Die ersten 108 Zeilen.
Salam Hangat Dari Singkawang Kalimantan Barat
Lihat apa yang telah kau lakukan.
Gara-gara kamu, aku tidak bisa mengantar surat tepat waktu.
Aiko, kau sudah selesai? Kau mau diantar pulang?
Tidak? Kau yakin?
Baiklah. Sampai nanti.
Aiko, biarkan aku mengantarmu pulang.
Tidak apa-apa. Masuklah. Ayo.
Kau mau menghisap penisku lagi?
Hisaplah, aku mohon.
Aku sudah membuka resleting celanaku. Lihat? Aku sudah ereksi.
Kau tahu aku sangat menyukaimu, Aiko. Aku benar-benar menyukaimu.
Strike . Lakukan strike .
Aku sangat terganggu dengan apa yang telah kau lakukan. Para klien sangat kecewa.
Kau tidak suka dengan jasa pos?
Kau suka menjatuhkan sepeda motorku? Gara-gara kamu, aku mendapat masalah.
Mengapa aku? Kau dendam denganku?
Mengapa kau melakukannya?
Kau menjatuhkan sepeda motorku, kan?
Lalu siapa yang melakukannya?
Tidak ada orang lain di sana selain kamu. Aku ingin permintaan maaf.
Kau mau pulang?
Bagaimana kalau kau minum-minum denganku?
Kau harus mentraktirku minum karena masalah yang kau berikan padaku.
Ayolah. Traktir aku minum.
Aku tidak tahu kalau kau tidak biasa minum.
Kau baik-baik saja?
Ayo kita pergi minum-minum.
- Ide bagus. - Kau yang bayar, kan?
- Aku tidak punya uang, bodoh. - Aku juga tidak punya.
- Aku tidak punya uang. - Lalu apa yang akan kita lakukan?
- Aku akan memikirkan sesuatu. - Kau benar-benar tolol.
- Aku ingin sekali minum bir. - Aku juga.
Mengapa kita begitu miskin?
Hei.
Aduh.
Yoshio punya uang.
Bagus sekali.
- Kalian tahu? - Tahu apa?
Merpati pos itu.
- Apa? Mereka masih ada? - Tentu saja masih ada.
- Di era ponsel sekarang ini? - Itulah yang ingin aku bicarakan.
Gelombang radio ponsel mengganggu insting merpati pos.
- Benarkah itu? - Tentu saja benar.
- Yoshio, kau punya pacar? - Apa? Mengapa?
- Kau punya? - Aku tidak punya. Mengapa?
Aku hanya penasaran.
Kalian tahu kue merpati?
- Kau memakannya dari kepala atau ekor dulu? - Aku tidak peduli sama sekali.
Ada orang yang tidak bisa memakannya.
- Mengapa tidak? - Mereka pecinta merpati.
Para pemilik merpati pos.
Ini aku.
Pakaian apa yang kau kenakan?
Ada apa, Aiko?
Kita sedang berdansa?
Apa ini?
Kau hebat sekali.
Aiko.
Aku harus pergi. Ibuku akan sangat marah.
Tetap di sana. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Jangan bergerak.
Dah.
h
ht
htt
http
http:
http:/
Hei.
Terima kasih.
- Ternyata kau sudah punya pacar. - Apa?
Makan siang buatan rumah.
Tidak. Ibuku yang membuatnya. Dia marah kalau aku tidak menerimanya.
Sungguh?
Ini.
Makanlah.
Rasanya enak?
Kau akan melakukan semua yang aku katakan, kan?
Aiko? Kau sudah mau pulang?
Mengapa kau pulang lebih awal?
Apa itu?
Aiko, kau sangat pintar memasak. Ini enak sekali.
Kau tidak harus membuatkan makan siang untukku setiap hari.
Aku menghargainya, tapi sangat merepotkan untuk mencuci kotak makanannya.
Jadi jangan ada lagi bekal makan siang.
Mereka yang lain makan di luar.
Aku malu karena aku sendirian yang makan di kantor.
Aku hargai pemberianmu, tapi aku tidak menginginkannya lagi.
Hentikan. Kau terlalu berat.
Apa ini?
Untuk apa ini?
Ambillah. Aku tidak menginginkannya.
Aku serius.
Aku benar-benar tidak menginginkan uangmu.
Baiklah. Tapi aku akan mengembalikannya.
Jujur saja, aku memang butuh uang.
- Kau masih bekerja? - Ya. Kira-kira begitu.
Apa yang kau lakukan?
Kau seharusnya tidak melakukan itu.
Kau boleh menyentuh kakiku.
Kau gila.
Sentuh aku.
Jilat aku.
Makan aku.
Apa ini?
Apa ini?
Mengapa kau menyimpan semua kemasan ini?
Bukankah aku sudah bilang jangan membuatkan makan siang untukku?
No comments yet. Be the first to leave one.