The Strong Ones

The Strong Ones (Los fuertes)

Download Indonesian Untertitel

Release Info

The Strong Ones 2019 Breaking Glass Indonesian
Ein Kommentar von SatoruGolojo
ReSync & Translate by Satoru Golojo. Cocok untuk versi breaking glass atau yang ada di ok ru dengan durasi 1.39.09 menit

Tags

other
resynced
professional_translation
extended_edition
uncensored_version
hardcoded
Veröffentlicht am: 2026-02-06
Downloads: 33
Hörgeschädigt: No
FPS: 23.976

Indonesian Untertitel-Vorschau

Die ersten 200 Zeilen.

THE STRONG ONES

Terima kasih.

- Semoga harimu menyenangkan. - Terima kasih, Dok.

Mari.

- Gimana perjalanannya? - Lancar. Cuma agak capek saja.

Dokter, ini Bu Gladys Henríquez.

Bu Gladys.

- Apa kabar? - Baik, terima kasih.

Silakan masuk.

- Jadi, aku tunggu kamu? - Tinggal dua pasien lagi.

Halo...

- Sebentar lagi matang... - Santai saja! Ini adikku, Lucas.

Halo.

- Apa kabar? - Baik.

Barang-barangnya taruh di atas saja.

Kalau Martín?

Dia di pabrik. Nanti juga sampai.

Permisi.

Bu Adriana,

Apa Antonio bisa bantu saya angkat kayu bakar?

Tentu saja.

Baguslah, terima kasih.

Mau jalan-jalan?

Enak!

Sudah lama aku nggak makan ini.

Bu Adriana yang buat.

Ponselku mana?

Bukannya di tasmu?

Terus tasku dimana?

Kapan jadwal penerbanganmu?

Dari Santiago?

Tanggalnya?

Tanggal 23.

Ayah.

Hai.

Kami baik-baik saja.

Ayah...

Kami lagi makan sekarang.

Nanti kamu tinggal di mana di sana?

Apa?

Mau tinggal di mana kalau sudah sampai?

Aku bakal tinggal bareng teman.

Entahlah, aku nggak tahu.

Nanti kusampaikan.

Mereka titip salam.

- Hei. - Hai.

Aku nggak tahu--

Kata nenek nggak ada orang di sini.

Nggak masalah.

Mau dibantu?

Boleh.

Terima kasih.

Sama-sama.

Sampai jumpa.

Sampai jumpa.

Toqui!

Semoga beruntung.

Sampai jumpa.

Pagi, Kapten.

- Gimana kabar? - Baik.

Dingin sekali hari ini.

- Gimana kabar Nancy? - Sudah mendingan.

Sampai jumpa di dalam.

Tarik!

Charly!

Cepat bantu disini!

Hati-hati!

Itu sudah lama sekali.

Dulu aku harus menjual mobilku.

Bahkan mesinnya nggak mau nyala.

Kamu bisa bayar uang muka pakai trukmu.

Jual saja rongsokan itu sebelum meledak!

Aku sudah menabung.

Orang-orang ini bakal kerja bareng aku.

Mereka semua sudah setuju.

Kalau kemampuanmu cuma sehebat ayahmu, habislah kita semua.

Kamu makin mirip dia setiap harinya.

Toño!

Di sini kosong!

- Ayolah... - Kita kan sudah bahas ini!

Kamu lupa?

- Aku gak bisa lihat... - Maaf.

Buka mulutnya.

Jadi, kamu mau pergi ke mana?

Dokter sudah cerita semuanya tentangmu.

- Ke Montreal. - Buka.

Kedengarannya asyik...

Dia lagi ambil kursus pascasarjana arsitektur...

Kalau begitu, kamu harus bangunkan aku rumah di sini nanti.

- Ini tentang warisan budaya. - Buka.

Benar, warisan budaya.

Pernah nggak kubilang kalau dia orang pertama yang gigi bungsunya kucabut?

- Benarkah? - Iya!

Dia datang ke klinik universitas. Waktu itu aku masih tahun kelima...

Giginya sudah ada, dan memang harus kucabut suatu saat nanti...

