Die ersten 200 Zeilen.
#ROMANTIS
#BERJIWA BEBAS
#WANITA KEREN
#MEMILIH LAJANG
#SUDAH LAMA BERPACARAN
BAGAIMANA KISAH PERCINTAANMU?
Masuklah ke dalam.
Eun-o.
Rin-i datang.
Ada apa? Kenapa kalian berdua bersama?
Apa?
Apa kau habis berapat dengan perusahaannya?
Ya, benar.
Namun, semua dokumen yang Jae-won bawa kemarin masih ada di rumah.
Ya. Kami harus mempercepat prosesnya. Itu sebabnya.
Kau tetap mengantarkanku pulang, padahal tak perlu.
Terima kasih. Hati-hati di jalan.
Aku masuk, ya.
Jae-won, mau ramyeon?
- Ramyeon? - Ya.
Kenapa kau menahan orang sibuk sepertinya?
Kau tak lapar, bukan?
Aku lapar.
Namun, tak mau makan ramyeon, bukan?
Aku mau.
- Ayo makan. Aku punya waktu. - Baik.
Masuklah. Kuparkirkan mobilku.
- Ramyeon kerang ala Lee Eun-o! - Ramyeon kerang ala Lee Eun-o!
- Kelihatannya enak. - Benar.
Nona Lee Eun-o, terima kasih.
Enak sekali.
- Jae-won, dia pencipta masakan ini. - Apa?
Aku amat suka kerang. Kenapa tak terpikir memasukkannya ke ramyeon?
Eun-o.
Aku dapat banyak sekali kerang.
Yang benar saja.
- Mulai kapan akan bekerja sama? - Tak akan.
Setelah kudengar, tawarannya kurang menarik.
Mungkin kau memang tak bisa bekerja sama dengan kami.
Kami tak sembarang pilih partner.
Pasti perusahaanmu semena-mena.
Rupanya kau belum baca proposal penawarannya dengan baik.
Di sana tertulis bahwa perusahaan yang akan bekerja sama akan bersaing.
Lalu, para pegawai akan menilai, dan semua diputuskan
mengikuti suara terbanyak pegawai.
- Artinya dia bisa gagal? - Ya.
Apa maksudmu? Aku tak akan gagal.
Dan sebenarnya,
O3 adalah perusahaan yang paling kecil.
Kau tak tahu ukuran perusahaan tak terkait kapasitasnya.
Lagi pula, aku tak punya waktu dan tak cocok dengan perusahaannya.
- Jadi, aku tak mau. - Eun-o.
Ini bukan saatnya untuk pilih-pilih.
Kenapa tidak? O3 sedang berkembang sekarang.
Usahaku akan segera terbayarkan. Nanti pasti banyak permintaan.
Kyeong-jun pasti sudah cerita bahwa kau hampir mati kelaparan.
Kelaparan? Aku tak begitu.
Dapatkan pekerjaan itu. Kau harus memenangkan tendernya.
Pemilik rumah menelepon dan berkata akan menaikkan biaya sewa.
Apa? Kenapa baru bilang sekarang?
Dia baru menelepon tadi pagi,
dan aku langsung bilang kepadamu.
Hei. Mau naik naik berapa?
- Dua puluh persen. - Dua puluh?
Sialan! Kenapa dia seenaknya?
Apa dia mau aku mati? Omongannya tak masuk akal.
Ada hukum tentang biaya sewa bulanan.
Maksimal hanya boleh naik lima persen.
Apa kau bodoh? Kenapa kau diam saja?
Tak masuk akal. Apa uang tumbuh dari pohon?
Aku tak bisa bayar lebih daripada itu!
Kyeong-jun berkata dahulu Eun-o sangat baik dan tenang.
- Aku kehabisan kata-kata. - Sebenarnya, wanita seperti apa dia?
Dia bukan Seon-a yang kucintai, juga bukan Eun-o yang baik.
Wanita ini sulit dipahami.
Telepon pemilik rumah. Aku akan ke sana.
- Kau saja. - Kau yang teken kontrak.
Satu hal lagi…
Keputusan tender segera ditentukan, Eun-o.
Benar. Ini bukan saatnya kau pilih-pilih.
Han-gyeol.
Sepertinya biaya perawatan dan pembangunannya…
Pak Choi, aku mau bicara.
Ada apa?
Aku meminta pemilik rumah Buam-dong
menunggu sampai akhir bulan.
Kau masih ingin mengubah bentuk konstruksinya?
Kita tak akan bisa selesai tepat waktu.
Mereka mau tinggal di mana?
Apa katamu waktu itu?
Katamu akan menyerah karena tak bisa diubah.
- Sepertinya ada jalan lain. - Tentu saja ada.
Namun, harus diubah seluruhnya.
Kita harus pindahkan dan rancang lagi suplai air dan drainasenya.
Apa kau amatir? Ada apa denganmu?
Kenapa diam saja? Jawablah aku.
