Die ersten 145 Zeilen.
Ayahku bilang itu anugerah dari Tuhan.
Cara aku bisa melihat musik.
Cara aku bisa menamai nada dari batuk ibu tiap pagi.
Apa yang digonggongkan anjing di seberang ladang,
nada dari katak-katak musim semi.
Bentuk,
warna.
Kupikir semua orang bisa melihat suara.
Kuning untuk nada D.
Termasuk rasa.
Ayahku memainkan B minor, dan mulutku terasa pahit.
Tak pernah terpikir olehku bahwa musik hanyalah bunyi.
Guru musik di kota memperhatikan nyanyianku.
Ia menulis surat pada temannya di Boston, seorang profesor...
dan dari sanalah aku meninggalkan ladang.
Beasiswa ke Konservatorium New England.
Lionel?
Maaf,
aku kenal lagu itu dari rumah. Permisi.
Belajar di mana lagu itu?
Di suatu hutan di Inggris.
Ayahku dulu sering menyanyikannya di Kentucky.
Oh ya?
David White.
Lionel Worthing.
-Jurusan apa? -Vokal.
Wah, fa-la-la.
Komposisi.
-Orang-orang di sini kenal lagu begitu? -Tidak.
Ini cuma...
hobi saat musim panas.
Mengumpulkan lagu, balada, nyanyian.
Mengingatkanku pada rumah.
Lagu apa lagi yang kamu tahu?
Lebih banyak dari dugaanmu.
Pretty Saro ?
Tentu.
Fair Winter ?
"Yang satu ke timur, yang lain ke barat"
Kalau...
Silver Dagger ?
Tidak, sepertinya tidak.
-Haruskah? -Yah, lagunya indah.
Ayo. Kita dengarkan.
Nada apa?
Ayo, nada apa?
Aku biasanya tidak bernyanyi begini, dengan...
-Dengan apa? -Saat semua orang ngobrol begini.
Permisi!
Tolong tenang!
Maaf. Aku tidak bermaksud begitu.
Sekarang kamu harus bernyanyi.
Malu?
Baik.
Duduk di sini.
Nyanyikan semua lagu yang kamu tahu.
David menyimpan ribuan lagu di kepalanya.
Ingatan fotografis, begitu orang menyebutnya sekarang.
Ia bisa memainkan sebuah lagu nada demi nada setelah mendengarnya sekali.
Minum lagi?
Aku capek.
Tidur. Antar aku pulang.
Masuklah. Minum air dulu.
Maaf. Aku cuma punya satu gelas bersih.
Ke sini.
Ayo.
-Lupakan. Kepanjangan. -Teruskan saja, tolong.
-Nanti kuajarkan sisanya. -Tentang apa lagunya?
Tentang seorang pria,
duduk di atas batu nisan, tak membiarkan kekasihnya beristirahat.
Ia terganggu oleh tangisnya, lalu menyuruhnya
pergi saja, membiarkannya tetap mati.
Ia menyuruhnya menikmati hidup selagi bisa, lalu pergi.
Pelajaran yang bagus.
Belajar dari mana?
Aku dan pamanku mempelajarinya saat mengumpulkan lagu di Inggris.
Lalu kenapa kamu ke sana?
Pagi-pagi begini pertanyaannya sudah banyak.
Aku sudah cerita semuanya. Aku bahkan tak tahu kamu dibesarkan di mana.
Kamu tidak tahu?
Newport.
Setelah orang tuaku meninggal, aku tinggal dengan Paman Silas di luar London.
Usiaku sebelas. Mungkin dua belas.
Kamu yatim piatu?
Itu cara yang dramatis.
Aku hanya kehilangan orang tua sementara.
Silas kaget dengan peran barunya sebagai ayah.
Ia bertekad membuatku bahagia,
demi kewajiban juga.
Orang Inggris suka kewajiban.
Ia sadar aku menghabiskan hari-hariku menyanyikan lagu-lagu dari pembantunya.
Pasti ia pernah bicara soal aku yang terus meminta lagu.
Aku anak yang obsesif,
menyebalkan, tentu saja.
Aku meminta orang-orang menyanyikan lagu lalu menuliskannya di buku.
Memalukan.
Dari situlah semuanya bermula.
Silas mengajakku berkeliling pedesaan, awal-awal di Surrey,
musim panas ke Lake District. Suatu musim panas ke Irlandia.
Ia malah lebih tertarik daripada aku sendiri.
Sekarang dia di mana?
Meninggal. Ya.
Demam entah apa. Itulah sebabnya aku kembali.
Warisan rumah orang tuaku di Newport,
dan juga tak suka cuaca Inggris, dan lain-lain.
Aku turut berduka.
Untuk apa?
Pamanmu,
dan orang tuamu.
Kamu tidak punya keluarga lain?
Semua orang yang kamu kenal akan mati. Kamu tahu itu.
Aku harus pergi.
Aku sibuk malam ini.
Minggu depan?
-Pelan sedikit! -Maaf.
Selamat malam!
Saat wajib militer datang di akhir tahun itu, kelas-kelas dibubarkan.
Mungkin memang sampai di situ, pikirku.
Beberapa malam saja dalam satu musim.
Kamu berangkat.
Itu yang diberitahukan padaku.
Kupikir kamu tak perlu khawatir soal wajib militer,
berkat ini.
Aku berangkat minggu ini
ke medan perang.
Menulislah.
Kirim cokelat.
Jangan mati.
Dan aku pun kembali ke ladang,
musim semi 1917,
tiba-tiba,
dengan penyesalan.
Bangun!
Ada apa?
Apa?
Kamu kelihatan tidak bahagia.
Tidak. Aku baik-baik saja.
Sejak pulang, kamu jadi seperti ini.
Kamu sebenarnya tidak ingin kembali.
Aku mengerti.
Kamu seharusnya tidak pergi.
Kalau saja kamu tidak pergi,
kamu tidak akan berat untuk kembali.
Kamu sakit.
Nyanyikan saja sesuatu.
No comments yet. Be the first to leave one.