Οι πρώτες 187 γραμμές.
CERITA ORISINAL OLEH KANEHITO YAMADA / TSUKASA ABE
DUA PULUH DELAPAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
SELAT GRANZ DI KONTINEN PUSAT
Tempat ini selalu menjadi
area berbahaya untuk diarungi kapal.
Segala sesuatu sering terdampar di sini.
Dahulu, seluruh warga desa biasanya
berkumpul untuk membersihkannya, tapi...
Karena kau kehabisan orang, ini jadi terbengkalai?
Dahulu, pantai ini indah
dan airnya jernih sekali.
Aku tahu.
Bisakah ini dijadikan bayaran untukmu?
Buku Flamme the Great Mage?
Nona Frieren...
Ini satu-satunya grimoire di desa ini?
Ya.
Baiklah.
Sepakat. Akan kubersihkan.
Itu grimoire palsu, 'kan?
Rupanya kau sudah belajar seperti yang kuminta.
Bagus, Fern.
Semua buku oleh Flamme itu palsu.
Ini pun buku palsu yang isinya tak jelas.
Lantas kenapa kau menerimanya?
Karena ada orang-orang yang butuh pertolongan.
Aku ragu kau ingin berbaik hati saja.
Kau benar. Ini demi diriku sendiri.
Sepertinya kita akan lama menetap di sini.
Seperti biasanya, terima kasih, Fern.
Kutambahkan satu, gratis.
Terima kasih.
Sudah tiga bulan di sini, ya?
- Kau sudah terbiasa dengan desa ini? - Sudah.
Pantainya sangat dingin pada musim ini.
Jadi, hati-hati, ya.
Sudah musim dingin saja.
Wah, dia masih tertidur.
Berantakan sekali.
Padahal baru kubersihkan kemarin.
Nona Frieren, sudah pagi. Ayo bangun.
Ayo bersihkan pantai.
Dingin sekali.
Tadi aku berpikir...
Apa?
Nona Frieren, apakah kau
tipe orang yang pemalas?
Tiap pagi, aku membangunkanmu,
menyuapimu, dan memakaikan pakaian untukmu.
Aku seperti ibumu saja.
Padahal aku bisa melakukannya sendiri.
Tapi kalau dibiarkan, kau pasti akan tertidur sampai sore.
Ya.
Terserah saja. Aku sudah menyerah.
Maaf.
Dahulu, bagaimana kau menjelajah sebagai anggota Grup Pahlawan?
Pasti tak ada yang mengurusmu, 'kan?
Aku selalu bangun kesiangan.
Memangnya mereka tak marah padamu?
Pernah, tapi cuma sekali.
Cuma sekali?
Mereka pasti baik sekali.
Mereka amat toleran.
Tapi terkadang, Heiter suka berdecak.
Maaf.
- Hei... - Aku tak menyalahkanmu.
Menurutku, mereka cukup jengkel.
Bagaimana bersih-bersihnya?
Kurang lebih tinggal sepertiganya lagi.
Akankah kau menyelesaikannya sebelum perayaan Tahun Baru?
Akan aku usahakan.
Yah, aku sangat berharap
kau bisa menyaksikan matahari terbit kali ini,
Nona Frieren.
Apa kaitan antara membersihkan pantai
dan perayaan Tahun Baru?
Di desa ini, ada tradisi
menyaksikan matahari terbit di Hari Tahun Baru.
Cahaya matahari memantul dari permukaan laut yang jernih,
dan katanya, pemandangannya amat indah.
Jadi, kau tak melihatnya, Nona Frieren?
Menurutmu, aku bisa bangun pagi?
Tidak.
Ayo cepat. Waktu kita tak banyak.
Kualitas airnya juga bagus.
Beruntung, kami menyelesaikannya sehari sebelum Hari-H.
Pemandangannya sungguh berubah drastis.
Untung ada kau, Nona Frieren.
Kau akan ikut merayakan Tahun Baru, 'kan?
Ya.
Sampai jumpa di sana.
Kau sudah gila, Nona Frieren?
