La unuaj 200 linioj.
Setelah melalui berbagai pertimbangan,
berikut adalah keputusan akhirku.
Sesuai perjanjian pranikah,
kalian bisa tetap memiliki apa pun milik kalian sebelum menikah.
Mengenai rumah, yang kalian beli bersama,
aku mengabulkan permintaan kalian.
Bagi rata tempatnya, jika tak mau menjualnya.
Semoga berhasil.
PENGADILAN AGAMA
BIR ANGGUR
ROTI MENTEGA ROTI GULUNG
BUSANA
SABUN SABUN MANDI GEL
Aku cuma mau melihatmu.
Tak boleh lihat mempelai dulu.
Cuma mencuri ciuman singkat.
Mungkin satu... mungkin dua.
Halo, Bu.
Lu. Bagaimana tadi?
Sudah selesai. Tak ada kejutan.
- Kau tak apa-apa? - Ya.
Perlu aku jemput? Aku bisa sampai dalam 30 menit.
Aku tak mau pindah. Kupikir aku sudah jelaskan.
Lu, itu gila.
Bagaimana kau bisa tinggal serumah dengan mantan suamimu?
Separuh rumah itu adalah milikku,
dan aku takkan biarkan dia mengambilnya.
Takkan kubiarkan dia menang.
Tak ada yang menang dalam perceraian.
Itu tempat tinggalku sekarang,
Ibu bisa ke sini atau aku yang ke sana selagi bisa.
Baiklah. Sampai nanti.
Baik, dah.
Jadi?
Sudah resmi.
Kini aku punya fokus dan arah.
Maksudmu kau mau pindah?
Teman...
Aku bilang "arah" bukan "pengusiran".
Aku berpikir untuk mendekor ulang, sebenarnya.
Mungkin dinding merah,
meja pingpong.
Bagaimana kalau pesta syukuran rumah?
Katakan, kenapa kau mau bercerai lagi?
Tony, jual saja rumahnya ke dia.
Aku yang pertama menawarkan untuk membeli rumah itu, kau tahu itu.
Dia kembali dengan tawarannya
dan berani mengutip harga lebih rendah.
Aku suka rumah itu.
Aku yang membuat rumah itu.
Ini rumah impianku.
Maksudmu rumah kalian?
Ya. Jadi akan jadi milik berdua.
Lagi pula, apa lagi yang dia berikan selain sakit hati?
Jadi kau...
menghukumnya karena...
mengakhiri hubungan yang tak kau perjuangkan sungguh-sungguh.
Aku perjuangkan hubungan itu
sejak pertama kali aku menciumnya
dan dia bilang aku berasa seperti ikan haring.
- Ikan haring? - Ya.
- Kau rasanya seperti ikan haring? - Kau gila?
KANTOR HORIZON
Frances, sudah kubilang,
aku tak lapar.
Baiklah.
Kalau minum?
- Satu. - Hore!
Bisa minta satu lagi?
Aku mungkin akan mabuk juga.
Tenang. Aku tak akan beri tahu siapapun.
Lulu, kau akan bertemu Tony lebih sering tiap minggunya
dibanding berapa kali aku mencukur ketiakku setahun?
Astaga, bagaimana aku bisa sampai ke sini?
Kau tahu minggu lalu, aku mestinya bisa bersumpah
aku mendengar dia masturbasi di tengah malam?
Mungkin dia melihatmu telanjang.
Dia sangat kesal.
Apa dia curi pandang?
Kau mendengarkannya juga, Sayang.
Dasar mesum.
Oh. Aku harus pergi!
Siapa itu?
Alarmku bilang Tony satu jam lagi tiba.
- Sejam dari mana? - Rumah.
- Kau pasang alarm untuk itu? - Aku ingin ke sana sebelum dia tiba.
Maksudku, aku tak punya waktu untuk pura-pura menyapa.
Astaga, andaikan aku bisa membuat tangga baru
dari belakang rumah sampai ke lantai atas.
Kau tahu kau bisa membuat ini lebih mudah
dan jauh lebih murah jika kau pergi dari sana?
Dan membiarkannya memiliki rumah impianku? Tidak!
Lulu, itu gila. Bahkan untukmu.
Tak apa-apa, Sayang.
Di sisi lain, kau harus datang sebelum kau juga kucerai.
Pak Quartey! Ke sini sebentar.
