Undercover

Undercover

Download Indonesian Untertitel

Staffel 2

Release Info

Undercover 2019 S02E05 Revolution 720p NF WEB-DL DDP5 1 x264
Ein Kommentar von UFSIMV
EPS 05

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
x264
720p
720
Veröffentlicht am: 2022-01-26
Downloads: 29
Hörgeschädigt: No

Indonesian Untertitel-Vorschau

Die ersten 200 Zeilen.

- Kau ikut? - Percayai aku.

SERIAL NETFLIX ORIGINAL

Aku belum dan tak akan beri tahu mereka.

Kemarin... Aku sedang lemah.

Namun, kini, sudah kuputuskan.

- Kau yakin? - Ya.

- Kau harus bisa diandalkan. Sepenuhnya. - Ya.

Setiap saat.

Lain kali mungkin kami tak bisa perbaiki keadaan.

- Mereka pernah bunuh orang. - Kalian bisa mengandalkanku.

- Apa yang terjadi di istal semalam? - Tak ada.

Nathalie, kulihat kau menangis.

Apa yang terjadi?

- Kita seharusnya tak lakukan ini. - Hei, Berengsek.

Jangan abaikan aku sekarang.

Aku yang putuskan batas kemampuanku.

Kuyakinkan Laurent agar datang ke lelang seperti maumu.

Hubunganku dengannya adalah urusanku.

Kita sudah sepakat. Kulakukan tugasku, kuharap kalian lakukan hal yang sama.

Modal recehan jadi Jutawan! Visi Mis Foya Foya, cuma di RECEH88

Hai, Sayang.

Hei.

Semua baik-baik saja?

Aku disuruh memberikan ini.

Dan mengatakan ini dari Ferry.

Apa maksudmu?

Ayah, maaf. Aku pergi ke resor liburan itu.

Wanita itu mengambil kartu memoriku dan tak mau mengembalikan.

- Dan dia bersikap sangat aneh. - Tenang.

- Siapa ambil kartumu? - Wanita itu?

- Wanita apa? - Istri Ferry.

Aku pergi ke resor liburan itu...

karena ingin tahu seperti apa tempat itu,

dan yang Ayah lakukan.

Itu saat kau diberi telepon ini?

Tidak, itu kemarin. Di rumah.

Di rumah Ibu?

- Siapa yang berikan? - Pria Belanda.

- Sayang, apa dia menyakitimu? - Tidak.

- Apa dia mengancammu? - Tidak.

- Aku minta maaf. - Tak apa.

Ayah, ada sesuatu di telepon itu.

Rekaman audio.

Kau mendengarkannya?

John? Kau sedang apa?

Ayo, Bajingan.

Aku minta maaf.

Polly, tunggu.

Saat mereka menanyaimu,

Ayah mau kau rahasiakan soal telepon dan resor liburan itu.

Jangan beri tahu siapa pun. Bahkan Ibu.

Kenapa tidak?

Ayah, siapa John itu?

Ayah janji akan ceritakan semuanya, tetapi harus selesaikan ini dahulu.

Kau harus percaya Ayah. Paham? Bisa kau lakukan itu?

- Ya? - Baik.

- Sayang. Semua baik-baik saja? - Ya.

- Masuklah. - Baik.

- Hei. - Kami akan urus mereka dengan baik.

Jika Ferry bisa temukan anak-anakmu, pasti dia juga bisa temukan rumahmu.

Tidurlah di tempat lain.

Baiklah.

Jackson?

Jackson?

- Dor! Dor! - Tembak dia!

Kembalikan ke Paman Laurent. Ibu tak mau kau bermain itu.

- Kenapa tidak? Ini kosong. - Kembalikan.

Berikan kepadaku.

Kami hanya bermain. Seharusnya kau pergi tak lama.

Sendirian di rumah seharian itu asyik untuk anak?

Aku pergi tak lama.

Itu tidak asyik, bukan? Tidak.

Ayo. Ibu beli roti manis. Ayo makan. Ayo.

"Aku pergi tak lama." Kami bermain 1,5 jam.

Dia bisa saja selesaikan PR.

Kenapa kau tak membawanya?

Karena dia belum berpakaian dan aku buru-buru, paham?

Kau bersikap aneh belakangan ini.

Aku tak mau Jackson bermain senjata, jelas?

Aku tahu kau tak menginginkanku. Kau sudah menjelaskannya.

Namun, mari luruskan satu hal.

Kau dan aku punya separuh anak kita.

Dan saat dia bersamaku, kulakukan semauku. Paham?

Dan aku muak dipanggil "Paman" olehnya.

Dia berhak tahu siapa ayahnya. Aku.

Kita sepakat tak akan memberitahunya.

Aku berubah pikiran.

Ini.

Hai. Visser. Apa kabar?

- Semoga bukan waktu yang buruk. - Tidak.

Mau berkeliling?

- Ini Marc. - Halo.

Hai, Polly.

Itu pasti pengalaman mengerikan bagimu.

Ya.

Boleh bertanya?

Tentu.

Ayo, mari kita duduk.

Polly, bisa ceritakan dengan kata-katamu sendiri?

