Οι πρώτες 200 γραμμές.
Matahari bersinar terang
seolah tersenyum senang
Walau panas menyengat
aku tetap gembira
Daun-daun bergerak riang
seolah merasa senang
Semua ikut berdendang
sambut hari yang datang
Permisi. Woo!
- Untuk 323. - Iya, silakan.
Selamat pagi
selamat bekerja
bersiaplah nikmati hari
Jangan lengah saat melangkah
jadilah yang terbaik
Jantung kota berdetak kencang
seolah siap menantang
Cepat berlari berkejaran
raih peluang dan kesempatan
Treatment-nya masih sama, kan?
Senin pagi, segar banget.
Weekend punya date baru?
Mana ada waktu buat nge-date, Aryo? Pekerjaan banyak.
Sher.
Betapa bahagianya
akan kuraih, betapa senangnya
Betapa bahagianya
t'lah kukejar sampai ujung dunia
Sher, masuk dulu. Cewek gue kalau nggak ditelepon balik, bahaya.
Aduh, kalau pacaran ribet banget sih.
Pokoknya pastikan jangan sampai telat nanti pukul 14:00.
Kita bahas materi Davos buat kita presentasikan ke Pak Ilyas.
Oke? Oke.
Pukul 14:00 pas. Oke.
Aryo, ingat.
- World... - Economic Forum!
Buat gue, yang penting kita ke Swiss!
Yes!
Mau ikut ke Swiss?
Mari kami antar ke studio.
- Siapa mereka? - Tidak tahu.
Eh, kunyuk.
Setiap manusia pasti punya mimpi mulia
tak mau hidup sia-sia
ingin yang terbaik untuknya
Setiap manusia pasti pernah bersedia
demi temukan bahagia, 'kan seberangi samudera ria
Di atas langit masih ada lagi langit lebih tinggi
Sesaat lagi
Hoo, 'kan datang hari
hari kupeluk dunia
Betapa bahagianya
Betapa bahagianya
akan kuraih, betapa senangnya
Betapa bahagianya
t'lah kukejar sampai ujung dunia
'Kan datang hari kupeluk dunia
Davos!
- Selamat! - Selamat, Sherina.
- Terima kasih ya. - Sukses di Davos!
- Terima kasih atas kepercayaan Bapak. - Sama-sama, Herman.
Cuma Sherina bagaimana, Pak?
Saya yakin dia nggak masalah.
Nggak masalah apa, Pak?
- Hai, Herman. - Hei, Sher.
Ini saya siapkan dulu semuanya, nanti saya kirim ke Bapak.
Thank you, Man.
- Mari, Pak. - Ya.
Sher.
Duduk, Sher.
Ada apa ini, Pak?
Ada perubahan penugasan.
Yang akan bertugas ke Davos untuk meliput World Economic Forum, itu timnya Herman.
Sementara kamu,
akan melakukan peliputan eksklusif di Kalimantan.
Tunggu, tunggu sebentar, Pak. Saya...
agak nggak mengerti.
Sudah berbulan-bulan saya melakukan riset,
dan semua persiapan untuk ke Davos.
Wait.
Tugas ke Kalimantan ini pas buat kamu.
Pelepasliaran orangutan.
Pelepasliaran orangutan?
Ya, peristiwa langka.
Pengetahuan kamu yang luas tentang isu-isu lingkungan hidup
akan menjadikan liputan ini istimewa.
Bapak meminta saya untuk meliput Kalimantan
atau pemilik stasiun televisi ini
yang meminta Bapak untuk mengirim Herman, keponakannya, yang meliput Davos?
Herman saya putuskan ke Davos bukan karena itu.
Dia juga reporter yang bagus.
Tapi tidak sebagus saya, Pak.
Kenapa nggak dia yang dikirim ke Kalimantan?
Sudah, ini sudah saya putuskan.
Kenapa itu anak?
Ayah tanya sana.
Tanya.
- Jangan Ayah, kamu saja. - Nggak apa-apa, Ayah saja.
Sudah, kamu saja sana.
Hei, senyum dong.
Sekalinya datang, kusut banget.