Artinya, kau harus bangun sebelum matahari terbit.
Itu mustahil.
Aku akan bergadang. Jadi, tenang saja.
Sebesar itukah keinginanmu menyaksikan matahari terbit?
Jujur, aku sama sekali tak tertarik.
Tapi justru aku jadi mau melihatnya.
Aku tak begitu mengerti.
Ya.
Kenapa kau tak datang ke perayaan Tahun Baru?
Heiter kecewa berat, sampai tak mau bangun dari ranjang.
Kasihan sekali.
Dia terkapar gara-gara kebanyakan minum miras.
Kalian sudah menyaksikannya, lantas apa masalahnya?
Kami mau
kau juga menikmatinya.
Itu cuma matahari terbit.
Apanya yang mau dinikmati?
Tidak, kau pasti menikmatinya kalau datang.
Kenapa?
Karena kau orang yang seperti itu.
Dia tertidur.
Yah, dia tertidur! Bangun, Nona Frieren!
Nanti telat ke perayaan Tahun Baru!
- Ibu... - Aku bukan ibumu!
Kenapa aku harus repot begini?
Terima kasih, Fern.
Jelas, memang indah.
Tapi jadi tak indah kalau harus bangun pagi.
Himmel sama sekali tak mengenalku.
Fern, aku mau tidur lagi...
Nona Frieren, indah sekali.
Menurutmu begitu?
Padahal cuma matahari terbit.
Tapi kelihatannya kau menikmatinya, Nona Frieren.
Itu karena tadi kau tersenyum...
Aku tak mungkin bisa
melihat matahari terbit ini kalau sendirian.
Tentu saja.
Kau jelas tak bisa bangun sendiri.
Ini keluargamu?
Kejadiannya sudah lama.
Desaku diserang oleh sejumlah Demon.
Kau sedang apa?
Berdoa.
Orang kembali menjadi ketiadaan setelah mati.
Mereka pergi ke surga.
Sampai beberapa ribu tahun lalu, banyak yang yakin
bahwa kita akan kembali menjadi ketiadaan.
Dan Dwarf menghargai tradisi.
Tapi aku juga skeptis soal surga.
Dengan level sihir saat ini,
kita tak dapat mengamati jiwa setelah mereka mati.
Jadi, kita tak bisa membuktikan keberadaannya.
Apa pun faktanya, aku tak begitu peduli.
Benar.
Aku tak peduli surga ada atau tidak.
Memangnya Priest boleh bilang begitu? Kau priest gadungan, ya?
Tapi sekalipun surga tak ada,
aku yakin itu harus ada.
Kenapa?
Karena akan lebih menenangkan kalau demikian.
Jika orang sudah berusaha begitu keras untuk hidup,
tapi akhirnya jadi tiada, rasanya mengganjal saja.
Lebih baik percaya
mereka menjalani kehidupan yang mewah di surga.
Aku lebih suka gagasan itu.
Dan tentunya lebih menenangkan.
Aku juga mau berdoa.
Ya.
DUA PULUH DELAPAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
WILAYAH BREDT DI KONTINEN PUSAT
Eisen, aku berkunjung.
Begitukah caramu menyapa orang yang 30 tahun tak kaujumpai?
Itu baru 30 tahun.
Memang.
Tak kusangka kau menerima seorang murid.
Eisen, apakah kau
sedang butuh bantuan?
Frieren, kudengar kau menanyakan
hal yang sama kepada Heiter.
Waktuku belum tiba.
Tahu dari mana?
Karena kami saling mengirim surat.
Kau cukup loyal, meski penampilanmu berkata lain.
Kau saja yang terlalu dingin.
Jadi, apa kau sedang butuh dibantu?
Lembah Voll? Aku jadi bernostalgia.
- Kau pernah kemari? - Pernah, tapi sudah lama.
Dia bilang "sudah lama".
Tepatnya berapa lama?
Zaman primitif?
Aku belum setua itu.
Baiklah, apa yang kaucari?
Kitab Sihir Flamme the Great Mage.
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.