Mulai hari ini, aku ingin kau gunakan pintu masuk sebelah sini, ya?
Dan tolong parkir mobilnya agak ke sebelah sini.
Miring seperti ini, di sini.
- Oke? - Ya, Nyonya.
Ini...
Nona Wilson, Pak Quartey.
Dan tolong dicatat banyak hal akan berubah di rumah ini,
dan jangan lupa parkir mobilnya miring seperti ini.
Ya, Nona Wilson.
- Selamat siang, Pak Giamble. - Selamat siang, Pak Quartey.
Kau mau pergi?
Mau memindahkan mobil.
Ke mana?
Ke pintu masuk Nona Wilson, Pak.
Tentu saja.
Bagaimana dengan gerbangnya?
Maaf, Pak?
Apa kalian akan membuat gerbang di bagian rumahmu?
- Saya pikir tak perlu, Pak. - Kau tak tahu pasti.
Semua sudah berubah di sini.
Rumahku istanaku.
Tony!
Tony!
Ada apa?
Maaf, tadinya mau kubersihkan.
Sepuluh menit setelah kau gosok gigi?
Aku capai membersihkan kotoranmu, Tony.
Kau bukan anak lima tahun.
Apa itu perlu?
Jangan bicara pada priamu seolah dia idiot.
Tak akan, jika dia lakukan yang seharusnya dia lakukan,
seperti meletakkan dudukan toilet setelah selesai,
membuang kaleng deodoran yang kosong
setelah habis,
mengganti sabun begitu habis,
atau mencuci busa di dinding setelah selesai mandi.
Bukan main. Aku tinggal bersama ibuku sekarang.
Kau pasti mahir meremehkan lelaki, bukan?
Aku ingin menciummu.
- Maaf, tapi harusnya tak kau lakukan itu. - Cuma ciuman!
Kenapa kau?
Kau tahu aku tak suka melakukannya sebelum gosok gigi di pagi hari.
Banyak sekali yang tak kau lakukan, Nona Sempurna.
Apa maksudmu?
Wanita macam apa kau?
Kebanyakan wanita suka dicium, dipeluk, diajak bercanda, di pagi hari...
- Aku bukan wanita kebanyakan. - Pastinya.
Dulu kau tak masalah dengan itu.
Sekarang iya.
Aku keberatan jika tak bisa mencium istriku setelah kita bangun,
tak bisa memeluknya karena lehernya akan sakit,
tak bisa bercinta dengannya setelah menstruasi karena sakit,
tak bisa ke kamar mandi bersamanya karena dia akan gatal.
Aku keberatan menikah dengan wanita yang tak seperti kebanyakan.
Aku buatkan sesuatu untukmu.
Kenapa repot-repot?
Terima kasih.
Apa kabar?
Tak apa-apa.
Tak taruh ini di dapur dulu?
Ayo kita ke atas, Ibu. Percayalah.
Kau tak boleh di bawah?
Ini tempatku.
Keputusan siapa itu?
Kita berdua.
Kalian bisa sepakat dalam semua hal, kecuali
mempertahankan pernikahan.
Ibu.
Sampai kapan
ini akan berlangsung?
Selama aku tinggal di sini.
Lu?
Ibu, tolong.
Ibu jangan begitu juga.
Aku bukan ibu yang baik jika berpura-pura ini tak masalah.
Maksudku...
semua ibu ingin anaknya bahagia,
menikah dan punya anak...
Mungkin itu bukan nasibku, Ibu.
Sungguh?
Kemarilah.
Kau layak mendapat...
semua kebahagiaan dari hidup ini.
Apa pesta ulang tahunmu boleh diadakan di sini?
Lihat siapa yang keterlaluan.
Apa ini boleh?
Apa, tertawa?
Ini pasti tak mengenakkan,
bahkan untukmu.
Tak apa, Bu.
Percayalah. Ayo, tertawa!
Tertawa!
Ya benar!
Maaf. Aku tak tahu ada orang di sini.
Hanya aku, Tony. Kau tak perlu pergi.
Aku harap aku tak mengganggumu.
Anakku bilang aku harus menggunakan dapur sebelah sini.
Tidak...
Tak apa-apa
Apa kabar?
Aku baik-baik saja.
Ayo.
Aku membawa makanan.
Kau mau?
No comments yet. Be the first to leave one.