Οι πρώτες 186 γραμμές.
Untuk sementara,
batasi dulu pergerakan kamu.
Sampai situasi normal.
Baik, Pak.
Masuk.
Permisi, Pak.
Di lobi ada polisi, Pak. Nyariin Pak Dipa.
Polisi. Benar dugaan aku. Mereka pasti ke sini.
Oke, nanti saya ke lobi.
Baik, Pak.
Kamu jangan keluar kantor dulu.
Dengan Pak Dipa?
Iya.
Ada urusan apa, ya, mencari saya?
Kami mau menyerahkan surat pemanggilan.
Bapak dimohon hadir besok di Polres Cakrabumi,
terkait kasus pengeboman di kos-kosan
Cemara, Jakarta Timur.
Hubungannya dengan saya apa, ya?
Karena pelaku pengeboman yang udah berhasil kami tangkap,
dia adalah karyawan dari PT Artha Investama.
- Siapa? - Yoga Prasetyo.
Karena itu, Bapak dimohon hadir ke Polres untuk memberikan keterangan sebagai saksi.
Baik. Saya akan datang.
Baik, Pak. Kami tunggu. Kalau gitu, kami permisi.
Selamat siang.
Jihan?
Dia enggak boleh bilang ke Om Novan kalau polisi datang ke sini.
Sayang?
Kamu ada urusan apa sama polisi?
Enggak ada urusan apa-apa.
Cuma ada sedikit masalah gedung.
Enggak penting.
Kamu kok datang ke sini, sih?
Aku baru mau nyamperin kamu.
Aku mau minta maaf sama kamu.
Minta maaf?
Iya, aku sekarang sadar kalau aku emang salah.
Harusnya aku lebih prioritasin kamu.
Aku tau kalau kamu bakalan nyesel.
Maafin aku, ya?
Iya. Aku udah maafin kamu.
Dan omong-omong… Nih, aku bawain kamu makan siang.
Tuh, makanan kesukaan kamu.
Tuh, 'kan? Kamu tuh emang paling perhatian sama aku.
Makasih, ya, Sayang.
Sama-sama.
- Kita makan di ruangan aku, ya? - Yuk.
- Ruangan baru, Mbak? - Iya.
Wih, keren.
Ya, 'kan saya sudah jadi direktur pemasaran. Jadi, ya, ruangannya pindah.
- Berarti boleh dicobain, enggak? - Duduk.
Enak banget duduk.
Mau minum apa?
Hmm?
Mau minum apa?
Apa aja, lah, Mbak.
- Saya buatin dulu, ya. - Teh, kopi boleh. Ha?
Kenapa enggak OB?
Enggak apa-apa. Saya…
pengen buatin kamu minum aja sekali-sekali. 'Kan kamu udah…
selalu nolongin saya. Boleh, 'kan?
- Bentar, ya. - Boleh.
Mbak. Mbak?
Kopi boleh, lah. Teh, bebas.
Jangan manis-manis. Udah manis soalnya saya.
- -
Bercanda, ya.
Iya.
Cocok juga ruangannya sama Davina. Bagus.
Sumpah, gue ngantuk banget.
Begini, lah, semalaman enggak tidur.
Nih, aku beliin banyak, lho, Sayang.
Kamu kok cantik banget, ya, hari ini?
Ih, Sayang, 'kan aku tiap hari cantiknya. Kamu baru sadar?
Udah lama kalau sadarnya, makanya aku pilih kamu.
- Siapa itu, Sayang? - Karyawan baru aku.
- Kita ke ruangan, yuk. - Yuk.
- Udah semuanya, 'kan? - Udah, Bu. Ini kopi dan camilannya.
Ya. Udah. Biar saya aja yang bawa.
Eh, jangan, Bu. Biar saya saja.
Enggak, enggak apa-apa. Udah. Kamu mendingan ngerjain kerjaan yang lain.
Baik, Bu. Kalau gitu, saya permisi, ya.
Makasih, ya.
Semoga Sena suka sama kopi dan camilan yang aku siapin.
Kok lipstik aku agak luntur, ya?
Lipstiknya di tas, lagi.
Ih, apaan, sih? Emang kenapa kalau lipstiknya luntur?
Sena, ini…
Sena.
Ya ampun, dia sampai ketiduran? Kayak bapak-bapak aja.
Nyender dikit, tidur.
Sebenarnya urusan penting apa, sih, yang dia kerjain
sampai dia kecapekan kayak gini?
