Die ersten 200 Zeilen.
Tak adil. Kalian terbang di kelas bisnis dan aku di sini.
Orang tuamu ingin kau ke danau, bermusim panas. Monster.
Kulewatkan pelatihan renang, persiapan senior.
Konferensi iklim junior yang kuselenggarakan.
Tiap orang butuh jeda, Sayang.
Aku sudah minta maaf. Kenapa tak bisa pulang?
Kami merasa lebih aman jika kau di dalam negeri saat kami tur buku.
Lebih aman di sini? Aku akan dimakan orang dusun udik
atau melawan warga mabuk.
Penting kenal ayah kandungmu mumpung ada.
Aku punya ayah, yang biasanya sangat baik
saat tak mengirimku ke antah-berantah.
Ini peluang mengetahui kisah kelahiranmu.
Kau tahu pendapat kami soal adopsi terbuka.
Biarawati marah menampung gadis murahan mungkin baik.
Justin agak murahan,
tetapi pasti sulit mencari rahasia kotornya.
Es lilin pelangi, tak kreatif.
Cokelat. Memanjakan.
Vanila? Mungkin memicu.
Oreo.
Jelas menghina.
Juga tiap rasa kolonialisme Neapolitan.
Butuh bantuan?
Di situ.
Sial.
Tidak, aku baik-baik saja.
Sudah ambil belanjaan, hanya perlu sedikit lagi.
Kafecito, keju cheddar,
sedikit SMEP. Entah apa itu.
Siapa yang tak mau Fruity Hole?
Pemanggang sosis aneh.
Obat serangga. Aku tak mau ada serangga.
-Ya. Biar aku saja. -Maaf.
-Hai. -Hai.
-Hai. -Hai.
Tak beli es krim? Kau kalah argumen tadi?
Ya. Sangat tak toleran laktosa.
Siapa yang perlu itu setelah suntikan, bukan?
Banyak curhat.
Tidak, putriku atlet.
Jadi, aku suka merendahkan fisikku.
Putriku. Sangat aneh dikatakan secara lantang.
Hanya jika dia bukan putrimu.
Dia lahir saat aku masih SMA, lalu aku pergi ke Australia.
Itu sebabnya aku sangat muda. Lalu ada adopsi.
Di antara masa itu. Ada orang tuanya yang menyayanginya,
dia senang diadopsi dan aku ikut senang.
Terasa sulit selama lima tahun, saat aku berantakan.
Namun, kini semua beres, aku menjaganya saat orang tuanya pergi
dan ini liburan pertama kami bersama.
Kusewa tempat bagus di danau.
Untung kau dapat tempat. Di sini banyak warga.
Aku tahu. Kakek-nenekku dahulu punya pondok di sini,
lalu ayahku jual karena ibu tiriku mau kondominium jelek di Florida.
Menyakitkan.
Namun, tanpa contoh distopia perkawinan mereka,
aku akan melewatkan trauma formatif bertahun-tahun
berkencan dengan pria kekanakan...
bertato.
Selamat berlibur.
Tatomu bagus.
Kukira kita mau beli es krim.
-Kuharap itu barangmu. -Ya.
Apa yang terjadi?
Aku baru merayu fantasi hipster penjara dengan topik anal.
Itu sebabnya generasiku tak melakukan seks.
-Apa? -Masih dicolok.
Berapa lama lagi sampai terisi penuh?
-Tiga puluh menit. -Tiga puluh menit?
-Menyelamatkan lingkungan butuh waktu. -Ya Tuhan.
GAS DAN GO
DANAU
Seharusnya kusewa mobil besar,
tetapi itu sangat homofobik.
Kau sudah lihat foto-foto pondok yang kusewa, bukan?
Manis sekali. Semoga ada AC.
AC adalah salah satu kontributor terbesar terhadap perubahan iklim.
Ya, siapa butuh AC di danau?
Kau lihat? Ini jelas fantasi tepi danau idaman.
Juga realitas horor tahun 1980-an.
Aku harus tetap perawan jika mau selamat sampai Hari Buruh.
Kini rasanya waktu yang tepat untuk mulai minum.
Mempertahankan mabuk ringan sangat penting untuk tinggal di pondok.
Jadi, putriku suka Rosé atau Sav Blanc?
Putrimu berumur 16 tahun.
Benar.
Mungkin berenang di danau saja.
Semua lebih baik setelah berenang di danau.
Sudah kubunuh.
Apa? Jangan bilang kau belum pernah berenang di danau.
Seharusnya itu latihan Olimpiade anak.
Semoga tak ada lintah.
Sebenarnya, lintah sangat baik untuk menyembuhkan hipertensi,
juga menyambungkan kembali jari setelah operasi.
Namun, bukan obat wasir, seperti harapan orang Romawi.
