Die ersten 200 Zeilen.
Bertahun-tahun nanti,...
..kala Anda melihat foto ini,
..Anda akan rasakan matahari menyinari wajah,...
..angin mengibas rambut,...
..lalu mendengar suara-suara ini lagi.
Jika tidak, semua ini akan menghilang. Menghilang selamanya.
Mengambil gambar?
Salah satu anakku ada di sana.
Apa maksudmu?
Putramu pasti genius!
Bukan putra, aku memiliki dua putri.
Di sana, di tengah.
Itu si bungsuku, Miloni.
Sungguh?
Yang memakai mahkota?
Benar.
Ia meraih nilai tertinggi di ujian CA Dasar.
Sekarang ia bersiap untuk CA Menengah.
Putraku dulu juga mencoba mengambil CA.
Namun sekarang ia ke Amerika untuk menyelesaikan MBA.
Hmm.
Tidak, jangan yang ini.
Tampak tak cocok.
Tunggu sebentar.
Coba warna pink.
Lihatlah, Miloni!
Ini tampak sangat cocok untukmu.
Ah.
Pilihan Ibu memang yang terbaik!
Itu sebabnya aku selalu berbelanja dengannya!
Aku berpendapat, pilihlah pink.
Hmm?
Jadi, yakin warna pink?
Ya.
Baiklah.
Cepat, Fazlu bhai. Sudah yakin warna pink.
Beri kami harga pas.
Jangan ada pembayaran di muka.
Antar dulu baru dibayar. Kami tidak bodoh.
Hei. Permisi.
Berfoto, Nona?
Di depan Gerbang India atau Taj, Nona.
Langsung jadi.
Bertahun-tahun nanti, kala Anda melihat foto ini,...
..Anda akan merasakan matahari menyinari wajah,...
..angin mengibas rambut,...
..lalu mendengar suara-suara ini lagi.
Jika tidak, semua ini akan menghilang.
Menghilang selamanya.
50 rupee.
Untuk Anda, 30.
Baiklah.
Nona, sedikit ke kanan.
Lagi.
Nona, tolong sedikit tersenyum.
Sedikit saja.
'Hari ini' dalam bentuk foto.
Mari kutaruh 'hari ini' di amplop untuk Anda.
Miloni!
Hei, Miloni!
Miloni!
Rafi!
Rafi!
Bagaimana pekerjaanmu?
Gadis ini, aku sudah memfoto dirinya.
Aku lagi cari amplop, dia malah kabur.
Kabur?/ Kabur.
Dia telah menipumu.
Kini pasti dia sudah di Dadar.
Rafi Bhai,...
..kemarin aku menelepon orang di desa.
Nenekmu berada di desa kami menanyakan soal jodohmu.
Bibiku punya 4 gadis.
Bibimu yang berkumis?
Ya, tapi para gadisnya tak berkumis.
Maka kau saja nikahi mereka./ Tidak, jangan aku!
Tubuhmu mudah sekali marah.
Pantaslah nenekmu khawatir.
Katanya biar dia tanggung mas kawinmu andai dia punya uang.
Bagaimana pendapatmu?
Pendapat apa?
Jika menikah, setidaknya nanti...
akan ada yang menemani tidurmu.
Bisa pergi ke kebun binatang bersama anak,...
..jalan-jalan malam bersama istri.
Ya, benar.
Istri dan anak akan tetap di desa...
..sementara aku akan sibuk di sini merindukan mereka.
Kau pun jangan menikah./ Kenapa?
Kau akan jadi softie, seperti Zakir Bhai.
Softie?
Apa itu softie?/ Tak pernah makan softie?
Softie itu seperti es krim.
Mirip kulfi, tapi tidak keras.
Lembut sekali, ia meleleh di mulut.
Softie.
Meleleh di mulut? Jadi, untuk apa dimakan, Bu?
Itulah yang aku katakan!
Rafi bhai, bulan ini, berapa yang ingin kau kirim ke rumah?
Semuanya, Bu.
Ini juga.
Simpanlah untukmu juga, Rafi bhai.
Mau makan kulfi?
Mengapa kau makan kulfi selalu di akhir bulan?
Ayahku, sewaktu beliau masih hidup.../ Hei, Rafi miyan!
Apa-apaan yang aku dengar ini?
Nenekmu berhenti meminum obatnya?
Karena kau tak mau memilih mempelai?
Dari mana Paman mendengar itu?
