Dear Fair Lady Kong Shim

Dear Fair Lady Kong Shim

Download Indonesian Untertitel

Release Info

The Beauty of The Beast / 미녀 공심이 / Minyeo Gongsimi Episode 01
Ein Kommentar von Mbah_Behel
Manual Translate. Next Release.

Tags

other
Veröffentlicht am: 2016-05-21
Downloads: 29
Hörgeschädigt: No

Indonesian Untertitel-Vorschau

Die ersten 200 Zeilen.

Yang Mulia pasti tahu,

... apa yang sering dilihat pasien UGD juga yang dirasakan pasien,

... sebelum mereka meninggal!

Wajah dokter, dan ketakutan selama berada di UGD.

Dokterlah, harapan terakhir mereka.

Apalagi saat itu mereka sudah putus asa.

Pengadilan ini juga, sama seperti UGD.

Untuk mereka yang lemah.

Anggaplah dia sebagai seorang pasien.

Yang merasa putus asa, dan berharap pertolongan kita.

Tolong pertimbangkan kembali putusan Anda.

Kami harap putusan Anda, akan bijaksana.

Itu saja, Yang mulia.

Putusan pengadilan, ditetapkan pada 26 Mei, pukul 2 siang.

Apa-apaan dia ini?

Itu kueku.

Medan 19 May 2016 Takarir Indonesia oleh : Zehel

Seonbae, Hubae.

Kubuat ini sebagai hadiah pindah rumah untuk kalian.

Kalian mengundangku di pernikahan tapi,

... tidak mengundangku saat pindahan rumah.

Kurang Ajar. Semoga hidup kalian menyenangkan.

Hari yang cerah untuk berselfie ria.

Kau lapar yah? Uhm?

Sini... ini.

Ahee yu... ahe...

Aigoo.

1, 2.

Bagaimana ini?

Apa-apaan ini? Seperti tabrak lari.

Ah jaes...

Ah... yang benar saja.

Kau hampir membunuh orang, kau mau kabur yah?

Siapa memangnya yang mau kabur!

Aku berlari untuk melihat keadaanmu.

Andai tidak kepergok, kau pasti sudah kabur.

Tidak kok.

Kau tidak apa-apa kan?

Langsung dah, ngeles.

Hey kisanak.

Untuk apa kau ke mari?

Oh... ternyata...

Pasti kau mengambil salah satu pot bunga ini.

Lalu melemparnya kan!

Dasar gila, kau sengaja kan!

Tidak, itu kecelakaan.

Untuk apa aku berbuat itu?

Yaelah, malah bertanya!

Wajahmu terlihat dipenuhi dengan rasa penat terhadap dunia.

Kemudian kau melampiaskan dengan berbuat jahat ke orang yang lalu lalang.

Itu tidak benar.

Aku selfie di samping pot, lalu tak sengaja menyenggolnya.

Maaf karena sudah menakutimu.

Aku sangat menyesal.

Oh ya, tidak aman bermain sendirian di atap seperti ini.

Berkumpullah, nongkrong di kafe dengan teman-temanmu, di kafe.

Ciih... gaya rambut apa itu! Ciih...

Kisanak.

Oh iya, aku maklum.

Tak perlu minta maaf lagi.

Ada orang tidak?

Begini, aku pemiliknya, ada perlu apa?

Ah, jadi ternyata kau pemiliknya!

Apa tujuanmu?

Kau mengiklankan tempat ini di internet!

Aku datang untuk melihat-lihat.

Ternyata tidak dikunci!

Tung..

Permisi.

Ada apa sih denganmu?

Bagaimana bisa kau masuk seenaknya!

Setidaknya mintalah izinku dahulu. - Kukira buru-buru disewakan.

Ternyata barang-barangmu masih di sini.

Tidak lama kok, mengemasinya.

Kapan kau mau pindah?

Mungkin besok, tapi kalau dilihat-lihat ruangan ini sempit juga!

Untuk satu orang, ruangan ini cukup besar.

Kau tinggal sendiri, kan?

Ahee yu... westafelnya tidak ada.

Entah di manapun, tempat untuk kompor!

Bukannya tertulis di internet, tidak ada dapurnya?

Lagipula tidak masalah, aku tidak memasak kok!

Wastafel dan kompor, sepertinya tidak jadi masalah.

Wow!! Apa ini?

Gambar pemandangan dari atap yah?

Kau suka melukis?

Sudah siap melihat-lihatnya!

Apa benar kau menyesal atas perbuatanmu tadi?

Bukannya aku sudah bilang maaf.

Kalau begitu sewanya 200 dolar.

Mana bisa. Asal kau tahu, sudah kubayar tunai 2.500 dolar.

Sewanya 250 dolar per bulan.

Aku tidak mau rugi.

- Atau... cari saja tempat lain. - Aa...ah.. ah.

Karena kau tadi hampir membunuhku,

230!

