Οι πρώτες 200 γραμμές.
MUMBAI, OKTOBER 2016
Hai.
Hei, sudah pulang sekolah?
Dinesh!
Kau membuang daun the di bak cuci piring?
Ibumu tak pernah mengajarimu?
Penjaga!
Panggil tukang leding. Pipanya bocor!
Sushant!
Ayah!
Aku sudah mengalihkan salurannya.
Semua sampah akan masuk ke sini.
Mengerti?
Pipa ini harus diganti.
- Sushant! - Ayah!
Kemarilah.
Dasar pemalas.
Ada apa?
Ayo main karambol.
Baik. Mulai saja duluan.
Kau takkan cetak angka.
Turun saja dulu.
Gantung ini.
Satu...
Dua...
Tiga.
BANK KOPERASI MUMBAI SELATAN
PT BANK
REDDY
Nyonya, ponselmu berdering.
Itulah masalah orang India.
Kami tidak mempercayai mesin.
Mesinnya sudah dua kali bilang, 40.000 rupe.
Tapi, tidak...
Kami harus menghitungnya lagi.
Mesin memeriksanya dua kali. Aku memeriksa untuk ketiga kalinya.
Kuharap kau percaya.
Kenapa kentangnya sangat besar? Stok yang lebih kecil.
Tidak ada cacingnya, 'kan?
Mereka tak izin sebelum masuk ke sana.
REDDY
- Apa kabar, Sarita? - Baik.
- Pulang kerja? - Ya. Kenapa?
Aku pergi bekerja hari ini.
Senang menjadi produktif, 'kan?
Dinesh juga bekerja sangat keras.
Senang bisa sibuk.
Guru kita bilang, "Bekerja berarti hidup."
Bagus bisa mengejar ketinggalan.
Aku mengerti. Aku tak bilang takkan melakukannya.
Tapi dengarkan aku...
Aku sudah memesan katering untuk 200 orang.
Ya?
Tidak, tapi...
Tapi...
Tidak...
Apa harus kunegosiasi ulang seluruh kesepakatan itu?
Ya, tepat sekali.
Kutelepon lagi dalam setengah jam.
Tidak, aku pasti akan melakukannya.
Aku permisi.
Beri aku waktu sebentar!
Wanita ini sudah mengomeliku selama satu jam.
Katakan padaku.
Dia menambahkan kolega pengantin pria ke dalam daftar.
Semua orang memanfaatkan kebaikanku.
Daftar tamu terus bertambah,
seperti semut yang muncul dari dinding.
Kau juga tak membuatnya menjadi lebih mudah.
Aku memberitahumu berhari-hari lalu!
Lihat plafonku...
Tampak sangat jelek.
Aku di depan pintumu sedari siang.
Tapi tidur siang Sushant lebih pulas dari tidur malam kita!
Tak ada ketukan pintu yang mampu membangunkannya!
Aku tak punya waktu untuk selesaikan semua masalah!
Ada pernikahan.
Ada tamu di rumah.
Ini membuatku tampak buruk.
Bukankah itu rumahmu juga?
Perbaiki bak cuci piringmu segera.
- Ini, hubungi tukang ledingku. - Tidak...
- Tukang leding... - Akan kuperbaiki besok.
- Kau berjanji? - Ya.
Bersumpah demi hidupku!
Percayalah, akan kuperbaiki besok.
Aku akan mati jika tidak!
- Apa maksudmu? - Kau sudah berjanji berhari-hari.
- Aku perbaiki. - Baiklah.
Jika bergantung pada Sushant, aku tenggelam.
Jangan merengek. Cukup. Pergilah.
Kau beli bayam hari ini?
Mengapa pintunya terbuka?
Dibuka ayah. Empat.
Hei, Sayang.
Hei, Sayang.
Jangan panggil begitu.
Sudah berapa lama airnya bocor?
Apa ayah melihatnya?
Sudah dari sebelum aku pulang sekolah.
Ayah melihatnya, tapi dia abaikan,
dan melemparkan handuk ke arahku.