Halo, namaku Ulrika Nilsson. Penyewa pondok sebelah.
Halo, aku Justin. Ini putriku, Billie.
Anak kandung. Aku diadopsi.
Adopsi terbuka. Orang tua kandungnya masih dalam hidupnya.
Dia hamili temannya di pesta, bak komedi remaja.
Namun, kami pikir hidup kami hancur dan keluarga benci kami.
Serigala membesarkan anak secara komunal.
Emu jantan mengasuh anak sementara si betina mencari pasangan baru.
Ya, poli-emu-ri adalah pilihan hidup valid.
Aku ada acara sekitar pukul 17.00. Silakan datang kapan saja.
Baik, terima kasih. Bagus. Itu sangat...
Terima kasih.
Tolong katakan itu rumput laut.
Rumput laut tak dicukur. Topinya baru.
Masih mau berenang?
-Tidak, naik kano saja. -Bagus.
Biarkan danau ini ganti udara sedikit.
Tidak. Buat huruf J.
Buat huruf J dengan dayungmu.
-J besar atau kecil? -Pokoknya huruf J.
-Seperti J untuk Justin. -Baik!
Ya, atau L untuk lusin.
Itu juga bisa.
-Lihat pondok itu? -Ya.
Itu milik keluarga Henderson. Setelah 30 tahun seks payah,
Ny. Henderson menyewakan suaminya kepada sahabatnya, Maureen.
Namun, Tn. Henderson melanggar kesepakatan
dan menikahi jalang itu di Tiltapalooza musim panas depan.
Tiltapalooza?
Ya, acara terakhir sebelum rumah kapal ditutup musim ini.
Ada lomba perahu layar, lomba botram. Juga lomba miring.
Demi hadiah buruk dan hak membual, dan menyimpan dendam beberapa generasi.
Khas orang kulit putih.
Itu dahulu milik kami.
Kakek buyutku membangunnya.
Itu tempat bahagiaku
sampai kakak tiriku yang keji merusak semua.
Tiap musim panas, aku di sana.
-Siapa pemiliknya sekarang? -Entah.
Mau cari tahu?
Kita tak telepon dahulu?
Tidak. Anggap saja tetangga berkunjung.
Ini seperti masuk tanpa izin.
Justin, aku tak suka ini.
Kalau begitu, sebaiknya putar balik.
Ayunan J-mu harus dilatih.
-Kau percaya betapa... -...indahnya.
Seolah-olah surga tidur siang, di dermaga.
Aku berhasrat dengan dermaga itu.
Halo!
Baik. Kita datang, mengetuk, pergi.
Ayo. Aku mau lihat bagaimana orang berkuasa ini
merusak wisma dengan selera hebat mereka.
Jika memanjat itu, kau bisa masuk melalui jendela.
Caraku pulang diam-diam.
Kau dewasa, dan itu melanggar hukum.
Ini petualangan. Seperti ulah musim panas yang klasik.
Bagi gadis kulit hitam, masuk tanpa izin itu
petualangan "When They See Us", bukan ulah seru.
Benar juga. Baik, berjaga-jagalah.
-Ya? -Ya Tuhan.
Aku memanjat.
Ayah kandungmu memanjat.
Ibu akan membiarkanku pulang jika dia melihat ini.
-Sial! -Ya, aku masih fleksibel.
Astaga!
Semuanya sama.
Sial!
Baik.
Tak mungkin.
Astaga, Kakek!
-Justin! -Sial!
-Ayo pergi! Ada yang datang. -Baik.
-Kau sedang apa? -Ini...
-Balikkan, atau kutelepon Penjaga Pantai. -Ini danau.
Adanya komite, dan kami dipilih...
Ya Tuhan, diam saja dan keluar.
Kalian siapa?
Maaf. Kami Billie.
Aku Billie. Dia Justin.
Ya, aku ayahnya.
Aku ayah kandungnya.
Aku diadopsi.
Diadopsi karena dia gay.
Orang tuanya bisa beri hidup lebih baik.
Bahkan belum mengaku gay.
Namun, kini sudah.
Ya, Ratu!
Salam kenal.
Aku Victor. Anakku, Killian.
-Hai. -Sedang apa di dermaga kami?
Buyutku yang membangun pondok kalian.
-Dia ingin tunjukkan. -Ya, sudah kuketuk.
Tak ada orang.
Mungkin kau bisa beri tur.
-Ya. -Biar istriku saja.
-Ini pondoknya. -Ya.
Semua orang bersiap-siap untuk barbeku rumah kapal malam ini.
Kalian datang?
Ya. Sudah pasti.
Kami harus membongkar barang, ada banyak sekali.
-Namun, senang bertemu kalian. -Ya.
Kami akan...
-Kami tak akan ganggu lagi. -Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.