Die ersten 200 Zeilen.
Jangan lihat itu terus. Astaga.
- Maaf. - Tak apa-apa.
Danny, kau tak perlu melakukan ini. Kau tahu itu, 'kan?
Kita akan lakukan.
Rockefeller Center, ini kereta D pusat kota,
perhentian berikutnya Seventh Avenue. Awas pintu yang tertutup.
Dia tak akan menyakiti siapa pun lagi, oke?
Danny. Ayo.
RADIO CITY MUSIC HALL FRANK SINATRA - 17-25 MEI
MUDDY WATERS - 29 JUNI
- Sial. - Kenapa?
Ketemu.
Di mana?
Dia baru keluar.
Jangan menoleh.
Aku tahu cara jalannya. Ayo.
RAINBOW ROOM DEK OBSERVASI
Oke, kita berpencar dan aku akan memutar.
Akan kucegat dia dan kau tahu harus apa.
Terima kasih, Danny. Kita bisa.
Hei! Berhenti!
Danny. Danny, tembak. Danny, ayo!
Danny! Danny, tembak dia!
Hei, Kau! Jangan bergerak!
Berhenti!
Sial.
Yitzhak, tunggu.
Di mana Ariana?
- Sesuatu terjadi. - Apa ulahmu?
Aku tak bermaksud begitu.
- Apa ulahmu? - Sungguh.
Dia yang memaksaku. Sungguh. Maafkan aku.
Maaf. Aku...
Dengar, ambil paspor ini. Ambil. Cari ayahmu.
Oke.
Polisi!
Siapa pun di dalam, keluar dengan tangan di atas!
- Keluar dari depan. - Kemari!
Terus maju!
Kemari! Terus jalan!
Angkat tangan! Taruh tangan ke atas!
Ayo! Jalan perlahan! Terus maju!
Maju. Pelan-pelan.
Taruh tangan di atas!
Terus angkat! Jalan perlahan!
- Terus maju! - Kemari!
- Terus jalan! - Tiarap!
- Tiarap! - Tiarap sekarang!
- Tiarap! - Tiarap, tangan keluar!
Hujan peluru, pecahan kaca di mana-mana, satu orang terluka.
Wanita ini tertembak kakinya.
Anak ini beruntung tak dapat tuduhan pembunuhan.
Kalau gadis itu, Ariana? Namanya bagus.
Tak ada jejaknya juga.
Aku pikir dia membunuhnya dan induk semang itu.
Beginilah jika pasangan kita membaca buku tentang pembunuh berantai.
Jadi, bagaimana menurutmu?
- Diakah pelakunya? - Tak sesederhana itu.
Ada sejumlah faktor dispositif yang tak kulihat.
Dan sifat dari kejahatan ini tak sesuai dengan...
Atau "kejahatan", 'kan? Bagaimana dengan gadis dan induk semang itu?
Tak ada senjata dan mayat.
Kita tahu dia punya pistol. Ada darah di lantai rumah itu.
Ada tanda perlawanan dan lubang bekas peluru di kaca.
- Itu bukti tak langsung. - Ya, tapi bagaimana jika dia orangnya?
Bagaimana jika dia pelakunya?
Apa dia memberitahumu alasannya menembak di Rockefeller Center?
Ya. Dia dan gadis itu ingin menakuti seseorang, katanya.
- Siapa? - Tak mau bilang.
Katanya tak ada gunanya.
Jadi, bagaimana? Ini pekerjaanmu, Profesor.
- Biar kulihat dulu. - Ya?
Ya.
Kau siap?
Ya.
Baiklah.
TERINSPIRASI DARI BUKU THE MINDS OF BILLY MILLIGAN
KARYA DANIEL KEYES
Satu jam cukup.
Baik.
Mau duduk?
Danny.
Bagaimana mereka memperlakukanmu?
Sama seperti yang lain, kurasa.
Aku hanya mau berbincang.
Tentang nasib Ariana. Aku tahu.
Apa kau tahu dia di mana, Danny?
Tidak.
Seperti pengakuanku pada polisi,
aku tak melihatnya sejak kejadian di jalan itu.
Polisi tak bisa menemukannya juga.
Apa yang terjadi dengan Yitzhak, induk semangmu?
Aku tak tahu.
Jika kau tak bisa mengatakan di mana mereka sekarang,
bisa kau katakan kenapa kau bisa tinggal dengan mereka di rumah itu?
Itu rumah kos. Aku mengekos di sana.
Danny, aku berusaha menolongmu.
Oke.
Kapan kau pertama kali bertemu mereka, Ariana dan Yitzhak?
SMP, SMA.
