Die ersten 200 Zeilen.
Hai. Maaf aku terlambat.
Pemilik kontrakan selalu halangi mobilku, lalu aku harus… Astaga.
Maafkan aku. Teruskan.
Bahasa Inggris Tak Terbatas
Lord of the Flies Tema Utama
Aku akan bermeditasi.
Ini mengakhiri sesi meditasi pagi 10 menit kita.
Terima kasih sudah berpartisipasi. "Namasti"!
Namaste. Dia harus belajar cara melafalkan yang benar.
Seperti yang kalian tahu, beberapa hari ini penting.
Persiapan proses akreditasi negara bagian ini tak mudah,
tapi kalian perlu tahu, semua kerja keras itu akan sangat sepadan.
Sangat sepadan saat Morrison-Hensley akhirnya naik
dari level bintang empat menjadi institusi bintang lima dan pita biru.
Dengar. Aku mau bilang,
aku selalu yakin Morrison-Hensley sekolah terbaik di distrik ini.
Ini peluang untuk tunjukkan kepada akreditor
bahwa kita pantas dapatkan lima bintang atas semua pekerjaan tanpa pamrih kita.
Luar biasa, Evan. Terima kasih.
Ucapan Evan benar. Dan, kita dapat plaket keren.
Asyik.
Ya, Markie.
Bagaimana kita menjelaskan kepada akreditor
bahwa sekolah menggalakkan doa kepada Buddha?
Tidak, Markie. Tidak.
Markie, kurasa maksudmu program meditasi.
Meditasi bukan "berdoa kepada Buddha".
Itu hanya alat pengelolaan stres.
Maksudku, hari ini meditasi. Besok siswa menggunduli kepala mereka
dan pakai jubah. Berikutnya apa?
Pesta seks pengorbanan di gimnasium?
Cukup. Jangan berdebat. Terutama di depan para evaluator.
Markie. Sekali lagi.
Jeda meditasi bukan hal religius.
Para siswa hanya duduk dan berpikir. Jika itu religius, berarti aku Paus.
Dia akan menjadi Paus yang baik karena tak bercinta.
Jika terobsesi dengan doa di sekolah,
kenapa tak mengajar di sekolah swasta atau sekolah agama?
Aku hanya ingin semuanya adil.
Antara tak boleh berdoa, atau semua doa diperbolehkan, ya?
Maksudku hal-hal aneh dan yang normal.
Ini bukan doa. Ini alat pengelolaan stres!
Ini jelas berhasil padamu.
- Baiklah. - Bagus.
Apa kau stres karena akreditasi?
Tidak. Aku tak stres soal itu.
Para evaluator selalu menyukaiku. Jika wanita, wanita suka pria gay.
Jika pria gay, jelas itu berjalan lancar.
Jika bukan gay, dia tak mau terlihat homofobia,
jadi antara dia menyukaiku atau pura-pura menyukaiku.
Astaga. Kau memanipulasi sistemnya. Aku harus menjadi biseksual.
Ada apa? Aku buru-buru.
Harus temui akreditor di lab bahasa dalam empat… tiga menit lagi.
Akan kulakukan apa pun untukmu.
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan akreditasi.
Aku tak bisa menghadapi mereka.
Jangan cemaskan itu. Jadilah dirimu sendiri.
Tidak bisa. Kau tidak… Aku tidak bisa.
Saat diawasi, aku menjadi orang yang sangat berbeda.
Aku sangat ketakutan.
- Luar biasa ketakutan. - Baiklah.
Hei, bukankah hari ini kau harus menelepon kampus seharian
tentang pendaftaran yang akan datang?
Tidak, itu bulan lalu. Apa kau bodoh?
Berpura-puralah. Paham?
Kau sangat sibuk menelepon seharian
dan aku akan urus akreditormu.
Astaga. Kau memang yang terbaik, Grant.
Maaf aku bertanya apa kau bodoh
- beberapa detik lalu. - Tak apa-apa.
Baiklah. Tema utama. Lord of the Flies.
Pak Marquez, Pelatih Hillridge ingin bertemu di gimnasium.
Bagus.
Aku senang mengajar mereka.
Terutama belakangan ini, pendidikan jasmani mereka terabaikan.
Bagaimana bisa?
Semua orang ingin anak mereka belajar,
tapi banyak siswa yang kurang pandai.
Kebanyakan dari mereka akan melakukan pekerjaan fisik seumur hidup.
Markie, apa yang begitu mendesak? Aku harus kembali ke kelas.
Evaluatorku akan segera datang.
Omong-omong soal evaluator. Beverly Murphy, Evan Marquez.
- Apa kabar? Senang bertemu denganmu. - Senang bertemu denganmu.
Jadi, Bev hanya ingin tahu
- tentang apa yang dilakukan siswa ini. - Ya.
Ya. Kupikir kau bisa menjelaskannya lebih baik daripada aku.
Itu alasanmu memanggilku? Untuk menanyaiku?
Ini sangat lucu karena sebenarnya,
Markie tahu apa yang dilakukan siswa ini.
- Aku tahu. - Ini sesuatu
yang sering kami bicarakan, tapi…
Pak Marquez, kenapa kau bicara dengan Pelatih Hillridge?
- Dia memanggilku… - Bicaralah.
…untuk tanya soal siswa…
- Bukan urusanku. - …sedang apa.
