Οι πρώτες 199 γραμμές.
Republik Korea! Republik Korea!
Jeong Rok, yang mengira bahwa orange adalah yang terbaik dari apapun,
di bulan Juni saat orang-orang demam World Cup,
dia memasuki liang kehidupan, pernikahan, pertama.
Silakan beli kebutuhan untuk pernikahan Republik Korea. Belilah kebutuhan pernikahan Republik Korea.
Silakan beli kebutuhan untuk pernikahan Republik Korea.
Silakan beli kebutuhan untuk pernikahan Republik Korea.
Apa yang sedang dilakukan para teman mempelai wanita?
Kenapa nggak ada 1 pun yang keluar?
Saat belanja grup menjadi tren, akankah ada yang keluar untuk memberi makan kami?
Saat kalian menikah, belilah kebutuhan pernikahan lewat program grup. Ok, kita coba lagi.
1...2....3
Silakan beli kebutuhan untuk pernikahan Republik Korea.
Berapa banyak lagi gedung yang dimiliki tunangannya?
Susah menghitungnya 1 per 1, jadi dia menghitung berdasarkan blok.
Perusahaan kita nggak akan bangkrut kalau biaya sewanya lebih sedikit.
Kamu perlu membuka kantor hukum, juga.
Aku perlu memulainya.
Senang bertemu kalian, Tuan-tuan. Sangat tampan.
Kita nggak perlu membuang tenaga dan langsung masuk saja, ok?
Kami sudah menyiapkan alkohol.
Kami harus bagaimana? Menyanyi?
Jangan memakai sebutan kehormatan.
Kita harus menyanyi.
Apa yang kau lakukan? Mereka sedang menunggu.
Oh, apakah tempo sedang nggak masalah?
Aku suka tempo sedang.
Aku hanya akan mengirimkan cinta manis ini untukmu.
Meskipun kita nggak akan masuk buku Guinness World Records,
kita berkeras menyodorkan dada ini secepat mungkin sambil menumpahkan antusiasme dan
membantu Jeong Rok masuk ke peti matinya.
Sayangnya, sejarah itu berlanjut ke gedung pernikahan.
Kita akan mengambil gambar.
Sayang, kamu bisa menambah keriput di sekitar mulutmu.
Senyum.
Itu merupakan pernikahan yang nggak patut dicontoh di mana teman mempelai pria lebih muda dan menarik dibanding teman mempelai wanita.
Saat itu begitu dan sekarang pun juga begitu.
Kecuali bagi kedua orang yang menikah, pernikahan Jeong Rok
merupakan berkah bagi siapapun.
Aku akan mengambil gambarnya sekarang. 1...2...3!
A Gentleman`s Dignity
Episode 7
Rasanya sangat nyata.
Karena rasanya terlalu jelas,
seolah aku masih belum
terjaga.
Kalau itu masalahnya,
kita lakukan ini saja.
Pria jahat.
Apa yang dia lakukan pada hidupku?
Apa aku sangat terlambat mendorongnya?
Bagaimana kalau dia pikir aku menikmatinya?
Aku bisa gila.
Ok, nggak masalah. Karena aku nggak membuka mulut, jadi nggak masalah.
Ke mana CD-ku yang bergambar kucing?
Apa aku belum mencucinya?
Ciuman macam apa, nggak ada pembukanya?
Si bajingan jahat. Dia ciuman terus menerus setiap bulan. Seperti menyimpan uang di bank.
Bagaimanapun juga nggak ada bedanya memakai bibir ataukah nggak.
Ya ampun si kecil ini. Kau selalu lebih dulu kehilangan berat dada.
18 April.
Rabu.
Apa yang kau lakukan?
Aku membuat sarapan. Cuci tanganmu. Aku selesai membuat jigae.
Kamu tahu jam berapa aku pulang?
Kita datang bersama.
Di mana kita bertemu?
Di kafe milik Jeong Rok.
Apa aku mabuk?
Kamu nggak terlalu mabuk.
Apa kamu...
Ya. Untuk pertama kalinya dalam 1,5 tahun.
Apa ada yang terjadi kemarin?
Lebih tepatnya sesuatu terjadi pada Tae San.
Tae San?
Nggak ada masalah dalam hubungan pribadinya?
Kemarin mereka bilang Tae San memeluk guru Seo.
Tae San memeluk guru Seo? Kenapa?
Kamu juga melihatnya. Kamu saksinya.
Aku melihatnya dan Im Tae San tanpa dosa?
Dengarkan dulu rekamannya.
Rekamannya nggak ada.
Apa yang kupakai kemarin?
Kamu cuma memakai baju putih saat di kafe Jeong Rok kemarin.
Temuilah Tae San dulu.
Pulau Kwoljoo sepertinya sangat jauh.
Karena itu merupakan simbol dari semua resort.
Ide itu muncul dari pembuatan sinar LED sebagai ganti lapangan helikopter
menjadi pemandangan kota yang berwarna dan terkenal.
Kamu benar-benar nggak tahu bahwa Yi Soo menyukaimu, Tae San?
