Die ersten 200 Zeilen.
Satu lagi?
Ada berapa yang mengincar kita?
Apa kau tak tahu sebesar apa Amerika?
Pasti ada sekitar, ribuan prajurit.
Apa mereka datang ke sini?
Siapa tahu?
Tetapi sebaiknya siap daripada menyesal.
Bukankah begitu?
Benar. Kau benar.
Tetapi di mana abangmu?
Aku heran dia tak ikut misi ini denganmu.
Mungkin berkeliaran entah di mana.
Jika dia tak bersama begundal itu,
maka dia membaca salah satu buku membosankan Koh Hansu...
Sungguh, dia jadi tak asyik!
Kulihat kau kesal tentang hal-hal.
Maksudku, apa gunanya tinggal di sini
jika tak bersenang-senang, bukan?
Tetapi kau harus tahu ini.
Kini abangmu kepala keluarga.
Itu beban, walaupun itu juga hak istimewa.
Di mana bebannya?
Dia selalu dapat yang pertama untuk segalanya.
Memang,
tetapi bila dia lebih tua,
beban untuk mengurus keluarga ditanggung olehnya.
Tak boleh gagal, tidak untuk anak sulung.
Mungkin kini kau belum paham artinya,
tetapi percayalah, kehidupanmu lebih mudah.
Aku tahu betul soal ini.
Baik, ayo kembali bekerja.
Aku dapat!
Sudutmu lebih baik.
Alasan pengecut.
Ada lebih banyak ular di sini.
Akan kutunjukkan siapa pengecut asli.
Jika perang terus berlanjut seperti ini,
kita bisa tinggal di sini selamanya.
Aku tak keberatan.
Bukankah kau mau pulang?
Kurasa begitu.
Tetapi aku tak mau kembali ke sekolah.
Tetapi kau sangat populer.
Kurasa aku lebih benci ayahku dibanding sekolah.
Dia tak pernah lulus ujian seumur hidupnya,
tetapi jika aku tak dapat nilai tertinggi, dia menghajarku.
Dan kau menjadi juara kelas tahun ini,
aku selalu bermasalah dengannya.
Kau harus lihat wajahnya saat adikku beri tahu dia, kau orang Korea.
Dia gunakan dua tinjunya padaku malam itu.
Hei!
Bayangkan jika Ogawa- sensei melihat kita sekarang.
Dia akan menggosok matanya, mengira pasti ada kesalahan.
Ada apa?
Jadi, kini kita berteman?
Begini.
Aku tahu aku jahat kepadamu.
Dan, begini,
aku minta maaf.
Apa kita bisa berteman?
Ini.
Jangan diganggu. Mereka akan mengganti kulit.
Untuk menjadi apa?
Siapa tahu?
Tetapi mereka akan segera mengungkapkan diri.
Mereka seram.
Terima kasih. Tetapi...
Apa ada masalah?
Bukan urusanmu. Kau peduli apa?
Tn. Kim pantas memarahiku.
Aku harus kembali bekerja.
Pupuk ada di truk.
Keluarkan dari truk sebelum aku kembali.
Sunja, ada apa?
Ibu.
BERDASARKAN BUKU KARYA MIN JIN LEE
... siswa melempar batu, sementara menahan pasukan.
Tetapi setelah pukul 01.00, saat kegairahan massa mencapai...
Aku jauh dari telepon. Harap tinggalkan pesan.
Solomon, kau ada?
Sudah lama aku tak mendengar suaramu.
Hubungi aku bila kau tak sibuk.
Ini nenekmu.
Nenek, apa kapalnya sungguh besar?
Tidak, tak sebesar itu.
Apa setidaknya punya layar?
Tidak.
Tak ada layarnya juga.
Sebenarnya, kapal itu cukup kecil.
Khususnya bila mempertimbangkan jumlah kami di sana.
Kami semua saling berdesakan
dengan ombak keras yang menghantam kami.
Perjalanan itu ke sini...
sulit.
