My Family

My Family (Storia della mia famiglia)

Download Indonesian Untertitel

Staffel 2

Release Info

My Family 2025 S02 ITALIAN NF WEB H264-EDITH
Ein Kommentar von tedi
Retail NF (6 eps)

Tags

webdl
Veröffentlicht am: 2026-06-10
Downloads: 32
Hörgeschädigt: No

Indonesian Untertitel-Vorschau

Die ersten 200 Zeilen.

Aku seperti ayahku.

Seperti dia juga, hidupku sering kali kacau.

Tapi jika kau melakukan satu hal dengan benar, satu hal saja,

orang-orang akan melupakan segalanya.

- Dengan Pak Ciaramitano? - Ya.

- Senang bertemu Anda. - Sama-sama.

- Libero bersikeras… - Hai.

- …agar Anda menjemputnya. - Ya.

- Syukurlah. - Dan…

- Jangan buang di situ. - Oke.

Astaga, maaf! Tentu saja jangan.

Di rumah, kami sangat ketat soal urusan planet ini.

Libero tahu itu. Kami semua mengemudikan mobil listrik.

Di pengadilan, hakim menyebut soal kepulangan Libero.

- Bagus. - Tinggal menunggu putusannya.

Minggu depan, kami tinjau lagi perkembangannya.

- Baiklah. Boleh kami pergi sekarang? - Boleh.

- Baiklah. Terima kasih. - Sampai jumpa.

- Sana, pamit dulu. - Sampai jumpa.

- Mantap. - Kenapa Kakek tegang?

Apa? Kakek tidak tegang. Kakek bersemangat.

- Kenapa? - Karena akan membawamu dari sini.

Kakek akan membawamu pulang. Sini, kecup dulu.

Masuklah.

Kau mau menyetir?

Ya, Lucia. Jangan khawatir, dia bersamaku.

Ya, kami sudah di jalan.

Sudah dulu, ya. Aku lagi menyetir. Oke? Tunggu saja.

Dah. Astaga…

Sekarang Nenek juga tegang.

Kau tahu betapa cemasnya dia.

Bisa bilang kepadanya aku tak mau banyak bicara?

Bisa. Nanti Kakek beri tahu.

Aku tak mau mereka semua bilang sangat merindukanku.

Kau benar, kau… anak yang pendiam, dan…

Dan aku tak mau orang melihat emosiku.

Baiklah, itu hakmu.

Meski, sejujurnya, kadang menyampaikan yang kita rasakan terasa melegakan.

Kadang baiknya kau bilang, lalu orang lain mendengarnya.

Cuma dua kata, tahu? "Aku merindukanmu."

Kakek jamin, dirindukan rasanya menyenangkan.

Libero, boleh Kakek tahu kenapa kau meminta Kakek menjemputmu?

Karena Kakek takkan bikin situasinya jadi makin menegangkan.

Tak salah lagi! Ayo tos dulu!

Astaga…

Hei! Berhenti di situ! Berhenti.

Dia senang bisa pulang, tapi ada beberapa syarat, oke?

Dia tak mau terlalu heboh.

- Jelas? - Oke.

- Jangan berlebihan. - Oke.

Apa kami boleh memeluknya?

Kutanyai dulu.

- Boleh kau dipeluk? - Dia harus bertanya?

Entahlah.

Kami datang.

Hai, Libero.

Kami boleh memelukmu, 'kan?

Satu pelukan saja.

Bersama-sama. Sekali saja.

- Ya ampun. Boleh? - Ayo.

- Tunggu. - Ya?

- Aku rindu kalian. - Sayang!

- Kami juga rindu. - Sayang.

Selamat datang. Ayo.

- Siapa? - Ayo!

Tuh, kakakmu sudah pulang.

- Kami sangat merindukanmu. - Astaga!

MY FAMILY

Hei.

Akan kurapikan tempat tidur.

Kau tidur di atas?

Ya. Tapi aku tak menyentuh barang-barangmu.

Aku percaya, kok.

Aku senang kau kembali.

Libero, kita makan apa?

Bagaimana kalau… pasta dengan saus tuna?

Nah, Kakek Gaetano yang memasaknya, ya? Dia lebih jago.

Ya.

- Bagaimana denganku? Aku mau daging. - Tidak, satu menu saja.

Kenapa kita makan yang dia pilih?

Mari buat kakakmu senang.

Nenek begini karena takut kau pergi lagi.

Aku takkan pergi lagi.

Apa katamu?

Nenek tak perlu cemas aku akan pergi.

Takkan terjadi lagi.

Sekalipun kita bertengkar atau masakan Nenek tidak enak.