...seperti kabut...
pria "20 detik" nya Yi Soo adalah kamu, Im Tae San. Dan masih kamu.
...kelihatannya, dan di malam hari pulau itu kelihatan bergerak.
Maaf, tapi bisakah kita meeting lagi setelah kerja?
Ayo bicara sebentar.
Maaf. Aku nggak bisa konsentrasi.
Aku juga.
Kemarin, apa aku...
Tunggu, biar aku yang bicara dulu.
Apa aku perlu minta maaf?
Aku yakin aku bersalah pada Yi Soo, tapi
aku nggak yakin aku salah padamu.
Sebenarnya hubungan seperti apa antara kamu dan Yi Soo?
Menurutmu, bagaimana reaksiku kemarin?
Aku serius menanyakannya padamu.
Aku menanyakan apa yang terjadi kemarin.
Kenapa kamu memeluk guru Seo? Apa yang terjadi setelahnya?
Ini komedi atau tragedi?
Apa maksudmu?
Mungkin, apa kau...
Ya, kurasa sedang kambuh.
Kamu nggak mendengarkan rekamannya?
Rekamannya nggak ada.
Jas yang kupakai kemarin pun nggak ada.
Yi Soo kemarin memakainya.
Jasku?
Pergilah ke RS dulu.
Setelah kutemukan rekamannya.
Oh, apa kamu melihat kotak sepatu di kamarku?
Aku ingat membelinya dan membawanya ke kantor, tapi
nggak ada di kantor.
Sepatunya sangat indah...
Yi Soo juga punya sepatunya.
Kenapa aku memberinya begitu banyak barang?
Hal baik apa yang sudah dilakukannya?
Manajer.
Betty sudah tiba?
Ya.
Mereka sudah mencucinya. Mereka bilang mobilnya di garasi.
Terima kasih.
Aku tinggalkan siklus menstruasiku sekarang.
Bukankah kamu tertawa di Pororo? Di hari lampau, Man!
Anda ke sini bukan untuk membalas dendam, khan?
Nggak untuk hari ini.
Ada yang lebih penting.
Kalau memang nggak, syukurlah.
Ini mobil anda?
Aku nggak tahu bagaimana denganku, tapi kalau kau menyentuhnya, nggak akan berakhir dengan penyelesaian.
Jadi, anda istrinya?
Tapi, ngomong-ngomong,
Tapi, ngomong-ngomong,
anda punya uang?
Kamu nggak ingin melanjutkan?
Bukankah mestinya kamu lulus dulu?
Hei, Kim Dong Hyub!
Santailah. Aku cuma bercanda.
Ayo.
Selamat tinggal.
Dia seperti bagian dari seni. Siapa pria itu?
Apa dia sedang menunggu seseorang?
Ya Tuhan, Anda ya, guru Seo?
Siapa dia? Anda punya pacar?
Aku pergi duluan.
Indonesian subtitle by Dhyvhyaretha_SmartCuteNerd HAPPY WATCHING
Apa yang kau lakukan di sini?
Bukankah aku memintamu mengangkat telefon dariku?
Kenapa nggak mengangkatnya?
Aku nggak mengangkat telefon saat di sekolah.
Alasan.
Apa kamu ada janji?
Nggak.
Kalau begitu, masuklah.
Kau lihat dia menutup pintu untuknya?
Ya ampun! Dengan ketinggian dan penampilan seperti itu...
Dan bahkan dia punya tata krama!
Huh, kenapa dia nggak bicara sama sekali??
Kita mau ke mana?
Ke rumah.
Kenapa ke rumah?
Kenapa kamu selalu melakukan apapun semaumu tanpa minta pendapatku?
Kau bilang nggak ada janji.
Kamu perlu berhenti di suatu tempat?
Sekarang... di rumahku?
Ya.
Kudengar kamu membawa jasku.
Lalu... kamu datang mengambilnya?
Sebenarnya apa yang kau pikirkan?
Apa kali ini kamu mencuri jasku?
Apa maksudmu?
Sepertinya kau mengira ini adalah kencan. Kita lanjutkan saja lain waktu.
Hari ini, aku nggak bisa karena berbagai alasan.
Maksudku bukan begitu.
Nggak adakah...
yang perlu kau sampaikan padaku?
Apa aku harus mengatakan sesuatu dalam kondisi seperti ini?
Sebentar.
Ya, lanjutkan.
Nggak, aku keluar.
Sampaikan pada Pimpinan Choi bahwa aku sudah membereskannya. Kalian perlu mengganti sudut salurannya.
Terima kasih.
Apa terasa hangat?
Jadi rasanya hangat. Kalau begitu, aku pergi sekarang.
Haruskah aku juga..
bersikap acuh?
Sepertimu, haruskah aku bersikap seolah nggak ada yang terjadi?
Itukah yang harus kulakukan?
Apa terjadi sesuatu antara kita berdua kemarin?
Aku salah duga.
Aku nggak menduga kamu akan bersikap begini. Jadi harusnya aku bersikap acuh dan berkata,
No comments yet. Be the first to leave one.