Die ersten 200 Zeilen.
#ROMANTIS
#BERJIWA BEBAS
#WANITA KEREN
#MEMILIH LAJANG
#SUDAH LAMA BERPACARAN
BAGAIMANA KISAH PERCINTAANMU?
Kopi ini…
Enak.
- Kopi terbaik memang… - Kopi seduh dingin.
Kau pintar.
Sebesar ini. Apa sebutannya?
Apa yang muncul di pikiran saat dengar kata "pertama"?
- "Pertama"? - "Pertama"?
Kenapa kau melihatku? Apa yang kau pikirkan?
Tak apa-apa.
SAUNA KERING KHUSUS WANITA
"Pertama"?
Kata itu mengingatkanku kepada…
cinta pertama.
Saat SMA,
aku tak sengaja bertemu teman sebangkuku
yang pindah sekolah waktu SD dahulu.
Dia cinta pertamaku.
Sekarang, kami sudah berpisah.
Mudah sekali untuk berpisah.
Kami berpacaran lima tahun,
tapi putus dalam sekejap.
Memang aku yang salah.
Namun, jika harus putus tiap salah,
kau pikir selalu benar selama ini?
Aku sungguh tak tahu ada apa dengan ibumu di Inggris.
Aku tak tahu karena kau tak cerita kepadaku!
Bagaimana bisa aku tahu jika kau tak cerita?
Kau pikir aku bisa baca pikiranmu?
Aku tak akan bicara begitu jika tahu ini sebelumnya.
Sial.
Pergilah.
Kau juga pergi. Pergi semua.
Aku sering berpacaran.
Namun, cinta pertamaku…
Sepertinya aku belum punya cinta pertama.
Bagaimana bisa begini?
Apa aku normal?
Saat dengar kata "pertama", aku teringat…
Ciuman pertama.
Aku bisa dengar.
Kau dengar?
Rupanya kau teringat akan ciuman pertama.
Ya, benar. Lantas bagaimana denganmu?
Siapa ciuman pertamamu?
Tak tahu. Aku tak ingat.
Sungguh. Aku bahkan tak ingat namanya.
Lantas maksudmu, kau ingat wajahnya?
Aku juga tak ingat. Aku ingat!
Kau ciuman pertamaku.
Dia temanku waktu TK,
dan tiba-tiba saat kelas 3 SD, dor!
Dia mendadak terlihat begitu cantik.
Aku kehilangan payungku hari itu,
lalu dia memayungiku sampai rumah.
Aku masih ingat jalan waktu kami pulang sepayung berdua.
Hujan, baunya, dan suasana hari itu.
Apa kata dia?
Cinta pertamaku…
Dia mulai bicara.
- Kang Geon. - Hei!
Saat SMP,
dia datang memakai seragam,
dan dia tiba-tiba agak terlihat keren.
Hei. Apa yang sedang kau bicarakan?
- Tidak. - Apa katamu?
- Bukan apa-apa? - "Agak" apa?
Dia sedang bicarakan cinta pertamanya? Siapa?
Mungkin Rin-i,
atau Eun-o.
Atau mungkin wanita lain?
Oh Seon-yeong! Kau menontonku?
Kau pasti sangat kesal, 'kan?
Kau pasti mau memukulku, 'kan?
Kang Geon. Berpacaranlah dengan wanita baik.
Jangan wanita sepertiku.
Berpacaranlah dengan wanita polos dan baik.
Bagiku Hae-na.
Dia pasti cinta pertama banyak orang.
Benar, bukan?
Omong-omong, Pak Oh.
Benar kau belum pernah berpacaran?
Cinta pertama juga?
Meski terus melajang, pasti kau pernah suka seseorang.
Entahlah. Belum pernah.
Kau sia-siakan wajah tampanmu.
Aku tak bisa paham.
Ya. Aku hampir sampai.
Aku akan telepon lagi setelah parkir.
Di lantai dua? Baiklah.
Baik. Adegan selanjutnya!
Cut. Baik. Mulai adegan selanjutnya!
Halo, bagaimana cara ke lantai dua?
