Frieren: Beyond Journey's End

Frieren: Beyond Journey's End (葬送のフリーレン)

Λήψη Indonesian Υπότιτλων

Πληροφορίες έκδοσης

SousounoFrieren-27[1080pAV110Bit]
Ένα Σχόλιο από sph21

Ετικέτες

1080
Δημοσιεύτηκε στις: 2024-03-16
Λήψεις: 145
Για Άτομα με Προβλήματα Ακοής: No

Προεπισκόπηση υποτίτλων Indonesian

Οι πρώτες 160 γραμμές.

Ya, pencarian kekuatan memang tak ada habisnya.

Tak lama lagi, kau akan mengungkap rahasia tersebut.

Tak ada lagi yang perlu kuajarkan padamu.

Kau bilang begitu setiap hari.

Oh, Fern?

Hem...

Dia marah? Kenapa?

Aku takut.

CERITA ORISINAL OLEH KANEHITO YAMADA / TSUKASA ABE

Aku bertengkar dengan Nona Frieren.

Bertengkar lagi? Kalian sering bertengkar belakangan ini.

Tahap selanjutnya adalah tahap terakhir ujian, bukan?

Tak ada waktu untuk bertengkar.

Kali ini, dia sudah keterlaluan.

Tongkatku rusak selagi aku bertarung di Reruntuhan Makam Raja.

Jadi, kuberi tahu Nona Frieren aku ingin memperbaikinya.

Tapi dia bilang aku harus membuang

tongkat sihir itu dan membeli yang baru.

Tongkat sihir itu?

Dia bilang itu sudah hancur dan tak bisa diperbaiki.

Tapi tetap saja,

tongkat itu adalah pemberian Tuan Heiter.

Aku sudah memilikinya sejak kecil.

Frieren memang seperti itu. Dia tak bermaksud menyakitimu.

Jangankan dibuang,

memikirkannya saja aku tak pernah.

Ujian seleksi Mage kelas satu masih tiga tahun lagi, ya?

Tiga tahun itu sangat lama.

Tertawailah aku, seperti biasa.

Kau mau kutertawai?

Tidak.

Kalau begitu, Lawine, mau kuelus kepalamu?

Kau mau berkelahi?

Cepatlah.

Dia begitu terpukul.

Oh, itu Frieren.

Itu tas apa?

Hei.

Mau sampai kapan kau di sini?

Aku tak lulus ujian. Kita tak ada kepentingan lagi.

Kau mengganggu bisnisku. Pergilah.

Saat ini, aku datang hanya sebagai pelanggan.

Cepatlah pilih sesuatu.

- Ini untukmu. - Tak mau.

Kau kurang beruntung kali ini.

Keadaan tak berpihak pada kita.

Siapa pun yang berada di posisimu pasti bernasib sama denganmu.

Bagaimanapun, aku tetap gagal. Aku masih kurang mumpuni.

Jangan dibahas lagi.

Mungkin tak terlihat, tapi suasana hatiku sedang buruk.

Meskipun begitu, tokomu masih buka.

Denken, mungkin ini asing bagimu,

tapi seburuk apa pun suasana hatinya,

orang harus bekerja agar bisa makan.

Begitu rupanya.

Nah, untungnya aku yang tidak lulus.

Ujian seleksi Mage kelas satu diadakan tiap tiga tahun.

Denken,

pria tua yang rapuh sepertimu mungkin tak akan sempat ikut lagi.

Benar.

Setidaknya membantahlah.

Richter, kau memang berandal kurang ajar.

Kau mengabaikan otoritas dan bersedia

menyakiti yang lemah demi mencapai tujuanmu.

Pastinya kau bukan orang baik.

Meskipun begitu, aku tak merasa kesal padamu.

Mungkin itu karena

aku dulu juga seorang pemuda yang kurang ajar.

Namun, lihat aku sekarang.

Sekarang, aku menjadi Mage Kekaisaran.

Apa yang mau kausampaikan?

Yang mau kusampaikan, jangan menjadi orang yang pesimistis.

