Die ersten 200 Zeilen.
Ayo, pergi.
Jangan berhenti. Terus maju.
Saat bertempur, cari bendera dan kelompok di sekitarnya.
Bersama, kalian akan tak terkalahkan. Terpisah, kalian gugur satu demi satu.
Ini gila. Kita kalah jumlah lima banding satu.
Kau bukan lagi pengawal pribadiku. Kembali ke posmu.
Pemuda ini bicara jujur, Tuanku. Lihat jumlah mereka. Kita tak bisa hentikan.
Kita akan hentikan mereka.
Biar kami bawa muatannya.
Aku bawa ini.
Kupimpin pertempurannya.
Aku sudah sering bertempur.
Bersiaplah pada tengah hari dalam formasi serangan.
Tuan, mereka terlalu banyak, tetapi kita mungkin punya peluang.
Kita akan mati bersama jika ini hari terakhir kita, Tuanku,
tetapi dengarkan dia.
Legenda El Cid
Aku merindukan kalian.
Kami pun merindukanmu.
Selamat datang.
Bagaimana semuanya?
Apa kabarmu?
Tuan Putri.
Sedang apa kau?
Aku akan selalu bersyukur.
Tentu. Jangan buat aku menyesalinya.
Kakak, kami akan selalu ingat jasamu.
Kembali bekerja. Hadiah tak akan merajut sendiri.
Tuan Putri, terima kasih.
Kau tampak cantik.
Bagaimana situasinya? Biar kulihat.
Duduklah.
Ibu! Aku harus katakan sesuatu.
Nanti. Aku harus ke San Isidoro.
Yang akan kukatakan tak bisa menunggu.
Sendiri.
Jika Ibu tak mau mendengarkanku, raja akan mau.
Silakan pergi dahulu. Beri tahu Elena untuk menungguku di luar.
Aku akan selalu setia kepadamu, Ibu.
Aku tak paham maksudmu.
Wanita pertama yang memakai mahkota León.
Kepemimpinan Ibu cetak sejarah.
Apa? Jangan katakan hal seperti itu.
Aku tahu segalanya, Ibu.
Komplotan, bulla kepausan... Jika Ibu...
Diam!
Ucapanmu berbahaya.
Aku tahu.
Aku ingin Ibu tahu, aku paham kebutuhan untuk menyingkirkan raja.
Serangan gagal saat turnamen.
Jangan cemas. Aku akan selalu setia kepada ibuku.
Juga kepada ratuku.
Urraca, kau tak boleh sebutkan ini kepada siapa pun. Paham?
Percayalah.
Pergilah. Kita bicara nanti.
Aku tak terlihat bagi raja. Baginya, hanya Sancho yang ada.
Tuanku...
Tuanku. Ayahmu akhirnya akan menyadari nilaimu.
Tidak jika Sancho menang.
Maka aku tak akan berpeluang untuk menunjukkannya.
Dan pengawalnya? Dia akhirnya jadi kesatria.
Itu bisa kuatur.
Kau telah amat membuktikan kesetiaanmu.
Lebih lagi, kau putra count. Kau layak jadi kesatria.
Apa kita warga León?
Di mana itu?
Di mana itu?
Di mana keberanianmu yang terkenal?
Ayo, Alfonso, tunjukkan kepadaku.
Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu.
Tanpa dosa.
Dosa apa yang merundung jiwamu?
Keangkuhan, Yang Mulia.
Itu memompa rasa harga diri.
Apa yang memicu kesalahan seperti itu?
Memercayai orang yang salah.
Mengira mereka akan menghormati keinginanku.
Lalu keinginan itu adalah...
Menjadi ratu.
Suamiku akan tetap jadi Count Kastila
dan tak ada yang akan coba membunuhnya.
Mereka coba membunuhnya.
Paduka Ratu, tambahkan dosa lagi bersama harga diri.
Kegilaan.
Kita sudah sepakat.
Kau keliru keinginanmu dengan kenyataan.
Kau kira Raja Fernando akan puas dengan Kastila?
