Οι πρώτες 176 γραμμές.
DIADAPTASI DARI CERITA PENDEK FILOSOFI KOPI KARYA DEE LESTARI
- Ga. - Ya?
Beri tahu Ben, panggang empat kilo saja hari ini.
Siap.
TUTUP
BUKA
Silakan.
- Flores tubruk. - Wah.
Apa filosofinya?
Kopi tubruk itu kopi yang lugu.
Kopi yang sederhana.
Tapi kalau kita mengenalnya lebih dalam, dia akan sangat memikat.
Lihat.
Bisa dilihat.
Kopi tubruk itu sama sekali tidak memedulikan penampilan.
Membuatnya pun mudah, hanya diseduh.
Tapi tunggu sampai kau mencium aromanya.
Keren.
Kopi tubruk.
Baiklah.
Kalau cappuccino artinya apa?
Mbak Ayu Ting-Ting menanyakan cappuccino terus.
- Karena enak. - Cappuccino itu kopi yang genit.
Ketebalan dan tekstur foam harus pas.
Butuh standar penampilan yang tinggi.
Cappuccino harus terlihat seindah mungkin.
Karena cappuccino
adalah kopi yang cocok untuk orang yang suka keindahan
sekaligus kelembutan.
Cappuccino.
Ya.
Kacau kau.
Espreso satu.
- Espreso double shot . - Baik, sebentar.
Halo?
Ya, maaf. Tadi--
Memang macet sekali.
Ya... Indah? Halo?
- Jod? - Ya, Ci?
Bagaimana, Ci?
Lelah.
Mengurusmu lelah, tahu?
Ini tak laku.
Sertifikat toko kelontongmu itu.
Sudah lelah aku bicara sampai berbusa ke hampir sejuta orang, Jod.
- Tak ada yang mau. - Masa tak ada yang mau, Ci?
Kemarin ada bapaknya temanku.
Itu pun aku sudah bicara berjam-jam
dan sepertinya dia kasihan melihatku.
Dia hanya mau berikan 400 juta,
itu pun pakai bunga empat persen sebulan.
Bukankah itu gila? Itu namanya rentenir.
Kau tak mau, bukan?
Beri tahu mereka, 700 juta.
Mereka tak mau, Jod.
Sudah kujelaskan panjang sekali sampai mengarang bebas.
Segala macam kusebutkan.
Sudah tak ada yang mau menerima penggadaian properti seperti ini.
Kau keras kepala.
Sudah kubilang jual saja. Kenapa tak dijual?
Urusannya selesai kalau kau jual.
Kalau dijual paling hanya laku berapa, Ci?
- Satu miliar. - Ya bagus, satu miliar.
Sudah bagus laku satu miliar.
Setelah bayar utang hanya sisa 200 juta.
Lalu untuk apa?
- Ya-- - Buka Filosofi Kopi lagi tak bisa.
Buka usaha apa? Bakmi babi?
Buat bakmi pun aku tak bisa.
Tabunglah 200 juta itu. Atau pakai untuk jalan-jalan.
Kau tak perlu harus usaha, tak harus dagang.
Bekerjalah untuk orang sesekali.
Menyedihkan sekali.
Bapakku utangnya lebih besar daripada toko kelontongnya.
Hei, hati-hati membicarakan bapakmu.
Kau tahu kenapa bapakmu bisa punya utang sebanyak itu?
Untuk membelamu, menghidupimu.
Kau pikir sekolahmu murah, ya?
Enak saja bicara, tak tahu terima kasih. Menyebalkan.
Sudah, bekerja dengan orang saja.
Bukankah kau lulusan luar negeri?
Jadi profesional pasti cepat dapat pekerjaan zaman sekarang.
Aku bisa saja bekerja dengan orang, Ci.
Tapi nanti Ben bagaimana? Kasihan, bukan?
Sudah kuduga.
Pasti ujung-ujungnya Ben lagi.
Siapa yang mau bekerja dengan orang seperti itu?
Hore!
Agar bisa main kembang api. Hore.
