Die ersten 200 Zeilen.
Kepahiang, 22 Mei 2017
Diterjemahkan oleh: Arif Guna Wibawa A Member of HeisenbergLab
Ibu & Aku VS Kau dan Ayah.
- Pukulan jauh. - Lumayan.
- Bolanya keluar. - Masuk kok.
- Frank, keluar. - Keputusanku. Keluar.
Jika kau bisa, buat Ibumu melakukan pukulan backhand .
- Sisi itu lemah. - Mengerti.
- Ya! - Jangan senang dulu, Walt.
3 poin sebelum habis, giliran kita.
Sial! Ayolah, Bernard.
- Bernard, jangan bicara kotor. - Aku menyumpahi diriku sendiri.
- Pukulan yang bagus. - Terima kasih.
- Walt, awas. - Itu bagian dari permainan, Bu.
Skor 15, sayang.
Aw!
Joan, maafkan aku. Tak sengaja.
Kau bisa servis bola kedua.
Frank!
Apa kau baru saja memasukkan kacang ke hidungmu?
Kacang, iya.
Sayang. Itu bodoh sekali.
Tidak, sudah keluar. Beres.
Kami sedang mempelajari A Tale of Two Cities di kelas Bahasa Inggris. Apa bagus?
Mmm. Karya minor Dickens. Lumayan terkenal di sekolah.
Tapi menurutku David Copperfield atau Great Expectations lebih bagus.
Kenapa waktu SMA kalian membaca buku jelek dari penulis yang bagus?
Cobalah kau baca dulu sendiri.
Aku tak ingin buang-buang waktu.
Apa yang Ayah lakukan?
Merapikan sofa.
- Ayah tidur di sofa? - Ya. Kasur membuat punggung Ayah sakit.
Bukannya sofa juga begitu?
Tidak. Sofa lebih bagus.
Kapan cerita Ibu di muat di majalah?
Bukan majalah. Tapi jurnal literasi.
Kurasa, bulan depan.
Aneh rasanya punya orang tua yang keduanya penulis.
Ya, Ayah memberi pengaruh pada Ibu. Ibu tak menulis sebelum bertemu dengan Ayah.
Aku belum pernah baca buku Ayah.
Aku sudah. Sangat bagus. Isinya padat.
Dia butuh agen baru. Sudah lama Ayah tak menerbitkan buku.
Tapi penerbit selalu kurang berpihak pada bakat literasi sejati.
Mungkin Ibu yang terkenal nantinya.
Tidak, Ayah lah si penulis.
Mungkin Ibu penulis yang lebih bagus.
Tidak, itu kelewatan, Frank.
Ivan pernah bertemu Arthur Ashe sekali.
Tidakkah dia mendapat peringkat, nomor 402 atau apalah?
Ivan bisa saja jadi juara, jika lututnya tidak cedera.
Baiklah, kawan, pukulan santai.
Kau harus santai sedikit, kawan.
Jimmy Connors memukul apa pun sekuat yang dia bisa.
Tapi tak selamanya begitu, kan?
Baiklah, pukulan bakchand .
Gunakan kedua tangan.
Hei, kawan, siapa yang mengajarimu pukulan payah itu, hah?
Ayahku. Dia autodidak.
Aku pernah dengar itu.
Hei, Bernard, kau mengajari kawanku ini pukulan yang payah?
Pukulan backhand dengan satu tangan itu elegan.
Kawanku ini tak mau pukulan backhand yang lemah.
Aku tak peduli.
Itu pukulan McEnroe. Dia ahlinya.
Baiklah, kawan, cukup untuk hari ini.
Ivan, kau mau main sebentar?
Baiklah, sebentar.
Frank, main lah dengan Carl. Berikan raket mu.
- Kau tertarik dengan bidang seni? - Aku mau jadi petenis handal.
Sangat susah untuk jadi pemain handal.
Seorang sebagus Ivan saja...,
...tidak main di liga besar bersama McEnroe atau Connors.
Oh, maksudku bukan handal seperti itu.
Maksudku, seperti di tempat latihan. Seperti Ivan.
Carilah tujuan yang lain.
Parkirnya penuh. Kita harus memutar.
- Aku boleh turun saja? - Tidak.
Ayah yang jemput. Kau temani Ayah berkeliling dulu.
Bagus sekali, sayang.
- Walt, lagunya kau yang tulis? - Ya.
Frank juga menyumbangkan ide.
Singkat, padat, & jelas. Menarik sekali.
Aku mendaftar untuk kontes bakat di sekolah.
Bagus.
- Pastikan kau banyak berlatih. - Bu, aku baik-baik saja.
Ingatlah, kau akan ada di hadapan banyak orang.
Bu, tolong jangan rusak momennya.
Kau pasti menang. Jika tidak, ada yang salah dengan pihak juri.
Yang kebanyakan begitu. Terkadang orang jadi bodoh.
Biar Ibu yang angkat.
Walt, ingin ke kelas Ayah sepulang sekolah besok?
- Ya. - Boleh aku ikut?
- Halo? - Kau latihan tenis.
Kau akan latihan, agar jadi bisa.
Lihat, betapa mudanya Ayah.
Lucu sekali. Ayah, buku ini boleh untukku?
- Boleh. - Boleh tulis kan sesuatu?
Ya.
Terima kasih.
"Seks bagiku tak padang bulu...,
...kaku ataupun berat sebelah."
"Aku menikmati lelaki dari dalam diri mereka...
...momen bercinta yang menggabungkan John, Dan, Scott, siapa pun itu...,"
...yang ada dalam daftar yang ingin aku miliki."
