Die ersten 200 Zeilen.
Ibu.. ibuku sakit gawat, Dokter.
Bawa ibumu ke sini, biar aku periksa.
Tidak, Dokter. Ibu tak bisa kemari.
Ia tidak sadarkan diri.
Ia tak bersuara sama sekali.
Cepatlah ke sana, Dokter. Tolong.
Baiklah, Nak. Aku akan ke sana.
Dokter, apa yang terjadi pada ibuku?
Jangan khawatir, Nak.
Datang ke klinik besok pagi dan aku beri obat, ya?
Baik.
Dokter, kuharap wanita malang itu cepat sembuh.
Sukar dipastikan, sebab dia bukan terkena penyakit.
Sebenarnya dia mengalami depresi berat.
Ya, Dokter. Semoga Tuhan meringankan siapa pun dari cobaan hidup.
Dan ingat, penting baginya untuk makan secukup mungkin.
Jika dia tak cukup makan, obat-obatan tak akan efektif.
Ibu..
Ini Bu, diminum obatnya.
Makanlah, Bu.
Aku tahu, Bu.
Ibu baru makan setelah menyuapi aku.
Tapi aku sudah makan.
Benar, aku tidak bohong.
Ayo, dimakan.
Jangan menangis, Bu. Kenapa Ibu selalu menangis?
Dia yang membuat kita menangis, harus juga merasakannya!
Ibu!
Lihat Ibu, apa yang terjadi pada gadis kecilnya!
Ajay?
Hei, kau belum bersiap-siap?
Ayo, cepat bersiap. Sarapan biar kuantar.
Sebelum kau makan, ibumu tak mau makan juga.
Aku akan menyusul, Bibi.
Di mana Ajay?
Selamat pagi, Ibu.
Hei, Ibu kelihatan cantik sekali hari ini.
Mari, Ibu. Kita sekarang mulai sarapan.
Lihat Bu, apa ya sarapannya?
Aha! Ini manisan Halwa!
Mari, dimakan.
Buka mulutmu, Ibu.
Sekarang Ibu sendiri yang menyuapiku.
Kau sudah minumkan susu buat gadis kecil?
Ya, Bu. Gadis kecil itu sudah minum susu..
..dan ayah keluar membeli obat.
Setiba Ayah dengan obatnya, akan kami berikan pada si gadis kecil.
Kau tahu, Ibu? Gadis kecil itu mulai bandel sekali.
Ia tidak menurut pada siapa pun.
Mari, Nak.
Sudah ya, Bu. Aku pergi dulu.
Sampai nanti, Ibu.
Tidak, Ajay.
Kau sungguh putra kebanggaan para ibu.
Upayamu begitu gigih untuk ibumu.
Kau seharusnya senang, ibumu sudah mulai berbicara.
Keuletanmu membuahkan hasil.
Kau juga begitu telaten merawatnya.
Meskipun hanya tetangga, budimu tak terhitung bagi kami.
Keluargaku sendiri tak mau serepot ini. - Cukup, kau jadi alim sekali, ya?
Baiklah, aku harus berangkat.
'Shah Rukh Khan sebagai..'
BAAZIGAR. Penjudi.
Berhenti.. Hei, tolong berhenti!
Hai, Ajay! - Hah?
Hei, kau rupanya?
Ya, kau mau ke mana?
Aku mau ke Bombay, tapi ketinggalan bus.
Oh, ya? Tujuanku juga ke Bombay.
Masuklah. - Terima kasih.
Kita bertemu setelah bertahun-tahun. Bagaimana kabarmu?
Aku baik. Bagaimana kabar ibumu?
Ibu baik-baik saja. Bagaimana denganmu?
Aku sering sekali ke Pune, tapi kau tak kutemukan.
Aku sekarang tinggal di Bombay.
Aku sebenarnya sering bolak-balik ke Bombay dan Pune.
Sejak kedua orangtuaku meninggal..
..aku harus menjalani tanggung jawab bisnisnya.