Aku sungguh ingin naik kapal.
Kenapa?
Memang kau mau pergi ke mana?
Afrika.
Afrika?
Apa itu jauh?
Jauh sekali.
Di salah satu buku mangaku, aku melihat gambar singa.
Tampak sangat ganas.
Aku sungguh ingin melihat singa.
Singa?
Singa.
Singa.
Noa.
Mozasu.
Kalian tak boleh lupa bahwa kalian orang Korea.
Orang Korea asli, itulah diri kalian.
Jika bukan orang Korea, kami siapa?
Kau benar. Benar sekali.
Mozasu, duduk. Ayo makan.
Noa, bisa berdoa malam ini?
Bapa kami yang ada di Surga,
terima kasih atas hidangan yang Kausediakan untuk kami.
Terima kasih telah membawa nenek kami dengan selamat dari Busan.
Atas nama Yesus, kami berdoa.
- Amin. - Amin.
Ini terlalu banyak. Berikan kepada anak-anak.
Makanlah.
Makan.
Untuk menghormati Nenek,
Bibi minta kepada mandor apa kami boleh memotong salah satu ayamnya.
Dan dia setuju.
Kulihat Ibu memelintir lehernya.
Dia pandai untuk itu.
Ibumu mulai sejak kecil.
Makanlah.
Tn. Koh Hansu!
Semua tindakanmu untuk kami... Bagaimana kami membalas budimu?
Tak perlu. Silakan, duduklah.
Saat dia tak bisa menemukanku di asrama,
dia mengutus orangnya untuk mencariku.
Itu tak mudah.
Apa kau mau bergabung dengan kami?
Aku sudah makan malam,
tetapi apa aku boleh duduk?
Silakan.
Kami akan makan dengan lahap malam ini. Terima kasih.
Kau lihat? Selalu yang pertama!
Aku datang!
Sebentar.
Nenek. Kenapa datang ke sini?
Kau tak terima pesanku?
Kapan terakhir kau berberes?
Kulakukan hari ini.
Tetapi, Nenek, kenapa datang ke Tokyo?
Aku bermimpi.
Mimpi? Tentangku?
Aku tak ingat perinciannya,
tetapi saat aku bangun...
Kau menunggu seseorang?
Aku seharusnya makan malam dengan teman.
Dia datang untuk menjemputku.
- Kau lihat ini? - Naomi...
Katanya ada tulang-tulang di bawah tanah itu.
Siapa itu?
Nenek ku.
Dia ada urusan mendadak di Tokyo.
Ichizaki- san .
Dahulu kami bekerja bersama di Shiffley's.
Senang berkenalan.
Maaf aku datang mendadak.
Senang berkenalan.
Apa ini kencan?
Nenek, kenapa mempermalukanku?
Maaf kita harus ubah rencana...
Tenang saja.
Kau datang jauh-jauh.
Semoga kau menikmati kunjunganmu.
Kalian akan pergi makan malam?
Bukan tempat istimewa.
Cuma kedai pasta di ujung jalan.
Astaga.
Lihatlah dia. Ceking sekali.
Kuhubungi nanti.
- Masuklah! - Tak apa.
Kau datang jauh-jauh.
Aku tak apa-apa.
Lihat sebanyak apa galbi-jjim yang kubawa dari rumah.
Dan banchan kesukaan Solomon.
Masuklah.
Pakai sandal!
Lantainya kotor.
Kau tak perlu begitu.
Aku mau sekali menerima tawaranmu.
Semalam, 60 B-29
tanpa pandang bulu menghujani pusat kota dengan bom...
Nenekmu dan aku dahulu sering bertengkar sengit
tentangku ingin bersekolah.
Dahulu masanya berbeda.
Ibu, aku bisa ajari jika mau.
Untuk membaca?
Kini sudah terlambat untuk itu.
Kaulah yang harus belajar dengan baik.
Paham?
Astaga.
Bagaimana bisa tidur dengan cuaca sepanas ini?
No comments yet. Be the first to leave one.