Bahwa dia tak merebut León, dan membalas dendam pada pengkhianatnya?
Jika kau tak menjawab, berarti kau sendiri tahu Raja Fernando harus mati.
Atau mungkin kau pikir menjadi ratu León tak melibatkan pengorbanan?
Siapa mengira pesonamu berasal dari ocehan yang merepet.
Flaín menodaimu, ya?
Apa itu sulit?
Ya.
Ya, Tuan Putri.
Apa kau melawan?
Tindakanmu bagus.
Itu bisa jadi lebih buruk.
Sebaiknya aku mati.
Kini aku tak bernilai.
Kau harus tabah.
Kau masih hidup dan selamat.
Ya.
Namun, tak utuh.
Ermesinda, keperawananku senilai kerajaan, tetapi keperawananmu,
bisa diperbaiki.
Ayah.
Alfonso.
Kau mau apa?
Raja kenali budaknya.
Ayah lebih tahu anak-anaknya.
Waktunya tiba untuk jadikan Orduño kesatria.
Putra count?
Kenapa dia?
Sebagai pengakuan kesetiaannya kepadaku.
Akan kupikirkan.
Orangku mengeluh
karena tak bertempur. Kenapa...
Kataku aku akan memikirkannya!
Ada lagi?
Tidak.
Informanku melaporkan pasukan Sancho
dan Al-Muqtadir meninggalkan Zaragoza.
Atur lebih banyak massa untuk Sancho.
Lalu adakan jamuan makan besok.
Tuan?
Kita akan katakan ada pertanda Sancho menang pertempuran,
kita membedah merpati dan hatinya merah.
Aku ingin Flaín dan bangsawan León-nya di sana.
Pada akhir jamuan, sesuai perintahku, tangkap mereka semua.
Uskup bagaimana?
Aku pun mau dia di sana.
Aku mau dia di sana, tetapi jangan ditangkap. Aku tak mau menantang Roma.
Akan kusiapkan semua, Yang Mulia.
Satu hal lagi.
Saat jamuan berakhir, kunci istriku di kamarnya
hingga aku bisa mengurungnya di biara dekat León.
Tempat aku bisa mengunjunginya sesukaku.
Para kesatria Kastila,
saatnya tiba untuk menunjukkan kemampuan kita kepada mereka.
Tergantung kita untuk memastikan tindakan kita hari ini dikenang selamanya.
Sebaiknya mati di sini daripada kembali ke León dengan malu.
Untuk Tuhan dan Raja Fernando!
Untuk Raja Fernando!
Untuk Raja Fernando!
Lindungi Sancho dengan nyawa kalian.
Ingat ucapanku!
Pada aba-aba Don Sancho, setelah menyerang, lindungi benderanya.
Siapa pun yang menyentuh Paman Ramiro akan dikuliti hidup-hidup.
Mereka berhasil. Beri perintahnya.
Tetap tenang.
Biarkan waktu berlalu.
Berkumpul bersama!
Berkumpul bersama!
Berkumpul bersama!
Bapa kami di surga...
Ayo!
...terpujilah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu
di atas bumi
seperti di dalam surga.
Di mana kaum Moor terkutuk itu?
Ruy! Bantu pangeran.
Tuan!
Bantu Sancho!
Dasar keparat terkutuk!
Varo.
Varo!
Ruy, ambil benderanya!
Warga Kastila!
Berkumpul bersama!
Berkumpul!
Saatnya tiba. Sekarang.
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Varo!
Bunuh pangeran!
Bunuh dia!
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Astaga!
Ayah!
Ayah!
Tidak!
Tidak.
Ayah!
Tidak!
Raja Aragon mangkat!
Raja Aragon mangkat!
Raja mangkat!
Raja Aragon mangkat!
Tuanku!
Tolong bersihkan dan siapkan jenazah Raja Ramiro!
Dia harus kembali ke sepupuku dengan kehormatan militer penuh!
Medan perang ini milik kita.
Tidak...
Medan perang ini milikmu...
Ruy Díaz, "Juara."
No comments yet. Be the first to leave one.