Manis sekali cucu Nenek.

Hei.

Hei.

Jadi, kau akan pergi sekarang?

Tidak sekarang.

Aku harus membereskan beberapa hal.

Kau sudah bicara dengan Pau soal hal itu?

Belum.

Tunggu apa lagi?

Aku masih memikirkannya.

Setiap pagi, aku membuat daftar prioritas.

Tes paternitas denganmu, atau dengan Pau dulu?

Haruskah aku bicara dengan Pau dulu?

Otakku jadi buntu, tak bisa berpikir jernih,

lalu aku cemas dan menundanya.

Maria, apa kau mencintai Pau?

Prioritasmu adalah memahami apakah kau mencintainya.

Pernah kuberi tahu apa yang kulakukan saat cemas dan tak bisa membuat keputusan?

- Belum. - Belum?

Bermain kapal selam.

Kapal selam? Maksudnya?

- Aku belum cerita? - Belum.

Begini, intinya itu kapal selam. Oke?

Aku membuatnya dengan seprai, seperti tenda.

Saat berada di dalamnya, aku tak memikirkan apa pun.

Karena aku di dalam air.

Gelap dan kedap. Siapa yang bisa melihatku di situ?

Di situ, aku bermalas-malasan. Aku tak peduli apa pun.

Coba bermain kapal selam. Tunjukkan cara bermainnya.

Hadirin, selamat datang di kapal selam Masa Bodoh…

Aku suka namanya!

Kami ingatkan penumpang untuk menjauhkan masalah,

kekhawatiran, dan kecemasan dari sini.

Kami tak peduli soal apa pun atau siapa pun.

Senang bisa di kapal selam Masa Bodoh bersamamu.

Ya.

- Selamat tidur. - Selamat tidur.

Kau boleh tidur di sini kalau mau.

Serius?

Ya, asalkan posisi kepalamu di kakiku.

Oke, selamat tidur yang benaran.

Selamat tidur.

Ada apa?

Tidak, aku cuma penasaran.

Aku berhasil memperbaiki sesuatu, bukan?

Mengingat kekacauan yang kau tinggalkan, ya, kau memperbaiki sesuatu.

Tak semuanya.

Semuanya?

Butuh sampai empat kehidupan untuk memperbaiki semua kekacauanmu itu.

Baiklah.

- Aku terima itu. - Ya.

Terima kasih, Gaetano, perbuatanmu sudah luar biasa.

Ya.

Kau masih menyukaiku?

- Aku tak pernah menyukaimu. - Alah.

Kau serius berpikir kita bisa rujuk?

- Tidak. - Oke.

Baguslah, aku lega.

Karena itu berarti kau tak bodoh.

Baiklah, kurasa aku bisa pergi.

Kau mau pergi?

Yah…

Yah, sebelum ada kau saja, rumah ini sudah penuh sesak.

Benar.

- Gaetano. - Ya?

Kembalilah kapan pun.

- Serius? - Ya.

Oke.

Mungkin masih ada yang bisa kuperbaiki.

Tidak, sudah kupikirkan.

Menurutku bicara dengan Valerio soal itu adalah ide bodoh.

Tapi aku tak tahu. Kalau menurutmu…

itu bisa memperbaiki hubungan kalian,

apa boleh buat? Ayo bicara dengannya.

Oke?

Enam, tujuh.

Hati-hati.

Ke sana.

Cepat!

Jangan!

Isolasi. Satu, dua…

Satu, dua…

Oke!

Kau hilang keseimbangan.

Perhatikan kakimu.

- Sudah benar. - Belum.

Hei! Bagus!

Bagus!

Sedang apa di sini?

- Hai. - Hai.

Ayah ingin bicara denganmu saat kau ada waktu.

Haruskah sekarang? Tak bisa menunggu sampai selesai?

Tentu bisa. Ya.

Ayah di bawah.

Langkahnya saling berlawanan. Habis buka, langsung tutup.

Maaf, boleh istirahat dulu?

Silakan.

Terima kasih.

Maaf mengganggumu tadi, Ayah…

Tak masalah.

Aku bantu Valeria karena berutang budi.

Aku tak sabar ini berakhir.

Kok, begitu? Kau penari yang hebat, tahu?

Dulu Ayah menari saat masih muda,

jadi Ayah punya bakat. Kau mewarisi itu dari Ayah.

Apa maumu?

Ayah pergi besok.

Jadi, kau bisa pulang.

Apa kata Ibu?

Dia tak sabar menunggumu pulang.

Baguslah.

Ayah ingin minta maaf…

soal mobil kemarin. Itu memalukan.

My Family subtitles in other languages

Kommentare

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left