Tapi mari luangkan waktu mengagumi lantai gimnasium baru
yang dipasang tahun lalu, yang di bawah anggaran.
Bermeditasilah tentang itu, Anak-Anak.
Itu sebabnya film Contact sangat bagus.
Ethan, dengan penunjuk laser. Hentikan.
Jika kau teruskan, akan kuhubungi ayahmu yang polisi.
Mengerti? Letakkan.
Hore! Ada tamu akreditor yang berkunjung.
Namanya Pak Collins. Ya! Mari beri dia sambutan hangat.
- Brent. - Gwen.
Hei, Brent Collins.
- Aku segera kembali. - Oke.
Erica, beri tahu dia apa yang baru saja kita pelajari.
- Apa maksudmu? Kapan? - Itu sejarah.
Kau bisa pilih kapan saja. Ini gila.
Short King Spring, ya?
- Golding mengeksplorasi gagasan… - Evan. Maaf. Kau sibuk?
Aku sedang mengajar kelas.
Kita semua mengajar. Aku butuh kau.
Baiklah. Aku akan segera kembali. Hanya urusan guru.
- Ada apa? - Evaluatorku adalah Brent.
- Siapa? - Pria yang kucampakkan dan kuabaikan.
Brent.
Dia di kelasku.
Dulu kau tak punya pilihan. Terpaksa.
Semua kejadian itu… Kau tak bisa katakan itu terang-terangan.
Ya. Tentu saja.
Bagaimana jika dia beri ulasan buruk?
Mungkin kau harus minta evaluator lain.
Tidak, itu akan memperparah situasi.
Fokuslah mengajar. Semua akan baik-baik saja.
- Ya. Astaga. Ya, itu dia. - Ya.
- Bagus. Aku menyayangimu. - Semua baik saja.
Baiklah. Maaf.
Aku bicara dengan Bu Sanders.
Entah kenapa evaluatorku belum datang.
Aku di sini.
Kau? Kau evaluatorku?
Ya.
Jadi, ada siswa yang melakukan evaluasi?
Ya.
Baiklah. Dan kau benar-benar terlatih
- untuk melakukan pekerjaan ini? - Ya.
Baiklah. Kau punya nama?
Ya.
Siapa namamu?
- Sawyer. - Sawyer.
Bagus.
Tentu saja, aku yang terjebak dengan evaluator siswa.
Ini gila. Dia menatapku saat aku mencoba makan.
Dia mungkin ingin bermain denganmu. Dia masih bocah.
Aku terpaku di depannya.
Kurasa mereka memberiku siswa untuk menggangguku.
Ya. Mereka mungkin tahu kau tak berpengalaman dengan anak-anak.
Kau menelepon siapa sekarang?
Ini telepon palsu.
Grant bilang aku bisa melakukan ini agar aku tak perlu dievaluasi
- oleh akreditor. - Sebenarnya itu rencana bagus.
Sangat meyakinkan.
Aku seperti bekerja dengan CVS, ya?
Aku akan jadi alasan kita tak dapat pita biru.
Tidak. Akulah alasan kita tak dapatkan pita biru itu.
Aku sungguh abaikan akreditorku.
Kenapa kau berpikir ada maksud jelek?
Mungkin dia girang melihatmu lagi.
Mengingat betapa beruntungnya dia pernah pacaran denganmu.
Astaga.
Setidaknya evaluatormu cukup keren, Markie.
Ya, dia sempat heran dengan meditasi itu.
Itu membuatnya tak nyaman.
Apa dia bodoh?
Markie, kau yang tak nyaman. Dia bersikap normal.
Baiklah. Kuberi kalian kuis.
Bagaimana jika siswa bermeditasi, tapi memegang Alkitab sepanjang waktu,
alih-alih kubus meditasi?
Apa itu kubus meditasi?
Hentikan. Ini salahku, ya?
Kubilang, "Jangan berdebat soal satu topik ini
selama 24 jam ke depan." Kini itu jadi buah terlarang kalian, ya?
Buah terlarang. Dengar itu, Evan?
Seperti apel yang dipetik Hawa dari pohon di Taman Eden.
- Rick. - Tidak.
Pura-puralah tak bisa bicara denganku.
Sebentar.
Bosku tak mau diam. Apa?
Maaf. Kau sedang menelepon?
Tidak, aku melakukan perintahmu.
Bagus.
Omong-omong. Jadi, bla, bla, bla.
Lalu mereka bilang tak ada pajak
tanpa perwakilan dan ketegangan meningkat
sampai Pembantaian Boston!
Tak seharusnya kuteriakkan pembantaian karena orang-orang tewas.
Itu hal yang sangat serius, bukan, Brent?
Jadi, sebaiknya catat itu.
- Apa? - Aku mau pastikan
kau tak keliru mengartikan perkataanku.
Bukan berarti kau punya alasan untuk membuatku terlihat buruk.
Kenapa tak katakan saja maksudmu
karena mengatakan maksudmu jauh lebih baik daripada diam saja.
Baiklah, maaf. Ada aura amat berat di sini.
- Aura berat? - Ya, itu auranya.
Jelas kalian sudah tahu bahwa aku…
Kami saling kenal. Jadi, ini agak…
Ya ampun. Jadi, kenapa kalian putus?
No comments yet. Be the first to leave one.