Ngapain, sih, aku senyum-senyum sendiri?
Sena.
Sena.
Sena.
Dia masih tidur, kasihan kalau dibangunin. Aku kerja aja, deh.
- -
Maaf!
Maaf, saya enggak sengaja.
Enggak apa-apa, Mbak.
Kamu kalau mau tidur lagi…
Ehm, enggak apa-apa. Tidur aja dulu.
Enggak, Mbak. Mata saya udah melek, kok.
- Oke, maaf. - Cuma…
Bisa ngobrolnya sambil duduk, enggak, Mbak? Jangan…
tindihin saya, aduh.
Aduh, Mbak! Punggung saya.
- Aduh. - Sakit, ya?
- Sena? Maaf. Sini, saya bantuin. - Aduh, sakit.
- Sakit banget? - Jangan ditekan, Mbak. Jangan ditekan.
Gara-gara saya? Sakit banget?
Enggak. Bukan. Bukan gara-gara Mbak.
Beneran?
Bukan, ini… gara-gara…
Apa? Kejetit.
- Ininya - Kejetit?
Kejetit, apa? Urat
- Saraf. Ah, itulah, Mbak. - Salah urat?
Iya, kayaknya.
Kok bisa?
Hati-hati, Sena, jangan sampai Davina curiga
kalau sakit di punggung lo ini
karena ngelindungin dia saat penyergapan tadi.
Gendong Reza waktu itu.
Waktu… operasi.
Gede banget, kayak…
gendong kayu jati, Mbak.
Beneran bukan karena saya barusan?
Bukan.
Maaf, saya enggak sengaja, tadi kesandung kaki kamu.
Iya. Enggak apa-apa, Mbak.
- Ini buat kamu. - Iya.
Sekalian ada makanan, siapa tau kamu belum makan.
Makasih.
Oh, iya. Saya ada cerita.
Tadi saya terjebak di lokasi penyergapan.
- Oh, ya? - Iya.
Beneran, tadi kayak di film-film laga gitu, lho, Sena. Kamu tau, enggak?
Semua mobil yang ada di jalanan itu dievakuasi, termasuk mobil saya, 'kan?
Terus, pas kita dievakuasi lagi jalan balik,
saya tiba-tiba keingat, saya lupa bawa tas saya.
Terus, abis itu saya juga mau nyelamatin kucing.
- Kucing? - Iya.
- Nyelamatin kucing? - Iya. Sa…
Saya 'kan… Saya tuh tadi di jalan
sempat nyelamatin kucing. Ada di tengah jalan gitu, saya kasihan.
Ya, saya bawa aja.
Terus, pas banget, ehm, lagi jalan itu,
saya keingat,
"Ya ampun, tas saya sama kucingnya lupa."
Saya pengen nolongin kucingnya juga. Kasihan kalau di dalam mobil.
Itu nyawa, lho.
Kok mentingin kucing?
Ya tapi 'kan kucing juga punya nyawa.
Ya, cuma…
- Cuma apa? - Ya…
Ya 'kan kasihan. Itu 'kan mahluk hidup juga.
Harus diselamatin, dong?
Masa kamu tega? Kalau kucingnya kenapa-kenapa?
Ya.
Gue juga punya nyawa, kali.
- Kenapa? - Enggak, Mbak.
Ya, oke. Ehm, intinya,
pas saya mau ngambil kucing dan tas,
tiba-tiba ada suara tembak-tembakan
kenceng, kenceng, banget, dan saya hampir kena tembak.
Saya hampir kena tembak, Sena. Bayangin.
Dan kamu mau tau, enggak, kelanjutannya?
- Enggak. - Ya udah, enggak apa-apa.
Tapi saya tetap mau cerita. Jadi, kelanjutannya,
kelanjutannya adalah tiba-tiba…
Ya, pas saya ketakutan, ada polisi yang nolongin saya.
Ya? Yang nolongin saya, nutupin saya, pakai badannya gitu,
terus polisinya ketembak, Sena.
Pelurunya kena rompi antipeluru yang dia pakai.
Benar-benar keren banget. Kayak di film-film laga, tau, enggak?
Keren banget.
Beneran keren banget.
- Pemberani. - Iya.
Pahlawan.
Sena, kamu bayangin, ya. Dia nyelamatin saya, lho.
Dia yang selamatin saya.
Pasti ganteng banget polisinya.
No comments yet. Be the first to leave one.