Jadi dia minta tolong, dan aku setuju.

Lagi pula giginya mulai mendesak ke depan... padahal dia pernah pakai kawat gigi.

Lucy, ambilkan sikatnya. Ayo kumur.

Gimana dengan apartemenmu?

Sudah kulepas.

Perabotan juga sudah kujual.

Ada barang yang kamu titip ke orang tuamu?

Nggak ada.

Oke.

Kamu terlalu banyak minum kopi.... Kelihatan dari email gigimu.

Pada hari itu,

3 Februari 1820,

pasukan Chile yang dipimpin Lord Thomas Cochrane,

memulai misi mereka saat enam puluh orang pemberani pertama mendarat.

Pasukan pertahanan Spanyol di Corral melihat mereka maju.

Meriam dan senapan yang tadinya bungkam mulai menyalak.

Benteng ini pun menyaksikan pertempuran pertamanya,

yang sekaligus menjadi yang terakhir.

Pada dini hari, dalam aksi yang benar-benar nekat,

para pejuang kemerdekaan Chile masuk melalui bagian belakang benteng.

Bidik!

Tembak!

Benteng pertahanan terpenting di selatan teluk itu pun jatuh.

Hai.

Bisa beli satu?

Mau minum bir?

Nggak... aku capek banget.

Ya sudah.

Duluan, ya.

- Hati-hati. - Salam buat anak-anak.

Lapar?

Hai!

Aku nggak tahu mereka ada acara begini.

Enak?

Enak banget.

Bisa minta satu juga?

Terima kasih.

Kamu habis melaut, ya?

Iya.

Selama beberapa hari.

Biasanya tangkap apa?

Sarden.

Kami jual ke tempat pengolahan ikan di kota.

Lagi sibuk apa akhir-akhir ini?

Nggak banyak.

Aku sempat ke Niebla.

Lagi bikin sketsa gambar benteng-benteng.

Sekalian mampir nengok kakakku.

Kapan terakhir kali kamu ketemu dia?

Sudah agak lama.

Kadang dia yang ke Santiago,

tapi aku sendiri sudah beberapa tahun nggak ke sini.

Kamu yakin?

Iya.

Searah, kok.

- Mulai berkabut... - Iya.

Lihat pulau itu?

- Yang mana? - Itu.

Di sanalah aku tumbuh besar.

Oya?

Kamu tinggal di sana?

Sekarang nggak lagi. Aku tinggal di sini.

Di atas sana,

pas di atas bukit.

Terima kasih.

Bukannya kamu harusnya makan bareng mereka?

- Iya... - Ya sudah, sana gabung!

Dah.

Aku maunya kerja di bidang konservasi, bukan di pabrik pemotongan kayu!

Hai.

Kami menunggumu.

Tadi ada urusan sebentar.

Lepas sepatumu, nanti lantainya kotor semua kena lumpur.

Martín, sudah hentikan, ya?

Terus kenapa kita pindah ke sini?

Aku nggak mau punya anak di kondisi begini.

Lucas! Apa yang kamu colokkan?

Nggak ada!

Jangan pakai pemanasnya!

- Bisa tolong cek ke luar? - Hei.

Kamu mau bersamaku atau nggak?

Sana coba lihat...

Kotak sekringnya di mana?

Sialan!

Ini.

Yang kecil juga?

Iya!

Lihat.

Kelihatannya bagus.

Nggak dapat banyak.

Mulai dingin, ya?

Sekali putaran lagi, habis itu kita balik...

Hei...

Mereka meneleponku setiap hari.

Kamu harusnya lebih sabar menghadapi mereka.

Sampai kapan?

Nggak ada yang mau kubicarakan dengan mereka.

Sudah berapa lama kayak gini?

Butuh waktu lebih lama buat mereka terbiasa... entahlah.

Lagipula aku mau pergi sekarang.

Itu lebih baik buat semuanya.

Kendurkan lagi! Terus!

- Hitungannya nanti saja. - Terima kasih.

- Selesaikan itu, aku segera kembali. - Oke.

Ayo, Toño!

The Strong Ones subtitles in other languages

Kommentare

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left