"Dia pria yang amat besar, walaupun begitu, tapi lengannya kecil."
"Bagian atasnya lembut, tapi padat, seperti wanita muda."
"Dia mempunyai jari-jari yang panjang dan telapak tangannya seperti kulit rakun."
"Yang kecakapannya lebih bisa digambarkan seperti, saat dia menikmati seekor kepiting...
...dan menghisap kerang dari cangkangnya."
Dia penulis yang nekat, Lili. Cabul sekali tulisannya.
Maksudnya, dia melatih sifat erotisnya dengan cara yang berani.
Lili terpengaruhi oleh literatur modern...,
...seperti karya si Kafka.
Tapi untuk seorang pelajar, dia cukup cabul.
- Apa kau sependapat? - Oh, ya.
- Kau suka? - Ya. Sangat suka.
Kau menyukai Kafka, salah satu pendahulu Ayah.
- Terutama. The Metamorphosis. - Metamorphosis? (*Judul buku)
Tak ada tempat parkir.
- Aku akan temani Ayah cari tempat./ - Thank you.
Yah, seperti apa istri-istrimu sebelum Ibu?
"Istri," (*Satu). Yang pertama Ayah bercerai. Usia Ayah 19 tahun saat itu.
- Seperti apa rupanya? - Yang Ayah ceraikan?
Bukan, yang Ayah sebut sebagai 'Istri'.
Menyulitkan.
Itu Ibu.
Ya, Ibumu.
Dia menggunakan apa?
Tidak, kurasa aku sudah pernah lihat itu.
Kau sedang menulis apa?
Cerita Peugeot.
Kau menggunakan saranku untuk bagian ending ?
Sebagian.
- Apa karakternya tetap mati? - Ya.
Artinya kau tak menggunakan saranku.
Am, anak-anak, pastikan kalian langsung pulang ke rumah nanti.
- Kenapa? - Kita akan ada rapat keluarga.
- Tentang apa?/ - Obrolan saja. Pokoknya... langsung pulang.
- Tentang apa? - Nanti kita bahas.
- Bisakah Ayah berikan petunjuk? - Tidak, pokoknya—
Nanti. Kita akan bahas semuanya. Kita selesaikan malam ini.
Kita tunggu Ibumu dulu.
- Oh, Ibu. - Maaf.
- Baiklah. - Baik, sudah siap?
Ya.
Baiklah.
Ibu kalian dan Ayah...
Baiklah, ya. Ibu kalian dan Ayah akan...
Kami akan berpisah.
- Kalian takkan meninggalkan kami. - Kami akan membagi hak asuh.
Frank, tak apa. Ayah punya rumah bagus di dekat taman.
Dekat taman?
- Apa rumahnya di Brooklyn? - Cuma 5 pemberhentian dari stasiun kereta.
Tempatnya bagus, tetangga yang ramah.
- Kita bisa main Ping-Pong. - Aku tak suka Ping-Pong.
- Kita akan sama-sama bertemu. - Bagaimana mungkin?
- Kita bagi hari dalam seminggu. - Kenapa?
Karena Ayah menyayangimu, dan Ayah ingin bertemu denganmu.
- Seminggu kan 7 hari. - Benar.
Jadi bagaimana mungkin 7 hari dibagi 2?
Kau bersamaku hari Selasa, Rabu dan Sabtu...
...serta Kamis, kadang-kadang.
- Kadang-kadang? - Begitulah caranya agar adil.
Itu gagasan Ayahmu.
Janganlah begini.
Bagaimana aku berangkat sekolah?
Ada stasiun kereta 4 blok dari rumah. 4 atau lima. Pokoknya tidak lebih dari 6.
Bagaimana dengan kucing peliharaan?
Sial. Si kucing.
Kami tak membicarakan soal kucing.
Ayahmu akan membawa kucing saat kalian bersamanya.
Aku harus ke sini 2 kali seminggu?
Kau kan punya tempat di sebelah taman.
Jika kau punya tempat yang dekat, takkan jadi masalah.
Lingkungan ini harganya mahal.
Menyakitkan bagiku tinggal di sini. Kau tahu itu.
Janganlah menyulitkan. Aku merasa terbuang.
Oh, sayang.
Jadi Ayah, bagaimana dengan kucingnya?
Kita akan cari solusi.
Apa sebabnya karena Ayah tak sesukses dulu?
Sekarang Ibu punya penerbit dan dia tidak? Itukah sebabnya?
- Tidaklah bagus— - Karena kita keluarga yang hebat.
- Aku tak paham kenapa Ibu ingin merusaknya. - Jika bisa Ibu hindari, akan Ibu lakukan.
Kenapa baru sekarang? Kalian sudah bersama selama 16 tahun.
Tujuh belas.
Tak bisa ku bayangkan hidup begini dengan kalian.
Bukankah teman-temanmu orang tuanya banyak yang bercerai?
Ya, tapi orang tuaku tidak.
Sekarang sepertinya iya.
Menurut ku Ibu telah melakukan hal yang sangat bodoh.
Dengar, sayang, Ibu paham kau tak senang. Begitu juga Ibu.
Dan Ibu tak ingin kalian menyalahkan diri karena hal ini.
Tak ada hubungannya dengan kalian.
Wo. Wo.
Shh. Tak apa. Tidurlah lagi.
- Itu buku ya? - Ya, buku Ibu.
Kenapa ditaruh di bawah tempat tidurku?
Karena Ibu membelinya, Ibu tak ingin kehilangan buku ini.
Kita akan kembalikan ke rak buku Setelah ayahmu pergi.
No comments yet. Be the first to leave one.