Karena perkataanmu benar.
Kyeong-jun, perkataanmu memang benar.
Namun, apa kau tahu
berapa bangunan di Seoul yang sudah ratusan tahun?
Biasanya tak bisa lebih dari 30 tahun, lalu hancur.
Kita punya material bagus untuk membuat rumah ini,
aku tak ingin menyesal.
Aku ingin keturunan penghuni rumah itu bisa terus tinggal di situ.
Penjelasanmu keren. Tunggu sebentar.
Aku beri waktu sepuluh hari.
Tak bisa lebih daripada itu.
Hei. Rapat materialnya sudah selesai?
Entahlah. Kenapa terlambat?
Aku berapat dengan Nona Lee tadi pagi.
Bukankah sudah kau serahkan semuanya?
Kupikir juga begitu, tetapi ternyata ada yang tertinggal.
Apa ini?
Ke mana Lee Eun-o berniat pergi
dengan koper kosong ini?
- Benar juga. Kalungmu itu. - Benar.
Kudengar kau punya kalung?
Itu cincin pasangan? Kau punya pacar?
Halo?
Halo. Kau sibuk?
Waktu itu kita punya proyek gelar griya, bukan?
Ya. Bisakah kau kirimkan materinya?
Aku lihat video yang perusahaanmu buat,
dan mau kujadikan referensi.
Benar.
Untuk hiburannya, aku mau pakai musik akustik.
Apa kau punya daftar pemusik akustik?
Tentu saja. Ini semua adalah investasi.
Tunggu saja sampai O3 menjadi besar, dan bisa membantumu.
Ya, terima kasih.
Kurasa itu cukup.
Mari kita lihat.
Kau datang untuk menemui Rin-i?
Ya.
Rupanya dia belum bilang.
Dia dipecat karena ipar bos kami akan bekerja…
Apa? Tak masuk akal.
Lantas, di mana Rin-i?
Rin-i tak kemari.
Lantas, ke mana dia? Di rumah juga tak ada.
Rin-i bukan anak kecil. Dia tak akan hilang.
Kau membeli itu seharga 350.000 won?
Ya.
Rin-i terus memaksaku, jadi, kubeli saja.
Namun, ternyata harganya 1,2 juta won.
Merek ini sangat terkenal.
Benar. Dan kau tahu? Lemari itu barang baru.
Belum pernah dipakai di mana pun, dan oleh siapa pun.
Benar-benar barang baru, Bodoh.
Lantas, kenapa kau bilang dapat gratis?
Apa kau bohong lagi kepada Rin-i? Takut dia marah karena ini?
Kenapa baru sadar sekarang?
Aku sudah beri kau sinyal waktu itu.
Benarkah?
Kau tak membantu.
Bukan aku masalahnya, tetapi kau.
Kenapa pacaran menyusahkan diri?
Aku tak mau dengar itu dari mulut orang yang sudah melajang dua tahun.
Ke mana dia sebenarnya?
Bukankah bosnya sangat gila?
Haruskah kulaporkan atas pemecatan tak adil?
- Ya. - Haruskah?
Aku takut dia sedang menangis di suatu tempat.
Dia pasti merasa sedih dan kesal.
Katanya dia mau mencari pekerjaan tambahan lagi.
- Namun, malah dipecat begini. - Kyeong-jun.
Kau tak tahu Rin-i seperti apa.
Jangan khawatir. Aku yakin dia baik-baik saja.
Kau yakin? Bagaimana kau bisa tahu?
- Kau ayahnya? - Aku lebih memahami dia.
Cepatlah pulang.
Pintar.
Kau penurut sekali.
Kenapa kau di sini?
Aku baru saja berpikir bahwa aku merindukanmu.
Kenapa kau bisa di sini?
Aku membaca pikiranmu.
Pantas saja kau tahu aku mau makan spageti juga.
Tentu saja.
Apa ada yang aku tak tahu tentangmu?
Tentu tak ada.
- Kelihatan enak. - Hampir selesai. Cuci tanganmu.
Apa?
Ini harus dibuang.
Tidak. Nanti dilem saja.
Taruh saja. Aku cuci tangan.
Kenapa tak dibuang saja?
Rin-i, sepertinya kompor gas ini berbahaya.
Kompor induksi akan diperbaiki.
- Mau kubelikan yang baru? - Mari makan!
Enak sekali. Aku sangat kelaparan.
- Makanlah. Masih banyak. - Kau juga.
Rin-i.
Kudengar kau dipecat dari toko kosmetik.
Bagaimana kau tahu?
Pasti kau ke sana untuk menemuiku. Harusnya telepon dulu.
Aku dapat pekerjaan baru.
- Apa itu? - Mengajak jalan anjing.
Di sebelah taman bermain sebelah sana, ada rumah yang memelihara anjing besar.
Aku harus mengajak anjing itu jalan-jalan dua jam setiap hari.
No comments yet. Be the first to leave one.