- Jody! - Hei, Bang.
Aku senang melihat kau.
Kenapa kau seolah tak senang melihatku?
- Masuklah, Bang. - Ayo masuk.
Kita mengobrol dahulu. Nanti saja, jangan buka dahulu.
Ayo, Bang. Silakan duduk.
Pukul berapa kalian buka?
- Pukul berapa? - Pukul 09.00, Bang.
- Silakan duduk. - Kenapa tak buka 24 jam?
Biar banyak anak muda berkumpul.
Sekaligus menjual sosis.
- Sekarang banyak yang suka sosis, bukan? - Ya.
- Bukankah mubazir lampu menyala terus? -
Tapi AC belum menyala. Panas.
- Lalu bagaimana, Bang? - Ya, bagaimana ini?
Sudah tiga bulan belum ada setoran, bukan?
- Ya, Bang. Aku-- - Biasanya bisa setor setengah.
Ini sama sekali tak ada.
Mau bagaimana? Aku juga tak kerja sendiri, ada bos.
- Ya. - Aku mau bilang apa pada bos?
Kalau kau tak bantu aku, aku juga tak bisa membantumu.
Kalau aku tak bisa membantumu, matilah kita.
Ya, Bang. Aku juga bingung. Harga kopi sedang tinggi sekarang.
Ya, bukankah sudah kusarankan menjual sosis?
Abang mau minum apa? Mau espreso? Cafe latte ?
- Atau cappuccino? - Apa saja boleh.
- Kubuatkan, Bang. - Ya.
Tempatmu ini besar, ya.
Kenapa sebagian tak kau jaga saja
sebagai toko kelontong seperti dahulu?
Kurasa lebih menghasilkan.
Bukan begitu, Ben?
Jody, Bang.
Jody.
Ben ke mana?
Sebentar lagi datang.
Kau bisa?
Bisa. Sebentar, Bang.
Kenapa lama sekali?
Ini, Bang.
- Apa ini? - Mau pakai gula, Bang?
Mana ada espreso pakai gula?
Kau kira aku bodoh?
Wajahku agak bodoh, tapi otakku tidak.
- Apa ini? - Espreso.
- Kau yakin? - Ya. Double shot , Bang.
Apa ini? Aduh.
Tak enak, Bang?
Bukan tak enak, tak bisa diminum.
Yang seperti ini kau jual?
Mana ada yang mau beli?
Ya, bukan? Kalau tak bisa jual kopi,
jual sesuatu yang bisa kau kuasai.
- Ya? Kutunggu, ya. - Ya, Bang.
Bulan depan, ya.
Di sini pun tak ada AC. Bagaimana ini?
Kalau tak ada setoran, terpaksa berkas ini kubawa ke pengadilan.
Kita tak berjumpa di sini, tapi di kantor polisi.
Bagaimana? Ya?
Bulan depan, Bang. Janji.
Tak perlu janji. Hubungi saja kalau sudah ada.
Tak perlu menunggu bulan depan. Ya?
Kopinya buat lagi yang lebih enak.
- Ya, Jody? - Ya, Bang.
Wah, Bang.
Selamat pagi, Bang. Ayo minum kopi.
Kalian banyak gaya, tapi kopi kalian tak enak.
- Jod. - Ya?
Kau memberinya kopi apa sampai dia bilang tak enak?
Mungkin kopi jagung.
Jagung?
Jod!
Pantas saja dia bilang tak enak.
Cappuccino.
- -
- - Pesan apa, Mas?
Biasa? Baiklah. Kau juga?
- Aku juga. - Baiklah.
Kue wortel, brownies keju,
- - dan kue almon.
- Sangat tampan, bukan? - Sangat. Tampan sekali.
- Sumpah, aku tak bosan datang. - Cappuccino dan Americano.
- Pacarku. - Pacarku.
- Aku! - Baiklah.
Almon satu, kep satu, M satu, AM satu.
Almon satu, kep satu, M satu. AM satu?
AM satu itu apa, Jod?
No comments yet. Be the first to leave one.