Tiga tahun dari sekarang, kau akan menjadi jauh lebih kuat.

Ayo, Laufen.

Maaf. Kakek memang tak pandai menyatakan perasaan.

Sebenarnya apa hubunganmu dengannya?

Dasar tua bangka.

Dia bahkan tak membeli apa-apa.

Hari ini bukan hari yang baik untukku, ya?

Berdasarkan informasi dari warga kota, mereka bilang

kau bisa memperbaiki tongkat sihir separah apa pun kondisinya.

Biar kulihat.

Ini potongan apa?

Jangan bilang bahwa ini tongkat.

Aku harus apa dengan sampah ini?

Itu bukan sampah,

menurutku.

Tadinya perasaanku sudah sedikit lebih baik,

tapi sekarang memburuk lagi gara-gara kau.

Aku berhak memilih pekerjaanku.

Aku tak bisa memperbaikinya.

Baiklah.

Jika tak mampu kauperbaiki, tak apa-apa.

Frieren, kau tahu betul cara membuatku kesal, ya?

Kapan kubilang aku tak mampu memperbaikinya?

Bisa selesai hari ini?

Aku mau itu selesai sebelum ujian tahap ketiga.

Permintaan yang tak masuk akal.

- Frieren. - Ya?

Aku menyesal mengatakan alat ini sampah.

Ini tongkat yang bagus dan terawat.

Terlihat jelas pemiliknya sangat menjaganya.

Fern, ayo pulang sekarang.

Nona Frieren sama sekali tak memahami diriku.

Yah, aku juga tak memahami dirimu.

Hentikan! Jangan melampiaskannya padaku!

Menurutku,

itulah pentingnya saling memahami.

Kurasa Frieren sedang berusaha sebaik mungkin.

Oh, kau murid Frieren,

bukan?

Apa aku keliru?

Tidak, kau benar.

Baiklah, tidak penting juga bagiku.

Tahap kedua baru saja berakhir,

dan aku sudah merasa kelelahan karena pekerjaan dari gurumu.

Padahal, bisnisku akan lebih diuntungkan

kalau saja dia membeli yang baru.

Jagalah dengan baik.

PENGINAPAN SWALLOW

Tongkat sihirku...

Frieren kurang memiliki emosi dan kepekaan.

Aku yakin hal itu akan menimbulkan kesulitan dan kesalahpahaman.

Tapi ada satu hal baik di balik itu.

Untuk mengatasi kekurangannya,

Frieren akan memberimu perhatian yang lebih.

Menemukan guru yang sebaik dia tidaklah mudah.

Gelap...

Nona Frieren, soal kemarin...

Kenapa?

Lupakan saja. Tidak penting.

Baiklah.

Mari kita mulai ujian tahap ketiganya.

Tahukah kau alasan aku datang

sampai ke sini,

Sense?

Kau tak mau menjawab?

Kau selalu begitu tiap ada masalah.

Ada 12 orang yang lulus tahap kedua.

Sebelumnya tak pernah sebanyak itu. Terlalu banyak.

Aku tak mempermasalahkan kalau ada yang bekerja sama selama ujian,

mengingat Mage kelas satu yang sekarang kurang bisa bekerja sama.

Sayangnya, itu benar.

Namun, di antara mereka

ada satu Mage yang kekuatannya terlalu besar.

Maksudmu Nona Frieren?

Gara-gara dia, banyak Mage yang lulus, padahal kurang mumpuni.

Jika mereka tetap melanjutkan ke tahap ketiga,

mereka semua akan mati.

Sense,

bahkan itu jauh dari yang kauharapkan.

Aku juga tak mau

menyia-nyiakan begitu banyak nyawa manusia.

Nona Serie...

Kau tak perlu meminta maaf.

Semua ini kesalahan Frieren.

Kali ini, kita buat pengecualian.

Aku yang akan mengurus tahap ketiga.

Aku akan memilih mereka dengan tenang.

Seharusnya kau yang jadi pengurusnya, 'kan?

Σχόλια

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left