Die ersten 200 Zeilen.
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
RUMAH DI GANG
Tolong aku!
Tolong aku!
Istriku!
Sudah berapa lama?
Sudah berapa lama? / Aku tak tahu harus berbuat apa!
Tak ada siapa-siapa.
Aku ingin membawanya ke rumah sakit.
Tapi dia terlalu menderita.
Pendarahannya parah!
Aku sangat takut!
Semuanya akan baik saja.
Dia disini sekarang.
Tarik nafas perlahan.
Biar kudengarkan.
Kamu bisa.
Tarik napas dalam-dalam.
Tarik nafas, tarik nafas.
Istrimu tak punya banyak waktu lagi.
Pendarahannya parah sekali.
Sepanjang karirku,
aku belum pernah menemui yang seburuk ini.
Situasinya amat berbahaya!
Hubungi dokter sekarang!
Cepat! Ini gawat!
Cepat!
Dia akan mati!
Halo!
Aku butuh dokter, sekarang!
Satu jam?
Satu jam lagi istriku akan mati!
Aku tak tahu.
Ini Dokternya.
Sayang, Sayang...
Kondisinya kritis sekali, dok...
Pendarahannya...
Banyak sekali.
Aku tak bisa menghentikannya.
Bertahanlah. Semua akan baik saja.
Aku tak bisa rasakan denyut nadinya.
Bu!!
Apa bayinya sudah keluar?
Sayang?
Dia mengigau. / Tenang.
Aku tahu dia mengigau,
tapi kamu harus tenang.
Kita harus mengeluarkan bayinya.
Bayinya sudah mati di dalam rahim.
Cuma itu satu-satunya cara, agar istrimu selamat.
Sayang...
aku tak bisa merasakan apa-apa.
Sayang... Apa bayinya sudah keluar?
Aku tak bisa merasakannya...
Sayang...
Apa bayi kita cantik?
Apa bayi kita cantik?
Katakan padaku...
Sayang...
Sayang, sudah selesai kan?
7 HARI KEMUDIAN
Sayang...
Apa kamu siap?
Orang-orang di sini untuk menemuimu.
Mereka ingin layanan pemakaman.
Yang spesial.
Mereka sudah menunggu lama.
Semua orang sedang menunggumu.
Sayang, jangan seperti ini.
Jika kita tidak segera melakukannya, Ibu akan... / Tidak!
Kau tak mau, baiklah!
3 BULAN KEMUDIAN
Oh, hai, Sayang!
Tidurmu nyenyak?
Aku tidur nyenyak.
Aku memasak untukmu.
Masak telur.
Kau berangkat kerja?
Ya.
Aku harus pergi ke pabrik.
Silakan makan.
Kau baik saja?
Ada apa?
Aku hanya tak ingin sendirian di rumah.
Tapi aku harus berada di pabrik hari ini.
Ibu marah terus dan ada banyak pekerjaan...
Tak masalah.
Jangan bicara terus.
Aku tak mau dengar lagi.
Aku sudah mendingan.
Pergilah.
Tak apa-apa.
Pergilah.
Aku akan baik-baik saja. Aku ingin bersih-bersih rumah.
Ibu?
Aku akan segera ke sana.
Ya, aku tahu.
Ya. Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Aku akan pulang cepat, oke?
Hei, ini aku.
Ya. Sudah lebih baik.
Apa kabar?
Sedang apa?
Apa?
Kamu sibuk?
Oh...
Tak apa-apa.
Aku akan meneleponmu lagi nanti.
Dah.
Bu?
Ini aku.
Aku baik sekarang.
Aku lelah dan aku banyak tidur.
Bu...
Aku ingin mengunjungimu.
Aku tak tahu kapan, tapi aku akan tanya padanya.
Ya.
Aku baik-baik saja. Aku sangat baik.
Ya. Aku tahu.
Sampai jumpa, bu.
Bagaimana perasaanmu hari ini?
Aku baik-baik saja.
Aku sibuk bersih-bersih seharian.
Sangat bersih dan rapi.
Kita bisa adakan pesta pemanasan rumah segera!
Maaf.
Aku hanya ingin memamerkan rumah kita.
Oh, aku lupa soal makan malam.
Biar kumasakkan sesuatu. / Tidak.
Ayo keluar dan makan.
Tak apa-apa. Tak akan lama, kok.
Tunggu. Aku ingin mengajakmu keluar.
Setidaknya...
aku mandi dulu.
Jangan khawatir. Aku akan tunggu.
Rumahnya jadi terlihat nyaman.
Ini bagus.
Kita sudah lama tinggal di sini tapi masih belum tahu kota ini.
Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?
Aku masih lelah.
Aku butuh lebih banyak waktu.
Sayang, ayo pergi ke suatu tempat.
Ayo pergi liburan. Keluar dari kota ini.
Tentu saja. Kapan?
Bagaimana kalau besok?
Secepat itu? Aku sedang ada banyak pekerjaan.
Para buruh...
Ada kekacauan di pabrik.
Para buruh... / Sudahlah. Lupakan.
Biar kuselesaikan beberapa hal.
Setelah itu kita akan pergi secepatnya.
Tak apa-apa, kok.
Sayang?
Sayang?
Apa kau baik-baik saja?
Aku harus mengunjungi ibuku.
Kita bisa memulai liburannya di sana.
Kupikir mungkin aku bisa mengajakmu pergi ke luar negeri.
Ke Singapura untuk berbelanja.
Aku benar-benar harus menemui ibuku.
Jika itu yang kamu inginkan, kita akan temui ibumu.
Sayang!
Sayang!
Sayang...
Sayang. Sayang!
Ibu?
Ya, aku tahu aku terlambat.
Terus kenapa belum berangkat?
Karena istrimu lagi?
Sudah jangan membahasnya, Ibu!
Mau sampai kapan begini terus?
Aku tahu.
Aku akan segera ke sana.
Ibu sudah bilang, istrimu itu beban.
Kamu masih punya kehidupan dan pekerjaanmu.
Sudahlah, Bu. Cukup...
Berhenti!
Woy! Jangan Lari!
Tangkap dia!
Giliranmu!
Jancuk!
Hei.
Oh sial! Itu si bos.
Ya? / Apa ibuku disini?
Sedang menunggumu di lantai atas.
Jangan sampai mereka tahu aku di sini.
Jangan khawatir, Bos. Serahkan padaku. Aku akan urus.
Ada apa dengan kakimu, bos?
Jangan khawatir, Bos!
Ada apa, ibu?
Kenapa kakimu?
Tak apa.
Kau melihatnya?
Bertahun-tahun kita perlakukan mereka seperti keluarga.
Sekarang lihat balasannya.
Mereka mogok kerja.
Mereka telah merusak truk!
Ibu sudah berbicara dengan mereka?
No comments yet. Be the first to leave one.