Die ersten 200 Zeilen.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Modal recehan jadi Jutawan! Visi Mis Foya Foya, cuma di RECEH88
Pai.
- Pai. - Astaga.
Hati-hati.
Pai.
Pai.
- Pai. - Tee.
Kau baik-baik saja?
Pai.
Kau terluka?
Pulanglah denganku.
Baiklah.
Mana tongkatnya?
Perhatikan jalan kalian.
Kenapa harus mengebut?
Halo, Tee.
Kau ada di mana?
Aku sedang di taksi.
Begitu. Baiklah.
Segera pulang. Sudah larut.
Baik, Ayah.
Baiklah.
VIRUPAKSHA
Kau menyukai Elle?
Tee.
Kau menyukai Elle?
Apa maksudmu?
Jika suka, bilang saja.
Tak perlu malu.
Pai.
Kau kenapa?
Kudukung jika kau suka dia.
Dia tampak sempurna bagimu
karena dia cantik.
Tahu dari mana dia cantik?
Aku tadi menanyakan para tamu
apakah Elle cantik.
Semuanya bilang dia cantik.
Aku tak ada apa-apanya.
Kenapa bandingkan dirimu dengannya?
Kenapa kau begitu?
Aku tak boleh membandingkan diriku?
Sial.
Pai.
Apa yang terjadi?
Katakan kepadaku.
Tak ada.
Aku baik-baik saja, sungguh.
Baiklah.
Aku kasihan dengan Elle.
Ya.
Aku juga kasihan dengannya.
Pai.
Kenapa menangis?
Aku kasihan dengan Elle.
Hei, Kalian.
Kurasa pasangan tak seharusnya bicara begitu,
penuh sindiran.
Kami bukan pasangan.
Bukan?
Kalian bertengkar seolah sedang berakting sinetron.
Sejujurnya, kalian cocok bersama.
Tapi sayang sekali
kalian tunanetra.
Dia sudah punya kekasih.
Namanya Elle.
Pai.
Hentikan.
Tidak.
Kau mau apa?
Jika tak berhenti,
aku tak mau bicara denganmu.
Maaf, Pak.
Itu...
Lalu lintasnya padat hari ini.
Pai, kau dari mana saja?
Kenapa pulang larut?
Kau tak menjawab telepon.
Biarkan aku sendiri.
Tee, kau apakan Pai? Kenapa dia menangis?
Kudengar dia ke rumahmu.
- Masa... Beraninya? - Tunggu, Ong.
- Ini soal Pai. - Berhenti.
Tanyakan saja sopirnya kami dari mana.
Pak, kau jemput mereka di mana?
Di motel mana? Katakan.
Mereka dari kuil.
Apa?
Maafkan aku.
Kalian tak bisa mesum di kuil.
Menurutmu? Tentu saja tidak.
Ong, periksa keadaan Pai.
Aku tak tahu aku salah apa.
Kenapa dia marah?
Periksalah keadaan dia sekarang.
Aku mau pulang.
Tolong tutup pintunya.
Terima kasih.
Pai.
Kemari.
Kau apakan putriku? Katakan!
Aku tak lakukan apa pun.
Lalu kenapa dia menangis?
Kenapa? Katakan!
Aku...
Tenanglah.
Katakan!
Aku tak tahu.
Dia...
pergi bersama Tee.
Aku tak tahu kenapa dia menangis.
Biar kutanyakan sekarang.
Kuberi tahu nanti setelah tahu.
Baiklah.
Kuberi waktu lima menit.
Jika jawabanmu tak memuaskan,
kau tahu
apa yang akan terjadi kepadamu, 'kan?
Kau paham?
Ya.
Cepat. Waktumu lima menit!
Baik, Pak.
Cepat!
Pergi.
Baik.
Jangan merahasiakannya
Jika kau menemukan yang tepat
Ungkapkan saja perasaanmu
Tak melakukan apa-apa Membuatmu tampak seperti pecundang
Orang itu pun tak akan tahu Perasaanmu yang sebenarnya
Kau suka lagu itu?
Aku suka maknanya.
Nyanyikan saja sendiri.
Tee!
Tee, kau baik-baik saja?
Ayah, siapa yang pindahkan meja kemari?
Ayah yang pindahkan.
Untuk memudahkan saat kau di dapur.
Jangan, Ayah.
Hentikan. Ayah tak perlu lakukan ini.
Tee!
Buka pintunya.
Biarkan aku sendiri.
Tee, buka pintunya.
Tee.
Ayah mohon, buka pintunya.
Ayah mohon, bukalah.
Tee.
Ayah.
Kembalikan kamarku seperti semula.
Aku tak mau semuanya berubah.
Aku tahu Ayah bermaksud baik,
tapi jangan lakukan ini.
Baiklah.
Ayah kembalikan besok.
Namun, ayah tak menjamin akan seberantakan biasanya.
Kamarmu sungguh berantakan.
Ayah.
Bersikaplah seperti biasa.
Kita lakukan dengan perlahan.
Baik, akan ayah lakukan.
Omong-omong,
ayah akan pergi Sabtu ini.
Mau ke mana?
Mau ke Asosiasi Tionghoa?
Bukan.
Ayah mau menonton film.
Film?
- Ya. - Sungguh?
Pergi dengan siapa?
Ada banyak yang ikut.
Aku tahu Ayah mau pergi dengan seorang wanita.
Ayah.
Menurutku,
Bu Hong lumayan.
Ayah kencani saja dia.
Aku merestui Ayah.
Apa hubungannya dia dengan ini.
Bagaimana denganmu
dan Pai?
Bagaimana hubungan kalian?
Apa maksudmu, Ayah?
Pai seperti adikku.
Aku kenal dia sejak kami kecil.
Adikmu?
Ada apa dengan Ayah?
Baiklah.
Bagaimana dengan
wanita itu?
Yang mana?
Kau tahu. Wanita
yang berkulit putih.
Wanita yang berkulit putih.
- Kulit putih. - Ya.
Benar.
- Aku tunanetra, Ayah. - Benar juga.
Ayah ini bagaimana?
Ayah lupa.
Wanita
No comments yet. Be the first to leave one.