Die ersten 131 Zeilen.
Itu roc!
Kakek, lihat!
- Di langit! - Apa?
Sudah lama aku tak melihatnya.
Aku tidak membawa apa pun sekarang!
Baik!
- Tunggu sebentar. - Cepat tangkap!
- Jika tidak bergegas, ia akan kabur! - Jangan mendesakku.
Ini dia!
Ya! Dapat!
Ini buruk!
Percival!
Hampir saja.
Potong dan iris!
Persiapan selesai!
Bagus. Kau memegang pisau itu seperti seorang profesional!
Sekarang, makanlah sepuasnya!
Pasti. Pastikan kau juga makan.
Selamat makan!
Enak, Percival?
Lezat!
Mari kita bergulat ala gouren!
Baik.
Lawan aku sesukamu!
Aku datang!
Hari ini aku akan menang!
Apa?
Menyebalkan! Aku kalah lagi!
- Hampir saja. - Kenapa aku tidak bisa menang?
- Tanpa sadar aku pakai tenaga. - Sial!
Benarkah?
- Jangan sampai terkena flu. - Cihui!
- Aku akan mencuci piring di mata air. - Aku berhasil!
Astaga, beberapa saat lalu, dia masih bayi.
Luar biasa betapa cepatnya seorang cucu tumbuh besar.
Ini buruk!
Aku tak percaya. Bagaimana aku bisa lupa?
Percival!
Apa?
Besok adalah hari besar! Kita merayakan ulang tahun!
Ulang tahun siapa?
Tentu saja ulang tahunmu!
Berapa usiaku?
Enam belas!
Siapa yang lupa usianya sendiri?
Pada usia 16 tahun, kau sudah dewasa.
Apa itu artinya aku akhirnya bisa minum miras bersamamu, Kakek?
Terlalu cepat untuk itu.
Hei, Kakek!
Apa yang ingin kau tunjukkan?
Hadiah?
Ikuti aku maka kau akan tahu!
Bagaimana?
Percival, kau sudah 16 tahun.
Tidakkah kau ingin meninggalkan Jari Tuhan
dan berlanglang buana nan luas untuk bertualang?
Tidak juga.
Apa?
Kau yakin?
Saat usiaku 16 tahun, aku kabur dari kampung halamanku,
mengikuti semangat bertualangku!
Kenapa kau tidak mau?
Karena tiap harinya menyenangkan.
Dengarkan baik-baik.
Contohnya, lihat di sana!
Di balik lautan awan, sesekali, kau bisa melihat bayangan samar dan besar.
Aku tahu. Kau pernah mengatakannya.
Itu pulau manusia bersayap, bukan?
Benar!
Ini pulau yang konon dibangun oleh klan dewi!
Konon pulau itu melayang di langit! Luar biasa, 'kan?
"Konon"...?
Jadi, kau belum melihatnya sendiri?
Ya, aku tidak bisa terbang.
Tapi bukan itu saja!
Di bawah Jari Tuhan, tempat kita tinggal, terdapat tanah luas Britannia,
penuh pertualangan menegangkan dan misteri!
- Pertualangan dan misteri? - Benar!
Menara bengkok tempat tinggal penyihir dengan hati yang dijaga.
Kesatria yang memandu Kapal Hantu di langit.
Gua besar dengan banyak lubang udara yang mengarah langsung ke neraka.
Wanita dari danau ajaib yang memikat pahlawan dan menjerat mereka.
Hutan kusut yang begitu kau masuki, maka tak akan pernah bisa keluar.
Bagaimana?
Tidakkah kau merasa sedikit bersemangat?
Karena kita sudah di sini, ayo tangkap ikan langit untuk makan malam.
Yang benar saja!
Ikan langit ini berlemak dan lezat!
Astaga, padahal ayahmu
haus pertualangan dan pergi dari rumah saat usianya 16 tahun.
Mendiang ayahku?
Lupakan saja.
Namun, apa kau tidak merasa kesepian tinggal di tempat terpencil seperti ini?
Aku tidak kesepian.
Kenapa tidak?
Karena Kakek bersamaku.
Itu sangat membosankan.
Seperti kataku, sama sekali tak membosankan!
Lupakan saja!
Hei, Kakek.
Ayo tangkap kadal batu besok!
Yang sangat besar!
"Matamu melihat kejahatan, mulutmu berkata jujur,
hatimu dipenuhi keadilan, dan pedangmu menghancurkan orang jahat."
Kau selalu mengatakan itu saat mabuk.
Apa itu?
Itu hanya keyakinan.
Percival, suatu hari, kau juga akan...
"Menghancurkan yang jahat dan membantu yang lemah.
Membela yang berharga bagimu dengan nyawamu."
Benar, bukan?
Serahkan kepadaku!
Apa pun yang terjadi, aku akan melindungi Kakek.
Dasar kurang ajar!
Kakek tidak setua itu sehingga butuh dilindungi cucuku!
Menara bengkok tempat tinggal penyihir dengan hati yang dijaga.
Kesatria yang memandu Kapal Hantu di langit.
Gua besar dengan banyak lubang udara yang mengarah langsung ke neraka.
Wanita dari danau ajaib yang memikat pahlawan dan menjerat mereka.
Hutan kusut yang begitu dimasuki, maka tidak akan pernah bisa keluar.
Astaga.
Itu sangat menegangkan dan menarik sehingga aku tidak bisa bergeming saja!
Tapi tidak apa.
Karena aku punya Kakek.
Kakek.
Aku di sini.
Apa?
Aku sulit mendengarmu dengan jelas.
Itu hanya mimpi.
Sungguh tak disangka.
Saat roh hewan familierku diserang, itu jelas mengarah kepadanya, tetapi...
No comments yet. Be the first to leave one.