Orangtuamu sudah meninggal?
Dalam kecelakaan pesawat, 2 tahun lalu di bandara Bangalore..
..semua penumpangnya tewas, termasuk orangtuaku jadi korban.
Aku turut berduka.
Apa tujuanmu sekarang ke Bombay?
Mencari seseorang.
Mencari siapa?
Mencari kesuksesan juga.
ISTANA CHOPRA.
Tunggu, gendut!
Aku yang angkat teleponnya!
Aku kepala pelayan rumah ini. Mengerti?
Babulal, kenapa kau angkat teleponnya?
Kau tak bisa mengingat apapun. Menjawab telepon seenakmu sendiri.
Dan aku yang kena damprat Tn. Chopra!
Tutup mulutmu! Cepat pergi!
Pergi cuci piring di dapur! Bawa ini sekalian!
Memangnya aku pelupa?
Aku, Tn. Bajodia dari Ahmedabad..
..yang berdagang kotak, keranjang dan gelas. Kau siapa?
Aku Babulal, kepala pelayan rumah ini.
Dengar, Babulal.
Untuk merundingkan pernikahan putraku, perlukah aku ke Bombay?
Kau berikan teleponnya pada Tn. Chopra!
Tunggu sebentar.
Gendut? - Apa!
Siapa Tn. Chopra di sini?
Babulal, Tn. Chopra adalah majikan kita!
Halo, Pak Chopra?
Tunggu ya, aku mau mencarinya.
Babulal!
Kalau ayah telepon, sampaikan aku terus ke klub kesehatan setelah kuliah.
Mengerti? - Ya, nona.
Selamat pagi. - Pagi, Marco.
Tak ada orang di sini dan gagang telepon dibiarkan lepas.
Sehari aku tak di sini, apa jadinya rumah tangga Chopra?
Halo?
Apa kabarmu, Pak?
Baik-baik saja.
Aku meneleponmu untuk menanyakan,..
..perlukah aku menemui gadis itu?
Kau boleh datang kapan saja.
Baik, bagaimana keadaan bisnismu?
Kentang dan bawang semakin mahal saja.
Begitu juga harga tomat, cabe dan jahe!
Siapa yang bicara ini?
Aku, Babulal kepala pelayan rumah ini.
Sialan!
Ada apa denganmu?
Kau harusnya cepat bilang!
Kau menyusahkan aku saja!
Aku ingin bicara dengan Tn. Chopra! Berikan telepon padanya!
Halo, Tn. Chopra baru berangkat kuliah!
Pak Chopra masih kuliah di kampus?
Dia sudah datang! Aku akan menyambutnya!
Oh, Dewa Hanuman! Kalau dia melirikku mesra..
..sesajiku 1/2 kelapa kering untuk kuilmu!
Minggir!
Selamat pagi. - Pagi.
Hai, Anjali!
Hai, Seema!
Kau bawa catatan sejarahku? - Ya.
Dan sekalian kubawa kisah cintamu yang tersimpan di dalamnya.
Kisah cinta? - Ayo, sini!
Mengapa, apa yang terjadi? - Aku belum mengerti.
Biar kutunjukkan, lihat ini!
Seema, aku bisa tahu hatimu yang ditarget.
Tapi panah siapa yang menusuk hatimu?
Jangan sekarang, Anjali. Kuberitahu kalau waktunya tepat. - Baik.
Ayo, kita ke kantin! - Kau tak kuliah psikologi?
Hari ini aku absen dari semua mata kuliah.
Jika Ravi datang, biar kusuruh dia mencatat semuanya.
Hai, Seema! - Hai!
Lihat, kau ingat dia dan orangnya menghampirimu.
Hanya ini? Biar kusalin semua catatan mata kuliah psikologi..
..dan menyerahkannya padamu. Kau tak perlu ikut kuliahnya.
Aku tahu hanya kau di kampus ini, yang bisa kuandalkan.
Terima kasih.
