Satu Amin Dua Iman - First Season

Satu Amin Dua Iman - First Season

Λήψη Indonesian Υπότιτλων

Σεζόν 1

Πληροφορίες έκδοσης

Satu Amin Dua Iman WEB-DL S01E01B
Ένα Σχόλιο από Aurora Patandean

Ετικέτες

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Δημοσιεύτηκε στις: 2021-07-13
Λήψεις: 5
Για Άτομα με Προβλήματα Ακοής: No

Προεπισκόπηση υποτίτλων Indonesian

Οι πρώτες 200 γραμμές.

Bismillah.

- Permisi. Selamat siang. - Sebentar, Mbak Riana.

Ada apa lagi?

Aku ingin antar rekam medis pasien Riana.

Coba kau bayangkan kalau rekam medis pasien ketinggalan.

Kau paham konsekuensinya, 'kan?

Kakak dokter juga?

Aku?

Aku calon dokter.

Kalau kata perawat di sini "DM", dokter muda.

- Kau suka cokelat, ya? - Ya, Kak. Kau juga suka?

Bisa bikin bahagia.

Benar sekali, Kak. Abangku selalu mengatakan itu kepadaku.

Kau bagaimana? Apa yang dirasakan sekarang?

Aku gampang lelah, Kak.

Gerak sedikit, lemas. Malah bisa pingsan.

Kau kurang makan kali?

Tidak selera.

Terus buang airnya bagaimana? Lancar?

Kalau pipis, kadang ada darahnya. Padahal aku sedang tidak mens.

Riana, ini Aisyah.

Dokter koas yang akan banyak membantuku di sini.

Aku memanggilmu apa? Riana, Dik Riana, atau Mbak Riana?

Panggil Riana saja. Aku panggil Kak Aisyah saja, ya?

Boleh.

Dokter Aisyah. Maaf, sebentar.

Dokter? Ini pertama kalinya kau memanggilku, dr. Aisyah.

Ya...

Kau sudah selesai sekolah pendidikan kedokteran...

dan aku ingin minta maaf atas kejadian sebelumnya.

Aku sedang ada masalah...

Ya, amarahku terpancing. Aku minta maaf.

Jadi, bukan karena aku tidak disiplin, ceroboh, dan tidak kompeten?

Itu juga. Kau harus mengubah itu.

Apa kau serius meminta maaf?

Kau mau aku marah-marah lagi?

Tidak, kumohon, jangan.

Lagian, aku memang salah, Dok. Namun, kau tenang saja.

Aku akan membuktikan kepadamu kalau aku bisa menjadi dokter hebat.

Bahkan lebih hebat dari dr. Hanan.

Jadi, kau menganggap aku ini hebat?

Kau hari ini sif sampai sore, 'kan?

Aku minta tolong agar kau tanyakan...

keluhan-keluhan apa yang dia rasakan.

Buat dia lebih positif, lebih yakin untuk sembuh.

Bisa?

Ya.

Dokter Aisyah umur berapa? 18 tahun, ya?

Mana ada dokter umur 18 tahun, Riana.

Kecuali dia pintar sekali. Sementara aku, jangankan pintar.

Jadi dokter saja, dipaksa.

Kau hebat, Kak. Dipaksa saja bisa menjadi dokter.

Namun, sepertinya kau benar-benar suka cokelat, ya.

Itu stoknya banyak sekali.

Ya, Kak. Itu dikasih abangku.

Dia sering bilang kepadaku...

aku harus banyak makan cokelat supaya hidupnya senang.

Supaya bahagia.

Kau dari mana saja?

Maaf. Tadi aku agak kesasar.

Kesasar sampai ke atap.

Hebat, Dok. Dia sudah sering ke sini, tapi masih bisa kesasar.

Lebih tepatnya lagi, bukan kesasar. Lebih tepatnya, terjebak di masa lalu.

Di zaman aku masih menjadi maling pakaian.

Kau sudah kenal sama Kak Aisyah?

Tidak, baru kenal tadi di atap.

Bukan tadi. Delapan tahun yang lalu.

Waktu Bu Dokter Cantik ini...

masih punya cita-cita menjadi desainer baju.

Kau tahu, Dik? Bu Dokter ini sampai menangis...

saking tidak mau menjadi dokter.

Namun, sekarang jadi dokter juga.

Terima kasih sudah mau menemani Riana mengobrol.

Itu memang sudah tugasku.

Kau menginap atau pulang?

Maunya pulang.

Namun, ada orang yang taruh motor sembarangan,...

pas sekali di samping mobilku.

Astagfirullahadzim.

Jadi, aku parkir motor di sebelah mobilmu?

Ya Allah. Aku sungguh minta maaf, aku tidak tahu.

Kenapa tidak bilang dari tadi?

Jadi dokter bisa membuatmu lebih lembut. Gampang minta maaf.

Memang dulu tidak?

Tidak. Kau masih ingat aku pernah dipukuli olehmu pakai sapu lidi?

Sampai sekarang, kau tidak pernah minta maaf kepadaku.

Ya, maaf.

Tulus, tidak?

Bapak Aryan yang terhormat...

yang dulu rambutnya belah tengah dan menurut dia itu keren sekali,...

aku minta maaf...

karena dulu aku pernah memukulimu dengan sapu lidi...

bekas menyapu kandang ayam.