Aku pulang sekolah. Aku di depan garasi, lalu...

ada yang memanggil namaku dan menyuruhku sampaikan salam dari Ferry kepada ayahku.

Lalu dia pergi.

Bagaimana penampilannya?

Dia berjanggut, rambut pendek, seumuran ayahku.

Dia orang Belanda.

- Kau pernah melihatnya? - Tidak pernah.

Baik.

Ayo kembali ke saat dia mendekatimu. Apa kata-katanya?

Seperti kataku, aku di depan garasi, dan...

ada yang memanggilku, menyuruhku sampaikan salam dari Ferry Bouman kepada ayahku.

Katamu dia bilang "dari Ferry". Apa dia sebut nama "Bouman"?

Entahlah. Kurasa begitu.

Itu tak banyak.

Apakah dia agresif? Apakah dia mengintimidasimu?

Tidak.

- Kau tak apa-apa, Sayang? - Ya.

Jadi, dia hanya suruh kau sampaikan salam?

- Ya. Kepada ayahku. - Ya.

Detail kecil bisa sangat berarti.

- Kau sudah ceritakan semua, ya? - Marc.

Aku perlu mendengar darinya.

Ya, kuceritakan semua.

- Baik. - Bagus.

Kau lihat lehernya? Tenang. Kuda itu tenang.

Itu cara Western.

Kuda diciptakan untuk berjalan jauh.

Saat kulihat cara berkuda orang Eropa...

Menarik kekang mulut sepanjang waktu. Aku kasihan kepada kuda.

Seharusnya kuda tak dipakai sebagai peluang investasi.

Aku terlalu menghormati kuda. Kuda tak terlalu menguntungkan.

- Hampir tidak. - Aku baru mendapat laba besar.

Dan itu bukan dari kuda termahal.

Kuda itu dewasa saat kau membelinya.

Saat memulai dengan anak kuda,

itu berarti tiga tahun di istal, memberi makan, dan melatihnya.

Tak peduli bagusnya keturunannya, tak ada jaminan dia akan jadi juara.

Peluangnya satu dari empat. Jadi, harus besarkan empat.

Anak kuda 20.000 euro-mu

mungkin tumbuh menjadi kuda 2.000 euro.

Dan begitu saja, semua uang hilang.

Jadi, jika ingin bekerja dengan kuda, kita harus punya kecintaan terhadapnya.

Lihat.

Itu kuda yang cantik.

Namanya Nuberon.

Dia akan menjadi juara.

Akan kulakukan yang terbaik.

Kau tak kemari untuk kuda, bukan?

Kenapa kau kemari?

Steve bilang kau dan saudaramu tak hanya menjual alat pertanian.

Aku punya mitra yang mungkin tertarik pada barangmu.

Entah apa yang Steve katakan, dan entah kau kira apa kegiatan kami...

tetapi kami menjual partai besar, bukan eceran.

Mengerti?

Persis seperti dugaanku.

- Halo, Ibu. - Halo, Nak.

- Lezat. - Benar?

Dia memasak otak.

Lezat, bukan?

Tahu pria yang kutemui kemarin?

Orang Belanda yang Steve ceritakan.

Dia ikut lelang kuda.

Kuda yang diurus Steve. Kami mulai mengobrol,

dan dia punya kontak yang hebat di Amerika Selatan. Orang Venezuela.

Mereka butuh peralatan. Senjata berat.

Bisa jadi penjualan bagus.

- Orang Venezuela? - Ya.

Bukankah kita sepakat tak mau tergesa-gesa?

Mereka ada di Brussel. Kita bisa bertemu mereka.

Itu bukan ide yang bagus.

Kau membuang enam juta euro ke laut.

Bagaimana menggantinya?

Tidak dengan bernegosiasi sembarangan.

Jangan remehkan aku. Aku bukan orang bodoh.

Terkadang, aku punya ide bagus.

- Otaknya sudah siap. - Kami akan ke sana, Bu.

- Kau ikut denganku atau tidak? - Kita lihat nanti.

- Ini dia. - Sudah lama.

Beri Laurent agak banyak. Mungkin bisa mencerdaskannya.

Kau sedang apa?

Ayo, Bajingan.

Mobach menelepon. Sudah dimulai.

Jika kau memilih di sini, kita bisa menundanya.

Tidak, ayo kerjakan. Lebih cepat selesai, lebih baik.

- Selamat malam. - Selamat malam.

- Sudah memesan tempat? - Visser.

Ruang pribadi. Ikuti aku.

Visser. Tempat yang mewah.

- Ini saudaraku, JP. - Senang berkenalan.

Silakan duduk.

Ada yang mau minuman pembuka?

- Ada wiski yang lezat di sini. - Bir saja untukku.

Air.

Aku minum itu lagi.

Benar. Orang Venezuela akan berhati-hati, karena tak kenal kalian.

Seolah-olah membantu kalian dengan datang kemari,

tetapi jangan tertipu.

Aku tahu mereka meneliti pasar.

Kenapa gelap sekali di sini?

- Aku tak bisa melihat. - Lewat sini.

Apa ada yang sakit migrain?

More Indonesian subtitles for Undercover

Kommentare

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left