Permisi. Bagaimana…
- Kenapa tegang sekali? - Apa?
Baru sekali lakukan adegan ciuman?
Meskipun adegan ciuman pertama,
sebelumnya pasti pernah ciuman, 'kan?
Apa? Kau belum pernah berciuman?
Kau serius?
Rupanya begitu.
Lantas aku ciuman pertamamu, Hae-na?
Ini kehormatan untukku.
Lepas.
- Kau membenciku? - Ya.
Apa?
- Aku bicara apa tadi? - Kau bilang kau membenciku.
Belakangan ini…
aku sedang banyak masalah dan pikiran.
Maka itu, aku agak aneh.
Sepertinya aku kelelahan.
Kau juga pasti pernah begitu, 'kan?
Tentu saja aku pernah begitu.
Namun, kau masih muda. Kenapa sudah lelah?
Apa?
Waktu aku seumurmu, aku tak sadar akan itu
dan hanya terus fokus bekerja.
Seperti orang gila.
Kau hebat sekali, Chi-hun.
Tidak begitu.
Terima kasih nasihatmu. Aku duluan.
Jika kau…
belum pernah berciuman,
artinya kau belum pernah tidur dengan pria, 'kan?
Ternyata tak hanya akting, tapi kau pemula dalam semua hal.
Akan kujelaskan hal yang mendasar. Duduklah.
Astaga. Hae-na! Halo!
Aku mau rapat tentang proyek warisan budaya dengan Pak Yoon.
Namun, aku tak tahu cara ke lantai dua.
- Lewat sana. - Rupanya di situ.
Kenapa aku bisa tak tahu?
Terima kasih. Sampai bertemu nanti.
Sampai jumpa.
- Jadi… - Bersiaplah untuk adegan selanjutnya.
Baik. Aktingnya sudah bagus.
Adegan selanjutnya.
Semua perkataanku tadi itu demi kau.
Kau harus tahu agar aku bisa atur batasanku.
Kau paham maksudku, 'kan?
Jangan khawatir. Aku lihai.
Hae-na, aku akan tanggung jawab atas ciuman pertamamu.
Percaya kepadaku.
Lakukan dengan nyaman.
Santai saja.
Ini rencana video kampanye tentang warisan budaya Kota Seoul.
Sudah kutandai bagian Hae-na.
Baik.
Jadi, Hae-na muncul bersama orang-orang ini?
Ya. Hampir semua bintang Hallyu ada di dalamnya.
Bagian Hae-na adalah Istana Deoksugung.
Silakan periksa konsep foto, dan naskahnya sekali lagi.
Baiklah.
- Halo? - Semua orang sudah siap.
Apa? Hae-na menghilang?
Sebentar.
Hei!
Aku akan hubungi kau lagi. Hae-na harus syuting sekarang.
- Kuhubungi nanti. - Baik.
Kenapa ini?
Kalian tak tahu dia ke mana?
- Apa dia gila? - Kami sedang mencarinya.
Cepat telepon dia.
- Di luar. - Dia sudah gila?
Maafkan kami.
Yang benar saja.
- Pak Cha. - Kalian tak becus.
Pak Cha! Tunggu.
Bagaimana ini?
- Kalian bisa apa? - Maaf.
- Cepat telepon dia. - Baik.
- Aku telepon di luar. - Cepat.
- Hae-na? - Cepat jalan.
Apa?
Sepertinya kau tak boleh begitu.
Kumohon tolong aku. Aku akan buat video kampanye dengan baik.
Kumohon.
Baiklah.
Ini membuatku gila.
Kenapa kau tinggal dia sendiri?
Baiklah. Akan kucari.
Ke mana dia?
PRIA JAHAT
PRIA BAIK
PRIA TAMPAN
Hei!
Berhenti!
- Kau ke sana. - Baik.
Sial.
Lepaskan aku!
Turunkan aku di bawah lampu itu.
- Di sana? - Ya.
Sebentar.
Terima kasih
karena tak bertanya, dan sudah mengantarku.
Tak apa. Kau pasti punya alasan sendiri.
No comments yet. Be the first to leave one.