.

Aku rasa bungkusannya sangat lembut pada awalnya.

Lalu menjadi renyah di luar, tapi tetap lembut di dalam.

Sangat mudah dimakan.

Come Back Anytime subtitles in other languages

Kommentarer

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left