Akan kulupakan yang kau lakukan tadi.

Ini tidak ada hubungannya dengan sewa.

Tidak boleh lebih rendah dari 250.

Ah, keras kepala juga.

Baiklah. Ayo kita tanda tangani kontraknya.

Oh ya, besok aku pindah.

Jangan lupa kosongkan tempat ini.

- Selamat berbenah. - Kisanak.

- Mana uang mukanya? - Uhm?

10 persen dari biaya sewa. 25 dolar.

Ah.

Saat ini aku tidak membawa uang tunai.

Tapi aku membawa kartu ini.

Ini... kartu untuk transportasi umum, kan?

Memangnya kenapa dengan kartu ini?

Tahu tidak, kartu ini bisa untuk membeli apa saja di toko.

Lihatlah baik-baik. Ini kartu VIP. Sangat langka dan berharga.

Cukup. Pergilah.

Masih ada banyak orang yang akan menyewa tempat ini.

Apa penting membayar uang muka?

Ya. Saat ini kau tidak bawa uang kan?

Aku tak bilang tak punya uang, tapi tidak bawa uang tunai.

Maaf yah...

Aku... harus ganti pakaian, jadi pergilah.

Baiklah.

Sudah tinggalkan, biar aku saja.

Baik, Gijangnim.

Siapa sih, yang menelepon selarut ini?

Ya... halo?

Halo?

Apa ini,

... tempat tinggalnya, Seok Joon Pyo?

Si... siapa ini?

Apa...

... maksud pembicaraan Anda?

Seok Joon Pyo,

... benar, ini kediamannya?

Be... benar.

Benar, ini rumahnya Joon Pyo. Anda kenal dengan Joon Pyo?

Aku neneknya Joon Pyo.

Aigoo halo?

Tolonglah, aku mohon.

Aku takkan menyalahkan ataupun menuntut Anda.

Cukup beritahu saja di mana Joon Pyo kami, saat ini.

Aku juga tidak akan membenci Anda.

Pertemukanlah aku dengan Joon Pyo.

Aku mohon! Joon Pyo kami, di mana dia?

Joon Pyo kami, masih hidup, kan?

Halo?

Halo?

Halo?

Halo?

Halo?

Ibu!

Dengan siapa ibu bicara?

Dia bertanya; apa benar ini rumah Joon Pyo!

Apa?

Joon Pyo?

Lalu, apa lagi yang dia katakan?

Sepertinya dia pria yang sudah tua.

Suaranya lemah dan bergetar.

Dia bertanya benarkah ini rumahnya Seok Joon Pyo.

Ah.

Kira-kira 8 tahun yang lalu, juga ada yang menelepon dan berkata begitu.

Dia janji mempertemukan dengan Joon Pyo, tapi dia menipu, melarikan uang kita

Tidak.

Kali ini pasti berbeda.

Aku yakin Joon Pyo pasti masih hidup.

Apa pria itu juga bilang; Joon Pyo masih hidup?

Aku memohon padanya. Lalu dia menutup telepon.

Seandainya dia ingin uang kita,

Pasti dia mengklaim, dia tahu di mana keberadaan Joon Pyo.

Ahee yo, dia cuma ingin membuat ibu percaya padanya.

Aku yakin besok dia akan menelepon lagi.

Dan akan bilang Joon Pyo masih hidup dan meminta uang.

Ibu... tolong berhentilah.

Ini cuma buang-buang uang.

Kau berharap Joon Pyo sudah mati, kan?

Itu, kan yang kau harapkan?

Bagaimana ibu, bisa berfikiran seperti itu?

Untuk apa aku berharap dia sudah mati?

Sudahlah, Ibu.

Sudah 25 tahun sejak Joon Pyo diculik, bu.

Entah masih hidup atau tidak, terima saja kenyataan.

Namun, aku berharap dia masih hidup, bu.

Apa kau peduli jika Joon Pyo masih hidup atau tidak?

Apalagi dia bukan anak kandungmu.

Apa maksudmu bu? Dia sudah seperti anakku sendiri.

Kakeknya Joon Pyo, ayah tiriku. Kami masih ada hubungan keluarga.

Maksudku,

Meskipun, tidak secara langsung,

Tetap saja, aku ini pamannya, tidak mungkin aku mengabaikannya, kan?

Ibu, disini berdiri cucumu yang tampan.

Tolonglah, pertimbangkan kembali.

Sayangi saja Joon Soo kita sebagai gantinya.

Nenek.

Besok, akan kucari tahu nomor pemanggil dan segera memberitahu nenek.

Aku yakin kali ini, pasti berbeda.

Joon Pyo pasti masih hidup.

Joon Soo, besok, cari tahu siapa dia dan segera beritahu aku.

Baik, Nenek.

Joon Pyo,

Joon Pyo!

- Goyang perlahan-lahan. - Oh... omona.

Kommentare

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left