Die ersten 166 Zeilen.
Aku sudah meninggal.
12 tahun yang lalu,
pada musim panas di tahun terakhir masa SMA ku,
aku meninggal di usia 19 tahun.
Sung Hae Sung,
apa kau masih ingat kapan foto itu diambil?
Kenapa dia belum datang juga?
Hae Sung!
Cepatlah.
- Baiklah. - Cepat.
Sini.
Jung Jung Won.
Bagaimana rambutku?
Kau mau membuat tahunanmu jadi norak, ya?
Bodoh sekali.
Kenapa? Badanku bagian bawah 'kan tidak bakal kelihatan di foto.
Yang kelihatan hanya bagian atasnya.
Buku tahunan itu akan menjadi warisan dari generasi ke generasi.
Kau mau membuat malu keluargamu dengan penampilan seperti ini?
Hei, memangnya kenapa dengan penampilanku? Coba katakan.
Tidak akan ada cukup waktu untuk menjelaskannya padamu.
Apa?
Bungkukkan tubuhmu.
Baiklah.
Bagaimana sekarang?
Jangan bergerak.
Kenapa lagi?
Kau pakai riasan, ya?
Aku juga 'kan mau berfoto untuk buku tahunanku.
Jelek sekali.
Diamlah kau.
Tutup matamu.
Tidak mau.
Selagi aku masih bersikap baik, tutup matamu.
Baiklah.
Jung Jung Won! Sung Hae Sung!
Astaga, ciumannya dahsyat sekali. Itu adalah ciuman orang dewasa.
Benar-benar ciuman orang dewasa.
Kita mana boleh melihat yang seperti ini.
- Astaga. - Oh, tidak.
Jung Won, ada kamera tuh. Kenapa tidak sekalian ambil foto pernikahan kalian saja?
Kudengar zaman sekarang, biasanya orang berfoto dalam keadaan telanjang.
Benar-benar telanjang.
Ho Bang, akan kubuat kau tidak bisa bicara selamanya.
- Baiklah, baiklah. - Akan kubunuh kau.
Sepertinya dia tidak akan pernah bisa jadi manusia normal.
Hei, Hae Sung. Kau yang terakhir. Cepatlah.
Oh, baiklah. Aku datang.
Hei, ketua kelas. Nanti kita harus berfoto bersama, ya.
Tentu saja Jin Joo. Hae Sung, cepatlah.
Baiklah.
Jangan melotot ke kamera saat fotomu diambil.
Kau akan kelihatan mengerikan.
Hei,
apa aku kelihatan keren sekarang?
Menyingkirlah kau.- Astaga.
Baiklah. Aku akan segera kembali. Hei, aku sudah siap untuk berfoto.
Duduklah dengan punggung tegak.
- Lihat lurus ke kamera. - Baiklah.
Bodoh sekali. Kenapa dia kelihatan gugup?
Hei, santai sajalah.
- Seyumlah. - Baiklah.
Hei, kau ini kenapa?
Senyumlah. Santai dan senyum sajalah.
Baiklah.
Ayolah. Senyum untukku. Senyumlah.
Jadilah dirimu sendiri. Mengerti?
Cobalah untuk tersenyum sedikit lagi.
Hae Sung.
Waktu berlalu sangat cepat, ya?
12 tahun sudah lewat.
Hei, aku sekarang sudah 31 tahun loh.
Anak kecil murid PAUD tetanggaku..
bahkan memanggilku Ahjumma.
Hari ini panasnya terik sekali.
Dan terasa menyegarkan.
Hae Sung.
Kau mau punya anak berapa?
Entahlah.
1 atau 2? 2 atau 3?
Aku mau punya anak 5.
Aku ingin punya keluarga yang besar.
Hei.
Tapi, punya anak 5 bukankah itu terlalu..
Kau tahu 'kan untuk punya anak 5 itu memerlukan banyak tenaga?
Hei, Jung Won.
Inilah sebabnya kenapa anak-anak satu kelas menyebutmu mesum.
Memangnya kenapa?
Tidak ada yang salah dengan itu.
Hei, cobalah untuk bersikap sedikit normal.
Aku yang malu karena kau.
Maksudku kalau ingin punya 5 anak, kita harus belajar keras agar bisa membiayai mereka.
Apa yang kau pikirkan? Dasar pikiran kotor.
Wajahmu jadi merah seperti daging sapi.
Hei.
Bukan itu maksudku.
Jangan berani kau membohongi aku.
Lantas kenapa kau jadi terbata-bata begitu?
Astaga, kau memang nakal.
Kau sedang memikirkan 'itu', 'kan?
Kubilang tidak.
Jangan bohong. Aku tahu, kok.
Tidak. Aku tidak memikirkan itu!
Jadi apa yang kau pikirkan?
- Aku tahu kau memikirkannya. - Hentikan, aku bisa jatuh nih.
Kau memang memikirkan hal itu.
- Sudah kubilang tidak. - Terserahlah.
- Padahal kau memang memikirkannya. - Astaga, serius deh. Dengarkan aku.
Ya ampun.
Padahal itu adalah kisah masa mudaku.
Apa tidak ada ya kenanganku yang indah?
Kenapa malah ingatan semacam itu yang muncul di kepalaku?
Karena inilah aku selalu kalah.
Aku harus kembali ke Seoul sekarang.
Aku harus..
Oh, tidak.
Astaga, tas bodoh ini.
Aku sadar kalau aku tidak dididik dengan baik.
Tapi kenapa tas ini lebih bodoh dariku?
Apa itu?
Keren sekali.
Hei, lihat itu.
- Apa? - Itu loh.
- Kenapa sih? Apaan? - Hei, ayo kita lihat.
Ada apa?
Anak-anak, ada sesuatu yang keren di langit. Cepat ke sini lihat.
- Keren sekali. - Cepatlah.
- Apa itu? - Apaan sih?
Teman-teman, ayo pergi. Aku juga mau lihat.
Hei, ini keren sekali.
Apa itu? Kalian lihat itu?
Tidurku nyenyak sekali.
Kenapa ini?
Apa yang terjadi?
Kenapa aku tidur di atap?
- Astaga. - Apa itu?
- Apa itu? - Ya ampun, itu keren sekali.
- Astaga. - Luar biasa.
- Ini benar-benar keren. - Apa itu?
Apa itu awan? Awan atau bukan?
Bukannya itu asap pesawat?
hei, mana ada pesawat yang lewat.
- hei. - Apa?
Siapa dia?
Seragam sekolah mana itu?
Kalian siapa?
Di logonya ada nama sekolah kita.
Ini adalah logo sekolahku.
Seragam kalian bukan seragam sekolah ini.
Hei.
Kenapa kau di sini, dan kenapa kau pakai logo kami?
Kau kelihatan mencurigakan.
Hei, sini kau.
Kubilang sini.
Apa yang terjadi?
Ada apa ini sebenarnya?
Bagaimana ini bisa terjadi?
Jung Won, Jung Jung Won.
Hei, lihat anak itu.
- Kau 'kan yang tadi di atap. - Kenapa kau bisa di sini?
Duduklah kalian semua.
Siapa kau?
Halo, aku..
Begini, aku..
Itu 'kan seragam lama sekolah ini.
Sudah puluhan tahun lalu diganti. Dari mana kau mendapatkannya?
No comments yet. Be the first to leave one.