Bisa kau ceritakan seakurat mungkin?
Tahun 1977. Musim semi. Matahari bersinar cerah.
Dulu aku bukan murid yang sangat populer.
Ternyata sedih dan murung menyulitkanku juga di rumah.
Dan!
Bisa tolong lakukan sesuatu?
Anak itu manja, serius.
Dan!
Bisa tolong lakukan sesuatu? Aku mau mandi.
Aku minta tolong. Bisa kau lakukan sesuatu dengan anak ini?
- Kau dengar aku, 'kan? - Ya, aku dengar.
Biarkan saja dia.
Dia tinggal di sini. Memangnya ini hotel?
"Biarkan saja dia."
Cepatlah. Nanti kita terlambat.
Mau Ibu antar ke sekolah?
Boleh.
Ibu akan membuatkanmu bekal roti lapis.
Astaga. Ini hotel dan kafetaria. Parah.
Danny, bersiaplah.
Kita berangkat lima menit lagi.
Kau tahu, aku berpikir, "Andai aku bisa tidur sampai pukul 08.00."
Dia anak manja, tahu?
- Aku harus pergi. - Aku harus pergi.
Kenapa kita tak pernah menghabiskan waktu bersama lagi?
Hei.
Lihat aku saat aku bicara. Oke?
Kau tak menyukaiku?
Danny, ayo. Ibu tak boleh terlambat.
- Tolong cepat. - Aku harus pergi.
Jangan kurang ajar padaku di rumah ini, Tuan.
- Paham? Kau... - Marlin, apa-apaan ini?
Lepaskan dia.
Begitu? Kau mau memaksaku? Apa...
Danny, ayo.
Astaga.
Ya, Danny. Pergilah.
Kau menyedihkan.
Yah, hanya aku yang kau punya, Candy.
Jadi, kau pun sama saja.
Semoga harimu baik.
Makan siang.
Oke, ayo.
Kau harus beli stiker atau sesuatu.
Lokermu luar biasa tandus.
Apa kabar, Jonny?
Tampangmu begitu lagi. Ada kejadian buruk pagi ini?
Ayah tirimu yang berengsek?
Aku benci dia.
Mau melihat sulap kartu?
- Boleh. - Baik, pilih satu kartu mana pun.
- Yang itu. Ya. - Yang ini? Oke.
Di mana Mike?
Di pertandingan universitas di Philly, ingat?
- Kukira selesai hari ini. - Tidak.
Tapi dia datang nanti malam. Dia akan datang ke pesta Joey Lathem.
Kita akan datang, 'kan?
- Ya, tentu, kurasa. Aku... - Hei, Aneh.
Bajingan.
- Kau yakin kita diundang? - Dia memasang tanda.
Seluruh kelas diundang. Akan kujemput kau pukul 19.00.
Tidak. Jangan ke rumahku. Kita jumpa di halaman.
Oke. Jangan tidak datang.
- Tidak akan. - Dan periksa sakumu.
Itukah kartumu?
Bukan. Sampai nanti, Kawan.
Dah.
- Bagus. - Terima kasih.
Apa itu Adam?
Kau sangat merindukannya, ya?
Ya, kadang-kadang. Tidak selalu.
Karena kita tak pernah tahu kapan duka itu muncul.
Ya.
Rasanya tiba-tiba sesak, tahu?
Sama seperti aku dan ayahku, kurasa.
Meski aku tak pernah berpikir seperti itu.
Ayo pergi.
Aku masih sedih saat memikirkannya. Aku merindukannya.
Kau tak tahu seperti apa aku dan Adam.
Kami bukan hanya mirip dari segi penampilan, kami tak terpisahkan.
Bisa kau ceritakan soal dia?
Apa kau ingin membicarakan kejadian yang menimpa Adam?
Tidak.
Apa pun keadaannya, aku turut berduka.
Kehilangan itu menyedihkan.
Itu pendapat profesionalmu?
Kira-kira begitu.
- Tidak. - Aku dengar musik.
Kita pulang saja, Jonny. Aku tak...
- Kurasa aku tak... - Coba kita lihat di belakang.
Sial.
Rumahnya besar.
- Kau yakin kita diundang? - Ya. Ini bakal seru.
Apa kau melihat Mike?
Tidak, tapi katanya dia akan datang.
Hei. Ini tak kusangka.
- Danny Sullivan. - Hei, Mike.
- Aku senang kau datang. - Senang bertemu kau.
Sama-sama. Bagaimana kau bisa menyuruhnya datang?
Dasar licik. Ayo. Ada minuman, Kawan.
No comments yet. Be the first to leave one.