Putus cinta lagi?
Putus cinta? Pacarannya kapan?
Ya, siapa tahu?
Kayaknya kamu harus ambil cuti, liburan.
Benar Sherina, berbahaya
kalau kita terlalu mengotot untuk mengejar ambisi.
Ayah,
yang bahaya itu punya atasan yang nggak becus dan nggak punya integritas,
dong!
Wah.
Berat nih, kayaknya.
Ah, untung Ayah sudah pensiun.
Nggak punya anak buah lagi.
Ih, seram.
Kalau Ayah punya anak buah kayak kamu, Sher...
Seram!
Ini soal Davos, ya?
Jadi, Pak Ilyas tiba-tiba memutuskan Herman dan timnya yang berangkat ke Davos.
Sementara aku, dikirim ke...
Hutan Kalimantan.
Ini nggak fair banget.
Sudah deh, Bu. Aku mau resign saja.
Sher...
Janganlah sedih
janganlah resah
Jangan terlalu cepat berprasangka
Ibu, kalau mau menasehati nggak usah pakai lagu itu.
Memang apa salahnya sih Sher, dikirim ke Kalimantan?
Jelas beda dong gengsinya, Bu.
Tapi, siapa tahu Pak Ilyas benar.
Setiap orang yang kenal kamu tahu banget kok kamu kayak bagaimana.
Kamu cerdas, dan selalu mengejar yang terbaik.
Tapi...?
Kamu tahu kok, apa "tapi"-nya.
- Abu. - Iya, Pak.
Tolong kamu potong pisang ini, bagikan ke tetangga.
- Baik, Pak. - Ini sudah matang.
Akhirnya, kita sampai di Swiss.
Bapak sudah pernah ke Swiss?
Hah, belum?
Saya hampir Pak,
tapi manusia hanya bisa berencana.
Jadinya bagaimana? Tidak tahulah.
- Terima kasih, Pak. - Terima kasih.
Selamat datang, Mbak Sherina.
Terima kasih, Pak.
Mari, Mbak, Mas.
Silakan duduk dulu di dalam.
Program Manager kami menuju kemari.
Oke, terima kasih.
SINDAI, PELAJAR SD, MENYELAMATKAN ORANGUTAN DAN BAYINYA DARI KEBAKARAN HUTAN
- Silakan. - Terima kasih, Bu.
Sherina!
Sherina!
Apa?
Kesukaan lu nih.
Pak.
Oh my God.
Nih.
Hah?
Yayang?!
Apa kabar, Sher?
Baik, baik! Kok bisa bertemu kamu di sini?
Program Manager OUKAL itu kamu?
Sherina M. Darmawan.
Tunggu.
Kamu sudah tahu aku yang bakal datang?
Iya, tahu dong.
Kami harus tahu siapa yang mau datang ke sini,
dan kami harus cek hasil lab
untuk memastikan kalau mereka itu sehat dan aman untuk berdekatan dengan orangutan.
Ini?
Itu...
Itu khusus aku belikan buat menyambut sang jurnalis kondang.
Bibir.
Maaf, maaf.
Kebiasaan lama.
Ada orang... di sini.
Eh, kenalkan. Ini Aryo.
Cameraman.
- Aryo. - Sadam.
- Namanya seram. - Apa sih?
- Siapa? - Jadi, Aryo...
Sadam ini teman aku. Satu sekolah di Bandung, dari SD sampai SMP.
Bahkan pas SMA kami pindah bareng ke Jakarta.
Sebagai Program Manager OUKAL saya mengucapkan
yang sengaja kami undang untuk menyaksikan dan melakukan peliputan
pelepasliaran beberapa orangutan besok pagi.
Sebentar, sebentar. Man?
Tolong panggilkan Indra, Jansen, dan Budi.
Saya mau perkenalkan ke tamu kita.
Cie, cie. Reuni, nih.
Sher.
Ini Budi, ini Jansen.
Indra mana?
Maaf, Bang.
Nah, ini Indra.
Jadi, ini teman-teman teknisi
yang besok akan mengoordinasi kegiatan pelepasliaran.
No comments yet. Be the first to leave one.