Baik, aku pergi dulu.
Baiklah. - Sampai nanti.
Hei, jangan begitu!
Apa-apaan!
Kemana saja?
Kekasih apa kau ini? Baru kembali setelah berhari-hari!
Seharusnya harap-harap cemas menunggu pacar datang. Dan kau?
Matamu lebih terpaku pada buku ini!
Soalnya, buku ini lebih baik daripada pacar!
Cinta? Setidaknya, buku tidak membuatmu menunggu!
Kau marah? - Ya, aku marah sekali.
Asal tahu ya! Kau terlambat 6,5 menit.
Maaf, papi!
Tiada maaf untukmu! Tidak!
Oh ya? Hukum aku dong!
Diam.
Hukumanmu, selama kubaca buku ini, kau harus terus menciumku.
Eh, maksudku.. duduk manis selama itu.
Kau mungkin membaca banyak buku. Kitaben Bahut Si Padhi Hongi Tumne.
Tapi, pernahkah kau membaca seraut wajah? Magar Koi Chehra Bhi Tumne Padha Hai.
Sudah kubaca, Sayang. Kubaca dari mataku. Padha Hai Meri Jaan Nazar Se Padha Hai.
Maka katakan, apa yang tersirat di wajahku? Bata Mere Chehre Pe Kya, Kya Likha Hai.
Kau mungkin membaca banyak buku. Kitaben Bahut Si Padhi Hongi Tumne.
Tapi, pernahkah kau membaca seraut wajah? Magar Koi Chehra Bhi Tumne Padha Hai.
Sudah kubaca, Sayang. Kubaca dari mataku. Padha Hai Meri Jaan Nazar Se Padha Hai.
Maka katakan, apa yang tersirat di wajahku? Bata Mere Chehre Pe Kya Kya Likha Hai.
Gairahmu dan mudamu yang prima tersirat. Umange Likhi Hain, Jawani Likhi Hain.
Seluruh kisah isi hatimu tersirat. Tere Dil Ki Saari Kahani Likhi Hain.
Gairahmu dan mudamu yang prima tersirat. Umange Likhi Hain, Jawani Likhi Hain.
Seluruh kisah isi hatimu tersirat. Tere Dil Ki Saari Kahani Likhi Hain.
Wajah juga menyatakan perasaan hati. Kahin Haale Dil Bhi Batata Hai Chehra.
Tanpa bicara, wajah yang mengatakannya. Na Bolo To Phir Bhi Batata Hai Chehra.
Hakikatnya wajah seperti sebuah cermin. Ye Chehra Haqiqat Mein Ek Aayina Hai.
Maka katakan, apa yang tersirat di wajahku? Bata Mere Chehre Pe Kya, Kya Likha Hai.
Kau mungkin membaca banyak buku. Kitaben Bahut Si Padhi Hongi Tumne.
Tapi, pernahkah kau membaca seraut wajah? Magar Koi Chehra Bhi Tumne Padha Hai.
Sudah kubaca, Sayang. Kubaca dari mataku. Padha Hai Meri Jaan Nazar Se Padha Hai.
Maka katakan, apa yang tersirat di wajahku? Bata Mere Chehre Pe Kya, Kya Likha Hai.
Jika kubilang, aku tak sayang padamu? Agar Hum Kahen Humko Ulfat Nahin Hai.
Teganya kau begitu, kau tak cinta padaku? Kahogi Phir Kaise, Mohabbat Nahi Hai.
Jika kubilang, aku tak sayang padamu? Agar Hum Kahen Humko Ulfat Nahin Hai.
Teganya kau begitu, kau tak cinta padaku? Kahogi Phir Kaise, Mohabbat Nahi Hai.
Lihat, siapa yang datang membaca wajahku? Bare Aaye Chehre Pe Ye Marne Waale.
Dia bermuslihat menunjukkan kesetiaan. Dikhawe Ka Aihde Wafa Karne Waale.
No comments yet. Be the first to leave one.