Baik, tidak apa-apa. Aku akan memaafkanmu.

Namun,...

tulis dulu nomormu di dalam ponselku.

Aku simpan nomornya pakai nama apa?

Sudah, tidak usah. Biar aku saja yang simpan.

- Jangan pakai nama macam-macam. - Suka-suka aku.

Yuk.

"Yuk" ke mana?

Kau lupa ingatan, ya? Parkiran.

Yuk.

Aryan.

Kalau kau tidak kuliah dan terus di rumah sakit,...

mau jadi apa kau ini?

Hei! Aryan!

Ayah.

Di antara kita, harus ada yang jaga Riana.

Aku tidak bisa mengharapkan itu dari Ayah sama Ibu, 'kan?

Aryan?

Yan. Aku masuk, ya.

Makin lama kau kerja dengan ayahku,...

makin mirip kau dengannya.

Belum aku izinkan, sudah main masuk saja.

Kau tidak boleh menyalahkan orang tuamu terus.

Mereka itu kerja untukmu dan Riana.

- Menyalahkan bagaimana? - Kelihatan dari mukamu.

Mukaku?

Sekarang kenapa kau menyalahkan mukaku?

Tidak jelas.

Riana sudah ada yang jaga di sana. Mereka profesional.

Kalau kau mau membicarakan itu, tidak usah.

Aku sudah muak dengarnya, tahu tidak?

Apalagi, kalimatnya sama dengan yang dibilang ayahku.

- Sudahlah. - Tidak ada salahnya...

kalau kau coba mengikuti kemauan dia dulu?

Tidak semua orang punya kesempatan baik seperti kau, Yan.

- Kau mau? - Mau apa?

Menggantikanku menjadi anaknya.

Omong-omong,...

kau mau menginap atau pulang?

Kalau kau mau menginap, kau tidur di karpet.

Jangan di kasurku. Aku masih normal.

Aku keluar, ya.

- Asalamualaikum. - Wa'alaikumussalam.

Aku punya oleh-oleh.

Apa, Nak?

Ini cokelat sebegini banyak, mau bikin Abi diabetes?

Kalau dimakan berlebihan.

Namun, kalau dimakan secukupnya, bisa bikin Abi bahagia.

Aku bersih-bersih dulu, ya, Abi.

Tidak apa-apa diabetes sedikit.

(Marhaba, Aisyah! Sudah sampai rumah? Jangan lupa dimakan cokelatnya.)

(Jangan sampai tidak dimakan. Ingat kata Ustaz Bilal.)

(Mubazir itu perbuatan setan! Maling Pakaian Santriwati.)

(Bismika allaahumma ahyaa wa bismika amuutu.)

Jadi, tadi abiku telepon.

Katanya aku tidak boleh menjadi desainer baju.

Begitu rupanya.

Harus jadi dokter.

Terus?

Sudah dibilang dari tadi jangan dekat-dekat!

Terus?

Terus menjadi desainer baju itu kerja sampingan saja.

Kenapa aku menghadap belakang? Katanya mau mendengarkan?

- Mana kau jauh sekali. - Kau maunya bagaimana?

Tadi aku sudah dekat-dekat, kau suruh aku jauh-jauh.

Sudah. Kau anggap saja aku batu, ya? Kau bicara sama batu sekarang.

Tadi sampai mana, ya?

Sampai abimu tidak setuju kau menjadi desainer baju.

Ya. Ya sudah, padahal itu cita-citaku dari kecil.

Baik.

Terus tidak diizinkan sama Abi? Abi maunya jadi dokter, begitu?

Astagfirullahadzim. Sudah kubilang dari tadi!

Ya, maaf. Aku memastikan saja.

Sebenarnya gampang.

Kenapa tidak kau satukan saja dua-duanya?

Kau jadi dokter yang mengikuti tren, yang mengerti mode,...

terus yang modis.

Itu dia. Jadi, cita-citamu tercapai.

Kau tidak perlu melawan abimu. Selesai.

Tidak semudah itu. Susah, tahu!

Ya, namanya juga cita-cita. Pasti susah.

Kalau gampang, main petak umpet sana.

Itu gampang.

Pasien hilang kesadaran!

Oksigen.

Defibrilator.

Kita butuh tekanan 300 joule.

Siap.

Dilarang menyentuh pasien, kita akan melakukan kejut listrik.

Kejut.

Naikkan, Perawat, ke 500 joule. Siap.

Kejut.

Terima kasih, Dok.

Dokter, bagaimana keadaan ayahku?

Ayah Ibu sudah sadarkan diri.

Berdoa untuk yang terbaik, ya, Bu.

Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Dokter.

Aku tidak tahu kalau tidak ada kau, bagaimana keadaan ayahku.

Kami hanya perantara, Bu. Tuhan yang menyembuhkan.

Terima kasih.

Terima kasih kembali.

Mari, Bu.

Dia sama sekali tidak panik, Rin. Santai sekali.

Pas keluarga pasien bilang terima kasih kepadanya,...

aku pikir dia akan sombong, tapi ternyata tidak.

Dia malah bilang, "Tuhan yang menyelamatkan, Bu".

"Aku hanya perantara". Gila, 'kan?

Σχόλια

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left