Die ersten 188 Zeilen.
Selamat siang. Halo.
Apa negara bagian Minas Gerais masih jauh?
Gak, gak jauh kok.
Kamu bakal sampai sana dalam lima menit.
Terima kasih. Sama-sama.
Pengantin baru.
ONLY GOOD THINGS
Ibumu ninggalin kamu, ya?
Makanlah, Nak.
Ayo cepat.
Tenang, tenang, tenang.
Kepalamu terbentur keras sekali.
Halo?
Halo.
Antonio, ayahmu menyuruhku cari tahu, apa kamu udah memikirkan tawarannya.
Dia menunggu jawabannya hari ini.
Udah aku pikirkan.
Terus gimana?
Aku gak bakal menjualnya.
Dengar, Antonio, ayahmu gak bakal terima penolakan.
Kamu tahu itu.
Aku gak tahu apa-apa, Samuel.
Dia gak bermaksud jahat padamu.
Dia cuma ingin kamu menikah.
Dia juga menyuruhmu mengatakan itu padaku?
Ini rumahku, Samuel.
Dan aku gak bakal pergi, meski Tavares menginginkannya.
Bisa kamu sampaikan padanya.
Kalau jadi kamu,
aku gak bakal cari ribut sama ayah sendiri.
Aku lihat ada pagar rusak di padang rumput.
Kamu harus memperbaikinya.
Ternak yang berkeliaran di sana bisa masuk ke tanah ayahmu.
Kamu tahu kan, itu bakal memperparah konflik.
Pas udah menyala, atur pelan-pelan.
Lihat ini.
Paham? - Ya.
Makin lebar dibuka,
airnya bakal makin dingin.
Paham.
Aku bisa sendiri.
Semua baik-baik saja?
Ya.
Memangnya kenapa?
Gak ada apa-apa...
Cuma pria di gerbang rumah itu.
Rasanya agak aneh.
Aku sembunyikan motormu di hutan dekat jalan raya.
Sepertinya ada yang rusak.
Semoga masih bisa jalan.
Tadi kamu mau ke mana?
Ke Porangatu.
Tapi ini bisa kejadian di mana saja.
Kalau mau, besok kita bisa ambil motormu.
Tapi gak perlu buru-buru.
Kamu bisa tinggal di sini sampai sembuh.
Aku gak mau merepotkan.
Gak usah khawatir.
Kamu juga belum kasih tahu namamu.
Marcelo.
Musim semi
menyembuhkan duka.
Segalanya berubah.
Di sini, wahai pengembara,
tempat bernaungmu.
Andai saja kamu mengerti.
Aku bisa membantumu,
tapi kamu gak mau.
Di mana kamu berkelana?
Di mana kamu berkelana?
Katakan saja padaku,
dan aku berjanji,
kamu bakal merasa tenang.
Aku menghabiskan
seluruh malamku
mencari
Ujung Dunia.
Aku bingung,
lelah,
aku tersesat.
Kisahku bukanlah hal baru.
Di mana kamu berkelana?
Nasibku ada di tanganmu.
Di mana kamu berkelana?
Nasibku ada di tanganmu.
Sini.
Kapan kamu berencana pergi ke Porangatu?
Gak tahu.
Belum kepikiran sampai sana.
Gak ada lagi yang menahanmu di sini.
Kamu udah hampir pulih dari cedera.
Motormu juga udah bisa jalan lagi.
Kamu mau aku pergi?
Gak, bukan gitu maksudnya.
Cuma saja, di sini gak ada apa yang kamu cari.
Ada apa?
Pas bangun aku gak lihat kamu.
Aku kira kamu udah pergi.
Tadi itu apa?
Tunggu di sini.
Marcelo, bicara padaku!
Peternakan Tavares
Mayat Samuel ada di bak truk.
Samuel udah kuanggap anak sendiri.
Bukan darah dagingku.
Tapi setidaknya, dia gak punya masalah sepertimu.
Ini bukan masalah, Pa.
Kami cuma manusia.
Ini aku, ini Marcelo.
Sampah.
Apa Papa berniat menyembuhkanku?
Aku mencoba mencabut dosa itu darimu.
Tapi akhirnya,
aku malah makin menjauhkanmu.
Sekarang kau ingin membunuhku juga.
Apa kau pikir aku tega membunuh ayahku sendiri?
Ambil ini.
Ini punya Samuel.
Kamu gak bakal pernah jadi laki-laki.
Papa udah tua.
Sakit-sakitan.
Bisa bertahan beberapa tahun lagi saja itu udah keberuntungan.
Aku gak perlu membunuh Papa.
Karena Papa adalah—
darah dagingku,
warisanku,
masa depanku.
Papa bakal mati sendiri.
Papa bakal bersamaku sampai akhir.
Suatu saat waktu bakal menyembuhkanmu.
Kebencian yang Papa simpan itu.
Tapi saat Papa menyadarinya, semuanya udah terlambat.
Papa bakal ada di dasar sungai atau di tanah pemakaman yang basah.
Aku gak pernah bangga punya anak sepertimu.
Gak masalah.
Aku juga gak pernah bangga punya ayah sepertimu.
Bukankah ini menakjubkan?
Apa?
Keheningan ini.
Aku sangat suka.
Aku ingin menghabiskan hidupku seperti ini.
Aku ingin menua bersamamu.
Benarkah?
Benar.
Aku bakal menghabiskan 30 tahun ke depan bersamamu.
Kita gak bakal hidup selama itu.
Bodohnya.
Ciumanku membekas di bibirmu.
Segalanya terasa indah, terasa indah.
Aku gak ingat...
Aku pernah menderita,
dan duka itu meninggalkan bekas di dalam diriku,
bekas yang besar.
Tapi sekarang akhirnya aku paham...
Berita penting dari Goias, Brasil, dan seluruh dunia.
Dengarkan siaran langsung Hit News.
Selamat pagi, teman-teman. Ini Hit Radio! Aku masih menggantikan sementara
Kolonel Uzeda, yang sedang mengabdi untuk Brasil.
Aku ingin menyapa William dari layanan taksi yang mengantarku ke sini.
Tadi dia mendengarkan radio sebelah, lalu aku bilang padanya:
"Will, ganti radionya, atau kamu harus turun di tengah jalan."
"Aku gak sanggup dengarnya lagi..."
Kapan terakhir kali kamu melihat pasanganmu?
Tiga hari lalu.
Setelah makan malam,
Marcelo bilang dia harus pergi ke apotek.
Dia mengatakan sesuatu pada Helga di dapur
dan gak pernah kembali lagi.
Helga?
Ya, dia udah bekerja pada kami selama beberapa tahun terakhir.
Mau minum?
Dan siapa ini?
Asistenku.
Dia udah bekerja denganku sejak tahun lalu.
Ada hal lain yang hilang?
Marcelo pergi dengan pakaian yang dia pakai saat itu.
Cincin kawinku juga hilang, sama seperti punya Marcelo.
Apa kamu tahu, mungkin ada kerabat atau teman
yang melihat atau bicara dengannya akhir-akhir ini?
Dia hampir gak punya keluarga lagi.
Maksudku, dia memang gak punya keluarga.
Teman-temannya gak ada yang melihat atau berkomunikasi dengannya sejak itu.
Apa kamu tahu, apa dia punya masalah dengan seseorang?
Atau apa dia sedang menghadapi masalah yang
bisa menjelaskan kepergiannya?
Gak ada.
Mungkin cuma aku yang dibenci Marcelo.
Setelah hidup bersama bertahun-tahun,
No comments yet. Be the first to leave one.