Neneknya menanyakan itu di sekitar desa istriku.
Gadis seperti apa yang kau ingin? Kau tak pernah memberi tahu.
Sebaiknya kau beri tahu aku!
Lihatlah.
Zaman kini tak ada yang menghargai pertolongan...
Dua kulfi.
Rafi miyan, benarkah Nenekmu sudah berhenti meminum obatnya?
Ini saat yang pas kau menikah.
Rafi miyan?
Apakah pendengaranku benar mengenai nenekmu?
Kemudian Rafi melemparkan kulfi...
..tepat di wajahnya.
Lalu dia berkata,...
.."Kudengar kau suka sekali manisan,...
..makan nih, Bajingan!"
Rafi bhai,...
..jika perahu tidak turunkan jangkar di saat yang tepat,...
..ia bisa tenggelam.
Benar sekali, Rafi. 100%, kau akan tenggelam!
Dia mau kau tenggelam!/ Kuberi tahu ya.
Masih ingat yang kuceritakan soal Tiwari?
Jangan cerita itu lagi, Zakir bhai.
Biar kuceritakan sekali lagi.
Jangan ulangi cerita jadul itu lagi.
Kau terlalu bawa perasaan.
Lanjutkan.
Jadi, beginilah kejadiannya, Rafi miyan:
Aku bangun di suatu pagi dan kebelet kencing,...
..tapi suhunya panas sekali.
Terus aku heran, "Kenapa panas sekali?"
Lalu aku mendongak...
..kulihat kipas angin berhenti berputar,...
..karena Tiwari tergantung. Dia mati gantung diri.
Lalu tepat di sanalah Zakir kencing.
Rafi miyan, cobalah pikirkan...
..pria itu pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Maksudku, secarik surat pun tidak dia tinggalkan.
Secarik surat pun tidak.
Lagipula, kepada siapa dia menuliskannya?
Sampai hari ini,...
..sampai hari ini, aku bisa dengar suara pria itu tergantung...
..dari kipas ini. Bahkan sekarang.
Sumpah demi Tuhan, dia pasti masih gentayangan di kamar ini saat malam!
Sudahlah Zakir bhai, kau merusak suasananya.
Rafi miyan, sebaiknya kau berhenti mendongkol seperti ini.
Berhentilah mengkhawatirkan nenekmu.
Ibuku,...
..biasa menelepon dan menggangguku setiap saat.
Aku sangat kesal, jadi kesulitan mengemudikan bajajku lagi.
Makanannya lezat, Rampyaari.
Terima kasih, didi.
Nak? Makan yang banyak,...
..habiskan semuanya.
Dia tak makan dengan baik, Saloni.
Bukan hanya makan, Papa.
Dia pun tak belajar dengan baik.
Kalau kau tak belajar, besar nanti mau jadi apa?
Aktor!
Asal kau tahu, dulu Miloni juga mau jadi aktris saat masih sekolah.
Benarkah?
Memang ya para guru di sekolah itu.
Mereka memberinya piala demi piala setelah menang drama.
Kau mendapat piala?
Akhirnya aku terpaksa mengatakan ke mereka, berhenti memberinya hadiah!
Jika dia terus main drama,...
..kapan dia meluangkan waktunya untuk akademik?
Rampyaari?/ Ya, Nyonya?
Bawakan hidangan penutup!/ Baik, Nyonya.
Arwah Tiwari,...
..aku tak takut denganmu.
Dadi-ku sayang, assalamu'alaikum.
Kudengar kau sudah berhenti meminum obatmu.
Maka aku langsung saja ke intinya.
Dadi, masalahnya adalah,...
..di sini aku sudah bertemu seorang gadis.
Saat bertemu dengannya,...
..seolah engkaulah yang memilihkannya untukku.
Matanya penuh dengan pertanyaan, penuh juga dengan jawaban.
Senyumannya... menghalau semua kesulitan. Dan tawanya...
..masih ingat hujan pertama di ladang kita?
Namanya pun juga indah.
Namanya adalah...
Noorie.
Kukirimkan fotonya padamu. Kuharap engkau menyukainya.
Dari cucu yang menyayangimu, Rafiullah.
Butuh yang lain lagi, didi?
Selamat malam, didi./ Selamat malam.
Seseorang dapat...
..ditunjuk sebagai auditor sebuah perusahaan...
..hanya apabila dia adalah akuntan berizin.
Dua: sementara sebuah firma,...
No comments yet. Be the first to leave one.