Οι πρώτες 200 γραμμές.
- Tahanlah. Sebentar saja. - Ainun!
Istirahatlah. Mira dan aku akan menggantikanmu.
- Kita pasti menang. - Semoga beruntung.
Ayo.
- Ainun! - Ayo, Ainun!
Selain kamu, hanya ada satu orang di sini yang bisa menjawab itu.
Dia anak yang istimewa. Lihat saja.
- Di mana Ainun? - Di mana dia?
- Masih ganti pakaian. - Mencari saya, Pak?
Kenapa langit berwarna biru?
Sudah saya jelaskan kemarin, Pak.
Jawab saja.
Cahaya merupakan gelombang. Merah, kuning, dan jingga bergelombang panjang.
Biru bergelombang pendek.
Sedangkan atmosfer ada di frekuensi sama dengan gelombang pendek.
Khususnya warna biru. Jadi, atmosfer
menahan dan menghamburkan cahaya biru di langit.
Itu sebabnya langit berwarna biru, Pak.
Itu sebabnya kalian jodoh.
Permisi.
Silakan.
Halo.
Rudy!
Rudy.
- Ingatkan Rudy soal obatnya. - Ya, Mam.
- Rudy. - Mam?
Kenapa kamu belum bersiap-siap?
Antarkan kue itu ke Ranggamalela bersama Fanny.
Sekaligus mengunjungi keluarga Besari.
- Keluarga Besari? - Ya.
Putrinya satu SMA denganmu.
Pergilah.
Sampaikan salamku kepada semua.
- Sampai jumpa, Mam. - Ya.
Jadi, saat itu saya di sekolah.
Saya bilang...
- Halo, Ainun. - Halo.
Itu dia.
Kutantang kamu bicara dengannya.
- Dia jelek. - Jelek?
Kalau begitu, kutantang kamu berkata kepadanya bahwa dia jelek.
- Kamu takut, bukan? - Tidak.
Lihat saja.
Ainun, menurutku kamu jelek.
Kulitmu hitam, seperti gula merah.
Dia Rudy Habibie, bukan?
Apa kalian sedang bertengkar?
- "Kamu jelek." Kamu bilang itu kepadanya? - Ya.
- Ayo. - Saya tunggu di mobil saja.
- Kamu bisa sekalian membantuku. - Jangan terlalu lama, ya?
- Kamu yakin? - Ya.
Tolong berikan kuenya.
Halo?
Kamu jelek, gemuk, dan hitam seperti gula merah.
Ainun?
Cantik sekali.
Tampaknya gula merah berubah menjadi gula pasir.
Gula pasir?
- Kamu sudah pulang dari Jerman? - Ya.
Saya tinggal di Bandung, sedang beristirahat.
Rudy.
Om.
- Apa kabar, Om? - Baik.
Dari mana saja? Sudah lama aku mengobrol dengan Fanny.
Sungguh? Saya menunggu di mobil.
- Baik. Silakan duduk. - Ya.
Katamu takkan lama.
Kenapa tak buka puasa di sini saja?
- Ya, semua sudah siap. - Begitu?
Tetapi obat saya tertinggal di rumah. Harus pulang dan ambil.
Sudah saya bawa obatmu.
Kita harus mengobrol. Saya ingin dengar ceritamu tentang Jerman.
Jerman? Baiklah.
Saya memang harus betah. Tak ada pilihan lain.
Aachen adalah kota berantakan.
Tetapi telah menjadi jalur masuk Blok Sekutu ke Jerman.
- Kudengar kamu jatuh sakit di sana. - Ya. Terkena TBC.
Kenapa tak batuk-batuk?
Itu adalah jenis TBC yang berdampak pada tulang, Ibu.
Benar?
- Ya, benar. - Semoga cepat sembuh, Rudy.
- Apa jurusanmu di sana? - Teknik mesin.
- Teknik? Mesin apa? - Mesin jahit.
- Maaf, maksud saya... - Mesin jahit.
Maksud saya mesin pesawat.
Saya kira kamu akan membuat mesin jahit untuk Ainun.
- Saya dengar kini kamu menjadi dokter. - Benar.
- Tetapi masih dokter umum. - Berencana menjadi spesialis?
Dalam beberapa bulan ini.
Maaf, Ainun.
Suatu saat boleh saya ajak kamu jalan-jalan?
Hanya menemani saya mencari udara segar di Bandung.
Untuk pemulihan saya.
Senyum gadis muda
Gadis manis bergaun kuning
Bolehkah aku...
Semuanya lancar?
- Apa? Ya... - Tentu saja.
Terlalu lancar. Rudy justru mencari jodoh.
Sungguh? Jadi, kamu serius dengan Ainun?
Tentu. Dia membuat Rudy terpikat.
- Ceritakan saja semuanya. - Tetapi kamu senang, bukan?
- Tetapi waspadalah, Rudy. - Kenapa?