Dia biarkan lampu kamar mandi menyala.
Sameer, mengapa potongan permainan papan bertebaran?
Potongan Jed ada di tempat tidur. Nilainya 10 poin!
Ibu, Zed.
Ibu tahu.
Mengapa bidak catur ada di kotak pensil?
Lalu, rautan pensil di atas tempat sampah.
seperti tempat sampah.
- Waktunya makan malam. - Itu yang terakhir!
Kau buang tagihannya?
Ayah tumpahkan teh pada dirinya sendiri.
Pakai tagihan sebagai lap dan membuangnya.
Kawan, kita butuh tujuh poin. Mari kita selesaikan.
Jangan mengejar Ratu untuk poin tambahan.
Dia tahu yang harus dilakukan. Jangan mengguruinya.
Apa masalahmu? Dia ada di timku.
Beberapa orang butuh tuntunan seumur hidupnya, Bibi.
Bukan begitu, Bibi?
Apa maksudmu?
- Kenapa kau bermain amat lambat? - Apa yang lucu?
Jawab aku, Dinesh.
Giliranmu.
- Bermainlah. - Bicaralah!
Tentang apa?
Aku memperhatikan hinaanmu berhari-hari.
Apa masalahnya?
Menurutmu, kau segalanya?
Begitukah?
Kita partner, bukan?
Lantas?
Siapa yang melakukan segalanya?
Aku yang berusaha.
- Aku cari klien. - Benar?
Membuat kesepakatan, menindak lanjuti. Lalu, kau?
Bajingan, aku membawa 19 dari 25 klien.
Kau sudah lupa?
Mantan kolegaku, kontakku di Uber, kontak perdagangan sahamku.
Kau nyaris tak bisa menanganinya.
Karena aku punya satu pekerjaan stabil selama beberapa tahun terakhir.
Tak sepertimu, aku tak kehilangan pekerjaan setiap beberapa bulan.
Jika pekerjaanmu hebat, kenapa bisnis denganku?
Main saja!
Cukup. Mari main.
Anju harusnya memberi dia telinga, Bibi.
- Dia melampiaskan padaku. - Ayo.
Persetan dengan permainan. Ayo pergi.
Tunggu. Kenapa dia membawa-bawa Anju?
- Lantas? - Apa kubawa-bawa istrimu?
- Hati-hati, Dinesh. - Maaf aku lupa.
Dialah istrinya.
Sarita kepala rumah tangganya.
- Kau pikir kau lucu? - Itu fakta...
Kau pikir kau lucu?
Jangan sentuh aku.
- Maka, hentikan aku! - Kau...
Hentikan aku!
Kau keterlaluan, Sushant.
- Kau istrinya. - Keterlaluan.
- Kau kelewatan. - Kenapa sembunyi saat dia pulang?
Bajingan!
Ayah!
- Ayah! - Apa?
Ada apa?
Ibu memanggilmu.
Aku akan ke sana.
Pergilah.
Pergi.
Ini bukan apa-apa.
Pergilah.
Pergilah.
Pergi! Suamimu sudah pulang.
Diam!
- Kau sudah gila? - Ya!
Ayah!
Sudah kubilang, pulang pukul 21.00.
Makanannya dingin.
Itu sebabnya ada kompor.
Jadilah seperti Modi.
Ya, kau benar. Makan jamur dan...
Reddy meneleponku seharian.
...rahasia kesehatan dan kelincahan Modi yang baik.
Kenapa?
Kapan kau akan bayar?
Dari mana kau tahu?
Temanmu hanya meneleponku saat kau berutang uang.
Itu bukan utang.
Hanya sedikit. Akan kukembalikan.
Komisimu dari Dinesh?
Makan jamur seperti Modi.
Ayolah, Sarita.
Ini kentang ketiga minggu ini.
Makan jamur, seperti Modi.
Apa tak ada sayuran lain?
Atau keju, mungkin?
Kentang untuk pemalas.
Usaha, dan dapat lebih.
Seperti kentang.
Hadirin, peserta kami selanjutnya
No comments yet. Be the first to leave one.