- Dia punya banyak penggemar. - Lantas?
Dia gadis spesial. Para penggemarnya adalah pria hebat.
Pejabat muda, tentara, jaksa.
- Sedangkan kamu bukan siapa-siapa. - Lantas kenapa?
Baik tampan atau kaya, tak ada gunanya jika tak ada kecocokan.
- Percuma. - Menurutmu dia menyukaimu?
Kita lihat saja nanti.
Rudy baru pulang dari kencan
"Arlies, salam dari kota kembang.
Alhamdulillah, aku sehat di sini.
Bagaimana denganmu dan Sulis? Semoga baik saja.
Lies, tadi sore, seorang pria datang ke rumahku.
Namanya Rudy Habibie."
- Silakan masuk. - Ya, Pak.
- Minal 'Aidin wal-Faizin. - Minal 'Aidin wal-Faizin.
Ayo masuk.
Tak sopan.
Ainun!
- Bawakan minuman untuk tamu. - Ya, Pak.
- Nun, apa itu pemberianku? - Ya. Terima kasih.
- Adik-adikmu baik saja? - Alhamdulillah, mereka baik saja.
- Ainun, bantulah ibumu. - Ya, Pak.
- Silakan minum. - Ya, Pak.
Berhenti di sini.
- Kamu naik becak kemari? - Memang kenapa?
Yang lain membawa mobil.
- Biarkan saja. - Kamu pasti miskin.
- Umar? Bagaimana studimu? - Ya, Pak?
Alhamdulillah, disertasi saya hampir selesai.
- Disertasi selesai? Bagus. - Ya.
- Punya saya juga hampir selesai, Pak. - Sungguh?
- Halo? - Rudy!
- Om. - Ainun.
- Apa kabar, Om? Sehat? - Baik!
- Ainun sudah lama menunggumu. - Sungguh?
- Ya, Pak? - Rudy datang. Pergilah jalan-jalan.
Cuaca Bandung cerah.
- Permisi dahulu. - Ya.
- Silakan duduk. Santai saja. - Ya, Pak.
- Kamu belum minum. Silakan. - Ya.
Saat itu usiaku tujuh tahun.
Semua evakuasi karena perang, bukan?
Ibuku dipanggil salah satu warga desa untuk membantu istrinya melahirkan.
Saat ibuku pulang, bajunya bersimbah darah.
Aku menangis karena takut.
Tetapi ibuku berkata,
"Ibu baru menggendong bayi lelaki."
Dan dia tampak sangat bahagia.
Itu sebabnya aku ingin menjadi dokter.
- Sudah menjadi dokter, bukan? - Ya.
Ainun.
Soal empat pria di rumahmu tadi, apa ada yang dekat denganmu?
Memang kenapa?
Maksud saya...
Apa kamu sudah punya teman spesial?
Kalau belum?
Kamu ingat tempat ini?
Di sinilah saya memanggilmu "gula merah."
- Cempluk! - Arlies?
- Aku merindukanmu. - Kamu baru tiba?
Ya. Banyak yang ingin kuceritakan.
Kamu sangat cantik.
- Baru tiba? - Ya.
Sulis harus bekerja dahulu.
Kamu takkan memperkenalkan kami? Jangan biarkan dia diam saja.
Rudy Habibie. Arlies.
- Rudy. - Ini suamiku.
- Sudah berkenalan. - Ini Sulis.
Apa ini orang yang ingin membawamu ke Jerman?
Apa?
Kamu baru cuti, sudah menemukan jodoh.
Kamu cepat bergerak, ya?
Tetapi kamu juga hebat. Bisa membujuk gadis keras kepala macam dia.
- Biasanya dia sulit dibujuk. - Begitu?
- Maaf. Arlies memang blak-blakan. - Tak apa.
Tetapi kamu sungguh akan membawanya ke Jerman, bukan?
Setelah lulus kuliah, kamu tetap di Jerman atau pulang?
Saya harus pulang. Saya ingin membangun negara kita.
Saya sudah berjanji.
Kepada siapa?
Saat itu saya pikir saya akan mati.
Sumpahku.
Terlentang. Jatuh.
Perih. Kesal. Ibu Pertiwi.
Engkau pegangan dalam perjalanan. Janji pusaka dan sakti.
Hancur badan. Tetap berjalan.
Jiwa besar dan suci.
Membawaku kepadamu.
Ainun, kau mau ikut saya ke Jerman?
Maksudmu ikut ke Jerman?
Ikut saya. Menemani saya. Mendampingi.
Menjadi istri saya.
Kita akan bangun keluarga. Hanya oleh kita berdua.
Tanpa campur tangan keluarga besar.
Saya tak bisa menjanjikan banyak.
Saya tak tahu apa kamu bisa terus menjadi dokter
atau apa hidup kita mudah atau tidak.
No comments yet. Be the first to leave one.